Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 September 2012

Alex Noerdin: Soal Seni Budaya, Tak Main-Main



Palembang:
Perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel terhadap perkembangan seni-budaya tak main-main. Selain dana, perhatian dan pembinaan terus dilakukan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin.
Setelah sukses dengan film Pengejar Angin, kini film kedua pun, Gending Sriwijaya,  diproduksi. Tiga penghargaan yang diperoleh  film pertama buah karya sutradara muda Hanung Bramantyo menjadi indikator bahwa ‘orang daerah’ juga bisa berbuat untuk kepentingan komersial sekaligus mengangkat citra daerah.
“ Pemprov Sumsel membuat film  yang mengangkat keindahan daerah, sekaligus  secara komersial juga laku di pasaran.  Saya berharap ini dapat diikuti oleh teman-teman gubernur se-Indonesia,” ujar  Alex Noerdin dalam sambutannya di Gelar Budaya dan Silaturahim Budaya, Seniman, serta Tokoh Masyarakat Sumsel, di  Griya Agung Rabu malam (5/9).
Alex mengungkapkan juga,  kini sudah ada provinsi lain juga bikin film sejenis. Seperti NTB  dan Kalimantan. “Seandainya 80 peren dari  33 gubernur di Indonesia  membuat satu film setiap tahun maka akan ada 25 film setiap tahun disumbang kan daerah untuk menyemangati dunia film yang sedang mati suri,”  katanya dalam acara yang sekaligus melaunching, film Gending Sriwijaya.
Film ini, selain ditangani Hanung juga melibatkan artis papan atas seperti Julia perez, Mathias Muchus Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro, dan Sharul Gunawan. Dan tak kurang 80 persen didukung pelaku seni dari Sumsel.
Dengan produksi film serupa, lanjut mantan Bupati Muba ini, bisa membawa sejarah sekaligus  informasi dari daerah dan secara komersial membawa keuntungan bagi daerah.  Baik di dalam maupun luar negeri
Apalagi kalau film yang dihasilkan bermutu, seperti film yang dihaslkan Sumsel dan meraih tiga pnghargaan. Satu dan Festival Film Indonesia, dan dua dari Forum Film Bandung.
“Cita-cita saya menjadikan film indonesia tuan rumah di negerinya sendiri. Menyedihkan, kita saat ini dijajah oleh film-film dari luar.  Produksi film kita lesu darah. India saja menghasilkan 1000 film dalam setahun melalui Bollywood-nya.  Indonesia hanya 20 film per tahun, terutama  film cerita,” katanya.
Karenanya, Alex berharap,  apa yang dilakukan Sumsel  menjadi terdepan dan teladan  bagi daerah daerah lain di Indonesia untuk perkembangan film di Indonesia.
Diakui Alex, kritikan akan diterimanya sama seperti pad a film perdana. Tapi dijelaskannya, keterlibatan lokal sudah sedemikian besar. Mulai dari casting terbuka dan pelibatan artis-artis daerah. Selama kritikan itu membangun akan kita terima dengan lapang dada. Mari kita hargai buah kreasi orang- orang yang berdedikasi dan punya  komitmen ingin mengembalikan kejayaan sriwijaya, melalui salah satunya, film Gending Sriwijaya,” ajaknya.
Bagi Hanung Bramantyo sendiri, keterlibatannya dalam film berbasis di daerah telah membuatnya lebh mengenal sejarah. “Sejak dua tahun terakhir, saya menjadi sangat akrab dengan kejayaan Sriwijaya . Sebelumnya hanya selintas di bangku sekolah, ini yang akan ditularkan melalui layar lebar,” ujarnya.
Perhatian Lebih
Perhatian Gubernur Sumsel terhadap seni-buda ya memang diakui beberapa budayawan dan seniman di Sumsel. Selain dana, perhatian yang diberikan sudah sangat cukup. Meskipun memang perlu ada evaluasi agar distribusi dan penyerapannya bisa lebih optimal.
Zulkhair Ali, Ketua Dewan Kesenian Sumsel mengemukakan di awal menjabat saja, anggaran Rp 2 milyar yang dijanjikannya saat orasi budaya  langsung direalissikan dalam APBD.
“Dana itu terealisasi. Hanya saja pencairanya ternyata tidak sederhana. Seperti kita ketahui seniman itu sulit soal administrasi dan  laporan. Tahap pertama yang dijanjikan sebesar Rp 2 miliar itu memang ada. Kita sendiri sempat bingung.  Kami sudah susun program dan jadwalkan memberikan dana pembinaan bagi 100 sanggar yang ada, masing-masing Rp 5 juta. Ternyata tidak boleh untuk dana pembinaan,” ujarnya. Akibatnya, sebagian dana tersebut tak biusa dicairkan.
Kini, pihaknya juga  sudah melakukan workshop manajemen teater. “Kami buat 30 pertunjukan per tahun,  2 kali per bulan di Graha Budaya. Memang belum cukup untuk membuat kegiatan yang wah, masing-masing grup diberi  Rp 5 juta.  Untuk publikasinya mana, spanduk dan umbul-umbul belum.
Dalam waktu dekat,  pihaknya juga akan menggelar  Festival Irama Batang Hari Sembilan. Ini tetu bisa terlaksana dengan topangan dana yang memadai. Meskipun dalam pelaksanananya uga melibatkan pihak lain.
Dokter spesalis  penyakit dalam ini mengakui masih banyak Pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.  Masih banyak seniman yang belum tersentuh.  “Namun perhatian pemerintah  sudah  sangat luar biasa. Bandingkan dalam era kepemimpinanya sebelumnya,  dana operasional selama pemerintahannya hanyaRp 200 juta,” katanya tanpa bermaksud membandingkan.
“Berbeda dengan sekarang, tahun pertama Rp 2 miliar  meskipun ada yang gagal direalisasikan  dan dikembalikan mencapai Rp 1,5 milyar. Tahun kedua, ada Sea games jadi banyak yang diplot ke even internasional itu, namun tetap disediakan Rp 1,2 M.  Lalu tahun berikutnya, dianggarkan Rp 1,3 M. Ii memberikan gambaran,
Senada diungkapkan seniman Sumsel, Anwar Putra Bayu. Menurut penyair yang sudah merambah ke mancanegara ini, perhatian pemerintah daerah terhadap seni budaya tak bisa dipungkiri.
“Beberapa kegiatan danaktivitas untuk seni budaya didorong. Padahal,   sebelumnya seakan dianaktirikan.  Lembaga dibantu  dana lebih tinggi, dibanding sebelumnya.
“Memang belum maksimal, perlu  banyak peran-peran lain, yang lebih khusus misalnya, teater, seni rupa dan lain-lain.  Juga perlu adanya perda. Ini juga sudah digagas Gubernur  agar pembinaan budaya bisa lebih terarah dan legalitasnya jelas. Sehingga jelas  aturan dan ada rambu-rambu berkesenian,” ujarnya.
Meski menilai perlu ada dialog dan pemetaan budaya yang jelas, Febri Al Lintani, mengungkapkan perhatian pemda terhadap budaya sudah sangat memadai. “Bagus. Sudah ada perhatian. Hanya saja perlu dievaluasi, seperti apa bentuknya yang pas. Contohnya anak,  tidak sekedar bantuan dana .  harus ada pertimbangan apakah bemanfaat atau tidak. jadi harus ada dialog dengan para pelaku budaya dan seni sehingga bisa tahu apa yang paling urgen dibutuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, perhatian selama ini sudah cukup bagus. Secara politis sudah bagus, perhatian ada wujudnya. Dana terealisasi. Tinggal mungkin metodolodi dan mekanismenya yang harus diusahakan sehingga benar-benar optimal.
“Kalau lihat pembangunan  di negeri kita, selama ini pembangunan budaya kurang mendapat perhatian. Baik di era Orla maupun Orba. Nah di Sumsel, justru kebalikannya. Ini merupakan awal yang cukup baik untuk pertumbuhan dan perkembangan budaya,” katanya. (***)

