Rabu, 18 Agustus 2010

H Romi Herton, Wawako Palembang



Turnamen Futsal Antarpelajar SLTA
Trofi H.Romi Herton
(Wawako Palembang)

At Raja Sport Centre, Komp PTC Palembang, 2-3- Oktober 2010


Km.NolOrganiser

Selasa, 17 Agustus 2010

Turnamen Futsal Pelajar SLTA Perebutkan Trofi Wawako


Palembang: Menjaring bibit atlet futsal berbakat, akan digelar turnamen futsal pelajar SLTA yang memperebutkan trofi Wakil Walikota Palembang, H. Romi Herton, SH, MH.

Selain itu, untuk memberikan daya tarik, menurut Ketua pelaksana, Taufik Usman, juga disediakan hadiah dengan total jutaan rupiah dan doorprize dari sponsor.

“Kegiatan ini dilaksanakan di Raja Sport Centre, di Kompleks PTC Palembang
Pada Sabtu dan Minggu (2-3 Oktober 2010),” tambah Taufik.

Disebutkan Taufik, olahraga merupakan suatu kegiatan jasmani yang dilakukan dengan maksud untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot – otot tubuh. Kegiatan ini dalam perkembangannya dapat dilakukan sebagai kegiatan yang menghibur, menyenangkan atau juga dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi.

Selama ini pemerintah sendiri menjadikan olahraga sebagai pendukung terwujudnya manusia Indonesia yang sehat dengan menempatkan olahraga sebagai salah satu arah kebijakan pembangunan yaitu menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup.

“Seiring dengan hal itu, kami menilai dunia olahraga di Kota Palembang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat khususnya pada olahraga Futsal. Potensi-potensi muda telah bermunculan seiring dengan banyaknya dukungan, peran serta dan binaan dari beberapa pihak-pihak terkait,” tambahnya.

Pemerintah kota palembang sebagai fasilitator yang consern terhadap perkembangan olahraga di kota palembang telah memberikan dukungan dan ruang kepada para pelajar SLTA untuk mengaktualisasikan kreatifitas dan sportifitas mereka dalam banyak hal. Dan akan lebih baik kiranya jika potensi-potensi pelajar yang telah ada dan akan muncul dibekali juga dengan pengalaman bertanding untuk menambah kemampuan mereka dalam olahraga Futsal itu sendiri.

“Karenanya, kami yakin, melalui kebijakan pemerintah kota Palembang, Bapak H. Romi Herton selaku wakil Walikota kota Palembang akan mampu membuat olahraga Futsal di kota Palembang mampu “berbicara” ditingkat Nasional bahkan Internasional kedepannya,” jelas Taufik yang juga pimpinan KM.Nol, sebuah organisasi yang konsern menyelenggarakan berbagai even di kota Palembang.

Dengan semangat menyongsong Hari Sumpah Pemuda ke-82 pada tanggal 28 Oktober 2010 dan menyemarakkan penyelenggaraan SEA-Games 2011 di kota Palembang, STUDENTS FUTSAL TOURNAMENT ini dilaksanakan. Tujuannya, memberikan pengalaman bertanding yang perlu dimiliki oleh para Pelajar SLTA sekaligus pemuda di kota Palembang. Dan melalui Tournament diharapkan semakin terasahnya kemampuan teknik, fisik dan mental para pelajar SLTA di kota Palembang.

Ditargetkan sedikitnya 96 tim akan berlaga dalam even ini. Pendaftaran dapat dilakukan di Raja Sport Centre. Masing-masing sekolah boleh mengirimkan lebih dari satu tim. Biaya pendaftaran Rp 150.000/tim dengan 8 atlet per tim. (*)

Contact Person
Taufik Usman 081632174777
Muhamad Nasir 081368184211
Atau email: Km.Nol2010@yahoo.com

Rabu, 04 Agustus 2010

SFC Fenomenal, Mulanya Sekedar Manfaatkan Fasilitas PON


Piala Indonesia yang diraih SFC diarak setibanya di Palembang Selasa (3/10).


