Jumat, 07 September 2012

Alex Noerdin: Soal Seni Budaya, Tak Main-Main



Palembang:
Perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel terhadap perkembangan seni-budaya tak main-main. Selain dana, perhatian dan pembinaan terus dilakukan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin.
Setelah sukses dengan film Pengejar Angin, kini film kedua pun, Gending Sriwijaya,  diproduksi. Tiga penghargaan yang diperoleh  film pertama buah karya sutradara muda Hanung Bramantyo menjadi indikator bahwa ‘orang daerah’ juga bisa berbuat untuk kepentingan komersial sekaligus mengangkat citra daerah.
“ Pemprov Sumsel membuat film  yang mengangkat keindahan daerah, sekaligus  secara komersial juga laku di pasaran.  Saya berharap ini dapat diikuti oleh teman-teman gubernur se-Indonesia,” ujar  Alex Noerdin dalam sambutannya di Gelar Budaya dan Silaturahim Budaya, Seniman, serta Tokoh Masyarakat Sumsel, di  Griya Agung Rabu malam (5/9).
Alex mengungkapkan juga,  kini sudah ada provinsi lain juga bikin film sejenis. Seperti NTB  dan Kalimantan. “Seandainya 80 peren dari  33 gubernur di Indonesia  membuat satu film setiap tahun maka akan ada 25 film setiap tahun disumbang kan daerah untuk menyemangati dunia film yang sedang mati suri,”  katanya dalam acara yang sekaligus melaunching, film Gending Sriwijaya.
Film ini, selain ditangani Hanung juga melibatkan artis papan atas seperti Julia perez, Mathias Muchus Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro, dan Sharul Gunawan. Dan tak kurang 80 persen didukung pelaku seni dari Sumsel.
Dengan produksi film serupa, lanjut mantan Bupati Muba ini, bisa membawa sejarah sekaligus  informasi dari daerah dan secara komersial membawa keuntungan bagi daerah.  Baik di dalam maupun luar negeri
Apalagi kalau film yang dihasilkan bermutu, seperti film yang dihaslkan Sumsel dan meraih tiga pnghargaan. Satu dan Festival Film Indonesia, dan dua dari Forum Film Bandung.
“Cita-cita saya menjadikan film indonesia tuan rumah di negerinya sendiri. Menyedihkan, kita saat ini dijajah oleh film-film dari luar.  Produksi film kita lesu darah. India saja menghasilkan 1000 film dalam setahun melalui Bollywood-nya.  Indonesia hanya 20 film per tahun, terutama  film cerita,” katanya.
Karenanya, Alex berharap,  apa yang dilakukan Sumsel  menjadi terdepan dan teladan  bagi daerah daerah lain di Indonesia untuk perkembangan film di Indonesia.
Diakui Alex, kritikan akan diterimanya sama seperti pad a film perdana. Tapi dijelaskannya, keterlibatan lokal sudah sedemikian besar. Mulai dari casting terbuka dan pelibatan artis-artis daerah. Selama kritikan itu membangun akan kita terima dengan lapang dada. Mari kita hargai buah kreasi orang- orang yang berdedikasi dan punya  komitmen ingin mengembalikan kejayaan sriwijaya, melalui salah satunya, film Gending Sriwijaya,” ajaknya.
Bagi Hanung Bramantyo sendiri, keterlibatannya dalam film berbasis di daerah telah membuatnya lebh mengenal sejarah. “Sejak dua tahun terakhir, saya menjadi sangat akrab dengan kejayaan Sriwijaya . Sebelumnya hanya selintas di bangku sekolah, ini yang akan ditularkan melalui layar lebar,” ujarnya.
Perhatian Lebih
Perhatian Gubernur Sumsel terhadap seni-buda ya memang diakui beberapa budayawan dan seniman di Sumsel. Selain dana, perhatian yang diberikan sudah sangat cukup. Meskipun memang perlu ada evaluasi agar distribusi dan penyerapannya bisa lebih optimal.
Zulkhair Ali, Ketua Dewan Kesenian Sumsel mengemukakan di awal menjabat saja, anggaran Rp 2 milyar yang dijanjikannya saat orasi budaya  langsung direalissikan dalam APBD.
“Dana itu terealisasi. Hanya saja pencairanya ternyata tidak sederhana. Seperti kita ketahui seniman itu sulit soal administrasi dan  laporan. Tahap pertama yang dijanjikan sebesar Rp 2 miliar itu memang ada. Kita sendiri sempat bingung.  Kami sudah susun program dan jadwalkan memberikan dana pembinaan bagi 100 sanggar yang ada, masing-masing Rp 5 juta. Ternyata tidak boleh untuk dana pembinaan,” ujarnya. Akibatnya, sebagian dana tersebut tak biusa dicairkan.
Kini, pihaknya juga  sudah melakukan workshop manajemen teater. “Kami buat 30 pertunjukan per tahun,  2 kali per bulan di Graha Budaya. Memang belum cukup untuk membuat kegiatan yang wah, masing-masing grup diberi  Rp 5 juta.  Untuk publikasinya mana, spanduk dan umbul-umbul belum.
Dalam waktu dekat,  pihaknya juga akan menggelar  Festival Irama Batang Hari Sembilan. Ini tetu bisa terlaksana dengan topangan dana yang memadai. Meskipun dalam pelaksanananya uga melibatkan pihak lain.
Dokter spesalis  penyakit dalam ini mengakui masih banyak Pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.  Masih banyak seniman yang belum tersentuh.  “Namun perhatian pemerintah  sudah  sangat luar biasa. Bandingkan dalam era kepemimpinanya sebelumnya,  dana operasional selama pemerintahannya hanyaRp 200 juta,” katanya tanpa bermaksud membandingkan.
“Berbeda dengan sekarang, tahun pertama Rp 2 miliar  meskipun ada yang gagal direalisasikan  dan dikembalikan mencapai Rp 1,5 milyar. Tahun kedua, ada Sea games jadi banyak yang diplot ke even internasional itu, namun tetap disediakan Rp 1,2 M.  Lalu tahun berikutnya, dianggarkan Rp 1,3 M. Ii memberikan gambaran,
Senada diungkapkan seniman Sumsel, Anwar Putra Bayu. Menurut penyair yang sudah merambah ke mancanegara ini, perhatian pemerintah daerah terhadap seni budaya tak bisa dipungkiri.
“Beberapa kegiatan danaktivitas untuk seni budaya didorong. Padahal,   sebelumnya seakan dianaktirikan.  Lembaga dibantu  dana lebih tinggi, dibanding sebelumnya.
“Memang belum maksimal, perlu  banyak peran-peran lain, yang lebih khusus misalnya, teater, seni rupa dan lain-lain.  Juga perlu adanya perda. Ini juga sudah digagas Gubernur  agar pembinaan budaya bisa lebih terarah dan legalitasnya jelas. Sehingga jelas  aturan dan ada rambu-rambu berkesenian,” ujarnya.
Meski menilai perlu ada dialog dan pemetaan budaya yang jelas, Febri Al Lintani, mengungkapkan perhatian pemda terhadap budaya sudah sangat memadai. “Bagus. Sudah ada perhatian. Hanya saja perlu dievaluasi, seperti apa bentuknya yang pas. Contohnya anak,  tidak sekedar bantuan dana .  harus ada pertimbangan apakah bemanfaat atau tidak. jadi harus ada dialog dengan para pelaku budaya dan seni sehingga bisa tahu apa yang paling urgen dibutuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, perhatian selama ini sudah cukup bagus. Secara politis sudah bagus, perhatian ada wujudnya. Dana terealisasi. Tinggal mungkin metodolodi dan mekanismenya yang harus diusahakan sehingga benar-benar optimal.
“Kalau lihat pembangunan  di negeri kita, selama ini pembangunan budaya kurang mendapat perhatian. Baik di era Orla maupun Orba. Nah di Sumsel, justru kebalikannya. Ini merupakan awal yang cukup baik untuk pertumbuhan dan perkembangan budaya,” katanya. (***)

