Tampilkan postingan dengan label palembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label palembang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2012

Telok Abang, Mainan Khas Agustusan Tanpa Telok


PALEMBANG - Menjelang peringatan kemerdekaan RI 17 Agustus, pedagang telok abang mulai marak di Palembang. Sepintas tak ada beda telok abang kini dan sebelumnya. Namun kalau diteliti, ternyata sangat jauh bedanya.
Mainan yang terbuat dari bahan utama kayu gabus ini dibentuk berbagai rupa miniatur, ada kapal layar, pesawat terbang, becak, jembatan Ampera, atau bentuk-bentuk lainnya. Dulu di atas miniatur itu digantungkan telur berwarna merah.
Bisa telur ayam negeri atau telur bebek yang diberi warna merah sumba sehingga namanya disebut telok abang yang artinya telur merah.
Kini, mungkin untuk menyiasati mahalnya harga telur menjelang Lebaran, mainan ini tidak lagi dilengkapi dengan telur. Meski demikian, masyarakat Palembang, terutama anak-anak tetap meminatinya.
“Tanpa telur pun tak apa karena telurnya pun kami ragu mau memakannya,” ujar Ny Romlah yang menemani anaknya membeli telok abang di Jalan Merdeka, Palembang.
Meski tanpa telur, Ny Romlah membayar miniatur perahu yang diincar anaknya dengan harga yang relatif sama dengan harga tahun lalu. “Rasanya tahun lalu saya membelinya Rp 20.000 dengan telur, sekarang tanpa telur juga sama,” ujarnya.
Biasanya momen penjualan telok abang memang mendekati peringatan 17 Agustus, harganya berkisar Rp 15.000-50.000. Bahkan untuk yang ukuran agak besar dan pembuatannya agak rumit, bisa mencapai Rp 150.000.
"Yang harganya mencapai Rp 150.000, misalnya, miniatur Jembatan Ampera dan kapal layar karena membuatnya agak rumit dan memakan waktu cukup lama," ujar Ismail, seorang perajin.

Ismail tidak sendirian. Sedikitnya ada 200-an perajin serupa yang memanfaatkan momen peringatan hari kemerdekaan RI. Kegiatan ini menjadi usaha rumahan warga Palembang yang umumnya merupakan pengusaha kecil dengan modal yang minim. Setahun sekali mereka mendapatkan rezeki, selebihnya momen lainnya juga dimanfaatkan, seperti saat tahun tahun baru dengan membuat terompet.
Ismail mengatakan, sedikitnya ia bisa menghasilkan 500-700-an unit mainan telok abang per hari. Dia tidak menjajakan, tetapi menitipkan kepada penjual yang biasanya memajang dagangannya di pinggir jalan.
Makin Meningkat
Seiring pelaksanaan 17 Agustus yang biasanya diramaikan dengan perlombaan perahu hias dan perlombaan kecepatan mendayung perahu di Sungai Musi, penjualan telok abang pun semakin meningkat. Setiap tahun, selama Agustus barang-barang bekas berupa kardus dan kayu gabus yang dipadu dengan kertas berwarna cerah lainnya telah mendatangkan rezeki tersendiri bagi warga Palembang.
Ismail memang terpaksa melakukan berbagai manuver agar usahanya tetap jalan, terutama menyiasasi sulitnya mendapatkan kayu gabus atau harga telur yang ikut membumbung menjelang Lebaran.
“Itulah risikonya kalau peringatan kemerdekaan bersamaan dengan bulan puasa dan menjelang Lebaran. Salah satunya, telok abang pun dikorbankan tanpa telur. Beruntung, pembeli tak begitu mempersoalkan ada atau tidaknya telur di mainan itu,” ujar Ismail

Tukang Keruntung di Pasar 16 Palembang






Hidup, Bergantung Bahu


Banyak barang bawaan, akan susah berjalan di tengah keramaian pasar. Mau naik becak, Anda berada di kawasan bebas becak. Naik angkot, tak ada trayek yang bisa mengantarkan Anda ke tempat tujuan. Soalnya, lorong-lorong pasar sempit dan begitu sumpek. Nah, ada satu pilihan, tukang keruntung. Barang apa pun, kalau Anda berada di Pasar 16 Ilir Palembang, bisa diangkut tukang keruntung. Lelaki yang biasanya akan menawari semua orang yang terlihat mengalami persoalaan dengan barang bawaan, apakah itu barang belanjaan ataupun barang jenis apapun yang memang perlu diangkut. Tarifnya? Bisa berdamai. Selama bulan puasa pun, mereka justru seakan terus bertambah jumlahnya.


Memang tidak ada angka pasti mengenai jumlah tukang keruntung, penjual jasa mengangkut barang menggunakan keruntung (keranjang terbuat dari rotan, pen), yang menggantungkan hidupnya di pasar 16 Ilir Palembang. Namun, saat di Pasar 16 Ilir masih ada Pasar Pagi, sedikitnya ada sekitar 500 tukang keruntung yang berkompetisi merebut  pembeli jasa. Begitupun sejak kapan mereka mulai tumbuh, tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, menurut informasi yang diperoleh keberadaan tukang keruntung ini telah ada seiring hadirnya Pasar 16 Ilir yang terletak di bawah dan seputaran Jembatan Ampera tahun 1970-an. 

Dengan keruntung milik sendiri ataupun sewaan, para tukang keruntung ini  memulai aktivitasnya beragam. Ada yang  mulai sejak pukul 02.00 WIB dini hari. Ada pula yang mulai sejak pukul 10.00 WIB. Dan ada pula yang memulai aktivitasnya pada sore hari. Begitupun dengan berakhirnya aktivitasnya, juga bervariasi. Ada yang masih pagi sudah berada di rumah, dan ada pula yang sampai dini hari ternyata masih juga terlihat di seputaran Pasar 16.

Modal untuk menjadi tukang keruntung memang tidak begitu besar. Cukup dengan  uang Rp 40.000 dan tenaga yang kuat, terutama bagian bahu, maka siaplah seseorang menjadi tukang keruntung. Uang modal ini, digunakan untuk membeli keruntung di Pasar 4 Ulu, seberang Sungai Musi. Sementara tenaga dibutuhkan untuk menyangga keruntung berisi barang milik pembeli jasa.