Palembang:

Sriwijaya Football Club (SFC) benar-benar fenomenal dalam sejarah persepakbolaan di Indonesia. Berbagai rekor diciptakannya, mulai dari double winner (menyatukan piala copa dan liga Indonesia), dua kali juara copa berturut-turut. Dan terakhir menjadi tiga kali berturut-turut setelah menundukkan juara Super Liga Indonesia (SLI) 2010, Arema 2-1 di Manahan, Solo Minggu (1/8).

Itu yang positif. Yang negatifnya ternyata masih ada, rekor pemain yang menghajar suporternya sendiri. Dan kini kasusnya masih diproses di Pengadilan Negeri (PN) Palembang. Empat pemain SFC menjadi pesakitan, Christian Worabay, Isnan Ali, Charis Yulianto dan Amrizal.

Kalau dilirik sejarahnya, Gubernur Syahrial Oesman ketika itu tahun 2004 meng-take over Persijatim FC Solo yang kini menjadi Sriwijaya Footbal Club (SFC) hanyalah dengan tujuan memanfaatkan fasilitas pasca PON XVI di Sumsel. Nilai take over yang dilakukan dengan Muhmmad Zein saat itu adalah Rp 6 milyar.

Ketika itu, dalam musim kompetisi 2004, Persijatim masih menyisakan tiga pertandingan home di Solo, yakni melawan Persita Tangerang, Persikota dan Persib Bandung dan dua pertandingan di luar kandang, lawan Persija dan Pelita KS.
Beralih ke Palembang, pertandingan tersebut kemudian dilanjutkan Sriwijaya FC. Beberapa pelatih tercatat pernah menukangi kesebelasan ini, seperti Henk Wulems, Hery kiswanto, Suimin Diharja sampai kepada Rahmad Darmawan.

Kepindahan Persijatim ke Sumatera Selatan sebenarnya bukan yang pertama kali. Pada musim kompetisi 2003 Persijatim sempat pindah ground base ke Solo sehingga berganti nama menjadi Persijatim Solo FC. Pada musim 2000/2001 Persijatim juga pernah berganti nama menjadi Jakarta FC, mungkin sebagai brand untuk menyaingi Persija yang berada pada grup yang sama (barat). Kebiasan menggunakan tambahan FC berawal dari sini. Pada musim kompetisi berikutnya Jakarta FC dipindah ke grup timur dan kembali menggunakan nama Persijatim.

Ketika bernama Persijatim Solo FC pada musim kompetisi 2003, prestasi Persijatim bahkan lebih baik dari Persib Bandung yang harus menjalani relegation play off. Persebaya dan PSMS malahan masih berjuang di di divisi satu. Ketika itu divisi utama Ligina hanya terdiri dari satu grup berjumlah 20 klub (pemberlakuan Liga Super sebenarnya bukan barang baru). Namun prestasi tersebut tidak bisa dipertahankan pada musim berikutnya dan drop hingga posisi 14. Musim berikutnya, Persijatim dibeli oleh Gubernur Sumatera Selatan dan akhirnya mencetak sejarah sebagai kesebelasan pertama yang mengawinkan gelar Copa Indonesia dengan Ligina pada tahun 2008. Lalu kesebelasan yang ‘menguasai’ piala Copa dua tahun berturut-turut. Semuanya ketika kesebelasan ini ditangani Rahmad Darmawan. Manajernya, Amalsyah Tarmizi. Duo militer ini berhasil mengangkat pamor SFC.

Lalu, 2010 gelar bagi SFC bertambah lagi. Tiga kali juara Piala Indonesia (dulu Copa). Prestasi ini justru ketika Rahmad Darmawan akan meninggalkan kesebelasan ini karena SFC sudah mengantongi pelatih baru, Kolev.

Sempat Dikecam
Di awal kepindahannya ke Sumsel, SFC sempat dikecam. Bahkan polemik pun mencuat soal pro dan kontra keberadaannya di daerah yang sebenarnya punya sejarah memiliki klub-klub kuat seperti Krama Yudha Tiga Berlian dan PS Pusri.

Masyarakat pun belum begitu antusias menyaksikan pertandingan timnya. Upaya keras dan berbagai cara dilakukan agar sepakbola minded tercipta di daerah ini. Sampai akhirnya berbagai kumpulan suporter pun lahir . Maniak bola pun bergaung.
Dengan prestasi yang diukir, saat Pemilihan Gubernur dua tahun lalu, SFC pun dijadikan ’jualan’ oleh salah satu kandidat. Dan di satu pihak, keberadaan SFC justru dikecam. Bahkan disebut-sebut tidak membanggakan daerah karena pemainnya bukanlah putra daerah.

Kini, saat Alex Noerdin memenangkan Pilgub, keberhasilan SFC di era Syahrial pun disempurnakan dengan prestasi yang sama. Semuanya kini telah merasakan keberadaan SFC. Mulai dari kepala daerahnya sampai kepada rakyatnya.

Cek Mad
Rahmad Darmawan --yang dikenal dengan nama panggilan Cek Mad sejak melatih SFC-- memulai kariernya sebagai pesepak bola di Persija "Macan Kemayoran" Jakarta 1985. Juga masuk Timnas U-23. Dan sempat memperkuat beberapa kesebalasan, seperti Army Force Malaysia, dan Persikota.

Saat training centre lawan Bayern Urdingan (klub divisi Utama Jerman), lututnya cedera. Mimpinya tampil di Pra Piala Dunia pun buyar. Dia kembali ke Jakarta. Mulanya menjadi asisten pelatih kesebelasan Bank Indonesia. Pelatih kepala saat itu Hari Tjong. Setahun kemudian dia menjadi pelatih kepala karena Hari Tjong menjadi pelatih PS Banda Aceh.

Tahun 1990 dia mengantongi sarjana IKIP. Lalu ditawari masuk Wamil karena ketika itu TNI punya PS ABRI yang bermain di Galatama. Hingga 1997 dia memperkuat berbagai tim sampai akhirnya kembali cidera lutut kiri saat memperkuat Persikota dan akhirnya memutuskan full sebagai pelatih.

Pensiun sebagai pemain di klub Ibu Kota itu, Rahmad mencoba peruntungannya sebagai pelatih di tim ”Bayi Ajaib” Persikota Tangerang. Rahmad melatih klub berjuluk Bayi Ajaib itu selama empat tahun, mulai dari tahun 2000.

Sembari melatih Persikota, pengagum Maradona dan Piere Lisbersky ini mengasah keterampilannya sebagai pelatih dengan belajar ke manca negara. Di penghujung karirnya sebagai Pelatih Persikota, Rahmad mengantungi International Licence di bawah bimbingan Horst Kriete dan Bernd Fisher. Usai mendapatkan lisensi tertinggi itu, Rahmad langsung hijrah ke Persipura Jayapura.

Di bawah tangan dinginnya, Persipura, yang mulai pudar namanya, kembali bangkit dan meraih gelar juara LI 2005. Prestasi ini langsung melambungkan nama Rahmad. Beberapa klub dalam dan luar negeri, seperti Perak FC Malaysia dan Persebaya Surabaya, tertarik untuk menggunakan jasanya. Tetapi, Rahmad melabuhkan hatinya ke Persija.
Pilihannya kembali ke Ibu Kota itu, pada akhirnya disesali Rahmad. Suami dari Eti Yuliawati itu mengakui kesalahannya menerima pinangan Persija. Pasalnya, di Persija dia tidak bisa berbuat banyak. Rahmad tidak bisa memilih pemain- pemain yang akan memperkuat timnya, padahal memilih pemain merupakan tugas dan kewajiban seorang pelatih kepala.

Dia mengakui kesalahan itu. Kenapa dia mau ke Persija. Saat itu, menurutnya, kesediaanya ke Persija karena dijanjikan akan ada Agu Casmir (bek Timnas Singapura), Emmanuel De Porras (mantan striker Persija dan PSIS Semarang), dan Ronald Fagundes (gelandang Persik Kediri). Ternyata semua nama-nama besar itu kabur.

Musim kompetisi tahun 2006 itu menjadi masa-masa paling sulit dalam karier Rahmad. Tetapi, dengan materi pemain seadanya dan bukan pilihannya --belum lagi intervensi dari berbagai pihak-- kapten Marinir itu masih bisa membawa Persija ke babak delapan besar Liga Indonesia dan peringkat ketiga Copa Indonesia. Jauh dari target yang ditetapkan, yaitu meraih salah satu gelar juara.

