Rabu, 15 Juli 2009

Ita Diana, Melestarikan Songket



Ita Diana, menunjukkan songket motif buatannya di kediamannya






Ita Diana
Melanggar Tradisi demi Kelestarian Songket
OLEH: MUHAMAD NASIR

PALEMBANG – Cara pembuatan songket memang tak semudah yang dibayangkan. Karena untuk menenun kain songket membutuhkan waktu paling tidak seminggu.

Sebelum menenun pun, ada langkah awal yang tak kalah rumitnya, yaitu menentukan motif songket. Tahap ini disebut sebagai proses menyungkit atau membuat motif.
Di Sumatera Selatan tak banyak orang yang bisa menyungkit, karena memang pengetahuan dan keterampilan ini diperoleh secara turun-temurun. Pun tidak semua keturunan bernasib baik diajari keterampilan ini.
Maka wajarlah kalau jumlah penyungkit bisa dihitung dengan jari. Mereka tinggal di perkampungan orang asli Palembang, seperti di Tanggabuntung dan 3-4 Ulu Palembang.
Di antara orang itu ada Ita Diana. Perempuan kelahiran Palembang ini mendapatkan keahlian menyungkit dari neneknya. Tepatnya, adik dari kakeknya, almarhumah Imah. Ita beruntung diberi kepercayaan dan kesempatan untuk belajar menyungkit, meski terpaksa mengorbankan sekolah.
Ternyata istri dari Ismail ini mengaku tidak mudah untuk mendapatkan kemampuan menyungkit. Bertahun-tahun dia belajar. Tetapi ibu dari tiga anak, M Ajid Sidik, Enha Anggi Pratama, dan M Balya ini pun tidak menurunkan kemampuannya kepada anak-anaknya karena tidak punya anak perempuan.
Ketika ditemui SH di kediamannya di kawasan 3-4 Ulu, Palembang, Ita menceritakan bahwa desain songket biasanya terdiri dari teretes, hiasan pinggiran (tepi), tawur, rebung, apit, rumpak, ombak, dan kembang/tumpal. Untuk kembang atau tumpal, motif bisa berupa naga besaung nampan perak, bungo cino, ulir, ataupun kembang pacar. Khusus untuk kembang/tumpal tidak boleh diganti. Sudah menjadi pakem, kalaupun mau memodifikasi, biasanya di bagian yang lain.


Salah satu songket yang motifnya dibuat Ita Diana






Ita menjelaskan, proses pembuatan songket dimulai dari nyucuk suri, ngelak, pencungkitan (membuat motif). Setelah itu baru menenun. Namun, Ita tidak sekadar membuat motif songket Palembang, ia juga mengerjakan motif songket Jambi yang punya ciri khas tersendiri, yakni biasanya bermotif emong kuncai, kembang duren, dan angso suo.

Banyak Lidi
Ukuran songket biasanya 90 cm x 2 meter. Untuk songket dibutuhkan tujuh tukel benang, yang nantinya bisa menjadi tiga kain songket. Proses pengerjaannya bisa menghabiskan waktu selama sepuluh hari. Mengerjakan songket, mulai dari proses pembuatan motif memang tidak sedikit, di antaranya kuda-kuda (kudo dayan), apit, penyuncing, beluro, por, suri, dan teropong. Juga dibutuhkan banyak lidi, terutama dalam pembuatan motif.
Penggunaan lidi, sedikitnya 170 batang untuk satu songket. Rinciannya adalah teretes 21, tawur 12, rebung 60, rumpal/bunga api 8-10, ombak 9, dan kembang/tumpal 25-60.
Lidi-lidi itu biasanya dibeli dari pengrajin rokok gudung dengan harga seikat Rp 2.000, dan berisi sekitar 500 batang.
Motif songket setelah selesai dibuat bisa digunakan untuk menenun sedikitnya 500 songket. Namun, kalau tidak terawat dan tidak telaten, bisa-bisa hanya untuk tiga songket. ”Bergantung kepada penenunnya,” kata Ita.
Upah membuat motif itu, untuk saat ini sekitar Rp 225.000-250.000, tergantung pada tingkat kerumitannya. Hanya saja, pembuatan motif masih menemui kendala karena berbagai faktor, di antaranya masih minimnya keinginan orang untuk belajar. Selain itu juga minimnya modal untuk membuat motif sehingga pembuatan motif baru dilaksanakan jika ada yang memesan.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pembuat motif ini juga bisa dihitung dengan jari, lantaran ada peraturan bahwa pembuatan motif hanya boleh diturunkan kepada generasi penerus dalam keluarga. Tetapi bagi Ita, dia mengatakan tidak masalah kalau mengajarkan teknik pembuatan motif tersebut.


Ita Diana, mengawasi anak didiknya membuat motif songket (menyungkit).







Oleh karenanya, ketika ada tawaran dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk mengajar di kursus pembuatan motif, Ita tidak merasa keberatan. Begitu juga terkait beberapa kegiatan lainnya yang dilaksanakan oleh berbagai organisasi dan disponsori berbagai perusahaan, Ita mau mengikutinya.
Melalui Disperindag saja dia sudah tiga kali dilibatkan, termasuk ke berbagai daerah, seperti Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir (OI). Hasilnya, kini sudah puluhan penyungkit baru lahir, termasuk di kampungnya sendiri, yang pelatihannya dilakukan melalui kelurahan.
Mengajar lewat program Disperindag sudah dilakukan tiga kali, dengan sedikitnya membimbing 60 orang. Ditambah di kelurahan, sebanyak 25 orang, kini para peserta pelatihan itu sudah produktif. Beberapa rumah tenun di Palembang, bahkan pesanan-pesanan dari luar daerah, telah memanfaatkan jasa penyungkitan tersebut.

Kursus Senilai Satu Suku Emas

BELAJAR mencungkit bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu lewat latihan privat atau ikut program yang dilaksanakan oleh dinas/instansi atau organisasi tertentu. Hasilnya memang tak sama, karena biaya dan waktu belajar yang dibutuhkan juga berbeda. Untuk yang privat, Ita mematok harga tertentu. Biayanya seharga satu suku emas atau 6,7 gram. Saat nilai emas naik seperti sekarang ini, harga bisa mencapai Rp 2 juta.
Waktu belajarnya selama tiga bulan, sekali seminggu, mulai dari nyucuk suri, ngelak, mencungkit (membuat motif) sekaligus menenun.
Sementara kalau ikut program instansi, hanya memerlukan dua kali pertemuan. Biasanya program ini cocok untuk mereka yang pernah memiliki kemampuan menenun sehingga sudah mempunyai kemampuan dan pengetahuan dasar tentang menyongket. Untuk menjadi pelatih dalam kursus ini, Ita biasanya dibayar Rp 500.000 dengan murid paling banyak 20 orang.
Kalau dibandingkan dengan belajar privat, tentu bayaran itu tak seimbang. ”Tetapi manfaatnya, songket tentu bisa lebih lestari,” tuturnya. (sir)

Sinar Harapan, rubric profil dan tokoh, Rabu 15 Juli 2009
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/melanggar-tradisi-demi-kelestarian-songket/

Tidak ada komentar: