Jumat, 13 Maret 2009

Arca Budha Hilang, Kepala Museum Dimintai Keterangan

Arca Hilang, Kepala Museum Dimintai Keterangan

Palembang:

Pasca terungkapnya Arca Buddha peninggalan Sriwijaya abad XI yang terbuat dari
perunggu, Kamis (12/3 Kepala Museum Balaputra Dewa M Syafei Wahid dimintai keterangan oleh petugas dari Polda Sumsel.

Direktur Reserse Kriminal Polda Sumsel Kombes Pol Artstianto Darmawan yang ditemui
di ruang kerjanya mengatakan, pemeriksaan keempat saksi itu untuk mengecek alibi
dan kesaksian mereka pada saat kejadian. Termasuk menanyakan kejanggalan seperti

tidak aktifnya CCTV di ruangan tersebut. “Kami akan periksa apakah hal ini disengaja
dan terkait dengan pencurian tersebut atau tidak,” ujarnya.

Karena koleksi yang hilang itu merupakan milik Museum Balaputradewa, maka
sebelumnya Syafei Wahid memang melapor ke Polda Sumsel. Sebelum dia melapor,
beberapa petugas dari Polda Sumsel dan Polsekta Sukarami sudah terlebih dulu mengidentifikasi tempat kejadian perkara (TKP).

Biasanya identifikasi TKP baru dilakukan setelah polisi menerima laporan. Di TKP
polisi mengidentifikasi sidik jari. Selain mengambil sidik jari, petugas identifikasi terlihat juga mengambil sampel kunci pintu yang berada persis di samping kiri lemari kaca tempat

arca bernilai ratusan juta rupiah tersebut sebelumnya berada. Setelah polisi
melakukan identifikasi, Syafei bersama sejumlah petugas kemudian berangkat ke Mapolda Sumsel untuk melaporkan peristiwa tersebut.

Syafei mengaku sudah memberitahukan peristiwa kehilangan tersebut ke Polsekta
Sukarami pada hari Rabu (11/3) sore. “Sebelumnya kami sudah menyampaikan laporan ke
Sukarami sore kemarin (Rabu),” ujar Syafei saat ditemui di Museum Balaputra Dewa,di
selasela proses identifikasi.

Kepada petuga yang memeriksanya, Syafei mengatakan belum bisa memastikan kapan
peristiwa pencurian tersebut terjadi. Dia hanya memperkirakan peristiwa tersebut
terjadi antara Kamis– Minggu (5 – 8/3) lalu.

Peristiwa itu sendiri baru diketahui saat salah seorang petugas keamanan, Hifzon
Kulbi,memeriksa Ruang Pameran Tetap II Museum tempat arca tersebuit disimpan.
Menurutnya, saat itu yang bertugas Hifzon, Mustofa siang harinya. Malam harinya,
dari pukul 21.00 sampai 07.00 pagi (yang bertugas) Istiawan dan Ade Citra Sandi.
Syafei menjelaskan, di ruang pameran tersebut sebenarnya terdapat beberapa kamera
closed circuit television (CCTV) yang salah satunya berada persis di atas lemari
kaca tempat arca tersebut ditempatkan. Kamera itu sendiri dikendalikan dan diawasi di ruang pengawasan yang berada di bagian depan museum. Hanya saja, peristiwa tersebut sama sekali tidak terekam. CCTV tidak aktif karena memorinya penuh sehingga tidak bisa digunakan.

Setelah melaporkan peristiwa tersebut Syafei dan tiga orang bawahannya, Amiruddin
(kepala keamanan Museum), Hifzon Qolby,dan Mustofa (petugas keamanan), diperiksa di
Gedung Direktorat Reserse Kriminal Polda Sumsel. Pemeriksaan berlangsung secara tertutup. (sir)

Kamis, 12 Maret 2009

Arca Sriwijaya Hilang

Arca Buddha Peninggalan Sriwijaya Hilang


Oleh
Muhamad Nasir

Palembang - Sebuah arca Buddha yang terbuat dari perunggu setinggi 17 cm dan lebar 7 cm dengan ketebalan 7 cm koleksi Museum Balaputra Dewa, Palembang, diketahui hilang dan hingga saat ini tak jelas keberadaannya.



Arca Budha peninggalan kerajaan Sriwijaya yang hilang itu sebelum dinyatakan takjelas keberadaannya.







Plakat yang dipajang di dalam lemari pameran museum menyebutkan, arca itu merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya pada abad XI Masehi.
Arca yang diperkirakan bernilai ratusan juta rupiah itu selama ini dipajang di dalam lemari pameran yang terbuat dari kaca setebal 30 cm di dalam ruang pameran II Museum Balaputra Dewa. Dalam plakat itu juga disebutkan, arca Buddha dalam identifikasi tangan dan mudra itu diwujudkan sebagai Buddha dengan posisi sedang duduk di atas padmasana dengan tangan kanan di angkat, sementara kaki berada dalam sikap pralambhavadasana atau duduk bersila seperti orang sedang bertapa.
Menurut informasi yang diperoleh SH, Rabu (11/3), arca tersebut dahulu ditemukan di Bukit Seguntang, Palembang, oleh seorang anak kecil, lalu dijadikan barang koleksi Museum Balaputra Dewa di ruang pameran.
Kepala UPTD Museum Balaputra Dewa, M Syafei Wahid, yang dikonfirmasi menjelaskan bahwa hilangnya arca itu memang belum dilaporkan kepada pihak berwajib karena pihaknya masih menginventarisasi jumlah kerugian akibat peristiwa tersebut.
Kapolsek Sukarami Akp FX Irwan Arianto juga mengaku belum menerima laporan tersebut. Begitu pula Direktur Reskrim Polda Sumsel Kombes Pol Arsinato Darmawan yang mengaku belum menerima laporan dari pihak museum.
“Sampai saat ini, kami belum menerima laporannya. Jika sudah masuk, akan segera kami usut. Kami juga akan mendatangkan saksi ahli atau orang yang ahli di bidangnya untuk memberikan keterangan dan kami akan segera melakukan penyidikan,” kata Arsinato.

Pintu Tak Rusak
Menurut pengamatan SH, di tempat kejadian perkara (TKP) ditemukan banyak kejanggalan. Pintu masuk ruangan pameran setebal sekitar 40 cm, misalnya, tidak rusak sama sekali. Begitu pula dengan kaca lemari pameran tempat arca berada. Hanya pintu penghubung ke kaca lemari pameran yang terlihat sedikit rusak, seperti dicongkel menggunakan besi.
Selain itu, sejumlah patung arca lain yang berada di ruang terbuka masih utuh di tempatnya, termasuk Buli-buli dan arca Buddha Meitreya yang berada satu tempat dengan arca tersebut. Hilangnya benda bernilai sejarah tinggi ini pertama kali diketahui Hifzon, salah seorang pemandu dan penjaga museum, Senin (9/3) lalu. n



Copyright © Sinar Harapan 2008

Sinar Harapan Kamis, 12 Maret 2009 No. 6139
Halaman K E S R A

Selasa, 10 Maret 2009

Pelestari songket

Dimuat di Sinar Harapan edisi Rabu 27 Mei 2009 http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/melestarikan-songket-memberdayakan-penenun/





Tria Gunawan











Alwantriati Tundarizma

Lestarikan Songket, Berdayakan Penenun

Songket sudah mahfum identik dengan bangsa Melayu. Di Palembang, pengrajin songket jumlahnya tidak sedikit. Hanya saja, dengan motif yang terbatas tentu bukan tidak mungkin budaya daerah ini akan ditinggalkan.