Namun bila tidak punya uang Rp 40.000,  bukan berarti tidak bisa menjadi tukang keruntung. Karena di Pasar 16 ada sedikitnya 50 tauke keruntung yang menyewakan keruntungnya. Setoran  yang ditetapkan, antara Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per hari (hampir sama dengan setoran becak).    

Untuk jadi tukang keruntung, juga tidak diperlukan penampilan. Cukup dengan ‘pakaian dinas’ berupa baju jenis apa saja dan celana, pendek ataupun panjang, plus handuk pengelap keringat, maka tugas pun siap dilaksanakan. 

Bila sudah siap, tinggal negosiasi dengan pemakai jasa. Kalau sepakat, maka barang milik pelanggan pun di masukkan ke keruntung dan pemilik barang biasanya berjalan di belakang tukang keruntung.  Penentuan tarif ini, tidak aturan khusus. Menurut Usman (35) dan Yus (40), yang beroperasi untuk mengangkat barang-barang kering, berupa berang belanja seperti pakaian ataupun barang-barang elektronik, untuk menentukan tarif bergantung berat dan jenis  barang, juga  jarak yang akan ditempuh.  Namun untuk tarif barang tertentu berupa daging, sayur ataupun ikan,  sudah ada ketentuan tersendiri.


Ikan patin, misalnya, satu kali angkat dari mobil ke penyimpanan ikan disepakati Rp 1.000. Kalau ada mobil ikan datang, maka tukang keruntung langsung mendekat dan siap mengangkat. Tak perlu negosiasi lagi. Begitu juga dengan daging. Pedagang daging  siap  membayar upah angkut barangnya  Rp 1.500 dari  becak atau angkot ke los/petak dagangannya. Hal yang sama juga ditemui di jenis angkutan sayur.

Dengan keruntung yang digantung di bahu dan diletakkan di punggung, tukang keruntung biasanya bergerak cukup lincah di sela-sela sesaknya penghuni pasar.

Biasanya, pemilik barang, memanfaatkan jasa tukang keruntung untuk mengangkat barangnya dari  pelabuhan motor boat dari pinggir Sungai Musi yang memang di sisi Pasar 16 Ilir ke pasar atau ke angkutan kota (angkot).  Atau ada juga mereka yang habis berbelanja di pasar ke angkot. Bahkan ada juga yang dari angkot yang satu ke angkot yang lain. Pokoknya, bergantung keperluan, dan juga bisa tidaknya barang diangkut sendiri oleh pemilik barang.

Kehadiran tukang keruntung memang nyaris tanpa pesaing. Habis, mereka bekerja di sela-sela pasar yang  tidak bisa dilewati becak ataupun angkot.. Mungkin, yang menjadi saingan hanya sesama tukang keruntung saja. Namun, ini bagimereka tidak dirasakan sebagai saingan. Karena mereka ternyata sudah punya kode etik sendiri, yang sadar ataupun tidak, tidak akan dilanggar
          Kode etik ini misalnya, tidak saling serobot. Kecuali kalau sudah batal dengan rekan yang lain. Soal wilayah, tidak ada pembatasan. Dimanapun,  bisa beroperasi. Juga, tak  wilayah yang terlarang. Artinya, tidak ada daerah bebas tukang keruntung, seperti halnya daerah bebas becak.
          Penghasilan tukang keruntung, bergantung rezeki. Tak ada seorang pun  tukang keruntung yang mengaku tahu pasti berapa penghasilan tetapnya sehari. Paling tidak mereka sedikitnya biasanya mendapatkan uang Rp 10.000. Itu kalau lagi apes. Namun kalau lagi tak bernasib, ada juga yang hanya mendapat Rp 5.000.     Meski demikian, terkadang ada juga kalanya mereka bisa mengantongi Rp 70.000 dalam satu hari.
          Memang, profesi tukang keruntung tidak membutuhkan  syarat-syarat yang berat. Namun demikian, hidup mereka bergantung kepada bahu. Bagaimana kekuatan bahu mereka untuk menyangga keruntung yang telah disesaki barang. 


Berkurang

Seiring dipindahkannya Pasar Pagi 16 Ilir ke Pasar Induk Jakabaring, jumlah tukang keruntung menyusut tajam. Kini, jumlahnya palig banyak 50 orang. Jam bekerjanya pun berubah. Kalau dulu ada yang mulai dini hari hingga matahari terbit, melayani pedagang sayur. Ata pagi hingga sore hari, kni tak ada pilihan. Hanya bisa beroperasi pagi hingga sore hari. Karena tak ada aktivitas lagi di Pasar 16 saat dini hari hingga pagi.
Rezeki pun berkurang, dan tukang keruntung pun menyusut. (muhamad nasir)


Di Desa Punya Angkot dan Motor Ojek

          Rusidi (39), adalah seorang tukang keruntung yang memulai aktivitas tak menentu. Terkadang pagi hari. Waktu lain, sore hari. Di lain hari,  malam hari dia baru   keluar dari rumah. “Dak tentu Mas. Bergantung ikan yang datang. Juga, sir-siran (kehendak hati, red),” ujar lelaki yang mengaku baru sekitar tiga tahun menggeluti profesi itu.  
          Suami dari Ayu Lestari yang telah memberinya empat anak, yang sulung telah duduk di kelas tiga SLTA dan bungsu baru berumur satu tahun, menuturkan bahwa profesi yang digelutinya cukup membuatnya tenang. Penghasilannya lumayan, jam kerjanya juga terserah kita. “Kita tidak diperintah-perintah. Kalau kita berkenan, kerjakan. Tidak, ya tinggalkan,” aku lelaki yang merantau di Palembang sejak tahun 1980 ini.
          Lelaki bertubuh kekar dengan kulit terbakar matahari ini, saat ini tinggal bersama istri dan anak bungsunya di Lr Semeru Kelurahan  Tuan Kentang, Kecamatan 1 Ulu Palembang.  Sementara tidak anaknya yang lain tinggal bersama orang tuanya. “Anak-anak saya di Desa Mas. Desanya Bumi Ayu, Jawa Tengah.   Di sana, sebenarnya saya punya angkot dan motor ojek. Dari penghasilan itulah, saya menyekolahkan anak-anak,” ujar Rusidi yang ditemui sedang istirahat.
          Diakui tukang keruntung yang pernah menjalani berbagai profesi di beberapa daerah ini, memang angkot dan ojek bukan didapatnya dari profesinya sekarang ini. Tapi menurutnya, paling tidak selama tiga tahun ini dia merasa  cukup. Meski demikian, dia tetap tinggal di rumah sewaan yang kecil yang muat untuk istri dan anak bungsunya.    Sebelum menjalani tugas sebagai tukang keruntung, memang Rusidi ternyata pernah menjadi sopir angkot di Jakarta. Juga bekerja sebagai tukang bangunan. 
Lelaki yang menjalani profesi tukang keruntung mengangkat ikan patin ini menceritakan bahwa dalam sehari, penghasilannya cukup lumayan. Kalau lagi banyak ikan,  bisa mencapai Rp 70.000. Tapi kalau lagi sepi, paling-paling  Rp 20.000. “Tapi itu, Mas. Badan kotor dan bau. Soalnya, ikan yang diangkat kan basah. Airnya mengalir ke tubuh. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana jadinya,” tambah Rusidi yang jam kerjanya terkadang pagi hari, terkadang sore, tak jarang malam, bahkan dini hari.
Tapi, biasanya Rusidi dan kawan-kawan tahu  jadwal kapan ikan adatang. Jadi,  pas jadwal itulah, biasanya kami siap di tempat. Sedikitnya ada sekitar 200 tukang keruntung yang mengangkat ikan. Mereka, biasanya jarang beroperasi dalam waktu bersamaan. Paling-paling yang bersamaan, terlihat sekitar 50 orang.  
           