Minggu, 08 April 2012

Dunia Tanpa Lelaki, Novel dari Balik Jeruji






Berangkat dari keinginan untuk mengubah pandangan buruk masyarakat terhadap penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas), Desrina Ribhun menulis dan menuangkan pengalamannya selama berada di dalam bui.


Buku pertamanya itu diberi judul Dunia Tanpa Lelaki dan telah dirilis 2011 lalu.Adapun proses penulisan hingga proses cetaknya ternyata menghabiskan kurang lebih satu tahun. Penerbitannya pun didukung langsung oleh Gubernur Sumsel Alex Noerdin.Sementara penulisan dan editing dilakukannya sendiri dengan dibantu keluarga. “Pertama ditulis tangan selanjutnya keluarga yang mengetiknya di luar lapas,” tutur Desrina yang ditemui SINDOdi lapas wanita kelas IIA Palembang,beberapa waktu lalu. Diakuinya,pembuatan buku ini tidak menyiapkan apapun kecuali untuk memberikan yang terbaik.

Isinya merupakan pengalaman pribadi yang menceritakan kehidupan di balik jeruji,mulai dari introspeksi diri hingga pengamatannya pada beragam perilaku unik penghuni lapas lainnya.Saat ini buku Dunia Tanpa Lelaki sudah masuk 1500 cetakan yang pendanaannya dibantu dari Pemprov.Tidak hanya itu, Desrina pun tengah menyelesaikan proses penerbitan buku kedua Dunia Tanpa Lelaki.Sementara draft buku ketiga Dunia Tanpa Lelaki sudah memasuki 80% penulisan.