Beruntung, di Palembang ada Alwantriati Tundarizma. Istri Gunawan ini mempunyai niat dan kemampuan untuk menyiasati kendala yang berhubungan dengan songket.

Dia terus berkreasi mengupayakan bagaimana supaya songket tetap lestari dan bisa diminati.

Dan lahirlah dari tangannya, songket bordiran dan songket benang tembaga. Lalu songket benang tembaga bordiran. Songket jumputan dan songket bordir jumputan. Terakhir, songket batik. Kini beberapa karyanya ini telah didaftarkan di Departemen Perindustrian untuk proses mendapatkan patent, seperti songket bordiran, songket benang tembaga, dan songket jumputan.


Suasana tenun di butik Tria Gunawan







Kreasinya yang kemudian dijadikan blus, baju, dan pakaian lainnya ini ternyata mendapat respon pelanggannya. Pelanggan Rumah Busana Tria, kebetulan memang umumnya istri pejabat ataupunpun orang-orang berada di Palembang.

”Saya memang mencoba mencari ikon-ikon di masyarakatar. Sehingga ketika ikon ini mengenakan karya saya, masyarakat akan betanya. Wah bagus ya, di mana saya mendapatkannya,” ujar ayah dua anak, Winona Razanah Algu dan M Qaedi Bajili Algu yang punya panggilan Tria Gunawan.

Hasilnya, tahun 2006 lalu Tria mendapaat upakarti dari Presiden RI. Lalu Kreasi Kriya Nusantara Terbaik di tahun yang sama dari Ketua Dekranas Indonesia. Beberapa penghargaan lainnya juga dia dapatkan di antaranya Kriya Potensi Ekspor dari Menteri Perdagangan, Wanita Pengusaha Berpretasi dan Inacraft Award tahun 2008.

Merangkul
Keahlian menenun songket khas daerah sekarang ini lebih didominasi oleh para orang tua. Remaja saat ini lebih menyukai kerja di toko daripada duduk berjam-jam di depan alat tenun. Bila hal ini terus dibiarkan begitu saja, kebiasaan menenun songket yang diwariskan secara turun temurun dikhawatirkan pudar. Menyadari hal ini, Tria Gunawan (41), pengusaha Butik Tria di Palembang mencoba merangkul banyak remaja putus sekolah untuk bekerja di butiknya.

Untuk menjadi seorang penenun yang baik, bukan hanya dibutuhkan keterampilan menenun, tapi juga pintar memodifikasi bahan baku yang ada menjadi bahan jadi yang nyaman dipakai dan indah dipandang. Apalagi, kualitas hasil tenunan seperti songket memiliki harga jual cukup tinggi. Cacat sedikit saja, bisa menjatuhkan harga di pasaran. Ha ini pula yang disadari oleh Tria untuk lebih jeli memeriksa hasil kerajianan tangan anak buahnya.



Suasana di butik Tria Gunawan. Pegawainya sedang menyelesaikan pakaian yang akan dijual.


Mantan pegawai bank swasta ini memulai karier di dunia tekstil kain songket sebenarnya sekedar coba-coba. Darah sumatera yang mengalir di jiwanya itu merasa jenuh dengan pekerjaan kantoran yang hasilnya begitu-begitu saja, tanpa ada peningkatan cukup berarti. Bersama suami yang pegawai Departemen Pertanian ketika mendapat tugas ke Yogyakarta selama beberapa minggu, Tria mencoba memanfaatkan waktu luang saat mendampingi suami di Yogyakarta dengan kursus mewarnai kain jumputan.
“Dari sini saya mulai berpikir, mengapa tidak saya kembangkan keterampilan ini dengan kain jumputan khas Palembang,” cetus alumnus Fakultas Pertanian Unsri ini. Oleh karena itu, ketika kembali ke Palembang, Tria pun memborong semua peralatan mewarnai bahan sampai pada canting-cantingnya.

Kain jumputan Tria ternyata memiliki banyak peminat. Namun semakin merambah pasaran luas, wanita cantik yang mulai berhenti bekerja sebagai pegawai bank pada 1997 dan mulai beralih profesi membuka butik di rumahnya ini tidak mau kreasinya hanya sampai di situ. Dia ingin produknya lebih berkelas dan mempunyai nilai jual lebih tinggi. Jumputan yang biasanya tampil polos itu pun kemudian dibordir. Meski harga jualnya pasti lebih mahal, bahan jumputan dengan hiasan bordir ternyata banyak disuka pembeli, terutama ibu-ibu arisan.

Semakin mengalirnya ide-ide dalam benak wanita muda ini, Tria pun membutuhkan banyak tukang jahit. “Kalau ingin berusaha menambah produk atau meningkatkan produk menjadi lebih tinggi kualitasnya, kita harus berani menambah banyak pekerja,” jelas ibu dua anak ini.

Diakuinya, keterampilan menenun songket sekarang ini didominasi oleh para orangtua. Hal inilah yang mendorong Tria untuk kemudian mengembangkan bahan jumputan menjadi bahan songket dengan merangkul banyak remaja putus sekolah. Pekerja-pekerja tersebut tidak hanya datang dari Palembang dan sekitarnya, tapi ada pula yang diambil dari pulau Jawa. Tak kurang dari 50 orang pegawai mudanya yang kini dididik sesuai keahliannya.

“Awalnya kita coba dia melakukan pekerjaan ringan. Lama kelamaan dia akan belajar dengan sendirinya mengikuti teman-temannya seperti memasang payet yang membutuhkan pemikiran lebih berat. Semua pasti bisa dilakukan, kalau kita latih mereka secara bertahap,” jelasnya.

Mengerjakan songket memang membutuhkan waktu berjam-jam dan konsentrasi penuh. Oleh karena itu, ketika ada seorang relasinya menawarkan koordinator untuk memudahkan cara kerjanya, Tria pun seperti menerima gayung bersambut.
Agar hasilnya terjamin, dia memiliki unit tenun tersendiri di rumahnya di Kompleks Kampus Jalan Anggar Blok E, Kompleks Kampus Palembang ini. Satu orang yang memilik keahlian membuat motif (mencupit) dipercaya menjadi pengawas sekitar 50 pekerjanya.


Pagelaran busana kreasi Tria Gunawan saati di PIM Palembang.




Untuk mengerjakan satu stel songket (kain plus selendang) diperlukan waktu sekitar dua minggu. Itu pun baru berbentuk bahan polos, belum dimodifikasi macam-macam. Seperti menyiapkan benang, motif (mencupit) yang juga membutuhkan waktu dua minggu lamanya. Karenanya, kalau memang butuh bahan lebih banyak order akan diserahkan kepada koordinator. Mereka inilah yang nantinya akan menunjuk penenun songket berpengalaman untuk disetor kepada Tria. Saat ini, dia memiliki beberapa koordinator.

Semangat berkreasi Tria memang patut mendapat acungan jempol. Sejumlah desainer kondang seperti Ghea Sukasah, Chosi Latu, Sarita, Poppy Darsono, Harry Darsono dan lain-lain telah menjadi pelanggan tetapnya. Bahkan Gubernur Sumatera Selatan belum lama ini memesan 33 songketnya yang seharga Rp 2.250.000 untuk dipakai para ibu gubernur dalam acara Penas di Palembang yang diresmikan oleh Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono.

“Sebelum itu saya bingung, stok songket ada ratusan tidak ada yang membeli. Lalu saya beri hiasan bordir pada pinggiran kain dan selendangnya sehingga memiliki cita rasa tinggi. Ternyata pesanan datang dan cocok dengan selera Ibu Gubernur,” cetus Tria yang menargetkan satu songket terjual dalam sehari.
“Karena satu songket yang seharga Rp 1 juta sampai Rp 4 juta sehari bisa menutupi perputaran uang,” jelasnya seraya menambahkan, “kalau 30 – 50 songket selesai dalam satu bulan, berarti ada tiga per empat barang yang sudah harus dikeluarkan. Kalau tidak, bisa pusing sendiri. (sh/muhamad nasir)

Sisi Lain

Berawal dari Pegawai Bank








Suksesnya Tria Gunawan sebagai pengrajin songket sesungguhnya tiodak didukung oleh pendidikan di bidang tekstil. Pendidikan formalnya, justru Fakultas Pertanian. Back ground kerjanya, perbankan. Dia terkahir adalah pegawai sebuah bank swasta yang terkena likuidasi...

Karena terlikuidasi, dia pun mengambil pensiun dini. Modalnya, ya pesangon waktu itu. Ditambah kursus jahit-menjahit. Tetapi, dia justru tidakpernah pegang mesin jahit. ”Saya ambil kursus memmbuat motif. Sehingga punya gambaran mngenai motif-motif pakaian,” ujarnya.

Merendah, Tria menyatakan dia sebenarnya hanya mengelola mereka-mereka yang ahli di bidangnya. Penenun dan penjahit, ahli bordir.
Kalaupun pendidikan informal, dia pernah kursus batik prifat di Yogya, ketika mendampingi suaminya melanjutkan pendidikan. ”Waktu itu, saya main ke Balai Batik. Untuk ikut kursus reguler, waktunya tidak tepat. Lalu saya ditawari ikut les prifat, dari mencampur warna, membuat pola, dan membuat batik,” hasilnya ya kreasi jumputan dan batik di atas songket.
Untuk memperdalam ilmu, Triapun terus bergaul dengan mereka-mereka yang telah dahuluan menggeluti dunia fashion. (sh/muhamad nasir)

Kamis, 05 Maret 2009

Telkomsel Kelola Banjir





Peduli Banjir: Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno (tengah) bersama Camat Jatinegara Andriansyah (kiri) dan Country Manager NetApp Indonesia Steven Law (kanan) saat meresmikan inovasi Program Peduli Banjir di empat titik rawan banjir di Jakarta. Program berbasis Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) pertama di Indonesia ini memberdayaan masyarakat sekitar dalam menerapkan manajemen resiko bencana, dimana masyarakat dilatih untuk secara aktif dan mandiri mampu menanggulangi dan menangani banjir.

















Peduli Banjir: Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno memegang pelampung bersama Country Manager NetApp Indonesia Steven Law didampingi Camat Jatinegara Andriansyah (paling kanan) dan VP Jabotabek Jabar Telkomsel Irwin Jakarta (paling kiri) saat meresmikan inovasi Program Peduli Banjir berbasis Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) pertama di Indonesia. Selain memberdayakan masyarakat untuk secara aktif dan mandiri mampu menanggulangi dan menangani banjir, Telkomsel juga memberikan bantuan peralatan seperti perahu, pelampung, senter, rompi, perangkat dapur dan genset.





Telkomsel, Pertama Kelola Banjir Berbasis Komunitas

Jakarta:

Hari ini Telkomsel meresmikan inovasi Program Peduli Banjir di empat titik rawan banjir di Jakarta. Berbeda dengan program peduli banjir sebagaimana umumnya, program ini lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat dalam menerapkan manajemen resiko bencana berbasiskan komunitas, dimana masyarakat dilatih untuk secara aktif dan mandiri mampu menanggulangi dan menangani banjir.

Program peduli banjir ini merupakan kerjasama sinergi (joint social program) Telkomsel dengan mitra kerja NetApp Indonesia. Program kepedulian ini sengaja ditujukan bagi wilayah Jakarta, dimana masalah banjir masih menjadi bencana utama yang datang hampir setiap tahun khususnya musim hujan.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, ”Dalam program ini, kami tidak hanya memberikan bantuan posko dan berbagai sarana penanggulangan banjir, tapi yang paling utama adalah upaya pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan Community Based Disaster Risk Management (CBDRM), dimana masyarakat dilibatkan secara aktif dalam proses identifikasi, analisa, penanggulangan, dan minimalisasi resiko bencana.”

”Konsep ini bersifat sustain dan bertujuan untuk meningkatkan potensi masyarakat dalam menghadapi bahaya banjir. Disini masyarakat dilatih untuk berperan di dalam pembuatan keputusan dan implementasi akan aktivitas manajemen resiko bencana,” tambah Sarwoto.

Manajemen resiko bencana berbasis komunitas ini membantu masyarakat untuk bisa lebih tanggap dalam mengantisipasi dan menangani bencana banjir. Salah satu contohnya adalah para relawan yang juga penduduk setempat dilatih mengevakuasi dan diberikan pemahaman tentang siapa yang harus dievakuasi lebih dahulu ( bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, orang sakit ataupun penderita cacat ).

Melalui program ini, masyarakat akan mempunyai sistem penanganan bencana yang efektif. Bahkan di wilayah rawan banjir tersebut telah dibangun jalur evakuasi dengan tanda/signage yang mudah dimengerti masyarakat berupa tiang, tali, dan bandul pelampung berwarna terang yang tetap terlihat walau terendam air. Masyarakat juga dibekali pengetahuan dan ketrampilan tentang penggunaan perahu, tali temali, evakuasi dan pengelolaan dapur umum.

Selain bantuan pengetahuan, teknis dan manajemen penanganan akibat banjir, bantuan juga diwujudkan dalam bentuk penyediaan ruang posko sebagai pusat koordinasi sekaligus tempat penyimpanan barang, serta bantuan peralatan evakuasi antara laini perahu, pelampung, senter, rompi yang menyala dalam gelap, perangkat dapur untuk keperluan bersama, genset dan bantuan lainnya.