Punya 40 Keruntung
          Yus, lengkapnya Yus Iskandar  (45), menggeluti profesinya sejak tahun 1985. Berbagai pengalaman telah dilaluinya. Dari pengalaman pahit sampai yang menyenangkan. Pahitnya, pernah diminta mengganti televisi hitam putih yang diangkatnya, akibat dia terpeleset dan televisi itupun rusak. “Selain dimarah-marah, saya juga disuruh mengganti. Gimana tidak sakit. Padahal, saat itu saya tidak punya tivi . Jadinya, saya keluar duit, tapi barangnya tidak dimiliki,’ cerita, lelaki asal  Serang ini.
          Masih untung, menurut Yus Iskandar yang anak sulungnya saat ini hampir tamat S-1 di perguruan tinggi negeri di Palembang dan anak keduanya kuliah di perguruan tinggi swasta, saat itu ternyata televisi itu masih bia diperbaiki. Tapi, ya itu, biayanya cukup besar karena kerusakannya cukup parah.
          Tapi, itu bagi Yus yang saat ini berkat keuletannya sempat memiliki 40 keruntung yang disewakan, menjadi pelajaran yang paling berharga. “Saya jadi berhati-hati dan juga sangat memperhitungkan kalau mengangkat barang-barang berharga. Tapi bukan berarti tidak mengangkat barang berharga,” akunya.
          Pengalaman yang menyenangkan, sering menemui pemilik barang yang baik hati. Terkadang memberi uang lebih. Meski telah ditampik, masih saja memasukkan uang ke kantong. “Saat itulah, rasanya saya sangat dihargai. Ternyata, masih ada orang yang seperti itu,” katanya sembari tersenyum membayangkan pengalamannya itu            
Dengan 40 keruntung yang dimilikinya, Yus memang sedikitnya dipastikan mengatongi  Rp 80.000 sehari. Meski demikian, dia tidak meninggalkan profesinya. Dengan keruntung andalannya, Yus tetap berkutat di Pasar 16 Ilir. “Paling tidak, saya masih tetap bisa mengontrol keruntung-keruntung saya,” kilah Yus yang ditemui habis mendapat borongan mengangkat kelapa sebanyak satu perahu dan mendapat bayaran Rp 15.000.
          Ditanya soal profesinya, Yus mengaku tidak malu. Baginya, tidak ada kata malu, Yang penting, halal dan bisa menghidupi anak istri. “Mau kerja yang lain, rasanya saya tak mampu. Cuma ini yang saya bisa,” ujar Yus yang kini hidupnya cukup mapan. Meski keruntungnya tak sebanyak dulu lagi. Kini, sebagai bos keruntung, dia pu nyambi  menjadi tukang keruntung. (muhamad nasir)
         





















































Sabtu, 11 Agustus 2012

Kayu Gabus Sulit Didapat, Telok Abang Berkurang

Palembang Sulit mmendapatkan akan baku utama berupa kayu gabus, perajin telok abang yang marak menjelang 17 Agustusan di Palembang kini mengurangi produksi. Beberapa perajin telok di kawasan Silaberanti, Kecamatan SU I, mengungkapkan, kayu gabus sebagai bahan utama membuat pesawat yang biasa didatangkan dari Prabumulih ini sudah sulit didapat. Kalaupun ada, harganya sangat mahal sehingga mereka tidak berani membeli dalam jumlah banyak karena takut pesawat tidak laku dijual. Jika sebelumnya mereka bisa menjual aneka jenis pesawat mencapai 700–1.000 unit, sejak harga gabus makin mahal, mereka pun mengurangi produksi. Tahun ini misalnya sejumlah perajin hanya memproduksi sekitar 300 unit sesuai pesanan langganan mereka di pasar-pasar. “Kami nih buatke untuk pesenan bae dek. Kalau idak mak itu idak bikin pesawat tahun ini sebab gabusnyo sudah mahal nian. Untungnyo tipis nian,” ujar Mamat, salah seorang pedagang Jumat (10/8). Mamat mengatakan, gabus-gabus itu mereka datangkan dari Prabumulih dan dibeli dalam bentuk karungan. Sejak 2009, harganya naik dari Rp75.000 menjadi Rp100.000 tiap karung. Tingginya harga inilah yang menyulitkan mereka karena mereka kesulitan menaikkan harga jual di pasaran. “Itulah,kami nih serbo salah. Bahannyo ini lah mahal, tapi wong yang beli taunyo hargo pesawat ini nak murah tulah. Makonyo kami baru buat kalau ado yang pesen,” ungkap dia. Dengan harga jual Rp10.000/pesawat, mainan produksi mereka ini setiap tahun selalu dipasok ke beberapa pasar tradisional seperti Pasar Km 5 dan Pasar 26. “Dulu untungnya bisa Rp3 jutaan, sekarang jauh sekali merosot sampai Rp1,5 juta saja. Padahal membuat pesawat ini tidak sebentar, satu hari paling dapat 10 unit,”tutur Mamat. Sementara itu, perajin lainnya, Ombay, mengatakan, saat ini memang sulit sekali mendapatkan untung yang lumayan dari berjualan mainan khas kemerdekaan tersebut. Telok abang sendiri merupakan mainan khas berupa berbau bentuk miniatur pesawatnya, kapal, ataupun bentuk lainnya yang terbuat dan gabus. Di atasnya lalu ditambah ekor rebus nyana diberi warna warni. Dominan warna merah. Sehingga dikenal dengan sebutan Telok abang (telur merah, red). Mainan in biasanya marak menjelang peringatan HUT RI pada bulan Agustus setiap tahunnya. (Sir)

Rabu, 25 Juli 2012

Kedelai Naik, Omzet Tempe Turun



Palembang

Harga kedelai melonjak mencapai Rp8.000/kg sejak tiga bulan terakhir mulai dikeluhkan sejumlah produsen tempe di Palembang. Soalnya, kenaikan itu berdampak turunnya omzet hingga 15%.

