Kamis, 13 Agustus 2009

Larasita diwarnai pungli



Pembuatan Sertifikat Larasita Diwarnai Pungli

Palembang, Sinar Harapan

Layanan rakyat untuk sertifikat tanah (Larasita) di Palembang diwarnai lambannya pelayanan dan pungutan liar (pungli).


Puluhan warga di Kecamatan Kemuning Kamis (13/8) mengeluhkan layanan pengurusan sertifikat yang diselenggarakan BPN bertempat di kantor camat sejak pekan lalu. Mobil dan petugas Larasita dari BPN Kota Palembang tidak menepati jadwal buka pukul 09.00.
Puluhan warga itu menunggu sejak pagi dan belum dapat mengajukan permohonan sertifikat karena petugas belum datang sampai pukul 12.00. Komar, salah seorang warga, mengatakan, BPN Palembang semestinya serius menjalankan program yang diselenggarakan pemerintah itu.
"Kami menunggu di sini tanpa kepastian sejak pagi. Ini bukan kali ini saja, tapi sudah sejak Selasa pekan lalu," katanya.
Selain itu warga juga mengeluhkan adanya pungutan yang ditetapkan petugas. Besarnya mencapai Rp 100.000 per pemohon.

Awalnya warga juga tidak menyadari kalau telah terjadi pungli. Soalnya untuk mengajukan permohonan, mereka diharuskan membayar blanko pendaftaran Rp 25.000.

“Itu pun tanpa tanda terima. Lalu, setelah blanko disiapkan, saat pendaftaran dan penyerahan berkas, kami dimintai biaya Rp 850.000. Rinciannya, untuk pengukuran Rp 281.000, transportasi pengukuran Rp 50.000, panitian pemeriksa tanah Rp 343.640, tranfortasi panitia Rp 50.000, dan pendaftaran tanah Rp 25.000,” ujar seorang warga.

Beberapa warga juga sempat protes. Karena ternyata setelah ditotal ternyata biaya tersebut hanya Rp 745.000. Warga juga merasa aneh karena di tanda terima memang tidak dituliskan jumlah biaya.

Jumadil, petugas di loket menjelaskan bahwa memang sengaja dilebihkan biaya tersebut untuk biaya dan lain-lain. Sementara untuk blanko pendaftaran, memang biaya yang ditetapkan koperasi.

Warga tetap tidak puas. Mereka sebagian membayar sesuai yang diminta. Pemantauan di lapangan, warga terlihat sangat kecewa. Apalagi, petugas memang terkesan ogah melayani setelah diprotes soal selisih biaya.

Informasi yang didapat, program ini sebelumya sudah dilaksanakan di enam kecamatan dan sudah ada 450 pemohon. "Ada kemungkinan, 450 pemohon sebelumnya ini pun dikenai Rp 100 ribu selisih antara tertera di tanda terima dan yang harus dibayar. Kalikan saja, berapa jumlahnya," ujar warga lainnya.

Kepala Seksi Layanan dan Perberdayaan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Palembang H Helawani Rabu (12/8) membantah kalau ada pungli.
Ketika dikonfirmasi di kantornya, dia menyatakan bahwa sudah ditegaskan bahwa Larasita justru dimaksudkan agar pembuatan sertifikat bisa menjadi lebih mudah dan murah.

Disebutkannya dari 7 kecamatan sudah tercatat 450 warga yang mengajukan permohonan pembuatan sertifikat.

Program ini sendri dimaksukan mempermudah dan mempermurah serta mempersingkat waktu penyelesaian pembuatan sertifikat. Karena selama ini ada anggapan di masyarakat bahwa membuat sertifikat itu lama, sulit, berbelit-belit dan mahal.

”Karenanya dengan program ini, diharapkan semaki banyak tanah yang bersertifikat,” ujarnya.

Program ini di Palembang, baru merupakan uji coba. Dengan menggunakan 1 unit mobil layanan. Di mobil layanan inilah, satu tim disiapkan mendatangi warga untuk mempermudah membuat sertifikat.

Saat in, menurutnya, larasita sudah dilaksanakan di Kecamatan Seberang Ulu (SU) I, SU (II), Kertapati, Plaju, Sematang Borang, Sako, dan terakhir saat ini sedang berlangsung di Kecamatan Kemuning.
Hanya saja, dia tidak bisa menjelaskan ketika dijelaskan keberatan warga adalah soal mereka membayar tidak sesuai dengan besarnya biaya yang tertulis. ”Nanti akan kami klarifikasi. Akan dicek ke lapangan dulu,” ujarnya. (sir)

Rabu, 12 Agustus 2009

pendidikan untuk guru terpencil




Sekolah terpencil di Muba, Sumsel. Para guru terpencil nantinya akan diberi pendidikan agar tak tertinggal.


Sumsel akan Buka Pendidikan Guru Terpencil


Palembang:
Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan segera membuka pendidikan untuk guru-guru di Sumsel agar kualitas mereka meningkat. Terutama guru di daerah terpencil.
Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin, mengatakan pendidikan untuk guru ini bukan untuk menciptakan guru, namun pendidikan yang dikhusus untuk guru terutama mereka-mereka yang berada di daerah terpencil.
“Pendidikan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas para guru, dipilih guru-guru di daerah terpencil di Sumsel,”katanya saat menjadi pembicara di Seminar Sekolah Gratis untuk Semua di Hotel Swarna Dwipa, Selasa (11/8).
Pendidikan guru untuk meng upgrade pengetahuan guru-guru, waktunya bisa satu sampai tiga bulan dan guru-guru di asramakan.Sebab,kata Gubernur banyak guru di daerah terpencil yang tidak pernah keluar-keluar dari daerahnya.,bagaimana dia bisa mengenal metode belajar terbaru. Rencananya, kata Alex dana yang akan dipakai adalah dari APBD dan pihak sponsor.
Menurut Alex Noerdin, pendidikan untuk guru ini penting karena guru merupakan ujung tombak pendidikan.Tahap awal mungkin baru 100 guru yang akan didik
“Diharapkan tahun depan sudah bisa berjalan,”katanya.
Ade Karyana, Kepala Dinas Pendidikan Sumsel mengatakan akan segera merealiasikan pendidikan untuk guru ini dan diharapkan tahap pertama bisa berjalan dengan baik

Minta Dukungan

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H Alex Noerdin mengajak semua pihak untuk bersatu mendukung pelaksanaan program sekolah gratis di Sumsel yang sudah dimulai tahun ini.

Demikian dikatakan H Alex Noerdin dalam kesempatan yang sama. Selain Alex, seminar yang dihadiri ratusan praktisi pendidikan ini menghadirkan narasumber lain, antara lain Kepala Statistik Pendidikan Balitbang Depdiknas Ade Cahyana,pengamat pendidikan IAIN Raden Fatah Prof Siroji, Kepala SMAN Unggulan 2 Sekayu Wien Sukarsih, dan Wakil Kepala SMAN 20 Palembang Sukarno.

Menurut Alex,fakta menyebutkan, sebagian masyarakat Indonesia tidak sekolah dan kesulitan mengakses pendidikan karena keluarganya tidak mampu. ”Dengan program sekolah gratis,berarti kita sudah berinvestasi untuk masa depan anak-anak, bukan orang lain.

Tidak ada satu pun negara maju yang tidak memprioritaskan pendidikan,”ujar Alex. Hal inilah yang menurut dia menjadi motivator bagaimana mencerdaskan rakyat. ”Selama ini kita terlalu banyak wacana,tapi tidak ada tindakan riil,malah selalu ribut lantaran beda persepsi,” sindir Alex seraya menyebutkan,sebanyak 15 kabupaten/kota di Sumsel menyatakan dukungannya akan program ini.