Untuk saat ini, program ini dijalankan di Kampung Pulo-Kampung Melayu (Jakarta Timur), Ulujami (Jakarta Selatan), Kampung Klingkit-Rawa Buaya (Jakarta Barat), dan Jatiasih (Bekasi). Pemilihan lokasi ini didasarkan pada informasi bahwa daerah tersebut merupakan daerah hunian padat penduduk yang menjadi langganan bencana banjir dan sulit dijangkau karena akses jalannya banyak berupa lorong yang sempit.

Untuk itu program bantuannya dirancang sesuai kondisi dan situasi di lapangan, baik dari sisi sistem manajemen penanganan maupun perlengkapannya. Contohnya perahu yang dipakai evakuasi terbuat dari fiber dan bentuknya ramping, sehingga mudah untuk menjangkau hingga ujung gang sempit sekalipun dan tidak mudah rusak terkena benda tajam seperti seng atap rumah.
”Kami bangga karena masyarakat sangat antusias dan aktif mengikuti program pelatihan penanganan banjir menggunakan berbagai alat yang kami berikan. Hal ini sejalan dengan semangat internal Telkomsel dalam menerapkan konsep manajemen minimalisasi resiko bencana khususnya resiko pada operasional infrastruktur telekomunikasi yang menjadi core bisnis kami, dimana pada saat terjadi bencana, layanan telekomunikasi Telkomsel tetap dapat melayani masyarakat,” ungkap Sarwoto.

”Pengimplementasian sistem Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan, dengan kunci keberhasilan utama yakni pemberdayaan warga setempat untuk mengoptimalisasi berbagai manfaat bantuan Telkomsel,” papar Sarwoto.

Di kawasan Asia Tenggara, konsep CBDRM telah dipromosikan sejak tahun 2000 melalui The Partnership for Disaster Reduction - Southeast Asia (PDR-SEA) bekerjasama dengan tiga organisasi, European Commission Humanitarian Aid Department (DIPECHO), United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP) and Asian Disaster Preparedness Center (ADPC).

Country Manager NetApp Indonesia, Steven Law, “Sebagai bagian dari program Community Outreach NetApp, kami sangat senang dapat bekerjasama dengan Telkomsel membangun Posko Peduli Banjir (Flood Care Center) di wilayah Jakarta. Program kerja sama antara Telkomsel dan NetApp ini khusus disediakan untuk masyarakat di Jakarta dan Bekasi sehingga mereka dapat lebih tanggap dalam mengantisipasi bencana banjir.

”Inilah peran kami dalam membantu masyarakat, yaitu dengan membantu, memberikan pelatihan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat khususnya para korban banjir, dan juga memberikan pengetahuan prosedur pengevakuasian yang benar dalam mengantisipasi ketika terjadi bencana sesuai dengan CBDRM,” tambahnya

Bentuk kepedulian yang diberikan sengaja dititik-beratkan pada bencana banjir, yang kerap menimpa Jakarta. Tercatat banjir terbesar terjadi pada tahun 2007, yang lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. (Sebagaimana yang diberitakan di berbagai media Februari 2007) sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang dan sebanyak 82.150 meter persegi jalan di seluruh Jakarta rusak ringan sampai berat. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. (rel/sir)

Rabu, 04 Maret 2009

HUT Sumsel

Setelah 61 Tahun, Sumsel Pertama Kali Peringati HUT



Sinar Harapan, Senin, 14 Mei 2007




Palembang - Sumatera Selatan menjadi provinsi ditetapkan 15 Mei 1946 atau setahun setelah negara Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Meski umurnya lebih muda satu tahun dengan usia RI, baru tahun ini peringatan hari ulang tahun (HUT) dirayakan.
Selama ini, memang polemik yang berkembang membuat kapan lahirnya provinsi Sumsel belum dapat dipastikan. Melalui kajian historis dan akademis, akhirnya baru tahun ini ditetapkan hari lahir Sumsel tanggal 15 Mei 1946. Saat pembentukan struktur pemerintahan di Pulau Sumatera yang terbagi dalam tiga subprovinsi, subprovinsi Sumatera Utara, subprovinsi Sumatera Tengah, dan subprovinsi Sumatera Selatan.
Menurut Febrian Ketua Tim Penyusun naskah akademis, Raperda Hari Jadi Sumsel, setelah proklamasi 17 Agustus 1945 PPKI dalam rapatnya tanggal 19 Agustus 1945 menetapkan pembagian daerah Republik Indonesia ke dalam delapan provinsi yang masing-masing dikepalai gubernur. Kedelapan provinsi itu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Berneo, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil.
Saat itu, provinsi dibagi dalam keresidenan yang dikepalai residen gubernur. Provinsi Sumatera terdiri dari 10 keresidenan dan untuk pertama kali ditunjuk sebagai Gubernur Sumatera adalah Tengku Muhamad Hasan.
Dalam perkembangannnya melalui UU No 10 tahun 1948 tentang pemerintahan Sumatera, Provinsi Sumatera dimantapkan jadi tiga provinsi, yakni Provinsi Sumatera Utara, Sumatera tengah, dan Provinsi Sumatera Selatan. Kedudukan ketiga provinsi ini bersifat otonom.
Gubernur Sumatera Selatan yang pertama adalah dr M Isa yang dilantik Presiden RI Soekarno di Bengkulu pertengahan 1948 dan berkedudukan di Curup. Untuk wakil pemerintah pusat terdapat Komisaris Pemerintah Pusat (Kompempus) di Sumatera yang berkedudukan di Bukit Tinggi.