Terperosok di Ibu Kota, Rahmad terikat kontrak dengan Sriwijaya FC Palembang (d/h Persijatim Jakarta). Di klub ini, Rahmad dibebaskan mengatur segi teknis tim, tanpa ada intervensi siapa pun. Hasilnya, Rahmad meraih double winner di tahun pertamanya di Palembang. Padahal, pria yang hobi bernyanyi ini tadinya hanya ditargetkan membawa Sriwijaya FC ke zona Liga Super.

Kini, prestasi bersama SFC bakal jadi kenangan. Rahmad kiini mungkin akan berlabuh kembali ke Persija. Yang jelas, tarifnya akan melambung. Kalau dulu ada Tanri Abeng yang dijuluki Manajer 1 Miliar, kini Cek Mad mungkin bisa dijuluki Manajer 2 Miliar. Karena saat ini saja, tarifnya tak kurang dari Rp 1,2 M/musim. Bravo SFC, Cek Mad, Manajemen, Suporter dan masyarakat Sumsel. Semoga prestasi terus terukir. (muhamad nasir)

Rabu, 24 Februari 2010

t


Senin, 08 Februari 2010

Pusri Jurnalistik Award



Pusri Jurnalistik Award, Apresiasi Pusri untuk Jurnalis

Jakarta—PT Pupuk Sriwijaya dalam usia yang kelima puluh tahun (24 Desember 2009) mengadakan lomba penulisan artikel dan feature terkait dengan peran dan pengabdiannya di dunia industri pupuk dan swasembada pangan di Indonesia.
Manajer Humas PT Pusri, Zain Ismed mengatakan secara langsung ataupun tidak langsung keberadaan produk-produk pupuk Pusri dapat meningkatkan produktifitas hasil pertanian yang pada akhirnya mendukung swasembada dan ketahanan Pangan Nasional. Industri pupuk sangat strategis bagi negara kita yang merupakan negara agraris.
”Bagi petani, jelas sekali produk Pusri memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan,” katanya Senin (8/2).
Dalam rangkain peringatan ulang tahun emas ini, dikatakan Ismed, Pusri mencoba memberikan apresiasi kepada para jurnalis. Berupa diseminasi informasi dan problematika terkait dengan eksistensi perusahaan selama mengabdi bagi kepentingan Tanah Air melalui hajatan penghargaan Pusri Jurnalistik Award (PJA).
”Kegiatan itu juga merupakan bentuk kepedulian konkret dari bagian corporate social responsibility (CSR) PT Pusri kepada wartawan,”ujar Ismed.
Diakui oleh Ismed, media massa memberikan sumbangsih yang tak sedikit bagi perkembangan perusahaan penghasil pupuk ini dan lomba ini merupakan lomba pertama kali dilakukan oleh PT Pusri sejak 50 tahun pabrik pupuk ini berdiri.
”Nah, dalam peringatan ulang tahun emas ini, Pusri mencoba memberikan apresiasi terhadap media massa, khususnya melalui hajatan penghargaan Pusri Jurnalistik Award (PJA),”katanya.

Dalam melakukan kegiatan ini, kata Ismed PT Pusri memberikan hadiah berupa uang tunai dan plakat kepada masing-masing pemenang dalam lomba penulisan artikel dan feature dengan total hadiah mencapai Rp 36 juta rupiah untuk 6 orang pemenang.

Sementara itu, Ida Syahrul dari Media Lintas Informasi yang menjadi pelaksana teknis acara lomba ini mengatakan pihaknya melakukan penjurian terhadap artikel atau feature yang ditulis oleh Jurnalis di media massa masing-masing terkait dengan PT Pusri dalam Industri pupuk selama kurun waktu Juni 2009 sampai Maret 2010.

Selain itu, kata Ida, dalam penjuriannya pihak MLI dan Pusri melibatkan jurnalis, organisasi pers, dan Kementrian BUMN serta internal Pusri.
”Untuk juri dari praktisi media, organisasi pers, dan Kementrian BUMN ,”katanya. Ida berharap, lomba ini bisa diikuti oleh seluruh jurnalis yang ada di Indonesia. Terutama media yang ada di Sumsel, tempat berdirinya pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara ini.