Kamis, 06 September 2012

PT Servo Uji Coba Jalan Khusus Batubara



PALEMBANG – Jalan khusus batubara sepanjang 116 km mulai dari Kabupaten Lahat hingga Dermaga Muara Lematang, Kabupaten Muara Enim yang dibangun oleh PT Servo Lintas Raya yang merupakan anak perusahaan dari PT Servo Meda Sejahtera, saat ini telah memasuki masa uji coba lintasan.

“Untuk pengerjaan jalan khusus batubara tahap pertama sepanjang 116 km yang kita bangun, saat ini sudah memasuki tahap uji coba. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kualitas jalan, baik itu kepadatan jalan maupun kekuatan jembatan yang ada,” ujar Sekretaris Perusahaan PT Servo Meda Sejahtera, Danke Dradjat, kemarin.

Jalan khusus batubara yang melewati 37 perlintasan ini, dikatakan Danke akan selesai dikerjakan pada akhir September 2012. dengan begitu kendaraan batubara yang selama ini melintasi jalan umum dapat beralih atau melintasi jalan khusus truk batubara tersebut.

Dia mengatakan, saat ini pengerjaan yang dilakukan oleh pihaknya yakni melakukan pengecoran beton terhadap 37 jembatan yang ada disepanjang jalan. Dikarenakan selama ini jembatan yang terbuat adalah jembatan belly atau jembatan sementara, yang kekuatannya hanya menahan beban 15 ton. “Ya, selain melakukan pengecoran pada jembatan, kita juga secara bertahap melakukan penebalan jalan yang masih mengalami penurunan saat dilakukan uji coba,” tuturnya.