Cukup Rumit
Identifikasi dan penetapan hari jadi Sumsel cukup rumit dan panjang. Dimulai 2005 dengan dibentuknya tim penetapan Hari Jadi Provinsi Sumatera Selatan. Terdiri dari berbagai unsur, di antaranya Dewan Pembina adat Sumsel, Dewan Harian Daerah (DHD) 1945, Unsri, Pascasarjana Unsri, Fakultas Hukum Unsri, Staf Ahli Gubernur bidang pemerintahan, Dewan Kesenian Palembang. Berdasarkan beberapa metode pendekatan, tim ini kemudian menyimpulkan hari jadi Provinsi Sumatera Selatan ditetapkan 15 Mei 1946. Saat Provinsi Sumatera menjadi tiga subprovinsi.
Penentuan itu mengacu pendapat para pakar, seperti H Ali Amin mantan pejuang dan mantan gubernur Sumsel. “Saya mengalami betul kejadian di mana pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berada di Curup dalam pengungsian karena Palembang diduduki Belanda dan saat itu, di tahun 1948 Gubernur Sumsel yang pertama dilantik Presiden, dr M Isa,” ujarnya.
Prof AW Wijaya mengemukakan dalam pandangan sosiologis memang provinsi Sumsel telah ada saat diumumkan pembagunan wilayah Sumatera menjadi tiga subprovinsi. Begitu juga Prof Amzulian Rivai berpendapat secara sosiologis Sumsel telah ada sejak diumumkan Sumatera menjadi tiga subprovinsi.
Tahun ini, Provinsi Sumsel yang kemudian wilayahnya menyusut setelah pemekaran Provinsi Bangka-Belitung tahun 2000, dipastikan memiliki hari jadi yang bisa diperingati setiap tahun dengan berbagai aktivitas dan kegiatan. Dipastikan, Perda Hari Jadi Provinsi Sumsel akan diketok palu oleh DPRD Sumsel, 15 Mei 2007 di Gedung DPRD Sumsel. Lalu diikuti puncak peringatan di Griya Agung yang juga dihadiri beberapa gubernur provinsi tetangga.
Ketua DPRD Zamzami Ahmad menyatakan Hari Jadi Sumsel dibahas dalam rapat paripurna. Kalau disetujui, tentu warga Sumsel boleh bergembira.
Sementara itu, Gubernur Sumsel Syahrial Oesman menyatakan bahwa peringatan hari jadi bukan hanya untuk kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi titik tolak berpikir dan indikasi pembangunan. Sejak lahir hingga sekarang dapat dibandingkan apa-apa yang telah tercapai dan apa saja kendala yang harus diatasi bersama dalam membangun daerah ini.
(muhamad nasir)

Copyright © Sinar Harapan 2003
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/14/nus02.html

Penemu Bahan Bakar Ampas Tebu

Djoni Bustan - Penemu Bahan Bakar dari Ampas Tebu
>
>
>
> Oleh
> Muhamad Nasir
> Sinar Harapan Senin, 24 Maret 2008
>
>
> PALEMBANG - Berangkat dari keprihatinan kian
> minimnya persediaan sumber bahan bakar di Tanah Air,
> Dr Ir Djoni Bustan, M Eng (50), pengajar di Program
> Pascasarjana Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya,
> Palembang, menciptakan bahan bakar dari berbagai
> bahan. Ia membuat bahan bakar mulai dari minyak
> sawit mentah (crude palm oil/CPO), batu bara, minyak
> jarak, sampai ampas tebu.
>
>
> Selain memiliki kualitas yang lebih baik
> dibandingkan dengan yang sudah ada di pasaran,
> temuan pria berpenampilan kalem ini juga memiliki
> berbagai keunggulan. Bahan bakar yang dihasilkannya
> seperti biogasoline, biokerosin, dan biodiesel yang
> diproses oleh tiga reaktor, mampu mengubah
> trigliserida menjadi senyawa parafin, olefin,
> naftene dan aromatik (PONA).
>
> Umumnya, bahan bakar diesel dari bahan baku yang ada
> memakai proses transesterifikasi yang menghasilkan
> metil ester. Hasilnya tidak siap pakai, perlu
> campuran, sehingga hasil senyawa fisiknya tidak
> mirip dengan bahan bakar diesel di pasaran. Lain
> halnya dengan temuan suami dari Sri Haryati ini,
> yang juga pengajar di Program Pascasarjana Fakultas
> Teknik Universitas Sriwijaya.
>
> "Hasil kita ini siap pakai, karena mesin yang
> dipakai untuk memproses mampu mengubah CPO menjadi
> PONA. Minyak biodisel yang dihasilkan pun mempunyai
> aromatik dan octan number lebih tinggi dari yang ada
> di pasaran (milik Pertamina). Kualitasnya pun lebih
> baik," ujar Djoni belum lama ini.
>
> Mengolah bahan bakar dari CPO harus dengan alat
> pengolah khusus yang terdiri atas dua jenis, yakni
> alat yang mengolah CPO menjadi pengganti solar dan
> bensin, serta pengolahannya menjadi pengganti minyak
> tanah dengan peralatan sederhana yang diciptakannya
> berupa tungku pemanas, pipa, dan reaktor yang
> berbahan dasar stainless steel.
> Untuk memprosesnya, CPO dimasukkan ke dalam reaktor
> pemanas listrik dengan panas 60 derajat Celcius
> selama 60 menit, dan secara kontinyu yang kelak
> menghasilkan cairan senyawa alkana dengan unsur
> mendekati solar. Cairan senyawa alkana kemudian
> dimurnikan melalui proses destilasi dan adsorpsi
> sehingga menghasilkan minyak biodiesel yang sudah
> bisa digunakan sebagai bahan bakar tanpa harus
> dicampur dengan solar.
> Cairan senyawa alkana tersebut juga masih bisa
> diproses menjadi bensin dengan memakai reaktor
> biogasolin melalui proses reaksi. Untuk 20 liter CPO
> bisa diolah menjadi bahan bakar setara 16 liter
> bensin," ujarnya.
>
> Alat pengolah CPO menjadi minyak tanah terdiri atas
> tangki pengaduk, reaktor dekarbosilaksi, dan reaktor
> kerosin berbahan dasar stainless steel.
> Pengolahannya sendiri dengan suhu di bawah 150
> derajat Celcius, sementara alat penghasil bensin
> berbahan baku ampas tebu dengan memakai teknik
> dimerisasi (penggabungan metanol) sehingga bubuk
> ampas diolah menjadi metanol (CH3OH).
>
>
> Industri Kecil di Desa
>
> Bahan bakar dari ampas tebu dan CPO ini, menurut
> Djoni yang kerap mengeluarkan koceknya sendiri untuk
> penelitian itu, sangat cocok dikembangkan menjadi
> industri kecil di pedesaan. Selain menyangkut taraf
> ekonomi, juga mampu menyerap tenaga kerja dan
> mendorong usaha perkebunan.
> Hanya saja ketersediaan bahan baku menjadi kendala
> karena tebu di Sumatera Selatan (Sumsel) hanya ada
> PTPN VII Ketiau, Ogan Ilir yang tidak sepanjang
> tahun panen. "Kondisi demikian belum me-mungkinkan
> untuk dijadikan industri massal rumah tangga,"
> tuturnya.
>
> Batu bara yang cukup melimpah di Sumsel dan hanya
> dimanfaatkan untuk bahan baku pembangkit listrik
> tenaga uap (PLTU), dalam kreasi Djoni Bustan, bisa
> lebih bermanfaat lewat penciptaan reaktor osilasi
> dengan gelombang elektromagnetik (electromagnetic
> oscillated coal liquefied reactor).
> Metode ini bisa dilakukan dengan alat sederhana
> kurang dari 45 menit dengan suhu di bawah 200
> derajat Celcius. Proses ini dipandang efektif karena
> listrik yang digunakan hanya delapan volt. Proses
> itu akan berfungsi ganda.
> Berat molekul batu bara akan berkurang sehingga bisa
> larut dalam pelarut, sementara hidrogennya
> ditingkatkan agar struktur kimia batu bara lebih
> pendek.
>
> "Hasilnya, batu bara terbentuk menjadi minyak mentah
> yang dalam pengolahan lanjutan di kilang minyak bisa
> menghasilkan bensin, kerosin, dan solar," terangnya.
>
> Namun dia mengakui, dari sisi ekonomi belum terlihat
> jelas, karena temuannya memang belum memasuki tahap
> demo plant melainkan baru tahap pilot plant setelah
> sebelumnya tahap skala laboratorium.
>
> Nah, untuk sampai pada tahap demo plant, dibutuhkan
> dana tidak sedikit. Jika tahap demo plant seusai
> barulah bisa diproduksi secara massal. Tetapi di
> sinilah kendalanya. Beberapa investor memang sudah
> tertarik, namun belum mampunya pemerintah menjaga
> kestabilan harga CPO, membuat mereka menunda
niatnya.