Contact Person:
Ida Syahrul 081271194300
Muhamad Nasir 081368184211

Jumat, 01 Januari 2010

Mir Senen Tutup usia



Budayawan Sumsel, Mir Senen Tutup Usia

Palembang:

Budayawan Sumsel H Muhammad Ali Gathmyr Senen alias Mir Senen meninggal dunia di usia ke-55 setelah didera penyempitan saraf otak, Jumat (1/1) Pukul 00.30 WIB di Rumah Sakit Dr AK Gani Palembang.

Usai disemayamkan di rumah duka yang juga kediaman kakak kandungnya H Jalili Senen, di Jalan Sekip, Lorong Belimbing II,No 5 Palembang, jenazah almarhum langsung diberangkatkan menuju peristirahatan terakhirnya pukul 10.00 WIB.

Pria kelahiran Palembang 5 Mei 1955 itu dikebumikan di Dusun Betung Kabupaten Banyuasin, berdekatan dengan makam kedua orangtuanya yang sudah lebih dulu meninggal dunia. Menurut adik kandung almarhum, Maryam Senen atau Nung Yah, sebelum meninggal dunia kesehatan kakaknya memang sempat terganggu, selain menderita prostat alhmarhum juga mengalami gagal ginjal dan stroke.

Puncaknya tiga hari lalu, almarhum terkena stroke dan dilarikan ke Rumah Sakit AK Gani. “Sebenarnya agak lama ya,tapi dia takut disuntik.Dia juga sempat berobat ke Malaysia dan agak baikan, tapi terakhir ada penyempitan syaraf di otaknya.Kita semua iklas dan sudah dimakamkan di makam keluarga di Betung,” jelasnya.

Terlahir dari keluarga “kayo lamo”, H Muhammad Ali Gathmyr Senen atau biasa dipanggil dengan Mir Senen, hingga kini menjadi pelestari budaya dan seni Sumatera Selatan (Sumsel).

Ribuan koleksinya tersimpan dengan baik dan desain-desain modifikasi songket karyanya seolah membawa pemakainya ke nuansa kejayaan Palembang tempo dulu.
Di Sumsel, siapa yang tidak mengenal Mir Senen. Pria kelahiran Palembang, 5 Mei 1955 ini, terkenal dengan kain songketnya yang eksklusif, mahal, dan bercita rasa tinggi.

Pelanggannya pun mulai dari presiden hingga pengusaha.
Mir Senen terlahir dari keluarga kaya-raya dari Palembang. Pada masa paceklik sekitar tahun 1960-an, mendekati masa pecahnya Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu), ayahnya memperoleh banyak barang antik milik masyarakat yang ditukar dengan beras dan gula. Barang antik itu tidak hanya berupa barang pecah-belah melainkan juga kain-kain kuno yang sekarang sudah tak ternilai harganya.

Kini, barang-barang itu ditata rapi di galeri berlantai empat berukuran 20x5 meter di Jalan AKBP HM Amin, Palembang. Dia memang berencana membuat museum koleksi barang seni dan budaya Sumsel, yang nantinya akan diserahkan kepada pemerintah.
Koleksi benda-benda antik inilah yang kemudian menjadi titik awal usaha Mir. Pada mulanya, putra pasangan HM Senen dan Hj Cik Imah ini, tidak mendapat restu orang tua saat menekuni bidang seni. Ayahnya lebih senang kalau Mir kuliah di bidang hukum agar bisa membantu ayahnya yang tuan tanah dan sering punya masalah.
Mir kemudian kuliah di Fakultas Hukum Unsri. Namun ia lalu kabur dari rumah dan meneruskan ke Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan Trisakti, Jakarta, dan mengantongi sertifikat tahun 1976. Usai itu ia pergi ke Yogyakarta, kemudian mendaftar diam-diam di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).
Mir lulus, namun untuk masuk kuliah ia tidak punya uang lagi. Karena dihantui rasa takut tak bisa jadi seniman, Mir kemudian mengirim surat dan minta restu orang tuanya untuk menekuni bidang seni. (sir)

Musi dan Ampera Awal 2010


Sisa 2009. Seorang pekerja sedang membersihkan sisa-sisa perayaan sambut tahun baru 2010 di Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Jumat (1/1/2010). Malam tahun baru, di tempat ini memang menjadi pusat perayaan di Palembang.