Bila dibandingkan dengan buku pertama,jelasnya,buku kedua dan ketiga akan lebih menonjolkan kisah lucu dan unik dari semua kegiatan di lapas.“Dunia tanpa lelaki itu hanya judul agar lebih menarik pembaca,dan ini akan menjadi trilogi.Kenapa Tanpa Lelaki yang saya pilih untuk judul,karena lapas wanita memang tidak ditemukan lelaki kecuali bayi dan petugas jaga yang berada di luar blok,”ujarnya bersemangat. Perempuan yang lahir pada 12 Desember 1983 ini berharap karya tulisnya ini bisa bermanfaat bagi yang membaca.

Sehingga masyarakat mengetahui bahwa semua yang menjadi warga binaan lapas bukanlah orang-orang yang buruk dalam berperilaku. Dengan dihadirkannya buku ini pula dia dan rekan-rekan berharap,masyarakat luas tidak lagi mendiskreditkan para binaan pemasyarakatan karena mereka dibina untuk menjadi manusia yang lebih baik di sana. Menurutnya,lapas atau penjara boleh saja dianggap sebagai kehinaan di mata banyak orang,tapi dia dan rekan-rekan warga binaan berusaha untuk menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri pada Yang Kuasa.

Mereka pun menyepakati kata pepatah yang menyebutkan orang-orang seperti mereka bukanlah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan “Orang boleh menganggap kami manusia yang bersalah dan layak dihukum seberatberatnya. Tapi,kami berkeyakinan bahwa kami justru orang-orang yang beruntung yang dipilih Tuhan untuk diuji dan diperingatkan agar kembali ke jalan-Nya,”seru Desrina. Desrina menuturkan,hal pertama yang akan dilakukan saat sudah bebas nanti adalah meminta maaf kepada mereka yang pernah tidak sengaja dikecewakan,terutama orangtua dan keluarga besar.

Kemudian,dia akan melanjutkan usaha butiknya yang selama dua tahun ini tak terurus.Diakuinya,selama di dalam lapas,hanya bisa berdoa dan berusaha untuk menjadi lebih baik karena ingat pada pepatah orang bijak itu adalah orang yang bisa menjadi lebih baik.

YULIA SAVITRI
Palembang



Sumser: Seputar Indonesia, Senin 9 April 2012

Kamis, 25 November 2010

Aura Musi, Satukan Perupa Nusantara dan Musi




Palembang:

Musi, sebagai sungai bukan sekadar memberikan inspirasi yang bisa ditorehkan di atas kanvas. Lebih dari itu, sungai yang juga merupakan bagian dari aliran batanghari sembilan itu telah melahirkan seniman yang kemudian di kenal di nusantara. Sebut saja, Amri Yahya yang disusul oleh seniman lainnya.

Bagaimana jika seniman nusantara dan perupa di aliran Musi dipadukan dalam satu panggung?

Ini bisa dinikmati di Pameran bertajuk ”Aura Musi” yang digagas Galeri Nasional sejak Senin (21/11) hingga Sabtu (27/11) mendatang di Hall Ida Bayumi, Kampus Universitas IBA Palembang.

Meski tak seramai pasar malam, pameran ini paling tidak menyampaikan pesan-pesan dari seniman yang lahir dan berkarya di sepanjang Musi dan Batanghari Sembilan. Gambaran lokal ini bukan hanya ditampilkan seniman lokal tetapi juga mereka yang sudah lebih dahulu ’naik daun’ seperti Amri Yahya. Tetapi juga perupa-perupa muda seperti Edo Pop, Syahrizal Pahlevi, Ronald Aprian, Askanadni, dan lain-lain. Tercatat ada 25 seniman muda memamerkan karyanya.


M Agus Burhan, kurator Galeri Nasional dalam ’buku suci pameran’ menulis bahwa even ini bermaksud menghadirkan wajah seni lukis modern indonesia sekaligus membangkitkan potensi seni rupa modern di daerah setempat. Palembang, merupakan daerah kesekian setelah Medan, Manado, Balikpapan, dan Ambon yang dihampiri.

Melalui pameran ini, menurutnya, seniman nasional yang selama ini hanya dikenal lewat buku, media massa, dan informasi dunia maya, kini benar-benar bisa disapa secara langsung.

Supaya energi kreatifnya menular ke daerah, maka dipadupadankanlah karya menasional yang monumental dengan karya seniman di aliran Musi. Sehingga nantinya, nusantara dan Musi saling bersinergi, saling menularkan auranya.
Masyarakat lah nanti yang akan merasakan auranya. Maka, tak heran kalau pengunjung pun banyak yang mengabadikan diri mereka bersama karya-karya di arena pameran. Bukan hanya lukisan-lukisan yang telah berumur dan dikenal, tetapi juga lukisan-lukisan yang muncul kemudian.