Kendati nantinya dapat dilalui oleh kendaraan batubara, pihaknya tetap memberlakukan pembatasan beban angkutan. Hal ini bertujuan untuk tetap menjaga kualitas jalan agar tidak cepat hancur akibat beban yang berlebihan. “Kita batasi daya angkut kendaraan batubara maksimal 30 ton, ini tujuannya untuk menjaga kualitas jalan,” katanya.

Pengerjaan jalan khusus batubara yang menelan biaya sekitar Rp 1 triliun ini, menurut Danke kedepannya dapat mengurangi kepadatan jalan raya akibat kendaraan batubara sekitar 30%, serta dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat yang berada di sekitar jalan tersebut. “Disepanjang jalan tersebut kita telah persiapkan pos penjagaan, untuk mencegah kerawanan sepanjang perjalanan,” ucapnya.

Lebih lanjut dia menuturkan, pembangunan jalan khusus batubara tahap kedua yakni sepanjang 123 kmi dari Kabupaten Lahat menuju Kabupaten Banyuasin akan segera dilakukan pembangunan. “Total panjang jalan yang akan kita bangun itu mencapai 239 km. tahap pertama Kabupaten Lahat ke Dermaga Muara Lematang, Kabupaten Muara Enim sudah selesai dibangun. Tahap kedua Kabupaten Lahat ke Kabupaten Banyuasin sepanjang 123 km saat ini tengah dalam proses pembebasan lahan,” bebernya.

PERGANTIAN DIREKSI PUSRI



Ir. Musthofa resmi menjabat sebagai Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri)
Palembang menggantikan Drs. Eko Sunarko, Akt.MM. Pengangkatan berdasarkan
hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang
berlangsung di Jakarta pada tanggal 3 September 2012.

Sebelumnya Musthofa merupakan Direktur Teknik & Pengembangan PT Pupuk Indonesia (Persero).
Sedangkan Eko Sunarko saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Pupuk Iskandar
Muda.

Dalam rapat tersebut juga dilakukan mutasi terhadap pejabat Direktur SDM &
Umum, yang semula dijabat oleh Irwansyah kini diserahterimakan kepada M. Romli
HM dari PT Mega Eltra. Irwansyah saat ini dipercaya pemegang saham menjadi
Direktur SDM & Umum di PT Petrokimia Gresik.

Rotasi dan mutasi pejabat juga terjadi di lingkungan Direktorat Komersil. Ir. Bambang
Lesmoko, MMBAT dari PT Pektrokimia Gresik dilantik sebagai Direktur Komersil PT
Pusri Palembang, menggantikan Hilman Taufik yang kini memegang jabatan baru
sebagai Direktur Operasi Mega Eltra.

Pergantian juga terjadi dijajaran Dewan Komisaris. Achmad Tossin Sutawikara
menjadi Komisaris PT Pusri Palembang menggantikan Ir. Indra Jaya HM. Sedangkan
Direktur Produksi dan Direktur Teknik & Pengembangan tidak mengalami
perubahan. Masing-masing tetap dijabat oleh Ir. Djohan Safri, MM dan Ir. Benny
Haryoso, MT.

Jumat, 31 Agustus 2012

Kapolres OI Hanya Dituntut Teguran Tertulis

Palembang
Dalam sidang lanjutan disiplin anggota Polri di Mapolda Sumsel, Penuntut Kombes Franky S Prapat dan AKBP Nuryanto mengajukan tuntutan agar Kapolres OI AKBP Deni Darmapala diberi teguran tertulis.

Kapolres OI AKBP Deni Darmapala berdiri mendengarkan tuntutan dalam sidang  disiplin terkait kasus Limbang Jaya.
"Setelah mendengarkan keterangan saksi-saksi, Kapolres OI AKBP Deni Darmapala terbukti kurang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan bertanggung jawab. Tidak mengawasi dan mengendalilkan operasi dialogis saat patroli di Desa Limbang Jaya. Tidak melakukan kontrol dengan benar sehingga tidak mengetahui perkembangan pengamanan," ungkap penuntut.

Selain itu, Kapolres tidak mengecek perlengkapan personel sebelum patroli penegakan hukum dan dialogis padahal melibatkan personel cukup banyak. Juga tidak memberikan arahan yiang rinci dan detail, dalam operasi penegakan hukum dan patroli dialogis yang sebenarnya saling bertolak belakang. Penuntut juga membacakan hal-hal yang meringankan, saat diperiksa Kapolres bersikap kooperatif,selama mengabdi belum pernah melanggar disiplin, kode etik maupun pidana.Telah telah berusaha maksimal dalam kasus perseteruan warga OI dan PTPN VII.