Pertama: Mentari pagi pertama di 2010 muncul dengan garangnya di antara Jembatan Ampera. Meski sempat ditutupi awan, kemunculannya disambut warga Palembang yang mencoba peruntungannya di tahun baru ini.







Musi dan Ampera Akhir 2009





href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKSTxzS7Mqf4tvrlaPLMa96i78D5DQOW-hJylUDw6S1VoOYMws-mYQ5SqJCj8xnZlnN33wKjuJTYyNpzOIlOunrAbiZ9R9eLlfPh0Jf6VD1Xnwnyhg-7l1TiB_RzXHupHZwQ1sKfDbD1k/s1600-h/100_1658i.JPG">

Senja 2009: Senja terakhir 2009 telah berlalu. Mentari kembali ke peraduannya diwarnai mendung di Jembatan Ampera yang bertengger atas Sungai Musi Palembang, Kamis (31/12

2009, Pusri Over Target


Seorang karyawan Pusri sedang memperbaiki benang mesin yang putus saat pengantongan terakhir pupuk Pusri 2009.




Pusri Over Target

Palembang:

Produksi PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) untuk tahun 2009 mampu melampaui target yang ditetapkan dalam RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan). Realisasi produksi Urea mencapai 2.026.710 ton atau 101,3 persen dari target, Ammonia 1.323.800 ton (101,8 persen) dan pupuk Organik sebesar 976 ton atau 162,7 persen dari target.
Demikian dikemukakan Direktur Utama PT Pusri Ir Dadang Heru Kodri dalam acara pengantongan produksi akhir tahun 2009 dan pengantongan perdana tahun 2010 di gudang area 2D Pengantongan Pupuk Urea PT Pusri, Kamis (31/12).




















Pengantongan Terakhir: Direksi dan beberapa GM PT Pusri melakukan pengantongan terakhir 2009 Kamis (31/12). Didahului Dirut PT Pupuk Sriwidjaja Dadang Heru Kodri dan diikuti direksi dan beberapa GM melakukan pengantongan terakhir 2009 di pabrik PT Pusri Palembang. Tahun ini, produksi urea Pusri mencapai target yang ditetapkan yakni 2.026.710 ton (101,3%), amoniak 1.323.800 ton (102,8%), dan produksi organic 976 ton (162,7%).






Dalam acara itu selain pengantongan akhir tahun 2009 dan pengantongan awal 2010, dilakukan pula penandatanganan kantong produksi akhir 2009 dan produksi awal 2010. Selanjutnya pembukaan selubung dan penandatanganan papan rekapitulasi hasil kerja PT Pusri Tahun 2009,
Berturut-turut Dirut Ir Dadang Heru Kodri, Direktur Produksi Ir Indra Jaya, Direktur Keuangan Drs Wiyas Y Hasbu AK MBA,Direktur Pemasaran Ir Bowo Kuntohadi, dan Direktur SDM dan Umum Djafarudin Lexy S SE MM.












Penandatanganan Kantong Pupuk: Direksi dan beberapa GM Dirut menandatangani kantong terakhir dan kantong perdana 2009. Didahului PT Pusri Dadang Heru Kodri dan diikuti direksi dan beberapa GM. Pemerintah menetapkan pupuk yang diproduksi tahun 2010 mencapai 6 juta ton. Meningkat 500 ribu ton dibanding tahun sebelumnya. Untuk itu, pabrik ini akan melakukan eifisensi dan optimalisasi guna memenuhi target tersebut.