Sahilin, Pelestari Irama Batanghari Sembilan

Sahilin Tunanetra Pelestari Irama Batanghari Sembilan

Oleh Muhamad Nasir (Sinar Harapan).

PALEMBANG - Sosok Sahilin (59) bagi masyarakat Sumatera Selatan demikian melekat, teristimewa bila bicara soal Kesenian Batanghari Sembilan yang menjadi ciri khas daerah ini.

Sekalipun untuk menuju ke rumahnya harus melalui lorong sempit di atas rawa-rawa di kawasan 35 Ilir Palembang, mencari Sahilin tidaklah sulit. Mulai dari jalan raya di depan Pelabuhan 35 Ilir Palembang, nama pria eksentrik ini sudah dikenal. Hanya saja, karena banyaknya gang kecil dan persimpangan, menanyakan anak kedua dari sembilan bersaudara ini tidaklah cukup bila sekali, terutama bagi yang baru pertama kali datang ke sini.
Di antara banyaknya seniman pelantun Batanghari Sembilan, nama Sahilin tetaplah menjadi maskot. Ketekunannya menggeluti kesenian tradisional ini membuat simpati banyak kalangan, termasuk akademi dan lembaga dari dalam maupun luar negeri seperti Philip Yampolsky dari Ford Foundations, yang pernah melakukan penelitian tahun 1992.
”Rasanya senang dan bangga didatangi orang-orang besar seperti itu. Saya tidak menyangka jika keberadaan saya di kesenian tradisional ini menjadi perhatian mereka,” kata Sahilin kepada SH yang mengunjungi kediamannya di Lorong Kedukan Bukit, 35 Ilir Palembang, belum lama ini.
Belum jelas betul dari mana asal-usul nama kesenian ini sampai dinamakan Kesenian Batanghari Sembilan. Yang jelas, penamaan itu tidak lepas dari keberadaan daerah ini sebagai daerah Batanghari Sembilan (sembilan sungai yang semuanya bermuara ke Sungai Musi). Namun menurut Sahilin, istilah ini pertama kali diperkenalkan (alm) Djaafar Malik, seorang seniman asal Lahat.
Kesenian Batanghari Sembilan berisikan pantun-pantun kehidupan sehari-hari, mulai dari masalah cinta, derita dan nasib kehidupan, pengalaman pribadi, sampai fenomena yang terjadi di masyarakat. Biasanya pantun dibawakan dengan iringan petikan gitar tunggal, lantunan jenaka, sampai lantunan mendayu-dayu penuh ratapan. Ciri khas Sahilin lainnya di setiap penampilannya adalah kaca mata hitam untuk menutup matanya yang buta.
Sejak berusia lima tahun, pria kelahiran 1948 Dusun Benawe, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) ini, mengalami kebutaan akibat penyakit cacar yang diidapnya. Ketika ayahnya, Muhammad Saleh, wafat, pria yang buta huruf (baik latin maupun braile) ini dibesarkan oleh Demah, ibunya. Pedih dan pahitnya kehidupan yang dialaminya tertuang dalam lagunya Sukat Malang.
Sahilin juga piawai membawakan pantun atau syairnya yang lucu tentang keseharian muda-mudi atau orang yang sedang jatuh cinta, seperti lagu Buruk Tegantung yang populer lima tahun belakangan ini. Bahkan ungkapan buruk tegantung yang menyindir lelaki terlambat kawin alias bujang lapuk (bujang tua) ini, telah menjadi bahasa gaul yang sangat populer di daerah ini.
Syair-syair lagunya semua hasil karyanya. Umumnya syairnya cukup panjang. Lagu Sukat Malang, misalnya, terdiri dari 10 bait. Bahkan ada juga syairnya yang mencapai 20-30 bait.

Gitar dari Ayah
Bakat seni Sahilin didapat dari ayahnya, Muhammad Saleh, seorang petani karet yang pernah menjadi tentara musik untuk Jepang. Pemberian gitar ayahnya menjadi kenangan yang tidak terlupakan karena dari sinilah dia mulai tertarik menembang. Sejak itulah, saat orang tuanya pergi ke kebun menyadap getah karet, dia menghibur diri dengan bermain gitar.
”Sejak bisa main gitar itulah saya bisa nembang lagu. Terkadang ayah saya main gitar dan saya yang bernyanyi,” kata anak kedua dari sembilan bersaudara ini, mengenang. Dalam setiap pementasan, dan sejak dikenal luas sebagai pelantun lagu-lagu daerah tahun 1974, dia hampir selalu didampingi pedendang perempuan. Dari sekian banyak rekan duetnya, yang paling lama adalah Siti Rohmah yang menemaninya sejak 1972 sampai sekarang. Nama lainnya antara lain Robama, Layani, Zainab, Solbani, Ridaw, Chadijah, dan Cik Misah.
Petikan gitarnya yang monoton namun jernih dan unik, membuat banyak penonton terkesima. Walapun masih berada di pinggiran, belakangan Kesenian Batanghari Sembilan berhasil mencuri simpati kalangan anak muda. Mereka tidak lagi menempatkan seni ini sebagai jenis seni kampungan.
“Walaupun aransemen dan syairnya sederhana, justru itulah daya tariknya. Di tengah maraknya berbagai kesenian instan saat ini, kesenian daerah ini masih menarik,” ujar Fitriansyah, seorang musisi muda di Palembang.
Di rumah panggung yang sederhana di sebuah gang sempit, Sahilin hidup bersahaja bersama istrinya, Semah (48) dan tiga anaknya—Saidina (23), Sulaiman (21), Syarwani (17)—serta seorang menantu. Demikian sederhananya kediaman berukuran 5x8 meter di atas rawa itu, karena hampir tanpa penyekat, kecuali dinding pemisah ruang depan, ruang tidur, dan dapur. Rumah ini konon dibeli Sahilin dari hasil rekaman lagu-lagu daerah yang dilantunkannya itu.

Mir Senen

PROFIL

Muhammad Ali Gathmyr Senen,
Pelestari Seni Sumsel



Oleh
Muhamad Nasir

PALEMBANG - Terlahir dari keluarga “kayo lamo”, H Muhammad Ali Gathmyr Senen atau biasa dipanggil dengan Mir Senen, hingga kini menjadi pelestari budaya dan seni Sumatera Selatan (Sumsel).