Ringan
 Pasal yang dipakai penuntut umum yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No 2/2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Republik Indonesia Pasal 9 Huruf a yang berisikan sanksi hanya teguran tertulis bagi pelanggar disiplin kepolisian. Sementara, dalam Pasal 9 mengenai sanksi sidang disiplin terdapat enam huruf sanksi lagi, mulai penundaan kenaikan gaji berkala, penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama satu tahun, mutasi yang bersifat demosi, pembebasan dari jabatan, serta penempatan dalam tempat khusus paling lama 21 hari.
 Di hadapan pimpinan sidang, penuntut umum AKBP Nuryanto mengatakan, terperiksa AKBP Deni Dharmapala dinilai bersalah melanggar PP No 2/2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Republik Indonesia, khususnya Pasal 4 Huruf d yang berisikan melaksanakan tugas sebaik-baiknya dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab serta Huruf h tentang membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugas.

“Apa yang kita sangkakan dalam persidangan ini berdasarkan keterangan enam saksi yang telah dihadirkan dalam persidangan disiplin, meliputi Wakapolres Ogan Ilir,Kompol Awan Hariono,Kabag Ops Polres Ogan Ilir,Kompol Riduan Simanjuntak, Kasat Intel Polres Ogan Ilir, AKP Agus Selamet, Kaden Gegana Satuan Brimob Polda Sumsel AKBP Mulyadi, kepala posko Cinta Manis Iptu Hermanwansyah.Dan KBO Narkoba Polres Ogan Ilir Ipda Herman S,” ungkap penuntut umum Bidang Propam Polda Sumsel AKBP Nuryanto di persidangan kemarin.

Berdasarkan keterangan para saksi dan barang bukti,penuntut umum AKBP Nuryanto menilai,selaku penanggung jawab, terperiksa tidak ikut dalam kegiatan tersebut. Selanjutnya, terperiksa tidak memberikan arahan umum dan khusus kepada seluruh personel yang terlibat dalam kegiatan pengamanan tersebut. ”Atas pelanggaran yang dilakukan, terperiksa dituntut melanggar Pasal 4 Huruf d dan h PP No 2/2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Republik Indonesia dengan sanksi Pasal 9 huruf a berupa teguran tertulis,” ungkap dia.

Selanjutnya, penuntut umum Nuryanto menyatakan, terdapat sesuatu yang meringankan terperiksa dalam sidang disiplin, yaitu selama proses pemeriksaan dan persidangan selalu kooperatif menjawab pertanyaan. ”Selain itu, terperiksa belum pernah melakukan pelanggaran disiplin dan pidana umum,”ujarnya.

Terkait tuntutan penuntut umum dalam persidangan, Kapolres Ogan Ilir AKBP Deni Dharmapala melalui pendamping hukum (kuasa hukum) AKBP Sofyan Joem dan Kombes Pol Sudaryanto meminta pimpinan sidang mempertimbangkan kembali keterangan para saksi dan barang bukti sebelum membuat keputusan. ”Terperiksa, menurut kami, sudah menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai Kapolres Ogan Ilir dengan sebaikbaiknya, termasuk turun ke lokasi saat mendapat laporan ada kejadian. Selama menjadi kapolres, terperiksa juga selalu memonitor kasus sengketa lahan antara warga dan perusahaan PTPN VII OI,” ungkap AKBP Sofyan Joem di hadapan pimpinan sidang kemarin.

Atas pertimbangan itu, selaku kuasa hukum terperiksa,dia meminta pimpinan sidang menolak tuntutan yang disampaikan penuntut umum Bidang Propam Polda Sumsel. ”Kami berharap pimpinan sidang dapat mengambil putusan bahwa terperiksa tidak bersalah,” pungkasnya. Seusai mendengar tuntutan, penuntut Bidang Propam dan pendamping terperiksa dari Bagian Hukum Polda Sumsel.

Pimpinan sidang Wakapolda Sumsel,Brigjen Pol Muhammad Zulkarnain menunda putusan sidang disiplin dengan terperiksa Kapolres Ogan Ilir AKBP Deni Dharmapala sampai Senin (3/9) untuk mempertimbangkan tuntutan penuntut dan pendamping terperiksa.“ Kami akan pelajari dahulu. Jadi sidang ditunda sampai Senin depan,” kata Wakapolda kemarin. (sir)

Kapolres OI Tak di Lokasi Saat Bentrok Polisi dengan Warga Limbang Jaya

  Palembang,  
 Kapolres Ogan Ilir (OI) AKBP Deni Dharmapala mengakui tidak berada di lokasi saat bentrok berlangsung di Limbang Jaya. Bentrok ini sendiri akhirnya menewaskan Angga Darmawa (12) dan menyebabkan  empat warga sipil lainnya terkena tembakan.  

tiga saksi dari Polres OI
Terungkap juga dalam persidangan lanjutan Kamis (30/8) bahwa Kapolres OI tidak melakukan kontrol pergerakan tim, dimana tiba-tiba tim 1 yang bertugas melakukan patroli dialogis bergabung dengan tim 2 di Desa Paryaman. Padahal tim 2 sedang melakukan penggeledahan ke rumah salah satu warga yang diduga menyimpan 1 ton pupuk curian.Kemudian, rombongan kedua tim kembali menuju posko di Cinta Manis melintasi Desa Limbang Jaya.  