Dadang mengingatkan bahwa untuk tahun 2010, PT Pusri harus mempersiapkan program kerja perusahaan untuk mendukung program 100 hari pemerintah. Yakni revitalisasi industri pupuk dan gula yang masuk sebagai 15 program kerja unggulan, yang terkait dengan program peningkatan ketahanan pangan nasional.
Dikatakan, kebutuhan pupuk tahun depan semankin meningkat.Khusus untuk memenuhi sektor pangan pemerintah menetapkan bahwa PSO yang harus dipenuhi sebesar 6 juta ton. “Jumlah ini meningkat 500 ribu ton dari tahun 2009,” katanya.
Kepada wartawan Dadang mengatakan untuk tahun 2010 ketersediaan gas untuk produksi PT Pusri masih aman. “Kita berterima kasih kepada Pertamina dan Medco yang memberikan gas yang cukup,” katanya. Sedangkan mengenai HET pupuk urea bersubsidi, dikatakan PT Pusri hanyalah operator yang hanya mengikuti kebijakan pemerintah
Dadang juga menambahkan, untuk tahun 2010 target yang ditetapkan pemerintah sebesar 6 juta ton, meningkat sebesar 500 ribu ton dari tahun 2009.Hal ini sebagai pemenuhan kebutuhan pupuk di dalam negeri sebagai penopang sektor pangan dalam negeri. Terkait kemungkinan adanya kenaikan harga pupuk untuk tahun 2009, itu merupakan kebijakan pemerintah.

“PT Pusri hanya operator dan berkewajiaban memenuhi pencapaain target, masalah kenaikan harga itu hak pemerintah,” tegas Dirut. Selain memproduksi pupuk Urea,Amonia,dan pupuk Organik, PT Pusri juga akan memproduksi pupuk NPK untuk memenuhi kebutuhan pupuk di dalam negeri. (sir)

Selasa, 29 Desember 2009

Membangun Palcomtech dari Rental VCD

Sinar Harapan, edisi Rabu 9 Desember 2009


*Berawal dari Rental VCD

Hendri Sukses Bangun Lembaga Pendidikan

OLEH: MUHAMAD NASIR

PALEMBANG - Memiliki perguruan tinggi dengan 3.000 mahasiswa yang dinobatkan sebagai lembaga pendidikan komputer terbaik tingkat nasional 2007, pemenang IT Growth Special Award dari Telkom Smart Campus Award (Tesca) 2009, serta Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Bidang Pendidikan 2009, Hendri tampil low profile bahkan lugu.

Pada usia yang masih muda, peraih Pemuda Pelopor 2009 ini, ternyata memulai geliatnya justru dari usaha rental VCD di tahun 1998 lalu. Di bilangan Jalan Sudirman, berseberangan dengan Rumah Sakit Muhamad Hoesin (RSMH) pada 1998 Hendri membuka rental VCD DJDisc dengan modal awal Rp 10 juta. Setahun kemudian, dengan bekal ilmu komputernya yang didapat secara otodidak, Hendri dan Maria Veronica (kini menjadi istrinya), memulai usaha warung internet (warnet) DJNet dengan delapan unit komputer.
Di luar perkiraan sebelumnya, usaha warnet yang dirintis dan merupakan warnet keempat di Palembang tersebut ternyata nyaris tutup. ”Soalnya, seminggu pertama hampir tak ada satu pun pengunjung yang datang. Bisa dibayangkan stresnya, ya!” ujar ayah dari dua anak, Velicia Gwen Thalia dan Vernandito Gwen Mario ini.
Lelaki kelahiran Palembang, 14 Juli 1978, ini sempat merenung, memikirkan apa yang menjadi penyebab sepinya pengunjung. Lalu Hendri tak tinggal diam, ia berusaha mencari tahu dengan berbagai cara. Dan ternyata didapat bahwa akar persoalannya adalah masyarakat yang belum familiar dengan dunia maya. Bahkan, penggunaan komputer pun waktu itu belum booming seperti saat ini.



“Data itulah yang didapatnya, yang tentu harus direspons agar warnet bisa tetap bertahan,” tutur putra sulung dari Effendi Yani dan Erlina Tjong yang berbisnis ekspedisi angkutan darat ini.
Dari permasalahan ini, Hendri pun menggagas paket “Pelatihan Internet Singkat Empat Jam Dijamin Langsung Bisa!” dengan konsep 100% praktik 100% internet yang digelar pertama kali gratis dan selanjutnya berbiaya hanya Rp 15.000. Dengan resep itu, otomatis untuk mengelola warnet dan mengajar sendiri sekaligus dilakoninya.

PalComTech
Tak disangka, ternyata inilah awal konsep dan program pendidikan yang kini juga sukses diterapkan di LPK, STMIK, dan Politeknik PalComTech.
Seiring pelatihan internet yang sering digelar di Warnet DJNet, pada tahun 2003 Hendri pun memberanikan diri membuka Lembaga Pendidikan Komputer (LPK), dengan nama PalComTech dan melakukan sinergi antara warnet dan LPK. Melalui warnet DJNet, informasi pelatihan dan penawaran program PalComTech disampaikan.
“Gimana ya, saya memang sangat hobi dengan dunia teknologi informatika (TI). Rata-rata, sehari saya menghabiskan waktu lima jam mengakses internet,” ujarnya.

“E-learning” Tak Laku
Awal membuka LPK itu sendiri tidak di­sengajanya karena ide awalnya adalah menjual aplikasi e-learning yang berhasil dirancang sembari mengelola warnet. Tapi ke­nyataan berbicara lain. Pada saat itu aplikasi e-learning masih asing di dunia pendidikan. Dan karena tak ada yang mau menggunakan, Hendri akhirnya memutuskan melakukan uji coba aplikasi ini melalui lembaga yang dibuka, yakni LPK PalComTech.
Jadi, sebenarnya LPK PalComTech sendiri merupakan kelinci percobaan dari aplikasi e-learning. Melalui uji coba tersebut, didapatkan fakta bahwa ternyata belajar komputer yang mudah itu adalah melalui praktik dan internet. Maka, sejak itu PalComTech menggunakan 100% praktik 100% internet sebagai konsep belajar dan tagline.
Warnetnya yang memiliki empat cabang di Palembang kini sudah dilepas. Setelah makin serius menekuni bidang pendidikan di PalComTech, pengelolaan DJNet pun diserahkan kepada karyawannya yang merupakan alumnus PalComTech. Keseriusan ini pun menampakkan hasil, di mana pada tahun 2004 PalComTech membuka cabang di Jambi, lalu pada tahun 2006 berhasil melakukan alih kelola Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Ilmu Komputer (STMIK) dan Politeknik Mahameru menjadi STMIK dan Politeknik PalComTech.
Selanjutnya, pada tahun 2008-2009 pihaknya berhasil membuka cabang di Kota Lahat, Prabumulih, dan Baturaja yang merupakan kota kabupaten di seputar Sumatera Selatan.
Kebanggaan memenangkan berbagai penghargaan tingkat nasional, patut diperhitungkan, sebab PalComTech menjadi satu-satunya lembaga pendidikan di luar Pulau Jawa yang sukses mendulang berbagai prestasi nasional yang bergengsi dan diakui keberhasilan sistem pendidikan dan penerapan TI-nya. n

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/hendri-sukses-bangun-lembaga-pendidikan/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=12&tx_ttnews[days]=9&cHash=0e8923ced6



Sisi Lain
Sulit Diterima Masyarakat





KONSEP pendidikan yang diterapkan di PalComTech awalnya sulit diterima masyarakat, juga oleh lembaga-lembaga sejenis.

Program 100% praktik dan 100% internet memang belum begitu dikenal. Namun, melalui keberanian dan keuletan, Hendri bisa meyakinkan sehingga kini lembaga pendidikan yang didirikannya makin diminati masyarakat.
Tahun ini lembaga ini direncanakan menelurkan ratusan sarjana baru di bidang teknologi informasi. Memang, tak sedikit kendala dan halangan yang dialami, mulai dari keraguan masyarakat atas kualitas layanan pendidikan hingga status lembaga tersebut. Tetapi institusi yang awalnya hanya berupa lembaga pelatihan komputer dalam binaan pendidikan nonformal itu, kini dapat berkembang menjadi perguruan tinggi di bawah binaan Dirjen Pendidikan Tinggi melalui alih kelola perguruan tinggi lainnya.
”Kami belajar dari pengalaman dan selalu merespons perkembangan yang ada agar pendidikan yang kami gagas dapat diterima masyarakat,” kata Hendri yang juga aktif di beberapa lembaga sosial keagamaan ini.
Oleh karena keberhasilannya, Hendri kini dipercaya menjadi narasumber nasional di Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Ditjen PNFI) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) subdit kelembagaan, terutama berkaitan dengan peningkatan mutu dan penguatan manajemen kelembagaan di Indonesia. (sir)

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/sulit-diterima-masyarakat/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=12&tx_ttnews[days]=9&cHash=8582b8480d