Ribuan koleksinya tersimpan dengan baik dan desain-desain modifikasi songket karyanya seolah membawa pemakainya ke nuansa kejayaan Palembang tempo dulu.
Di Sumsel, siapa yang tidak mengenal Mir Senen. Pria kelahiran Palembang, 5 Mei 1955 ini, terkenal dengan kain songketnya yang eksklusif, mahal, dan bercita rasa tinggi. Pelanggannya pun mulai dari presiden hingga pengusaha.
Mir Senen terlahir dari keluarga kaya-raya dari Palembang. Pada masa paceklik sekitar tahun 1960-an, mendekati masa pecahnya Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu), ayahnya memperoleh banyak barang antik milik masyarakat yang ditukar dengan beras dan gula. Barang antik itu tidak hanya berupa barang pecah-belah melainkan juga kain-kain kuno yang sekarang sudah tak ternilai harganya.
Kini, barang-barang itu ditata rapi di galeri berlantai empat berukuran 20x5 meter di Jalan AKBP HM Amin, Palembang. Dia memang berencana membuat museum koleksi barang seni dan budaya Sumsel, yang nantinya akan diserahkan kepada pemerintah.
Koleksi benda-benda antik inilah yang kemudian menjadi titik awal usaha Mir. Pada mulanya, putra pasangan HM Senen dan Hj Cik Imah ini, tidak mendapat restu orang tua saat menekuni bidang seni. Ayahnya lebih senang kalau Mir kuliah di bidang hukum agar bisa membantu ayahnya yang tuan tanah dan sering punya masalah.
Mir kemudian kuliah di Fakultas Hukum Unsri. Namun ia lalu kabur dari rumah dan meneruskan ke Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan Trisakti, Jakarta, dan mengantongi sertifikat tahun 1976. Usai itu ia pergi ke Yogyakarta, kemudian mendaftar diam-diam di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).
Mir lulus, namun untuk masuk kuliah ia tidak punya uang lagi. Karena dihantui rasa takut tak bisa jadi seniman, Mir kemudian mengirim surat dan minta restu orang tuanya untuk menekuni bidang seni.
Tak dinyana, sang ayah luluh juga. Sampai akhirnya Mir lulus dari jurusan Interior Dekorasi ASRI tahun 1978. Di Yogya ia banyak mendapat bimbingan dari Amri Yahya. Ia juga banyak berkecimpung di keraton serta bergaul dengan para seniman. Bimbingan dan pergaulannya itu merupakan “bekal hidup” yang kemudian dibawanya pulang ke Palembang.
Ayahnya menghendaki dia melanjutkan sekolah di Australia. Selama dua tahun anak ketiga dari delapan bersaudara ini lantas mengenyam pendidikan di Mr Wood Collage Australia. Di sini dia belajar berbagai hal di bidang seni, termasuk bagaimana perilaku dunia intenasional terhadap hasil karya seni Indonesia.

Pencipta Pelaminan
Mir kemudian menjadi pionir pencipta pelaminan khas Palembang, sekitar tahun 1980. Mulai kursi, lemari, hingga pelaminannya khas Palembang. Banyaknya peminat pada waktu itu, membuat Mir mengajak temannya dari Yogya untuk membuat kursi dan lemari hias pengantin.
Kecintaan peraih penghargaan upakarti tahun 1995 ini semakin melambung namanya sebagai seniman sekaligus perancang kain tradisional Sumatera Selatan. Mulai dari batik Palembang, kain pelangi, hingga songket Palembang, dia ciptakan dengan melakukan modifikasi sehingga digemari dunia internasional. Omzetnya kini mencapai Rp 600-700 juta per bulan.
Mir juga aktif membina perajin muda. Dari sekitar 5.000 muridnya, sudah sekitar 70 orang yang membuka usaha sendiri. ”Sebetulnya jumlah ini sangat sedikit ya, tapi saya tidak harus ngotot. Yang penting saya sudah melahirkan Mir Senen-Mir Senen baru yang bisa menggantikan posisi saya kelak,” ungkapnya.
Dengan motto a differently from the handmade master art yang diusungnya, kreasi Mir kini tersebar di dunia. Dia sangat paham selera orang Prancis atau Timur Tengah, dan ia punya pelanggan tetap para petinggi Malaysia dan Brunei Darussalam.
Dari modal satu ruko, kini usaha Mir sudah berkembang di atas lahan sekitar 1 hektare. Kawasan Serelo, 24 Ilir, nyaris merupakan area seni yang menjadi tempat usaha Mir Senen. Namun Mir berharap pemerintah membantu industri kerajinan Palembang untuk memperoleh bahan baku kain, seperti benang emas, benang dan kain sutera. Sebab selama ini ia membelinya di luar negeri atau Jakarta, sementara para perajin terpaksa membelinya dari tengkulak. n



Copyright © Sinar Harapan 2003

dikutip dari Sinar Harapan, Selasa 29 Mei 2007

Senin, 02 Maret 2009

Pelanggan Telkomsel, Gratis Terima SMS di semua negara





Tarif baru: Seorang pelanggan Telkomsel sedang ber-SMS di Arab Saudi. Pelanggan Telkomsel kini semakin nyaman menggunakan kartunya di luar negeri dengan hadirnya skema tarif international roaming baru yang makin simpel dan transparan, seperti Gratis terima SMS, kirim SMS hanya USD 0.45 di semua negara serta sudah termasuk komponen biaya surcharge.







TIR, Pelanggan Telkomsel Gratis Terima SMS di Semua Negara

Palembang:

Pelanggan Telkomsel kian nyaman menggunakan kartunya saat berpergian keluar negeri dengan hadirnya skema tarif jelajah roaming (international roaming) baru yang lebih mudah, sederhana dan transparan. Selain itu, mereka juga menikmati fasilitas terima SMS gratis di semua negara.

GM Sales and Customer Service Telkomsel Regional Sumbagsel, mengatakan, “Skema tarif baru ini memberlakukan Gratis terima SMS, kirim SMS hanya USD 0.45 di semua negara, time unit untuk voice dan video call per 1 menit, time unit untuk akses data per 10 kb, serta sudah termasuk komponen surcharge. Dengan skema baru yang lebih transparan ini pelanggan bahkan dapat menghitung sendiri tagihan pemakaian roamingnya sehingga mampu meminimalisir biaya pemakaian yang tidak diketahui.”


Skema tarif yang berlaku mulai 1 Maret 2009 ini semakin memudahkan pelanggan untuk menentukan besarnya tarif pemakaian jelajah roaming sesuai anggaran komunikasinya. Telkomsel menyederhanakan tarif ini dengan membaginya menjadi 7 zona negara tanpa time band, memakai standar mata uang global yakni US Dollar, dan untuk penagihan ke pelanggan tetap dalam mata uang rupiah yang dikonversikan sesuai rate IMF ter-update.