Seorang pengrajin tempe,  Aminah, Rabu (25/7) mengungkapkan keluhan yang dialaminya bersama pengrajin lannya. Menurut wanita yang sudah puluhan tahun bergelut membuat penganan tempe ini, kenaikan harga kedelai membuat usahanya sempat meredup.

Untung yang didapat sudah sulit memenuhi kebutuhan sehari- hari.  "Produksi tetap banyak tapi omzet kami tidak naik-naik,soalnya harga bahan baku tinggi sekali. Susah menyiasatinya,” ujar dia. Aminah berharap harga kedelai tidak naik lagi karena dia khawatir usahanya akan terganggu.

Jika harga kedelai membumbung tinggi seperti sekarang, dia kesulitan mencari modal. “Sekarang saja sulit. Apalagi kalau kedelai naik lagi.Kalau bisa janganlah pemerintah harus cepat tanggap. Kami cari makan hanya dari sini,kalau begini terus mana dapat untung lagi,” tutur dia.

Produksinya tetap,tapi omzet yang turun sampai 15%, soalnya kami beli bahan baku dengan harga tinggi. Jadi cari untungnya juga sudah susah,” ujar Koordinator Perkumpulan Produsen di Kelurahan 24 Ilir,Pramono. Menurut dia, jika harga kedelai ini terus naik, bukan tidak mungkin akan banyak usaha seperti mereka gulung tikar.

Untuk mengantisipasi harga bahan baku yang mahal saat ini saja, mereka sudah harus mengurangi ukuran tempe yang biasa mereka jual sehari-hari. Pramono menjelaskan, jika biasanya satu batang tempe berukuran 1,8 meter dibuat dengan 7–80 ons kedelai, sejak harga naik jatahnya mulai dikurangi menjadi 5–6 ons kedelai saja. Hal ini dipastikan  mengurangi cita rasa tempe itu sendiri.“ Tapi mau bagaimana lagi, memang kedelainya mahal kok,” ujar dia.

Dia mengatakan, kondisi seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya ketika suplai kedelai masih di bawah kendali Bulog. Namun, sejak dijual secara bebas dengan mekanisme pasar saat ini,harga tempe cenderung tidak stabil. Saking parahnya, harga kedelai ini terus mengalami kenaikan setiap hari. “Tiga bulan lalu harganya masih Rp5.700, kemudian naik jadi Rp6.000-an dan sekarang mendekati Rp8.000,” paparna. Untungnya, meski ukuran tempe diperkecil, permintaan tempe dari agen pasar-pasar tradisional tetap tak terganggu.

Karena itu pula, Pramono mengaku tetap memproduksi hingga 40 kg kedelai setiap hari untuk diolah menjadi penganan khas tersebut. Dia berharap harga kedelai ini kembali lagi normal paling tidak di kisaran Rp7.000/kg. (sir)

Jumat, 15 Juni 2012

Fasilitasi Promosi Daerah, Pemkot Palembang Gelar Palembang Expo

PALEMBANG – Dalam rangka memperingati hari jadi Kota Palembang ke- 1.329, Pemkot Palembang menggelar Palembang Expo 2012yang diadakan di Sriwijaya Promotion Center (SPC), Jakabaring, pada 15–20 Juni.

Kegiatan pameran yang diikuti 100 stan lokal dan luar daerah ini dibuka langsung Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra kemarin. Kepala Disperindagkop Kota Palembang Ibnu Rohim mengatakan, Palembang Expo ini memamerkan aneka produk khas dan kerajinan masing-masing kota dan kabupaten.

Peserta yang akan terlibat dalam Palembang Expo terdiri dari BUMN,swasta,dan instansi di lingkungan Pemkot Palembang serta Kabupaten Provinsi Sumsel, termasuk dari luar daerah. “Untuk UKM lokal yang dilibatkan, tentu kami prioritaskan UKM binaan Disperindag yang bergerak di bidang kuliner, suvenir, dan pakaian.Tapi, jumlahnya akan disesuaikan dengan kebutuhan stan yang ada,”katanya.

Ibnu mengatakan belum bisa memprediksi berapa omzet gelaran Palembang Expo 2012. Mengingat, pada dua bulan sebelumnya lokasi SPC sudah digelar Sumsel Expo, yang diadakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Meski demikian, melalui ajang Palembang Expo ini, diharapkan bisa menjadi sarana promosi produk unggulan UKM, pariwisata, dan mitra binaan Pemkot, yang nantinya bisa mengikuti pasar nasional.

Selain itu,kegiatan ini menjadi sarana meningkatkan cinta produk dalam negeri. Diharapkan ke depannya peserta yang membuka stan di Palembang Expo bisa ikut berpartisipasi di event-event nasional, bahkan internasional. “Memang kegiatan tahun ini berbeda dengan tahun lalu yang diadakan di pelataran BKB. Kami juga menargetkan pengunjung akan lebih banyak dari Sumsel Expo,”ujarnya.

Sementara itu,ketua panitia acara besar HUT Kota Palembang Eva Santana Putra mengatakan, selain Palembang Expo, berbagai kegiatan lainnya juga akan digelar.Kegiatan itu di antaranya panggung hiburan yang akan dimeriahkan artis-artis Ibu Kota, seperti Azis Gagap, Nunung, Ari Lasso, Republik, serta berbagai atraksi sulap.

“Lomba bidar dan kegiatan yang bisa disaksikan masyarakat umum juga tetap digelar seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang pasti akan lebih meriah dan lebih sesuatu dari tahun kemarin,”ungkapnya.