Dengan demikian, sharing dana antara provinsi dan kabupaten/ kota akan semakin berimbang. ”Namun, biarlah rakyat yang menilai. Saya kembali mengajak untuk meninggalkan perbedaan dan menciptakan kesempatan untuk menggratiskan pendidikan,”imbaunya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Pendidikan Sumsel Prof Siroji mengungkapkan, tantangan terbesar dalam pelaksa-naan sekolah gratis adalah menyamakan pandangan sehingga tumbuh idealisme dan bentuk kesadaran politik.

”Untuk mencapainya, pemprov perlu mengajak semua stakeholder untuk bermusyawarah agar persepsi sama,”katanya. Dia mengkritisi Perda dan Pergub Sekolah Gratis yang dalam implementasinya kurang tepat sasaran, seperti memisahkan skema dana bos yang ditetapkan Mendiknas dengan dana sharing dalam pemanfaatannya.

Selain itu, perlu ditinjau perbedaan kondisi kebutuhanantarasekolahswastadannegeri. ”Saat ini program terlihat masih terlalu top down,perlu lamban-lamban diubah menjadi bottom up. Misalnya, melibatkan ketua yayasan lebih awal,” ujarnya. Dengan melibatkan banyak stakeholder, program sekolah gratis akan berjalan lebih baik sehingga komponen yang tidak gratis dapat dicarikan pemecahannya. (sir)

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/pendidikan-untuk-guru-terpencil/

Selasa, 11 Agustus 2009

Rahmad Darmawan, pelatih SFC

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/militer-yang-sukses-di-sepakbola/









Rahmad Darmawan, Pelatih Sriwijaya FC

Militer yang Sukses di Bola

Kapten Rahmad Darmawan rasanya pantas mendapat predikat pelatih fenomenal. Prestasi militer aktif ini membawa Sriwijaya FC Palembang meraih prestasi yang cukup fenomena bisa diacungi jempol.
Prestasi tersebut, mengawinkan mahkota Liga Djarum Indonesia dan Copa Dji Sam Soe belum lama ini, hingga disebut double winner pada musim kompetisi tahun lalu merupakan rekor baru. Lalu di musim tahun ini kembali menoreh rekor baru, dua kali berturut-turun tim yang dilatihnya kesebelasan wong kito, meraih juara copa.
Prestasi mengawinkan duo piala dalam satu musim tersebut sebuah cacatan fantastis dan fenomenal dalm sejarah sepakbola Indonesia, terlebih Sumatera Selatan (Sumsel) yang baru memiliki sebuah klub profesianal baru 3 tahun. Sukses tim berjuluk ”Laskar Wong Kito” ini tidak lepas dari peran pria berusia 42 tahun ini.
Begitu juga dua tahun berturut-turut menggondol juara copa. Merupakan rekor yang belum pernah ada sebelumnya.
Pengalamannya sebagai pemain di lapangan hijau berpadu dengan ilmu kepelatihan, merupakan satu kemasan baginya dalam mengarsiteki klub yang baru berusia 3 tahun setelah sebelumnya mengambil-alih dari Persijatim, (Pesija Jakarta Timur). Ilmu kepelatihan sendiri diperolehnya saat kuliah di IKIP Jakarta jurusan Kepelatihan, serta sejumlah kursus internasional yang diikutinya.
“Melatih sepakbola bukan hanya harus memiliki pengetahuan dan kemampuan tentang dasar-dasar ilmu kepelatihan sepakbola. Tidak juga hanya menyangkut cara bermain, membentuk fisik peima tetapi juga yang tidak kalah pentingnya psikologi kepelatihan. Yang terakhir ini bahkan ini sangat penting dan dominan ketika dihadapkan kendala-kendala di luar teknik sepakbola,” ujar Rahmad Darmawan., saat ditemui sela-sela penandatanganan kontrak pemain 21 SFC yang tahun ini digelari the dream team, di rumah dinas Gubernur Sumsel, Griya Agung, pekan lalu.
Bagi Rahmad, faktor psikologis tidak bisa ditawar. Saat menukangi Persipura Jayapura, ia selalu mengikuti acara religius yang rutin dilakukan pemain menjelang pertandingan. Hasilnya, ia mengantarkan Mutiara Hitam ke panggung juara Liga Indonesia 2005. Latar belakangnya sebagai anggota Marinir (kapten aktif) terkadang pula digunakannya untuk menegakkan disiplin, seperti saat seorang pemain yang terlambat datang latihan. Namun, karena tidak berhasil, diapun mengubah pola pendekatan.
Di Sriwijaya FC, Rahmad menerapkan cara sedikit berbeda tetapi tetap bermuara pada faktor psikologis pemain. Dia memadukan pendekatan kekeluargaan dan profesional. Setiap pemain adalah bagian keluarga, tidak ada yang dianak-emaskan ataupun dianak-tirikan.
Prestasi gemilang untuk pelatih lokal di tengah banjirnya arsitek asing, sempat membuatnya dicalonkan menangani tim nasional menggantikan Ivan Kolev, walau kemudian PSSI lebih memilih Benny Dollo.
Bulutangkis
Rahmad dilahirkan di Punggur, Metro. Sebetulnya putra pasangan H Sumardi dan Hj Koesila itu pada kelas III Sekolah Dasar tidak bercita-cita menggeluti sepak bola. Dia lebih memilih bulu tangkis menjadi olahraga kegemarannya. Namun, takdir menghendaki lain bagi anak kelima dari tujuh bersaudara itu.
Dia meninggalkan bulu tangkis ketika kelas VI karena lapangan yang ada di depan rumahnya lebih banyak dipakai orang-orang tua. "Akhirnya saya bersama teman-teman bermain sepak bola," kata perwira staf administrasi personalia Lantamal III.

Adalah pemberian bola dan sepatu bola dari sang ayah yang dibelinya di Palembang membuat segalanya berubah. Minatnya pun berganti ke sepakbola yang di kemudian hari melambungkan dan mengharumkan namanya. Ia juga tidak harus resah meski dalam karier kemiliteran tertinggal dari teman-teman seangkatannya.

Bagi Cek Mad, demikian warga Kota Palembang kerap menyapanya, kedua orang tuanya pihak yang paling berjasa karena dari merekalah bakat dan kecintaannya di sepakbola mulai meretas. Sejumlah nama lain seperti Tarehatta (kini pelatih di UKI Jakarta), Maruli Sianipar (mantan menajer tim Persija), Hindarto (Pelatih Persija) pun di matanya sangat berperan dan mendominasi dalam kariernya sebagai pemaian maupun pelatih. Rahmad juga memberi apresiasi tinggi kepada istrinya Eti Yuliawati (38) serta dua anaknya Febia Aldina Darmawan (14) dan Ravaldi Agung Darmawan (9) yang terus memberi dukungannya selama dirinya sebagai pelatih.

Sepabola digeluti mulai dari tim sepakbola pelajar Lampung Tengah, kemudian membela PS Tanggul Angin hingga ke PS Metro. Pelatihnya Suwartono. Di sini, timnya sempat juara Suratin Cup zona Sumsel 1983. Dia pun membela tim PON Lampung. Prestasinya, Cek Mad, panggilan akrabnya sejak menjadi pelatih SFC, menjadi top skor dengan lima gol. Juga top skor di turnamen Cakerdonyo. Lalu diapun ditarik masuk Timnas. Dari Junior hingga senior. Posisinya, biasanya striker dan wing.
Rahmad Darmawan memulai kariernya sebagai pesepak bola di Persija "Macan Kemayoran" Jakarta 1985. juga masuk Timnas U-23. Juga sempat memperkat beberapa kesebalasan, seperti Army Force Malaysia, dan Persikota.
Saat training centre lawan Bayern Urdingan (klub divisi Utama Jerman), lututnya cedera. Mimpinya tampil di Pra Piala Dunia pun buyar. Dia kembali ke Jakarta. Mulanya menjadi asisten pelatih kesebelasan Bank Indonesia. Pelatih kepala saat itu Hari Tjong. Setahun kemudian dia menjadi pelatih kepala karena Hari Tjong menjadi pelatih PS Banda Aceh.
Tahun 1990 dia mengantongi sarjana IKIP. Lalu ditawari masuk Wamil karena ketika itu TNI punya PS ABRI yang bermain di Galatama. Hingga 1997 dia memperkuat berbagai tim sampai akhirnya kembali cidera lutut kiri saat memperkuat Persikota dan akhirnya memutuskan full sebagai pelatih.
Pensiun sebagai pemain di klub Ibu Kota itu, Rahmad mencoba peruntungannya sebagai pelatih di tim ”Bayi Ajaib” Persikota Tangerang. Rahmad melatih klub berjuluk Bayi Ajaib itu selama empat tahun, mulai dari tahun 2000.
Sembari melatih Persikota, pengagum Maradona dan Piere Lisbersky ini mengasah keterampilannya sebagai pelatih dengan belajar ke manca negara. Di penghujung karirnya sebagai Pelatih Persikota, Rahmad mengantungi International Licence di bawah bimbingan Horst Kriete dan Bernd Fisher. Usai mendapatkan lisensi tertinggi itu, Rahmad langsung hijrah ke Persipura Jayapura.
Di bawah tangan dinginnya, Persipura, yang mulai pudar namanya, kembali bangkit dan meraih gelar juara LI 2005. Prestasi ini langsung melambungkan nama Rahmad. Beberapa klub dalam dan luar negeri, seperti Perak FC Malaysia dan Persebaya Surabaya, tertarik untuk menggunakan jasanya. Tetapi, Rahmad melabuhkan hatinya ke Persija.
Pilihannya kembali ke Ibu Kota itu, pada akhirnya disesali Rahmad. Suami dari Eti Yuliawati itu mengakui kesalahannya menerima pinangan Persija. Pasalnya, di Persija dia tidak bisa berbuat banyak. Rahmad tidak bisa memilih pemain- pemain yang akan memperkuat timnya, padahal memilih pemain merupakan tugas dan kewajiban seorang pelatih kepala.
"Saya akui, saya yang salah. Kenapa mau ke Persija. Saat itu saya mau ke Persija karena dijanjikan akan ada Agu Casmir (bek Timnas Singapura), Emmanuel De Porras (mantan striker Persija dan PSIS Semarang), dan Ronald Fagundes (gelandang Persik Kediri). Ternyata semua nama-nama besar itu kabur," kata Rahmad yang mengagumi pelatih Hose Moreno, pelatih Intermilan yang sebelumnya melatih Chealse.
Musim kompetisi tahun 2006 itu menjadi masa-masa paling sulit dalam karir Rahmad. Tetapi, dengan materi pemain seadanya dan bukan pilihannya --belum lagi intervensi dari berbagai pihak-- kapten Marinir itu masih bisa membawa Persija ke babak delapan besar LI dan peringkat ketiga CI. Jauh dari target yang ditetapkan, yaitu meraih salah satu gelar juara.
Terperosok di Ibu Kota , Rahmad mengikat kontrak selama dua tahun dengan Sriwijaya FC Palembang (d/h Persijatim Jakarta). Di klub ini, Rahmad dibebaskan mengatur segi teknis tim, tanpa ada intervensi siapa pun. Hasilnya, Rahmad meraih double winner di tahun pertamanya di Palembang. Padahal, pria yang hobi bernyanyi tadinya hanya ditargetkan membawa Sriwijaya FC ke zona Liga Super.
”Saya ingin membawa SFC ke jenjang atas prsepakbolaan nasional. Menjadikan tim yang disegani dan sarat prestasi,” ujar lulusan SMA Negeri Kota Gajah, Metro, ihwal obsesinya ke depan.

Pria yang bertutur lemah-lembut dan rendah hati in merasa prihtain kerapnya terjadi kerusuhan di tengah lapangan baik karena kepemimpinan wasit maupun ulah pemain yang berlebihan. Sikap dan mental pemain di lapangan, baginya sangatlah penting. Terhadap keputusan wasit yang merugikan timnya, Rahmad menekankan agar pemain jangan larut dan ikut-ikutan melakukan protes.

“(Bermain) sepakbola memerlukan konsentrasi tinggi. Semakin sering pemain melakukan protes maka mengakibatkan konsentrasi buyar. Kalau sudah demikian, maka bersiaplah menerima kekalahan, karena lawan akan memanfaatkan moment tersebut,” ujar alumnus IKIP Negeri Jakarta (Sekarang Universitas Negeri Jakarta), Fakultas Pendidikan Olahraga jurusan kepelatihan, tahun 1990. Satu angkatan dengan Syafrudddin Fabanyo, eks pemain Kramayudha Tiga Berlian (era Galatama) Palembang, pelatih fisik SFC sekarang. Rahmad yang dipanggil Cekmad ini, masuk ke IKIP lewat jalur penulusran minat dan kemampuan (PMDK).

Dua Dunia
Menggeluti dua profesi, militer dan olahraga, bagi Cek Mad, bukanlah kendala. Justru memberikan manfaat ganda.
Menggeluti dunia sepak bola, bagi RD dirasakan memberikan manfaat banyak. Melalui bola dia merasakan sangat gampang menjalin pertemanan. Lalu, baginya, sepakbola itu adalah miniatur kehidupan. Dari bola bia belajar sportivitas, team work, dan mengambil keputusan tepat dalam waktu singkat. Juga dari bola, bisa berhubungan dengan dunia yang lebih besar. Tidak sebatas lapangan bola. Tapi, dengan banyak orang dan banyak lingkungan.

Terakhir, baginya, dengan bola bisa masuk ke dunia militer melalui wamil. “Saya diterima di TNI ya karena prestasi saya di bola,” ujarnya.

Dengan masuk ke lingkungan mliter, ternyata menambah spirit. Apalagi, di militer memberkan identitas tersendiri. Di tengah masyarakat, TNI itu identik dengan ksatria. Hingga dia punya kebangaan sendri sebagai seorang militer. Di militer juga dia bisa belajar tegas. Ketegasan yang kemudian dipadukan dengan jiwa seni mengocek bola, menjadi ilmu tersendiri sebagai pelatih. Pelatih yang tegas, mengayomi, sekaligus memahami kemampuan dan kekurangan timnya.
Ditambah, TNI ternyata juga memberi keleluasaan mengembangkan karier di sepak bola. Sehingga kalaupun pangkatnyamasih di kapten, sementara rekan-rekan seangkatan sudah ada yang letkol, tidak menjadi masalah. “Di sepak bola kan tidak ada tuh, letkol kesebelasan. Yang ada, kapten kesebelasan,” selorohnya.

(sh/muhamad nasir)

Sisi Lain

Punya Suara Emas

Lagu Aku Mau milik Once Dewa melantun dari atas panggung di ruangan Griya Agung. Tepukan pun menggema. Jika tak melihat siapa yang menyanyi, mungkin ada yang salah terka. Dikira Once show di ruangan itu.

Padahal, yang di atas panggung diiringi home band rumah dinas Gubernur itu ternyata adalah pelatih SFC, Rahmad Darmawan.

Dengan modal suara itu, jika Cek Mad pun menggeluti dunia tarik suara mungkin prestasi pun diraihnya dan albumnya bisa laku keras.

Sayangnya, suami dari Eti Yuliawati ini, tidak melakoni itu. Dia masih menekuni dunia kepelatihan. “Tapi paling tidak kalau pensiun dari pelatih mungkin bisa beralih menjadi penyanyi,” seloroh Presiden Direktur PT SOM, manajemern SFC, Dodi Reza Alex.