Dalam kesempatan itu, Irwasda Polda Sumsel Kombes Pol S Handoko menyayangkan mengapa Kapolres OI tidak memimpin langsung tim yang turun ke lapangan pada 27 Juli 2012. Padahal, jumlah personel saat itu cukup banyak, yaitu 338 orang, dengan di-back up tim pasukan Satuan Brimob Polda Sumsel.

 ”Saya hanya membandingkan pada waktu terjadi gesekan dengan warga pada 17 Juli di Desa Ketiau OI, di mana ada anggota Brimob yang terkena sabetan parang dan tusukan bambu. Kapolres OI ada di sana kan,tapi anggota saat itu,baik dari Brimob maupun Polres OI, tidak mengeluarkan tembakan sama sekali dan tidak ada korban dari warga sipil. Sedangkan, saat kejadian di Limbang Jaya, Kapolres tidak ada di lapangan, tapi ada korban dari warga sipil. Jadi saya ambil hikmah di sini bahwa Kapolres sebagai penanggung jawab wilayahnya seharusnya tak boleh lepas kendali,” papar Kombes Pol S Handoko dalam persidangan.
 Dalam persidangan yang dipimpin Wakapolda Brigjen M Zulkarnain itu,   Kapolres mengakui juga ada kesalahan karena tak meneliti lagi isi surat perintah (sprint) 428 hingga terjadi bentrokan antara warga dan polisi di Desa Limbang Jaya beberapa waktu lalu. “Siap, saya akui tidak meneliti lagi isi sprint yang saya tanda tangani serta patroli dialogis sebagaimana isi sprint tidak dilaksanakan,” ungkap terperiksa Kapolres OI AKBP Deni Dharmapala di hadapan Wakapolda selaku pimpinan majelis sidang disiplin di Ruang Catur Cakti, GedungAnton Sudjarwo,Polda Sumsel.

 Deni Dharmapala juga mengakui, pada 27 Juli 2012, tim yang turun ke lapangan tidak melakukan patroli dialogis di lapangan sesuai sprint 428 yang ditandatanganinya pada malam 26 Juli 2012 berdasarkan analis dan evaluasi (anev). Orang nomor satu di Polres OI itu juga mengaku tidak tahu jika telah terbagi dua tim patroli polisi pada 27 Juli itu.
   “Saya juga tidak mendapat laporan dari pimpinan tim di lapangan. Setahu saya berdasarkan hasil anev malam 26 Juli, tim paginya pada 27 Juli melakukan patroli dialogis ke empat kecamatan yang sudah disepakati,tapi saya tidak tahu kalau tim pulang melewati Desa Limbang Jaya,” paparnya.    

Sementara itu,Wakapolda Sumsel Brigjen Pol Muhammad Zulkarnain menanyakan kepada Kapolres OI di mana saat kejadian berada. Kapolres menjelaskan, saat kejadian, dia berada di posko pengamanan di seputaran perusahaan PTPN VII Cinta Manis OI.

Kapolres OI Deni Darmapala, pakai topi usai sidang
 ”Pagi 27 Juli saya berada di Kantor Polres OI untuk menjalankan tugas seperti biasa mengurus surat dan memantau anggota di kantor. Sekitar pukul 09.00 WIB, saya bergerak menuju posko di Cinta Manis. Sampai di posko sekitar pukul 10.00 WIB, saya bertemu Kepala Posko (Kaposko) Iptu Hermawansyah dan sehabis salat Jumat sekitar pukul 14.00 WIB, datang Kasat Intel yang melaporkan kepada saya kegiatan sudah selesai dan saya memerintahkannya membuat laporan anev kegiatan tadi, karena sore hari saya berencana mengurangi jumlah pasukan,” ungkap Kapolres di persidangan.

Selanjutnya, baru sekitar pukul 16.00 WIB,dia mendapat telepon dari Wakapolda Sumsel bahwa ada kejadian di Limbang Jaya. ”Saya langsung melakukan pengecekan dengan menelepon Wakapolres OI Kompol Awan Hariono dan Kaden Kompi C Brimob Kompol Barliansyah, tapi ponsel keduanya tak aktif. Kemudian, saya menelepon Kaden Brimob AKBP Mulyadi, tetapi AKBP Mulyadi mengaku tidak tahu ada kejadian itu karena sudah berada di Mes Cinta Manis,” paparnya.