Selasa, 07 Februari 2012

Hapus Taksi Gelap, Remajakan 72 Taksi Bandara



Palembang:

Guna mengurangi taksi gelap yang banyak beroperasi di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Pemkot Palembang akan melakukan peremajaan terhadap 72 taksi bandara dari tiga koperasi,yakni Kotas, Balido, dan Primkopau. 

Hal ini terungkap dalam rapat pembahasan bersama tiga pengurus koperasi taksi dan pihak Bank SumselBabel di kantor wali kota akhir pekan lalu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang Husni Thamrin mengatakan, peremajaan taksi ini sebagai upaya perbaikan pelayanan angkutan transportasi pribadi di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang dan kota. Khususnya, kepada tamu yang datang dari pintu masuk angkutan jalur udara.

Ada 72 taksi yang diremajakan, tapi yang mengajukan harus menjual milik mereka dulu sebelum dapat pinjaman dari Bank SumselBabel,” ujar Husni.

Peremajaan taksi tersebut, kata dia, mendapat bantuan dari Bank SumselBabel. Bunga yang dikenakan kepada pengguna bantuan mencapai 4,88%.

Adapun tarifnya flat hingga selesai angsuran. Sementara, down payment (DP) kendaraan yang harus dibayarkan minimal 20% atau lebih.Kalau lebih dari 20% akan lebih murah dan cepat lunas, jadi tinggal mendapat keuntungan.

“Yang pasti diberi kemudahan pihak bank,”katanya.

Terpisah, Plh Kepala Disperindagkop Kota Palembang Ibnurohim menambahkan, dari jumlah peremajaan taksi tersebut, 40 di antaranya milik Balido.Balido akan mengganti kendaraannya dengan mobil proton.

Primkopau 30 unit mobil KIA dan Kotas 2 unit Chevrolet. Jumlah yang diajukan tersebut akan mendapat pinjaman Bank SumselBabel.
Jika pihak bank sudah sepakat, tinggal dilanjutkan kepengurusan administrasinya. Pemkot Palembang juga ikut membantu pemberian dana dalam peremajaan taksi tersebut. Namun, bantuan peremajaan taksi ini baru akan diusulkan dalam APBD Perubahan 2012. Nilainya mencapai Rp15 juta setiap mobil yang diremajakan. “Kalau di APBD induk belum ada, makanya menggunakan APBD perubahan. Bantuan Rp15 juta ini kebijakan wali kota,” katanya.

Dari hasil rapat yang digelar tersebut, diketahui taksiran harga taksi yang akan diremajakan mencapai Rp50 juta. Nilai tersebut bisa digunakan untuk DP dan keperluan lainnya. “Tapi, DP minimal harus 20% dari harga kendaraan,” ujarnya. Peremajaan taksi khusus kepada tiga koperasi taksi saja. Pihak lain yang berkeinginan tidak bisa karena terhambat status sebagai anggota.Termasuk pemilik taksi gelap, tak bisa ikut program peremajaan taksi ini.

“Khusus untuk anggota tiga taksi saja,” ungkapnya seraya menambahkan, upaya perbaikan pelayanan dengan peremajaan taksi tersebut bertujuan menghilangkan taksi gelap yang banyak beroprasi di sekitar bandara. (sir)







Minggu, 21 November 2010

Fun Mountea Digelar di Palembang

Palembang:
Mountea sebagai salah satu merek produk minuman unggulan dari GarudaFood, kembali akan menggelar roadshow Mountea Fruition di Palembang setelah sebelumnya sukses diselenggarakan di kota Semarang (10/10), Banjarmasin (17/10), Makassar (24/10), Yogyakarta (31/10), Bali (7/11) dan Surabaya (14/11). Event ini akan dilaksanakan pada Minggu, 21 November 2010 di Lapangan Parkir Palembang Trade Centre (PTC) mulai pukul 06.30 WIB dan akan dimeriahkan oleh band Vierra selaku Brand Ambassador Mountea.

Palembang merupakan kota ke-tujuh dari total 8 kota roadshow dan selanjutnya, event serupa juga akan digelar di Bandung pada tanggal 28 November 2010. Event Mountea Fruition ini akan diawali dengan kegiatan Jalan Sehat oleh seribu peserta, dilanjutkan dengan lomba mewarnai untuk tingkat TK hingga SD, serta pentas seni dan unjuk bakat dari remaja SLTP dan SMA. Di penghujung acara, akan ada prosesi launching/peluncuran produk Mountea Starfruit dan berakhir dengan penampilan dari Kevin Aprilio, Widy Soediro Nichlany, Raka Cyril Damar, Satryanda Widjanarko serta Deryansha Azhary.

“Mountea rasa buah Belimbing merupakan yang pertama di Indonesia, kami yakin konsumen kami akan mendapatkan pengalaman berbeda yang eksotis, dengan varian baru Mountea ini”, ujar Senior Brand Manager Mountea Erwin Panigoro dengan penuh optimis.

Mountea Fruition merupakan salah satu bentuk apresiasi Mountea kepada pedagang, baik grosir, semi grosir maupun retail yang telah mempromosikan dan menjual produk Mountea sehingga bisa dijangkau oleh konsumen. Juga tidak ketinggalan, para konsumen loyal Mountea yang meliputi anak-anak, remaja dan dewasa.


Untuk setiap penjualan Mountea nilai tertentu yang dilakukan oleh grosir, semi grosir dan retail, baik pedagang maupun konsumen akan mendapatkan kupon yang akan diundi pada acara Mountea Fruition yang diadakan di 8 kota tersebut. Pada event ini juga akan diluncurkan produk Mountea cup dengan promo gosok-gosok yang memperebutkan hadiah menarik dengan total ratusan juta rupiah. Promo ini digelar oleh Mountea secara nasional untuk item tertentu sampai dengan bulan Juli 2011.

Mountea merupakan salah satu merek produk minuman unggulan dari GarudaFood, sebuah perusahaan industri makanan dan minuman terkemuka di Indonesia. Mountea merupakan pionir sekaligus market leader dalam kategori minuman teh dalam kemasan dengan rasa buah yang sangat disukai konsumen dari pelbagai kelompok umur dan status sosial. Sejak diluncurkan lima tahun silam, kini Mountea telah hadir dalam beragam varian rasa yang terbukti begitu disukai konsumen, antara lain : Mountea rasa apel, blackcurrant, guava, stroberi, leci, buah persik dan teh manis.