Sang istri pun, ternyata tertarik kepadanya bukan karena suara melainkan karena klehebatannya mengocek bola. Dulu, dia kenal dengan istrinya itu karena sang pujaannya hobi nonton Persija jika main di Stadion Menteng. Istrinya itu, kebetulan adik ipar dari Kamarudin Beta, salah seorang pemain bola yang cukup disegani kala itu.

Tapi dengan suara emasnya itu, sang istri pun terhibur. Terlebih saat mereka mengisi waktu-waktu kosong. (sh/muhamad nasir)

Rabu, 05 Agustus 2009

Dodi Reza Alex Bapak Pengusaha Kecil



Sinar Harapan, rubrik tokoh dan profil edisi Rabu (5/8/2009)


Dodi Reza Alex
Menghidupkan Pengusaha Kecil
OLEH: MUHAMAD NASIR

PALEMBANG - Mengamati para pedagang kaki lima yang sering diusir oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), menjadi salah satu pertimbangan bagi Dodi Reza Alex untuk memberikan perhatian bagi masyarakat yang bergerak di sektor informal tersebut.


Tetapi dalam perkembangannya kini, bukan hanya pedagang kaki lima yang terbantu, mereka yang bergelut di sektor informal dan bermodal minim juga telah ”mencicipi” bantuan bergulirnya.
Bahkan, uluran tangan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumatera Selatan ini juga telah merambah dunia kampus dan pondok pesantren. Sejak bergabung di Hipmi Jakarta tahun 2002 lalu, sejak tahun 2007, Dodi terpilih memimpin Hipmi Sumatera Selatan (Sumsel) menggantikan Afandi Uji.
”Kami menargetkan sedikitnya 10.000 pengusaha lemah di Sumsel bisa terbantu akses dan permodalan serta ilmu manajemen. Rasanya ini tidak mustahil, karena sejak dua tahun terakhir saja sudah 1.000 pengusaha lemah bisa terbantu, dengan besar pinjaman bervariasi antara Rp 500.000 hingga Rp 2 juta. Bahkan, ada yang mencapai Rp 5 juta dan Rp 10 juta, terutama kalau usahanya terus berkembang. Dengan bunga kecil, 0,5% per bulan atau 6% per tahun,” kata suami mantan presenter salah satu televisi swasta ini, Thia Yufada.
Bagi alumnus University of Leuven dan University De Bruxelles, Belgium ini, urusan pengembangan jiwa kewirausahaan memang tidak main-main. Oleh karena itu, programnya juga telah masuk ke kampus-kampus di Sumsel. Sedikitnya, sudah 100 unit usaha kecil dibantu permodalan dan bekal pendidikan.
”Kami mempersiapkan mahasiswa agar setelah mendapat gelar sarjana mereka juga memiliki jiwa wirausaha. Bantuan bergulir sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta juga dikucurkan. Ditargetkan, setidaknya 1.000 usaha mahasiswa bisa dibantu. Usaha mereka tidak besar-besar amat, seperti pencucian mobil, percetakan, dan menjual voucher telepon seluler,” katanya kepada SH baru-baru ini. Perihal program kredit tanpa agunan (KTA) yang digagasnya, pihaknya menggandeng sebuah bank swasta.
Begitu pun di pondok pesantren, karena ternyata banyak usaha kecil dan koperasi di pondok pesantren yang telah tumbuh, tetapi membutuhkan bantuan dana. Hingga kini telah terjalin kerja sama dengan puluhan pondok pesantren, dan nantinya diharapkan bisa terjalin kerja sama dengan semua pondok pesantren di Sumsel. Nilai bantuan bergulir antara Rp 5 juta hingga Rp 20 juta, dan umumnya usaha berupa koperasi simpan pinjam, usaha perkebunan, maupun usaha lainnya.





Tak Perlu Agunan
”Kami memberikan akses, pendidikan manajemen, serta jaminan kepada bank. Dengan demikian para pengusaha lemah itu, baik di sektor informal, di dalam kampus, maupun di pondok pesantren tidak perlu menyiapkan agunan. Kami yang menjamin,” tambah pengurus DPP Hipmi sebagai Koordinator Wilayah Hipmi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) ini.
Ayah dari putri kembar bernama Aletta dan Atalie ini, memang punya komitmen tinggi dalam pengembangan jiwa kewirausahaan. Di sela berbagai jabatannya di partai politik, organisasi massa (ormas), serta jabatan di organisasi olahraga, Dodi tetap memberikan perhatian bagi pengusaha kecil yang butuh modal.
Saat ini jabatannya ditambah lagi dengan posisi di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pusat sebagai Ketua Komite Tetap Kerja Sama Ekonomi Regional. Kesibukannya pun masih bertambah sebagai pengurus beberapa cabang olahraga. Misalnya di bidang sepakbola, Dodi menjadi Dirut PT Sriwijaya Optimistis Mandiri (SOM) yang memiliki Sriwijaya Football Club (SFC).
Sebelumnya, ia juga membina Klub Muba Hang Tuah yang sempat merajai Kobatama dan kini mulai menjajal Indonesia Basketball League (IBL). Namun kesibukannya sebagai Ketua Umum Provinsi Perbasi Sumsel, tetap tak mengurangi perhatian putra H Alex Noerdin yang lahir di Palembang pada 1 November 1970 ini, terhadap pengusaha lemah.
”Ke depan, sedang digagas kerja sama dengan perusahaan asuransi sehingga para pengusaha kecil juga mendapat perlindungan dari berbagai permasalahan, dan bisa lebih konsen mengembangkan usaha,” ujar pengusaha muda yang menguasai bahasa Inggris dan Prancis ini.
Tahap awal, bantuan KTA dihimpun dengan dana pumpunan anggota Hipmi Sumsel, ditambah dana pribadi dan dukungan berbagai pihak. Jumlah pinjamannya memang tidak begitu besar, hanya Rp 500.000 per orang. Kemudian jumlahnya meningkat setelah mendapat kepercayaan dari bank swasta di Palembang.



sisi lain
Gagal Jadi Pilot

LAHIR dari keluarga mampu, Dodi Reza Alex punya cita-cita menjadi pilot. Hanya saja, cita-citanya itu harus disimpannya dalam angan. Meski demikian, dia cukup puas bisa menerbangkan pesawat jenis Cesna 172. Dia memang telah menyelesaikan pendidikan penerbang Privat Pilot Licence pada Deraya Flying School, Halim Perdanakusumah, Jakarta.
Oleh karenanya, meski tak bisa menggapai cita-cita sebagai pilot sungguhan, ia sudah menerbangkan pesawat dengan mengantongi jam terbang 2.000 jam. Pemilik hobi mendengarkan musik ini memang kerap kali di sela-sela waktu senggangnya menerbangkan berbagai jenis pesawat.
”Cukuplah, meski bukan pesawat berpenumpang ataupun pesawat tempur, yang saya kemudikan juga bisa terbang. Pilot juga kan,” kata anggota DPR periode 2009-2014 dari Partai Golkar ini berseloroh. (sir)


http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/menghidupkan-pengusaha-kecil/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=08&tx_ttnews[days]=5&cHash=652feb00cb

Selasa, 04 Agustus 2009

SMAN 6 Juara artikel nasional





*Debat, Juara III

SMAN 6, Juara Nasional Penulisan Artikel APBN

Palembang:

Melly Afrisa siswa SMAN 6 Palembang menjadi juara nasional lomba penulisan artikel bertema membaca APBN siwa SMA.

Sebelumnya, Melly dinobatkan pemenang tingkat provinsi. Artikel ini kemudian dikirim ke tingkat nasional di Jakarta.

Diumumkan pekan lalu di Hotel Mercury, artikel ini dinyatakan sebagai pemenang pertama tingkat nasional. Dalam kegiatan yang digagas Departemen Keuangan bersama Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) ini juara kedua diraih Bunga dari SMAN Sidoarjo dan juara ketiga diraih Diah dari SMAN Depok.

Guru pendamping Melly, Elvi Martalinda mengungkapkan bahwa kemenangan ini merupakan prestasi tersendiri bagi sekolahnya yang tahun ini ditetapkan sebagai salah satu sekolah unggulan di Sumsel.

Melly yang tamatan SMPN 26 Palembang dalam artikelnya antara lain mengungkapkan ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa sekolah gratis, terutama untuk tingkat SLTA belum layak diterapkan.




Pertama, sosialisasinya masih kurang. Sehingga belum jelas yang dimaksud itu, sekolah gratis atau pendidikan gratis. Sehingga ada anggapan di masyarakat bahwa dengan program sekolah gratis yang dicanangkan dan dilaksanakan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, bahwa orang tua tidak mengeluarkan biaya lagi untuk sekolah anaknya.
Lalu yang kedua, mutu pendidikan masih sangat rendah. Sehingga dengan diterapkannya sekolah gratis dapat berdampak kepada mutu sekolah. Dikhawatirkan, bisa saja mutunya semakin rendah.

Faktor lainnya, sesuai dengan amanat UU Sisdiknas, bahwa pendidikan itu merupakan kewajiban dan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, orang tua, dan masyarakat termasuk pihak swasta.

Dengan sekolah gratis, peran ini menjadi tidak jelas. Dimana tanggung jawab orang tua, pemerintah, dan masyarakat. Apalagi belum disertai dengan aturan yang jelas dan detail. Sehingga bisa membuat penerapannya di lapangan menjadi tidak jelas dan jauh dari yang diharapkan.

“Juga stake holder terkait belum siap menyambut program ini. Akibatnya, program ini menjadi program yang asing. Sehingga sulit untuk bisa mencapai target dan sasaran dimaksud,” ujar Melly yang tercatat sebagai siswa kelas XII IPS 2. Atas prestasinya ini, Melly mendapatkan trofi dan hadiah uang pembinaan.

Tahun sebelumnya, Melly di kegiatan yang sama juga menyabet juara pertama. Saat itu dia menulis artikel berjudul “Adilkah Subsidi BBM bagi Kita Semua”.


Saat ini Gubernur Sumsel Alex Noerdin memang melaksanakan program sekolah gratis. Namun beragam muncul seiring pelaksanaan program tersebut.



Lomba ini diikuti peserta dari 10 kota besar di Indonesia, yakni DKI, Bandung, Banjarmasin, Yogyakarta, Bali, Makasar, Sumsel, Riau, Pekanbaru, dan Manado.

Debat
Sementara untuk debat, tiga siswa SMAN 6 Palembang, Melinda Rachmadianty, Beuty Savitri, dan Endy Agustian meraih juara III. Dalam debat, mereka harus menguasai lima tema yang ditetapkan yakni peningkatan pajak, subsidi BBM dan APBN, anggaran pendidikan, komposisi pembiayaan APBN, dan reformasi birokrasi.
Dihadapan tim juri dari Universitas Indonesia, Departemen Keuangan, dan SPS mereka mempertahankan pendapat serta mengemukakan saran dan masukannya terkait tema yang ditentukan. (**)

Rabu, 29 Juli 2009

tradisi tutur

Tradisi Tutur Masih Diminati Anak Daerah

Palembang: Tradisi tutur ternyata masih diminati anak-anak. Terlihat dari antusias siswa SMP se-Sumsel mengikuti Lomba Tutur Sastra Lisan siswa SMP se-Sumsel yang di gelar di Atrium Palembang Indah Mal (PIM) selama dua hari lalu.

Sedikitnya 67 siswa dari berbagai SMP di Sumsel mengirimkan utusannya. Dari 15 kabupaten/kota di Sumsel hanya tiga yang tidak mengirim, yakni Muba, Pagaralam, dan OKI.

Tampil di panggung, anak-anak ini tidak canggung lagi. Meski memang ada sebagian anak yang terlihat tidak hapal naskah cerita atau ada yang tampil seadanya.

Tetapi sebagian tampil memikat, dengan gaya penuturan yang menarik, dilengkapi dengan aksesoris pendukung cerita serta berpakaian adapt atau.

Berbagai cerita lisan dibawakan, mulai dari kisah asmara Pulau Kemarau, sejarah perahu bidar, Si Mata Empat dan si Pahit Lidah, Bujang Jelihim, Bujang Kurap, atau beberapa legenda dari daerah asal mereka.

Dari even ini terlihat bahwa anak-anak ternyata masih bisa menerima dan melestarikan sastra local dan tradisi local. Itulah memang yang diharapkan bias terus dikembangkan dari even ini, seperti dikemukakan Abu Hanifah, Kasi Pendidikan Anak Usia Dini kerika menutup kegiatan mewakili Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Edi Karyana yang berhalangan hadir.

“Kami berharap melalui pelestarian dan pengembangan cerita rakyat anak-anak dapat menyerap tata nilai yang bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Tim Juri, Yudhy Syarofi. Menurutnya, melalui even ini diharapkan memang akan dapat juga ditemukan sosok atau figure anak-anak yang bias menularkan tutur cerita rakyat. Sehingga, anak-anak yang lai juga semakin terpikat.

Dari segi kuantitas, memang peserta berkurang disbanding tahun lalu yang mencapai lebih dari 120 peserta. Tetapi dari minat dan antusias peserta serta kemampuan masih bisa diacungi jempol.
Dari hasil lomba yang digelar selama dua hari Senin-Selasa (27-28/7), terlihat juara pertama hingga juara ketiga didominasi peserta dari daerah. “Ini menunjukkan memang ternyata kreativitas dan kemampuan bercerita tidak semata ditentukan pendidikan formal. Anak-anak di daerah memang masih punya banyak waktu untuk bermain dan mereka bisa mengasah kemampuan serta kreativitas. Berbeda dengan anak-anak di kota yang waktunya sudah tersita untuk kegiatan belajar,” ujar Yudhi.
Tim juri lainnya, Yose Ilyas juga menambahkan bahwa tradisi tutur dan budaya lokal memang masih terlihat kental di daerah. “Bagaimana anak-anak masih punya kebiasaan bertutur sapa dan menyampaikan sesuatu dengan memperhatikan tradisi dan kebiasaan. Berbeda dengan anak-anak kota yang sudah terpengaruh teknologi. Game online, main play station. Lalu di luar itu, sibuk les, bimbingan belajar, dan beragam aktivitas sekolah lainnya,” timpalnya.
Namun beruntung, di tengah persoalan itu, anak-anak kota masih punya minat terhadap tradisi cerita rakyat. Terlihat dari banyaknya peserta yang ikut, didominasi peserta dari Palembang.

Hanya saja, yang menang memang diborong peserta dari daerah. Juara pertama, Ari Fadli dari SMPN 2 Lubuklinggau membawakan Cerita Asal Mula Danau Raye. Juara II, Resti Meli dari SMPN 2 Banding Agung, OKU Selatan, membawakan Cerita Legenda Danau Ranau. Lalu juara III, Iren dari SMPN 2 Lubuklinggau membawakan cerita Burung Puyuh dan Baginda Raja.