Beberapa menit kemudian, dia mendapat telepon dari Kabag Ops Polres OI Kompol Riduan Simanjuntak,yang menginformasikan bahwa memang ada kejadian dan satu korban jiwa. “Kemudian, saya langsung mengajak AKBP Mulyadi dan pasukannya meluncur ke lokasi. Di perjalanan,saya mendapat telepon dari salah satu anggota DPRD OI bahwa korban tewas satu anak kecil sudah berada di Puskesmas Tanjung Batu OI,” katanya.

Karena kondisi mencekam di Limbang Jaya,kata Kapolres OI, dia dan anggotanya tertahan di Muara Simpang atau simpang perbatasan menuju Desa Limbang Jaya. Sidang yang memakan waktu hampir enam jam itu juga menghadirkan tiga saksi baru, yaitu KBO Narkoba Polres OI Ipda Herman S, Kasubag Humas Polres OI Iptu Hermanwansyah yang juga menjabat sebagai kepala posko pengamanan Cinta Manis, dan Kaden Gegana Satuan Brimob Polda Sumsel AKBP Mulyadi.  


Terpisah, Koordinator Wilayah (Korwil) Independent Police Watch (IPW) Sumsel Shofuansyah menanggapi, lahirnya sprint Kapolres OI dinilai cukup aneh sehingga harus diusut apa yang menjadi motivasi dan maksud dikeluarkannya sprint tersebut.“Sebab, akibat sprint itu, dibentuk dua tim dan menjadi titik awal tewasnya korban Angga dalam peristiwa tersebut. Jadi, apa motif semua itu?” tukasnya. Di samping itu, Shofuansyah menilai, dalam persoalan tersebut, Polri seharusnya lebih sensitif menilik persoalan lahan yang terjadi. Ditambah, bentuk aksi massa yang dilancarkan seharusnya menjadi pertimbangan dan perhitungan langkah apa yang harus diambil. Sebab, akibat ketidaksensitifan itu menimbulkan konflik dan tewasnya bocah bernama Angga. (sir)  

Kamis, 30 Agustus 2012

Perang Ginseng, Korea vs Amerika


Sumber: Seputar Indonesia, Kamis 30 Agustus 2012
 
Kalau Anda mengenal watak orang Korea dan Amerika, mungkin Andaakansepakatdengansaya, Samsung tak akan menyerah ditekan Apple.

Pekan lalu Samsung didenda USD1 miliar atas tudingan telah mengambil tanpa hak beberapa elemen kekayaan intelektual Apple (yang tak diakui Samsung) dan minggu ini Apple meminta pengadilan melakukan injunction agar melarang delapan produk Samsung beredar di seluruh pasar Amerika Serikat. Di lain pihak, Samsung baru saja mengumumkan rencana ekspansi dengan membuka pabrik besar-besaran di Amerika Serikat untuk memasok kebutuhan memory chip bagi Apple.

Orang Korea yang saya kenal bersuara halus, tetapi berwatak keras.Daya juangnya seakan tak pernah habis, sekuat tenaga yang dijanjikan akar ginseng. Mental menembusnya sangat kuat sekalipun medan yang dihadapi berbahaya untuk dimasuki. Seperti itulah mereka menempati kawasan berbahaya di Los Angeles (LA) yang tak berani didiami warga Amerika sekalipun.

Anda mungkin masih ingat bagaimana mereka mempersenjatai diri tatkala LA dilanda kerusuhan berat pada 1992. Bukannya lari seperti kebanyakan kelas menengah kita yang mengalami hal serupa di Jakarta tahun 1998, mereka justru menghadapinya dengan senjata laras panjang. Padahal bahasa Inggris mereka pas-pasan. Dengan modal bahasa isyarat, mereka menguasai titik-titik strategis di berbagai pelosok dunia. Sekeras baja itulah pegolf perempuannya, Se Ri Pak, dididik ayahnya menjadi juara dunia turnamen golf.

Dua Perspektif Berbeda

Pada sisi lain mari kita lihat perspektifApple.Langkah yang diambil Apple adalah cerminan watak orang Amerika yang saya kira mudah Anda kenal.Mereka sangat straight to the point,apa yang dirasakan itu yang diungkapkan, pegangan mereka adalah aturan hukum,kompensasi kerugian tanpa perasaan, dan sangat kompetitif. Orang Amerika yang kita kenal memang amat beragam,tetapi dunia mengenal mereka sebagai bangsa yang ingin mengatur dunia dan merasa pusat dunia ada di rumah mereka.

Sejak kecil anak-anak di sekolah Amerika dibiasakan berbicara terbuka, menghargai kesetaraan, berkompetisi, dan berinovasi. Melakukan plagiat adalah haram. Kalau mengutip kalimat orang lain sekalipun, harus disebutkan sumbernya. Itu pun belum cukup. Para pelajar dan mahasiswa wajib mengolah kembali kutipan milik orang lain itu dengan kata-kata buatan sendiri. Mereka menghargai orisinalitas ide dan kreativitas.