Untuk kesederhanaan perhitungan tarif, Telkomsel menghilangkan skema time band yakni tarif berdasarkan waktu/pukul pemakaian pelanggan. Telkomsel membagi negara tujuan jelajah menjadi 7 zona yakni: Zona 1 (contoh: Brunei, Macau, Singapura, dan lain-lain), Zona 2 (Irak, Korea, Filiphina, dll), Zona 3 (Hongkong, Jepang, India, dll), Zona 4 (Australia, Kanada, Amerika Serikat, dll) Zona 5 (Jerman, Belanda, Inggris, dll), Zona 6 (Perancis, Denmark, Swiss, dll), dan Zona 7 (Bermuda, Arab Saudi, dan negara lain diluar Zona 1-6).

Tarif roaming panggilan dan terima berlaku tetap (fixed) sesuai dengan zona negara dan hanya terdiri dari tiga jenis yakni IDD ke Indonesia (panggilan ke nomor tujuan Indonesia +62), Lokal (panggilan ke nomor tujuan negara setempat) dan IDD ke Negara Lainnya (panggilan ke nomor selain nomor Indonesia dan negara setempat).

Sebagai contoh: Pelanggan A berada di Singapore melakukan panggilan ke Indonesia 57 detik. Tarif yang berlaku adalah USD 1.30/ menit (IDD ke Indonesia, Zona 1), maka dengan acuan rate konversi IMF (misal 1 USD=Rp. 10,753) perhitungan tarifnya menjadi 1x(USD1.30 x Rp 10.753)= Rp. 13.978,90. Contoh lainnya: Pelanggan B berada di Arab Saudi melakukan panggilan lokal selama 90 detik. Tarif yang berlaku adalah USD 1/ menit (Lokal, Zona 7), maka perhitungan tarifnya menjadi 2 x(USD 1 x Rp 10.753)= Rp. 21.506

Demikian juga halnya pemakaian akses data berlaku tetap (fixed) sesuai dengan zona negara. Contoh: Pelanggan C berada di Inggris menggunakan akses data (internet) sebesar 55 Kb. Tarif akses data USD 0.02/ kb (Zona 5) maka perhitungan tarifnya menjadi 60 Kb x (0.02 x Rp. 10.753) = Rp. 12.903,60

“Skema tarif baru ini tentunya semakin melengkapi kenyaman pelanggan saat menggunakan kartunya diluar negeri, selain tentunya luasnya jaringan yang memungkinkan pelanggan tetap terhubung dinegara manapun, dimana saat ini Telkomsel telah bekerjasama dengan 330 operator selular diberbagai belaha dunia,” ungkap Ketut.

“Langkah penyederhanaan tarif ini juga kembali menjadi wujud kepeloporan Telkomsel dalam hal jelajah roaming, setelah sebelumnya menjadi merupakan operator pertama yang menerapkan standar dunia NRTRDE (Near Real Time Roaming Data Exchange), sebuah sistem pengiriman informasi pemakaian roaming pelanggan untuk minimalisasi resiko fraud,” pungkas Ketut. (sir)

Pelajar SMP Tak Perawan

62,7 Persen Remaja SMP Tak Perawan


Oleh
Web Warouw

Jakarta-Otak merupakan organ yang mengolah informasi, apa saja yang bisa dilihat dan didengar dari lingkungan. Pornografi yang diterima oleh otak pada anak akan merusak otak sehingga menyebabkan gangguan inteligensia.

Kerusakan otak tersebut dapat dibuktikan dengan kerusakan fisik dan radiologis, serta dapat dalam bentuk manifestasi gangguan perilaku.
“Jika gangguan ini meluas dalam masyarakat, akan memperburuk kesehatan fisik, mental, sosial, dan menghancurkan sendi tatanan masyarakat disertai penurunan kemampuan intelegensia secara umum,” kata Kepala Pusat Intelegensia Departemen Kesehatan Dr Jopisal Janes di Jakarta, Senin (2/3).
Menurutnya, pornografi mengubah pola perilaku seseorang, apalagi jika disertai dengan kerusakan sel-sel otak akibat narkoba. “Informasi pornografi direkam dan diatur oleh otak. Sel-sel otak menyimpannya di dalam neurotransmiter dan keluar sebagai intuisi pada perilaku,” jelasnya.




Melalui pendidikan agama secara dini, anak-anak diharapkan bisa menjaga etika, moral dan ajaran agamanya. Sehingga mereka bisa menyadari bahwa semua yang dilakukan itu ada konsekuensinya.





Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Peningkatan Pemeliharaan Kemampuan Intelegensia Kesehatan Dr Adremaeza menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada data dan penelitian tentang seberapa banyak anak yang sudah terpapar dan terpengaruh oleh pornografi. Yang pasti, seksualitas pada anak akan memengaruhi kepolosan otak dan memacu zat-zat tertentu yang akan merangsang intuisi anak pada perilaku.
Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan Dr Ratna Rosita juga menegaskan bahwa kondisi pendidikan seks pada anak akan ikut memengaruhi anak dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Menurutnya, pendidikan seks di tingkat SMP dan SMA saat ini sudah cukup terbuka, namun perlu ditingkatkan lagi, karena industri pornografi lebih canggih daripada pendidikan yang didapat di sekolah.
Yayasan Kita dan Buah Hati menemukan data pada 1.625 siswa kelas 4-6 SD di Jabodetabek, sepanjang tahun 2008, bahwa 66 persen dari jumlah tersebut menyaksikan pornografi lewat media, yaitu 24 persen komik, 18 persen melalui games, 16 persen situs porno, 14 persen film, 10 persen VCD dan DVD, 8 persen lewat handphone, serta 4,6 persen lewat majalah dan koran. Dari jumlah itu, 27 persen melihat karena iseng, 10 persen terbawa oleh teman, 4 persen takut dibilang kuper (kurang pergaulan).
Ternyata anak-anak ini melihat pornografi sebanyak 36 persen di rumah dan kamar pribadi, 12 persen di rumah teman, 18 persen di warnet, 3 persen di rental. Ketika ditanya apa perasaan mereka saat melihat materi porno, sebanyak 43 persen mengaku merasa jijik dan 27 persen mengatakan biasa-biasa saja. Reaksi anak-anak sebanyak 7 persen mau muntah, 5 persen takut, dan 4 persen terangsang.
Survei Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007 menunjukkan, 97 persen pernah menonton film porno, 93,7 persen pernah berciuman, petting dan oral seks, 62,7 persen remaja SMP tidak perawan, dan 21,2 persen remaja SMU pernah aborsi.
Sementara itu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa setiap tahunnya, 15 juta remaja mengalami kehamilan dan 60 persen berusaha mengakhirinya. “Hal ini wajar karena mereka sudah terpapar pornografi sejak balita,” ungkap Elly Risman, Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati. n



Copyright © Sinar Harapan 2008

Dikutip dari Sinar Harapan edisi Senin 2 Maret 2009 halaman utama

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/02/sh05.html