Keseriusan GarudaFood menggarap pasar minuman teh dalam kemasan mendapat pengakuan antara lain dari : Indonesian Best Brand Award (IBBA) empat tahun berturut-turut (2007-2010) dari MARS & Majalah SWA, Top Brand Award dari Frontier Marketing Research & Majalah Marketing, serta Word of Mouth Marketing Award (WOMM) dari majalah SWA (Juni 2010).

Minggu, 07 November 2010

Mobil Dinas Wawako Palembang Salahi Aturan

Seputar Indonesia, Monday, 08 November 2010

PALEMBANG– Anggota Komisi I DPRD Kota Palembang,Fatahillah Chan menilai mobil dinas (mobnas) yang digunakan Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang,Romi Herton melanggar dua aturan,yakni Permendagri 7/2006 dan Keppres 80/2003.

Menurut Fatahillah, dalam lampiran pasal 14 permendagri 7/ 2006 ditegaskan mobnas yang digunakan wali kota berkapasitas 2.500 cc untuk kendaraan jenis sedan dan 3.200 cc untuk jenis jeep. Sedangkan wakil wali kota atau wakil bupati kapasitas silindernya maksimal 2.200 cc untuk jenis sedan dan 2.500 cc untuk jenis jeep. “Sementara yang digunakan beliau (wakil wali kota) selama ini Pajero Sport berkapasitas 3.300 cc, di sini saja sudah jelas pelanggarannya,” ujar Fatahillah di Palembang, kemarin.

Fatahillah lantas mempertanyakan dari nama asal dan siapa yang memberikan kewenangan Wawako untuk menggunakan kendaraan tersebut.Terlebih lagi dirinya mendapatkan laporan bahwa,pembelian kendaraan ter sebut dilakukan saat pengadaannya belum ditenderkan serta anggaran yang ada belum disahkan. “Proses pengadaan ini juga telah menyalahi aturan. Khusus pengadaan mobnas sesuai dengan Keppres No 80 tahun 2003 tentang pengadaan barang dan jasa harus dilakukan secara tender.

Makanya itu, kita pertanyakan siapa yang mengesahkannya, dari mana asalnya dan anggarannya,” sesal Fatahillah. Sementara untuk mobnas yang digunakan wali kota, menurut Fatahillah tidak bermasalah. Meskipun menggunakan mobil jenis minibus Toyota Alphard, kapasitas silinder mobnas wali kota, masih sesuai ketentuan, yakni sekitar 2.500 cc. “Kita tidak mempersoalkan itu.Sebab beliau (wako) sudah sesuai dengan peraturan,”katanya.

Melihat kondisi tersebut, selaku wakil rakyat, dirinya meminta aparat berwenang untuk memantau setiap anggaran yang digunakan pejabat di lingkungan pemkot setempat. Bahkan jika memang menyalahi peraturan, dirinya mendesak kepada pihak yang berkompeten untuk melakukan pengusutan. “Kalau memang terbukti menyalahi hukum tentunya harus diproses. Jangan dibiarkan seperti itu.Kita minta kepada pejabat untuk bertindak,”tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum berhasil diperoleh konfirmasi langsung dari wakil wali kota, Romi Herton. Berulangkali berusaha menghubungi, telepon selular Romi dalam keadaan tidak aktif. Hal yang sama terjadi dengan telepon genggam milik sekretaris daerah (sekda), Husni Thamrin. SINDO pun mencoba untuk menggali informasi tentang mobnas ini ke Kepala Bagian (Kabag) Keuangan, Hoyien.

Kendati mengetahui keberadaan mobnas tersebut saat ini tengah digunakan Romi, namun Hoyien mengaku tidak mengetahui secara persis terkait mobil tersebut. “Untuk urusan (mobnas) ini, kita ada bagian masing-masing.Silahkan konfirmasi langsung ke Bagian Perlengkapan,” ujar Hoyien singkat. Sayangnya saat mencoba menghubungi Kepala Bagian (Kabag) Aset Perlengkapan dan PAD Setda Kota Palembang, Faizal AR yang bersangkutan tengan melaksanakan ibadah haji di tanah suci Mekkah. (andhiko tungga alam)

Kamis, 04 November 2010

Ribuan Rumah Warga Terendam Banjir

Palembang

Ribuan rumah di berbagai wilayah di Palembang Kamis (4/11) terendam banjir akibat hujan deras yang turun cukup lebat sebelumnya. Hingga Jumat pagi, banjir masih merendam rumah warga.

Hujan deras yang disertai petir yang turun sepanjang Rabu (3/11) hingga Kamis pagi menimbulkan kawasan Sekip, Lorok Pakjo,Pahlawan,Lorong Muhajirin V,Jalan POM IX,dan kawasan lain di Ilir Barat I dan Ilir Timur I kembali terendam. Bahkan,banjir yang terjadi kemarin memaksa pengelola SD Negeri 178 di Mayor Salim Batubara meliburkan sebagian siswanya.

Seorang guru SD Negeri 178 yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, kebijakan tersebut diambil karena ruang belajar yang berada di lantai dasar digenangi air setinggi lutut anak-anak.

Dikhawatirkan, kondisi tersebut akan mengganggu kenyamanan dan mengancam kesehatan siswa. “Murid yang diliburkan ini khusus untuk mereka yang berada di ruang bawah,mulai kelas 1 hingga 3. sementara murid yang belajar di kelas atas (lantai II) tetap belajar sebagaimana mestinya,” ujar guru tersebut.

Banjir juga merendam pasar dan pemukiman warga di kawasan Kebun Semai, Sekip.Di kawasan itu, genangan air sudah setinggi lutut orang dewa-sa. Rohman (25), seorang warga, mengatakan,banjir mulai terjadi sekitar pukul 04.30 WIB kemarin. Banjir tersebut diduga disebabkan luapan air Sungai Bendung yang tak mampu menampung air dalam jumlah besar. “Jam setengah lima, air sudah mulai masuk, untung kami sudah siap, sebelum air masuk, barang-barang sudah dipindah ke lantai dua atau diganjal,” ujar Rohman

Sekretaris Camat Ilir Barat (IB) I H Gia Vermascu mengungkapkan, pihaknya sudah menerima laporan langsung dari lurah di wilayahnya terkait banjir yang melanda. Untuk melakukan pengecekan, petugas kecamatan juga telah diterjunkan langsung untuk meninjau lokasi banjir. Dengan begitu, pihaknya dapat segera meng-update perkembangan informasi banjir yang terjadi di pemukiman warga tersebut.

“Kami menerima banyak laporan seperti dari Lurah. Bukit Baru, Lorok Pakjo, Bukit Lama, dan Demang Lebar Daun. Sedangkan satu kelurahan yakni Siring Agung belum ada laporannya. Laporan tersebut terkait banyaknya titik-titik lokasi banjir,” jelasnya.

Kepala Dinas PU Bina Marga dan PSDA Kota Palembang Kira Tarigan mengatakan, untuk mengatasi banjir,pihaknya telah melakukan pembersihan anak sungai.

Pihaknya juga akan memasang kembali tujuh pompa air di daerah muara sungai untuk menambah kinerja lima unit pompa air yang sudah dipasang yang tersebar di beberapa titik. “Kelima pompa tersebut masih tergolong kurang meskipun dapat menyusutkan banjir dalam waktu satu jam,” ujar Kira belum lama ini.



Kepala Seksi (Kasi) Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) SMB II Agus Santosa mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah hilir seperti Palembang, Lahat, Muara Enim, Musi Rawas (Mura), Musi Banyuasin (Muba) dan OKI agar lebih waspada dan bersiap menghadapi banjir. Pasalnya, dari perkiraan cuaca,mulai November 2010–Januari 2011, intensitas hujan di daerah tersebut cukup tinggi,rata-rata 102 mm per hari. “Intensitas hujan juga mulai merata, mulai sedang, tinggi, hingga rendah.

Untuk itulah, diharapkan masyarakat untuk waspada terutama di daerah yang intensitasnya hujan tinggi,” papar Agus. Tingginya curah hujan telah membuat beberapa daerah banjir, seperti di kawasan Ilir Timur I Palembang, Lahat, Gunung Megang, Talang Ubi, Babat Toman, Muara Lakitan, Muara Kuang. Apalagi, hujan yang mengguyur daerah tersebut kemarin malam intensitasnya juga sangat tinggi. Selain intensitas hujan tinggi, juga disebabkan daerah tersebut melimpahnya air sungai. (sir)

Rabu, 01 April 2009

Merokok Didenda 50 Jt

Menuju Kota Internasional, Merokok di TKR Didenda Rp 50 juta

Palembang:

Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang menetapkan perda larangan merokok. Pelanggaran terhadap peraturan ini diancam denda Rp 50 juta. Ketentuan ini merupakan salah satu upaya memenuhi kriteria sebagai kota internasional.

Setidaknya ditetapkan empat kawasan tanpa rokok (KTR) diberlakukan pertengahan April 2009 dari enam kawasan yang diusulkan. Pelanggaran terhadap Peraturan Daerah (Perda) inisiatif dewan ini diancam hukuman kurungan tiga bulan dan denda Rp 50 juta.

Ketua Komisi IV DPRD kota Palembang, Irmaidi SH, usai rapat bersama Walikota dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) pusat, kemarin mengatakan ada enam kawasan tanpa rokok, yang diajukan hak inisiatif dewan. Enam kawasan itu tempat umum, tempat belajar, tempat permainan anak, pusat kesehatan, tempat kerja dan tempat ibadah.

Hanya saja, untuk sosialisasi tahun ini ditekankan pada empat kawasan dulu seperti tempat umum, tempat belajar, pusat kesehatan dan tempat kerja.

Irmaidi menambahkan, tanggal 6 April 2009, Raperda ini akan dibahas dalam Paripurna.

Menurutnya dalam Raperda diatur masalah larangan dan sanksi bagi pelanggaran Perda KTR tersebut. "Pelanggarannya dikenakan denda Rp 50 juta dan atau kurungan 3 bulan," ungkap Irmaidi.

Sementara Walikota Palembang Ir H Eddy Santana Putra mengatakan KTR merupakan hak inisiatif dewan dan hal ini akan dijadikan Peraturan Daerah.

Ketua IAKMI Pusat Badan khusus Pengendalian Tembakau, Dr Widyastuti Soerojo MSc, menjelaskan jika KTR di Palembang ini berhasil maka salah satu kriteria kota internasional itu sudah terpenuhi.

"KTR ini bukan melarang orang merokok tetapi mengatur kawasan-kawasan yang ddilarang merokok, karena asap rokok itu mengandung 4.000 bahan kimia berbahaya," jelasnya. (k20)

Senin, 02 Maret 2009

pasar dan Bank Sumsel



Sumber: KITLV
Simpang tiga Jl. Sekolah (Schoolweg), Jl. Pasar (Pasarstraat), dan Jl. Keraton (Kratonweg) pada tahun 1935.