Lomba tutur ini memang telah usai, namun setiap tahun terus digelar. Beberapa guru pendamping menyesalkan kurangnya sosialisasi kegiatan sehingga mereka tak punya kesempatan mempersiapkan anak didiknya. Nila, guru pendamping dari SMPN 10 Palembang menuturkan bahwa informasi lomba baru mereka terima dua hari sebelum perlombaan. Sehingga, utusan yang dikirim belum terseleksi dengan tepat. ”Beda misalnya kalau informasi sudah diterima jauh-jauh hari,” katanya menyesalkan kurangnya informasi kegiatan tersebut.
Pihak panitia sendiri menyatakan bahwa informasi ke Dinas Pendidikan kabupaten/kota sudah disampaikan sebulan sebelumnya. Kalaupun terlambat diterima, birokrasi di Diknas kabupaten/kota yang mungkin terlalu njelimet. (sh/muhamad nasir)

Kamis, 16 Juli 2009

sekolah gratis tapi bayar

http://www.sinarharapan.co.id/berita/back_to/arsip/read/sekolah-gratis-kok-bayar-jutaan-rupiah/?tx_ttnews%5Byears%5D=2009&tx_ttnews%5Bmonths%5D=07&tx_ttnews%5Bdays%5D=22&cHash=c68c90b3d7




Gubernur Sumsel H Alex Noerdin bersama Mendiknas Bambang Sudibyo ketika melaunching program sekolah gratis 26/3 lalu di GOR Sriwijaya Palembang.





Di Sumsel, Sekolah Gratis Tapi Bayar

Palembang:

Di Sumsel, program sekolah gratis untuk semua jenjang dan tingkat pendidikan bak swasta maupun negeri mulai dilaksanakan tahun ajaran baru 2009/2010 ini. Hanya saja, meski namanya gratis ternyata untuk masuk sekolah orang tua siswa tetap harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah.

Karenanya, para orang tua pun banyak mengeluhkan persoalan ini. “Katanya program sekolah gratis sudah diluncurkan, kok masih bayar? Ini mah, namanya gratis tapi bayar,” ujar Ida Sahrul, orang tua siswa yang anaknya tidak lolos di sekolah negeri dan harus masuk ke sekolah swasta, SMA Bina Warga Palembang.

Tidak tanggung-tanggung, dia harus merogoh kocek mencapai Rp 2,4 juta untuk biaya seragamsekolah, kaos olahraga, dan sepatu serta uang pembangunan. Sementara anaknya yang lain yang duduk di kelas X, untuk daftar ulang juga membayar Rp 940 ribu.

Sementara untuk sekolah unggulan, yakni SMAN 17, SMAN 6, dan SMAN 5, biaya yang dikeluarkan justru lebig besar lagi. SMAN 17 misalnya, uang sumbangan minimal Rp 10 juta dan SPP per bulan Rp 500 ribu. Begitupun SMAN 5 dan SMAN 6 yang baru tahun ini ditetapkan sebagai sekolah unggulan, uang sumbangan bervariasi antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta dengan SPP per bulan mencapai Rp 450 ribu.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Kota Palembang, Drs Somat menjelaskan, dalam peraturan gubernur No. 31 tahun 2009 diatur bahwa biaya personal seperti stelan pakaian olahraga, pakaian seragam khas sekolah termasuk atribut sama sekali tidak dibebankan pada pihak sekolah.

Menurutnya, itu menjadi tanggungjawab siswa bersangkutan.Somat, yang juga kepala SMAN 13 mencontohkan, di sekolahnya total biaya personal Rp375 ribu. Angka tersebut sama dengan tahun ajaran lalu. “Besaran pungutan itu baru ditetapkan nanti dalam rapat komite sekolah. Bakal kita musyawarahkan dengan wali siswa. Kemungkinan naik atau tidaknya, tergantung kesepakatan nanti,” tegas Somat.

Sumbangan personal juga bakal dilakukan oleh SMAN 2 Palembang. “Kisarannya antara Rp300-375 ribu. Tidak dipaksakan. Semua kita serahkan kepada wali siswa dan masih akan dibicarakan lagi,” ungkap Dra Hj Amiziah.

Ia merinci biaya personal tersebut mencakup seragam sekolah (batik), pakaian olah raga, pakaian muslim, buku persiapan masa orientasi siswa (MOS), kartu perpustakaan, asuransi, dan kartu pelajar. “Untuk biaya operasional, sesuai dengan yang diatur pergub. Non-SSN Rp80 ribu per siswa. Uang itu, diambilkan dari sharing pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Bagi sekolah sudah SSN bisa menarik selisihnya dengan syarat ada persetujuan kepala daerah setempat,” beber Amiziah.

Umumnya, pungutan juga masih tinggi. SMA Arinda misalnya, biaya daftar ulang bagi siswa yang naik ke kelas II sebesar Rp900 ribu. Sementara siswa yang naik ke kelas III mencapai Rp1.020.000,-. “Kalau siswa baru, biaya masuknya Rp1.560.000,-” ungkap Efi, wali salah seorang siswa baru di SMA tersebut.
Sedikit berbeda di SMA Tri Dharma. Biaya daftar ulang yang dikenakan bagi siswa kelas dua dan tiga sama, sebesar Rp125 ribu. Khusus siswa baru Rp345 ribu.

Ramai-ramai Naik Status
Yang lebih membingungkan masyarakat lagi, sebagian besar sekolah di Sumsel ternyata telah naik status sehingga mereka diperbolehkan memungut biaya di luar subsidi yang diberikan pemerintah dengan syarat ada kesepakatan dengan orang tua siswa.

SMAN 13 dan SMAN 2 misalnya. Saat ini, bersama 15 SMAN lain di Palembang, statusnya sudah disetujui oleh Gubernur Alex Noerdin untuk menjadi SSN. Persetujuan tertuang dalam keputusan gubernur Sumsel tentang penetapan SSN, RSBI (rintisan sekolah bertaraf internasional), dan SBI (sekolah bertaraf internasional).
“Se-Sumsel dari total sebanyak 610 SMA/MA/SMK—negeri dan swasta--, 195 sekolah di antaranya mengajukan diri untuk mendapatkan predikat baik SSN, SBI maupun RSBI. Gubernur pun sudah menyetujui,” tegas Drs Widodo, MPd, Kabid Pembinaan Pendidikan Menengah dan Perguruan Tinggi (Dikmenti) Disdik Sumsel.

Ia merinci, untuk SSN sebanyak 178 sekolah, SBI ada 11 sekolah dan RSBI enam sekolah. “Setelah disetujui, semester pertama tahun ajaran 2009/2010 ini, bakal kita verifikasi lagi usulan tersebut hingga Desember mendatang. Bila tak lolos verifikasi, sekolah yang bersangkutan takkan kita terbitkan sertifikatnya. Mereka wajib mematuhi aturan program sekolah gratis,” ungkap Widodo lagi.

Sedangkan tingkat SMP/MTs (negeri dan swasta) baru 39 dari total 906 sekolah se-Sumsel yang disetujui. Masing-masing, SSN ada 32 sekolah, RSBI tiga sekolah, SBI ada 4 sekolah. Tingkat SD/MI dari 3.981 sebanyak 84 telah disetujui. Masing-masing, SSN 88 sekolah, RSBI 4 sekolah, ”Khusus SD belum ada yang berstatus SBI,” tutur Widodo.

Kalau sekolah SSN, SBI dan RSBI diperkenankan memberlakukan pungutan di luar ketentuan, kata Widodo, sekolah yang non SSN, Non SBI, dan non RSBI tidak diperkenankan. Untuk memantau, pihaknya segera melakukan pengecekan langsung ke lapangan dengan melibatkan tim asesor.

“Kalau soal sanksi, sekolah bersangkutan bakal kita berikan teguran sekaligus pembinaan. Masih juga baru kita terapkan sanki, tapi sesuai PP No 30 tahun tentang PNS. Itu yang hanya bisa kita lakukan sementara ini,” tegas Widodo.

Di lapangan, diketahui beberapa sekolah ini memberlakukan berbagai cara menyiasati subsidi pemerintah yang diberikan sebesar Rp 50.000 untuk SD, Rp 60.000 untuk SMP, dan Rp 80.000 untuk SMA.

Di SMA Nurul Iman, Sekip Palembang, misalnya sudah menaikkan SPP di awal tahun ajaran baru. Sehingga kalaupun mereka menerima subsidi Rp 80.000 per bulan per siswa, orang tua siswa tetap harus membayar Rp 60.000 per bulan.

”Soalnya, SPP saat ini naik menjadi Rp 140 ribu. Kata pihak sekolah, mereka memang disubsidi Rp 80 ribu, tetapi itu tidak cukup sehingga SPP dinaikkan menjadi Rp 140 ribu. Kami hanya membayar selisihnya saja, Rp 60 ribu. Karena saat ini subsidi belum cair, kami bayar full. Nanti, jika subsidi cair baru akan dikembalikan,” ujar orang tua siswa yang minta namanya tidak disebut.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin ketika dikonfirmasi soal ini terlihat berang. Menurutnya, dia sudah mendapatkan banyak laporan soal pelaksanaan sekolah gratis di lapangan. Untuk itu, pihaknya akan melakukan audit terhadap sekolah-sekolah dimaksud. Termasuk memverifikasi sekolah yang kini naik menjadi SSN, RSBI, dan SBI.

Alex menuturkan, permasalahan yang paling menonjol saat ini adalah menyangkut banyak SMA di Palembang yang mengaku berstatus SSN, RSBI), dan SBI untuk menghindari Program Sekolah Gratis,sehingga boleh melakukan pungutan. (sh/muhamad nasir)

Rabu, 15 Juli 2009

Ita Diana, Melestarikan Songket



Ita Diana, menunjukkan songket motif buatannya di kediamannya






Ita Diana
Melanggar Tradisi demi Kelestarian Songket
OLEH: MUHAMAD NASIR

PALEMBANG – Cara pembuatan songket memang tak semudah yang dibayangkan. Karena untuk menenun kain songket membutuhkan waktu paling tidak seminggu.

Sebelum menenun pun, ada langkah awal yang tak kalah rumitnya, yaitu menentukan motif songket. Tahap ini disebut sebagai proses menyungkit atau membuat motif.
Di Sumatera Selatan tak banyak orang yang bisa menyungkit, karena memang pengetahuan dan keterampilan ini diperoleh secara turun-temurun. Pun tidak semua keturunan bernasib baik diajari keterampilan ini.
Maka wajarlah kalau jumlah penyungkit bisa dihitung dengan jari. Mereka tinggal di perkampungan orang asli Palembang, seperti di Tanggabuntung dan 3-4 Ulu Palembang.
Di antara orang itu ada Ita Diana. Perempuan kelahiran Palembang ini mendapatkan keahlian menyungkit dari neneknya. Tepatnya, adik dari kakeknya, almarhumah Imah. Ita beruntung diberi kepercayaan dan kesempatan untuk belajar menyungkit, meski terpaksa mengorbankan sekolah.
Ternyata istri dari Ismail ini mengaku tidak mudah untuk mendapatkan kemampuan menyungkit. Bertahun-tahun dia belajar. Tetapi ibu dari tiga anak, M Ajid Sidik, Enha Anggi Pratama, dan M Balya ini pun tidak menurunkan kemampuannya kepada anak-anaknya karena tidak punya anak perempuan.
Ketika ditemui SH di kediamannya di kawasan 3-4 Ulu, Palembang, Ita menceritakan bahwa desain songket biasanya terdiri dari teretes, hiasan pinggiran (tepi), tawur, rebung, apit, rumpak, ombak, dan kembang/tumpal. Untuk kembang atau tumpal, motif bisa berupa naga besaung nampan perak, bungo cino, ulir, ataupun kembang pacar. Khusus untuk kembang/tumpal tidak boleh diganti. Sudah menjadi pakem, kalaupun mau memodifikasi, biasanya di bagian yang lain.


Salah satu songket yang motifnya dibuat Ita Diana






Ita menjelaskan, proses pembuatan songket dimulai dari nyucuk suri, ngelak, pencungkitan (membuat motif). Setelah itu baru menenun. Namun, Ita tidak sekadar membuat motif songket Palembang, ia juga mengerjakan motif songket Jambi yang punya ciri khas tersendiri, yakni biasanya bermotif emong kuncai, kembang duren, dan angso suo.

Banyak Lidi
Ukuran songket biasanya 90 cm x 2 meter. Untuk songket dibutuhkan tujuh tukel benang, yang nantinya bisa menjadi tiga kain songket. Proses pengerjaannya bisa menghabiskan waktu selama sepuluh hari. Mengerjakan songket, mulai dari proses pembuatan motif memang tidak sedikit, di antaranya kuda-kuda (kudo dayan), apit, penyuncing, beluro, por, suri, dan teropong. Juga dibutuhkan banyak lidi, terutama dalam pembuatan motif.
Penggunaan lidi, sedikitnya 170 batang untuk satu songket. Rinciannya adalah teretes 21, tawur 12, rebung 60, rumpal/bunga api 8-10, ombak 9, dan kembang/tumpal 25-60.
Lidi-lidi itu biasanya dibeli dari pengrajin rokok gudung dengan harga seikat Rp 2.000, dan berisi sekitar 500 batang.
Motif songket setelah selesai dibuat bisa digunakan untuk menenun sedikitnya 500 songket. Namun, kalau tidak terawat dan tidak telaten, bisa-bisa hanya untuk tiga songket. ”Bergantung kepada penenunnya,” kata Ita.
Upah membuat motif itu, untuk saat ini sekitar Rp 225.000-250.000, tergantung pada tingkat kerumitannya. Hanya saja, pembuatan motif masih menemui kendala karena berbagai faktor, di antaranya masih minimnya keinginan orang untuk belajar. Selain itu juga minimnya modal untuk membuat motif sehingga pembuatan motif baru dilaksanakan jika ada yang memesan.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pembuat motif ini juga bisa dihitung dengan jari, lantaran ada peraturan bahwa pembuatan motif hanya boleh diturunkan kepada generasi penerus dalam keluarga. Tetapi bagi Ita, dia mengatakan tidak masalah kalau mengajarkan teknik pembuatan motif tersebut.


Ita Diana, mengawasi anak didiknya membuat motif songket (menyungkit).







Oleh karenanya, ketika ada tawaran dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk mengajar di kursus pembuatan motif, Ita tidak merasa keberatan. Begitu juga terkait beberapa kegiatan lainnya yang dilaksanakan oleh berbagai organisasi dan disponsori berbagai perusahaan, Ita mau mengikutinya.
Melalui Disperindag saja dia sudah tiga kali dilibatkan, termasuk ke berbagai daerah, seperti Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir (OI). Hasilnya, kini sudah puluhan penyungkit baru lahir, termasuk di kampungnya sendiri, yang pelatihannya dilakukan melalui kelurahan.
Mengajar lewat program Disperindag sudah dilakukan tiga kali, dengan sedikitnya membimbing 60 orang. Ditambah di kelurahan, sebanyak 25 orang, kini para peserta pelatihan itu sudah produktif. Beberapa rumah tenun di Palembang, bahkan pesanan-pesanan dari luar daerah, telah memanfaatkan jasa penyungkitan tersebut.

Kursus Senilai Satu Suku Emas

BELAJAR mencungkit bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu lewat latihan privat atau ikut program yang dilaksanakan oleh dinas/instansi atau organisasi tertentu. Hasilnya memang tak sama, karena biaya dan waktu belajar yang dibutuhkan juga berbeda. Untuk yang privat, Ita mematok harga tertentu. Biayanya seharga satu suku emas atau 6,7 gram. Saat nilai emas naik seperti sekarang ini, harga bisa mencapai Rp 2 juta.
Waktu belajarnya selama tiga bulan, sekali seminggu, mulai dari nyucuk suri, ngelak, mencungkit (membuat motif) sekaligus menenun.
Sementara kalau ikut program instansi, hanya memerlukan dua kali pertemuan. Biasanya program ini cocok untuk mereka yang pernah memiliki kemampuan menenun sehingga sudah mempunyai kemampuan dan pengetahuan dasar tentang menyongket. Untuk menjadi pelatih dalam kursus ini, Ita biasanya dibayar Rp 500.000 dengan murid paling banyak 20 orang.
Kalau dibandingkan dengan belajar privat, tentu bayaran itu tak seimbang. ”Tetapi manfaatnya, songket tentu bisa lebih lestari,” tuturnya. (sir)

Sinar Harapan, rubric profil dan tokoh, Rabu 15 Juli 2009
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/melanggar-tradisi-demi-kelestarian-songket/

Minggu, 12 Juli 2009

MOS SMPN 10 Palembang

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/hindari-kekerasan-fisik-dalam-mos/


Hari Pertama Sekolah
Hindari Kekerasan Fisik dalam MOS
OLEH: MUHAMAD NASIR/ STEVANI ELISABETH

Jakarta – Memasuki dunia baru, siswa berbagai tingkat pendidikan mengalami hal berbeda. Ada yang harus mengikuti Masa orientasi sekolah (MOS) dengan tampil lucu dan ganjil, ada pula yang mengikuti pendidikan kedisiplinan. Namun, ada pula yang langsung belajar di kelas.

Sementara itu, berbagai kalangan mengingatkan bahwa kegiatan MOS seharusnya digunakan untuk memperkenalkan hak, kewajiban dan tradisi siswa di sekolah baru, bukan malah menjadi ajang perpeloncoan bagi siswa senior kepada juniornya. Karena, tujuan MOS adalah menumbuhkan rasa kekeluargaan di antara murid dan seluruh jajaran sekolah.

Inilah yang diingatkan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat launching MOS di SMA Unggulan Muhammad Hoesni Thamrin, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (13/7). Ia mengatakan, dalam MOS dilarang ada tindakan yang mengandung unsur kekerasan fisik, perpeloncoan ekstrem, pemberian tugas, hukuman fisik berlebihan, dan ucapan kasar dari senior kepada juniornya.



Sebagian siswa SMPN 10 Palembang mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) selama tiga hari sejak hari ini hingga Rabu (15/7). Meski diwarnai berbagai praktik pungutan, program sekolah gratis di Sumsel tetap jalan.

Sementara itu, suasana MOS dipantau SH di SMPN 10 Palembang. Senin kemarin, tampak Adit (12) berlari-lari kecil menuju sekolah barunya. Meski mengenakan seragam putih merah layaknya anak SD, ada yang aneh dalam penampilannya. Mengenakan topi kerucut warna hitam, di ujungnya diramaikan dengan tali rafia yang disisir halus.
Di lehernya, belasan permen digantung di tali. Lalu di dadanya tertulis nama panggilan yang diberikan panitia sehari sebelumnya. Tertulis, Sandy. Sementara di punggungnya tertulis Muhamad Nurhidayatullah Pascadh dengan Gugus atau Kelompok E. Sekolah asalnya, SDN 182 Palembang. Lebih ganjil lagi, kaus kakinya ternyata berlainan, yang kiri berwarna hitam dan kanan berwarna putih. Di pinggangnya tergantung tali rafia berwarna hitam yang disisir halus sehingga menyerupai pakaian Suku Dayak.
Kekeluargaan
Kepala SMPN 10 Palembang Juma’ani mengungkapkan, MOS dilaksanakan untuk mengenalkan sekolah, kegiatan belajar, dan lingkungan sekolah kepada siswa baru. Supaya menyenangkan, pengurus OSIS membuatnya dengan lebih banyak hiburan. ”Sehingga ketika memasuki lingkungan baru, anak bisa lebih enjoy,” ujarnya.
Berbeda dengan di SMAN 6 Palembang. MOS di sekolah unggulan ini bertujuan mempertajam naluri kepekaan dan kepedulian sosial siswa. Caranya, di akhir MOS SMAN 6 mengajak siswa baru memberikan bantuan bagi korban kebakaran di 5 Ulu Palembang. Sebelumnya, siswa digembleng kedisiplinan dan ketakwaan selama sepekan, dan memperoleh materi ESQ (Emotional Spiritual Quotient).
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, mengungkapkan MOS digelar di seluruh sekolah di Jakarta, yang diikuti 233.000 murid baru. Tentang SMA Unggulan MH Thamrin, Taufik mengatakan, untuk menjadi siswa di sekolah unggulan tersebut harus memiliki IQ 120-140, pintar berbahasa Inggris serta mempunyai nilai pelajaran eksakta minimal 8.

Rubrik Kesra, Sinar Harapan edisi Selasa , 14 Juli 2009

Senin, 06 Juli 2009

sman 6 bantu korban kebakaran






Pertajam Kepekaan Siswa, Bantu Korban Kebakaran

Palembang:

Bertujuan mempertajam naluri kepekaan dan kepedulian sosial siswa, SMAN 6 mengajak siswa baru memberikan bantuan bagi korban kebakaran di 5 Ulu Palembang.

Penyerahan bantuan berupa 176 paket sembako dan pakaian layak pakai dilaksanakan Senin (6/7) di lokasi kebakaran 5 Ulu Palembang. Masing-,asing paket terdiri dari beras, gula, dan mi instan.

Kepala SMAN 6 Palembang Hj Darmi Hartati saat menyerahkan bantuan mengungkapkan bahwa bantuan ini janganlah dinilai dari harganya. “Tetapi, tolong lihat lah bentuk kepedulian dan kepekaan anak didik. Bagaimana nanti akan terpatri dalam benak mereka bahwa masih banyak warga yang perlu kepedulian dan bantuan. Sebagai sesama, tentunya haruslah menunjukkan rasa kepekaan,” ujarnya.

Para siswa yang menyerahkan bantuan adalah sebanyak 224 orang didampingi guru pembimbing dan pengurus OSIS.

Ketua OSIS Rifki menyatakan bahwa melalui kegiatan ini diharapkan kepekaan dan kepedulian rekan-rekannya dapat lebih meningkat. “Sehingga mereka tidak hanya mampu menguasai iptek, tetapi juga memiliki imtak yang bisa menjadi bekal bagi kehidupan di masa depan yang lebih baik nantinya,” ujarnya.

SMAN 6 tahun ini ditetapkan sebagai salah satu sekolah unggulan di kota Palembang. Dua sekolah lainnya yang merupakan sekolah unggulan adalah SMAN 17 dan SMAN 5. Sebagai salah satu sekolah unggulan mulai tahun ajaran 2009, sedikitnya 853 siswa baru mendaftar dan 819 diantaranya ikut tes. Hasil tes, diterima sebanyak 224 siswa.”Ini menunjukkan antusias yang cukup tinggi dari orang tua murid untuk menyekolahkan anaknya di sekolah ini,” ujarnya tentang sekolahnya yang tahun ini memang ditetapkan sebagai sekolah unggulan bersama SMAN 5 Palembang menyusul SMAN 17 yang sudah dahuluan.





Sebelumnya para siswa sudah digembleng kedisiplinan dan ketakwaan selama sepekan. Materi lainnya, siswa mengikuti ESQ (Emotional Spiritual Quotient) sehingga siswa memiliki bekal iman dan takwa sesuai visi dan misi sekolah ini. “Siswa diharapkan tidk sekadar cerdas an terampil, tetapi juga memiliki keimanan dan akhlak yang baik,” tambahnya.

Sebagai penutup kegiatan sebelum memasuki proses belajar mengajar, para siswa diajak melihat lokasi kebakaran yang terjadi awal Juni lalu di Kelurahan 5 Ulu Palembang. Sekaligus menyerahkan bantuan secara langsung. (...)