Tapi begitu ada yang meniru, jangankan bangsa lain,bangsa sendiri pun dikenai sanksi berat. Seorang plagiator yang tertangkap tak akan pernah bisa berkarier di dunia akademis sepanjang hidupnya dan seorang pencuri karya cipta didenda sangat berat. Di lain pihak,Korea Selatan memasuki pasar dunia yang sudah lebih dulu dikuasai Jepang yang menjadi obsesinya. Seorang ilmuwan Korea pernah mengatakan, jalur yang harus mereka lalui adalah inovasi melalui imitasi.

Adapun bagi masyarakat Amerika, imitasi adalah perbuatan kriminal yang berarti mencuri kekayaan orang lain dan bisa menghancurkan daya saing bangsa karena imitasi menghalangi niat orang lain berinovasi. Imitasi adalah disinsentifbagiinovasisehingga ujung-ujungnya konsumen sendiri yang dirugikan. Namun badan orang Korea terlalu kecil untuk melompat sejauh inovasi yang sudah dibangun Amerika selama dua abad. Maka imitasi yang dulu dilakukan Jepang kini mereka ikuti.

Hanya saja dunia telah berubah menjadi lebih kompleks, industri berteknologi tinggi semakin ruwet,dan Amerika sudah semakin licin memagari dirinya dengan jeratanjeratan hukum. Jadi sesungguhnya bukan Amerika yang ingin mereka tundukkan,melainkan Jepang. Kalau Jepang bisa buat Honda, Korea buat Hyundai dan bunyinya mirip. Platform pengembangan teknologinya mirip-mirip Jepang, tetapi diawali dengan tangan besi militer di bawah kekuasaan Jenderal Park Chung-hee.Nah,begitu pasar automotif dan konstruksi memasuki tahap saturation, Korea mengopi cara Jepang mengembangkan platform teknologi informasi (TI).

Dulu Jepang melalui korporasinya, Fujitsu, juga pernah mempermalukan Intel saat mengembangkan microprocessor chip pada 1980-an. Meski hak patennya ada di Intel, Fujitsu selalu mampu meluncurkan chipyang kapasitasnya dua kali lebih besar dalam waktu enam bulan lebih cepat dari kemampuan Intel memasuki pasar. Toh Intel bukannya menyeret Fujitsu ke ranah hukum, melainkan melakukan switching ke chip komputer dan membiarkan Fujitsu berjaya dalam industri game dan entertainment. Tapi mengapa sekarang Apple begitu marah pada Samsung?

Nazar Keras Kepala

Beberapa menit lalu, saat transit di Bandara Sydney,saya menyaksikan sejumlah orang memperdebatkan kasus Samsung. Seorang warga Korea menunjukkan tablet Samsung berlayar kaca antigores yang tak bisa dibuat Apple. Baginya Samsung pahlawan. Samsung bukanlah plagiator sejati karena juga mengembangkan teknologi hardware. Dan baginya, konsumen telah diuntungkan. Buktinya produk berteknologi sama bisa dipasarkan Samsung dengan separuh harga Apple.

Orang Amerika yang berada di sampingnya ternyata tak membela Apple, ia justru mengutuknya. Ia tidak bisa menerima langkah sweeping yang diajukan Apple untuk melakukan injunction sebagai lanjutan dari putusan peradilan yang memenangkan gugatannya. Injunction itu berupa permintaan agar delapan produk Samsung dilarang beredar di seluruh pasar Amerika. Seperti biasanya, setelah itu lawyer Apple yang jeli melihat uang akan melakukan hal serupa di negara-negara lain. Memang kalau diperhatikan, denda sebesar USD1 miliar yang diajukan kelihatan impresif.

Tapi bagi perusahaan global yang sedang tumbuh, jumlah sebesar itu hanya menarik di mata media. Harap maklum, anggaran promosi tahunan Samsung USD2,75 miliar.Samsung adalah penguasa pasar hardware Android terbesar di Benua Amerika (33%) mengalahkanLG, Moto,Sony,danHTC. Bahkan Samsung menjadi pemasok komponen dan memory chip yang penting bagi Apple. Samsung menguasai 70% pasar memory chip untuk handset berbasiskan Android dan Apple, jauh melebihi Toshiba.

Bahkan 40% pasokan DRAM Apple datang dari Samsung. Maka, seperti yang saya duga, Samsung memilih bertempur ketimbang menarik diri. Cara Samsung memang berbeda dengan yang biasa ditempuh korporasi Jepang yang mudah menyerah kalau ditekan Amerika. Beberapa detik yang lalu CEO Samsung sudah membuat pernyataan yang sangat mengejutkan.“Kita akan terus bertempur dan bersungguh- sungguh menghadapi kenyataan ini.

Kita akan melakukan banding dan kami nyatakan akan terus berupaya untuk menjamin keberadaan barangbarang ini di berbagai jaringan ritel di Amerika Serikat dan dunia,”ujarnya. Saya kira, selain berwatak keras, Samsung juga paham bagaimana cara menghadapi lawyerAmerika Serikat. Menghadapi bangsa besar ini Anda tak bisa bermain dengan perasaan. Bangsa ini harus dilawandenganargumentasi.

Bila Anda diam berarti tidak mengerti atau kalah.Dan bagi yang kalah, pintu terbuka lebar. Bukan dengan sowan,cium tangan atau membuat pernyataan maaf di koran seperti yang menjadi ciri khas tuntutan para lawyer kita,melainkan membayar. Beberapa waktu lalu Apple juga membayar ganti rugi sebesar USD600 juta kepada Nokia karena dianggap lalai menyalahgunakan perjanjian hak cipta dalam kasus IP.

Selain itu Apple juga sepakat membayar sebesar USD11,5 dari setiap penjualan iPhone-nya kepada Nokia. Nah sekarang Apple wajib mencari dana penggantinya. Mudah saja bukan? Kalau Samsung tak bisa membayar, mereka akan mengalihkannya kepada pelanggannya.Itu saja. Mereka tak pernah berpikir konsumen itu perasa, punya pertimbangan lain dan seterusnya. Mereka juga tak berpikir hubungan jangka panjang dengan vendor-vendornya.Amerika adalah bangsa seperti yang saya sebutkan di atas.

Mereka pragmatis dan main logis,bukan win-windan bukan hubungan saling membantu. Media massa di Amerika menyebut cara yang ditempuh Apple sebagai cara pemungut pajak. Denda ini kini dikenal dengan istilah “Apple Tax”. Jadi bagi Samsung,buat apa bawa-bawa perasaan atau memakai budaya Asia lainnya.Hadapi saja dengan perang ginseng, toh dengan beredarnya kasus ini brand power Samsung naik beberapa kali lipat.

Kendati harga sahamnya sempat anjlok dan platform baru bermunculan, Samsung masih punya kekuatan pasar yang besar. Samsung juga mulai mengincar Nokia dan Microsoft yang akan masuk besar-besaran ke dalam kategori produk yang sama. Jadi, bagi saya, perang ginseng masih panjang. Ini adalah bagian dari perjuangan yang diajarkan guru-guru sekolah bisnis Amerika Serikat sendiri pada bangsa-bangsa Asia. Mereka mengajarkan cara menyaingi korporasi dunia Amerika, bahkan cara menaklukkannya.

Mereka mengajarkan pentingnya inovasi dan memiliki paten teknologi.Dan bagi negara seperti Indonesia, penting agar menciptakan sophisticated corporate yang mampu menggantikan peran negara dalam penciptaan kesejahteraan. Ini berarti penting bagi kita melakukan transformasi dari factor-based economy (ekonomi berbaikan SDA) menjadi innovation-based economy. Dan dalam transformasi itu, intrik, saling menuntut dan menuduh dalam business law adalah hal yang biasa.Kata Ross Perot semua itu ada aturannya, kecuali bila Anda memasuki ranah politik. Jadi adu pintar saja. Mari kita pantau terus perang ginseng ini.●

RHENALD KASALI
Ketua Program MM
Universitas Indonesia              

Galungan Khusyuk Meski Diguyur Hujan




Palembang:

Meski diwarnai guyuran hujan, perayaan hari Galungan di Pura Agung Sriwijaya, Kawasan Seduduk Putih Rabu (29/8) tetap berlangsung khusyuk. 

Ratusan umat Hindu terlihat terus berdatangan sejak pagi hingga sore hari untuk bersembahyang.

Ditemui usai melakukan persembahyangan, Pemangku Pure Agung Sriwijaya IB Damiana mengatakan, moment sakral hari Galungan ini memang memiliki arti yang sangat penting bagi umat Hindu.Sebab perayaan Galungan yang diartikan sebagai perayaan kemenangan Darma terhadap darma atau kebaikan dengan kejahatan sangat pas menjadi moment bagi umat untuk memperbaiki diri. Termasuk misalnya mengendalikan hawa nafsu manusiawi.

“Perayaan kemenangan ini seharusnya menjadi moment bagi umat untuk memperbaiki diri dan perilaku yang belum sempurna selama ini.Misalnya melawan hawa nafsu, kesombongan, keraksasaan diri, iri hati dan dengki serta mengagungkan kekayaan,” jelas dia. 

Sehingga setelah perayaan ini selesai dilakukan,
umat dapat menjalani kehidupan yang lebih baik lagi sehari-hari dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Dengan sikap yang lebih rendah diri, tidak sombong dan mampu mengendalikan hawa nafsu, umat diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih baik. “Dengan hari Galungan ini kita harap semoga Darma selalu dapat dijadikan landasan untuk memperoleh Artha dan Kama serta mencapai moksa,” ujar Damiana. (sir)