Perbankan Tumbuh di Pusat Perekonomian

Oleh Yudhy Syarofie






MELIHAT foto-foto lama yang menunjukkan kondisi Kawasan 16 Ilir tempo doeloe, tampaklah keteraturan. Pendapat ini memang bersifat debatable, misalnya dengan mengatakan, itu saat penduduk Palembang masih sedikit. Namun harus diakui, penataan yang dilakukan Pemerintah (Belanda) saat itu cukup apik. Namun, harus dicatat, bahwa saat itu kawasan ini tetap saja tidak bebas pedagang kaki lima. Artinya, semua berpulang kepada siapa yang mengatur dan bagaimana cara mengaturnya.
***
USAI penimbunan, Sungai Tengkuruk dijadikan jalan. Hal ini terkait dengan program Pemerintah Kolonial dalam penyediaan sarana “cari angin” bagi warga Eropa (soal sarana hiburan, nanti dibahas tersendiri). Ini merupakan rangkaian dari pembangunan jalan di depan Kuto Besak (kini Jl. SMB II), Staadhuisweg (kini Jl. Merdeka), jalan di tepian Sungai Sekanak samping Kantor Walikota saat ini (sekarang, Jl. Sekanak), dan Jl. Sekitar kawasan Talangsemut.
Sebuah foto bertahun 1930, menampakkan salah satu sudut jalan di Pasar 16 Ilir (dilihat dari arah Musem SMB II saat ini), menampakkan jalan dan trotoar yang bersih. Begitupun pengaturan arus lalu lintasnya. Tampak seseorang yang sedang menarik semacam gerobak penumpang. Dalam film-film kungfu Hongkong, becak serupa ini disebut rigshaw. Penariknya, seorang Cina yang rambutnya dikuncir. Tarif yang diterapkan seragam, yaitu sewang atau 10 sen.
Jalan Tengkuruk pun menjadi sarana jalan di samping sebagai sarana ruang publik. Namun, penikmatnya, seperti halnya taman lain --di depan Balai Pertemuan Sekanak, Kambang Iwak, dan beberapa tempat lain-- kebanyakan adalah orang Eropa.
Pola bulevar memungkinkan jalan ini menjadi sangat sedap dipandang. Selain trotoar yang disediakan bagi pejalan kaki, dan dilengkapi pula dengan lampu hias di bagian tengah (median)-nya dan pepohonan rindang di salah satu sisinya.
Sisi lain, bangunan pertokoan dan perkantoran (kini di bagian Jl. Tengkuruk Permai) tetap dipertahankan. Perlakuan sama juga atas pertokoan --umumnya dua tingkat-- di Jl Pasar Baru dan blok di Jalur 11 (nama saat ini).
Beberapa foto yang diambil antara tahun 1930-1958, menunjukkan, adanya penataan di kawasan itu yang mengarah kepada bentuk pusat perbelanjaan (pertokoan). Selain bangunan toko --ini tampak pula pada foto-foto yang diambil sebelum tahun 1930-an—yang berjajar, juga tampak adanya arkade. Yaitu, lorong yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dengan atap-atap di bagian atasnya.
Aktivitas perdagangan internasional, terutama karet (Hevea brasiliensis), tembakau, kopi, kapas (Exbucklandia populnea R. Brown), serta hasil bumi lainnya, menyebabkan kawasan ini pun menjadi “pusat” perbankan. Sepanjang tepian Sungai Musi dari Sekanak hingga 16 Ilir dipenuhi oleh rakit-rakit tumpahan. Rakit ini dimaksudkan untuk menampung hasil bumi, terutama karet, dari kawasan Uluan sebelum transaksi dilakukan.
Pada masa ini, bank niaga pertama yang membuka cabangnya di Keresidenan Palembang adalah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) pada tahun 1900. Sementara De Javasche Bank, sebagai bank sirkulasi untuk bank niaga, membuka cabang di Palembang pada 20 September 1909. Dapat dikatakan, NHM merupakan “pemain tunggal” di Palembang selama dua dasawarsa.
Perkembangan perdagangan getah karet yang luar biasa setelah tahun 1910, membuat beberapa manajemen bank membuka cabang di Palembang. Setelah tahun 1920, berdirilah kantor cabang Nederlandsche Indische Escompto Maatschapij, Nederlandsche Indische Handelsbank, dan Hong Ho (perusahaan bank Cina).



Sumber: KITLV
Jl. Sekanak, tempat pelesiran orang-orang Eropa. Foto diambil tahun 1900.









Bank-bank yang kesemuanya berkantor di kawasan 16 Ilir ini membiayai hampir semua perdagangan karet dan kopi di Keresidenan Palembang. Sistem yang dipakai kala itu adalah gadai konsinyasi atau kredit yang diterima. Pihak bank membuat daftar dagang berjangka. Semua jenis tanaman yang tecantum di dalam daftar ini dapat dipakai sebagai bahan gadai di bank. Pembelian dan penjualan harus dilakukan melalui pialang yang diakui Kamar Dagang. Para pedagang pun dapat menggadaikan karet atau kopinya kepada bank. Komoditas ini kemudian disimpan di dalam gudang (veem) dan dapat mengambilnya kembali apabila utang sudah lunas. Pedagang juga dapat mengambil kredit di bank apabila memiliki surat tertulis dari pialang yang menyatakan bahwa sang pemohon kredit akan menyerahkan komoditas (misalnya, karet) dalam jangka waktu tertentu.

Bank Sumsel
DENGAN kondisi perbankan serupa ini, tidaklah mengherankan apabila kemudian –pada masa kemerdekaan—pemerintah mendirikan bank milik daerah di kawasan ini. Karena situasi dan kondisi politik yang tidak memungkinkan menjelang akhir tahun 1950-an, pemerintah memberlakukan darurat perang. Karenanya, kebijakan pembangunan banyak dipegang oleh militer.
Panglima Ketua Penguasa Perang Daerah Tentara dan Territorium (TT) II Sriwidjaja Tingkat I Sumatera Selatan, Letkol Barlian, mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No. 132/SEP/’58 pada 10 April 1958. SK mengenai pendirian Bank Pembangunan Sumatera Selatan ini berlaku surut mulai 6 November 1957. Dengan demikian, 6 November 1957 dicatat sebagai hari lahir PT Bank Pembangunan Sumatera Selatan.
Panglima Ketua Penguasa Perang Daerah TT II Sriwidjaja Tingkat I Sumatera Selatan, Letnan Kolonel Harun Sohar, yang menggantikan Letkol Barlian pada 14 Mei 1958, kemudian mendaftarkan pendirian PT Bank Pembangunan Sumatera Selatan ke Notaris Tan Thong Kie, 29 September 1958, sehingga tercatat sebagai Akta Notaris No. 54 (Tambahan Berita-Negara RI 17/7-1959 No. 57).
Pendirian bank ini didaftarkan oleh Mayor TNI Roesnawi, Kepala Staf Harian Penguasa Perang TT II Sriwidjaja, atas kuasa Letnan Kolonel Harun Sohar, Penjabat Panglima Penguasa Perang TT II Sriwidjaja. Pendaftar kedua adalah Mr. H. Makmoen Soelaiman, Penjabat Presiden Direktur Bank Pembangunan Sumatera Selatan.
Bank ini, terletak di kawasan Jl. Tengkuruk (kini Jl. Jenderal Sudirman), menempati eks-Gedung Sekolah Misi Methodist. Sejak didirikan awal abad ke-20 hingga tahun 1950-an, masyarakat Palembang menyebutnya sebagai sekolah Inggris dan jalan itu masih disebut sebagai Jalan Sekolah. Ini mengacu kepada nama jalan semasa pemerintah kolonial, yaitu Schoolweg.



Dikutip dari: http://www.facebook.com/home.php#/photo.php?pid=30152948&op=1&view=all&subj=54104458110&aid=-1&oid=54104458110&id=1598876628