Memang ada sedikitnya 80 lukisan dipamerkan. Baik koleksi pilihan galeri nasional maupun karya para perupa Sumsel.

Di dinding sebelah kiri dekat pintu masuk ada tiga lukisan karya pelukis terkenal tanah air. Lukisan pertama berjudul “Kakak dan Adik” karya almarhum Basoeki Abdullah. Lukisan cat minyak pada kanvas berukuran 65 x 79 cm itu, memperlihatkan sang kakak mendukung adiknya, begitu hidup dan seolah nyata. Pada keterangan lukisan tertera, tahun pembuatan 1978. Di sebelahnya, ada lukisan berjudul “Ibu Menjahit “ karya pelukis S Sudjojono.
Lukisan yang telah berumur 75 tahun ini diabadikan di atas kanvas 55,5 x 71 cm. Dengan cat minyaknya, S Sudjojono melukiskan sosok seorang ibu sedang duduk di atas sebuah kursi dan fokus menjahit. Ciri yang menandakan jaman dulu terlihat jelas, dimana sang ibu rambutnya disanggul, mengenakan kain dan kebaya.
Di sisinya dipajang karya Affandi “Bunga Matahari I”. Cukup besar, 100 x 170 cm, dibuat tahun 1974 dengan cat minyak dan dominasi warna kuning. Sementara, di dinding kanan depan, ada lukisan “Potret Diri” karya Haryadi Selobinangun berukuran 120 x 90 cm yang dibuat tahun 1962.
Perupa Sumsel, misalnya Amri Yahya, karya yang dipilih dari koleksi Galeri Nasional cukup tua bertahun 1963, dengan judul Lebak. Lukisan cat minyak. Karya almarhum kelahiran Ogan Ilir yang 2001 lalu mendapat honor causa dari Universitas Negeri Yogyakarta cukup menarik perhatian.

Begitu juga karya-karya lainnya dengan objek yang bervariasi. Mulai dari objek manusia yag ditangkap dan dialihkan ke kanvas, seperti “Menunggu I” karya D’maah yang menggambar sosok lelaki di aliran Sungai Musi dengan latar rumah rakit. Armada Ms, dengan lukisan Mei 98 yang menggambarkan realitas wajah memelas di balik sobekan kain yang berdarah. Lalu ada Heru Andriansyah yang menggoreskan suasana di kesultanan dalam lukisan berjudul Mengatur Strategi. Yulis Armita, dengan kreativitasnya menorehkan pena di atas kertas berupa tubuh dengan darah di dadanya berjudul ”Kesia-siaan” dan ”My First Baby” berupa rahim yang digambarkan berupa lingkaran berisi calon putrinya.
Gambaran kehidupan Palembang juga dipatrikan pelukis lainnya, seperti Rahman R hambour yang merekam kondisi banjir yang sudah biasa di kota Palembang berjudul ”Banjir Bukan Penghalang” sepasang bocah pelajar SD mengangkat celana pendek dan roknya ketika melintas banjir. Seragam putih merahnya begitu hidup. Lalu Fariz Fahlevi Akbar mengabadikan kebiasaan masyarakat menjadikan Musi sebagai MCK (mandi cuci dan kakus). Pelajar SMAN 8 Palembang ini memberi judul lukisannya ”Tak Lagi di Musi”.
Unsur budaya dan tradisi juga direkam perupa Musi, seperti Halimatus Sa’diyah yang memberi judul ”Misteri Pulau Kemaro” atas lukisannya menggunakan akrilik yang menggambarkan suasana Pulau Kemaro yang memang penuh legenda. Bersama Suparman S, memang siswa SMA Sampoerna ini berhasil mengabadikan pulau kemarau. Meski sudut pandangnya berbeda.
Lalu ada Emielson Saparudin yang memajang lukisan kehidupan Musi lengkap dengan rumah rakit dan Jembatan Ampera. Judulnya tegas, ”Permukiman Pinggiran”. Tempat ibadah di tepi Sungai bisa dinikmati dalam lukisan Nawir Mc Pitt bertitel Mesjid di tepi Batanghari”. Ada mesjid lalu ada perahu ketek berwarna hitam-putih..
Lukisan abstrak juga terlihat meramaikan even ini. Misalnya Muhamad Natsir dengan ”Deja Vu”-nya, Askanadi melalui ”Untitle”, Ronald Apriyan melalui ciptaannya berjudul Lonely Judge” berupa sebatang palu. Lalu ada ”Sungaiku yang Hilang” karya Rudi Maryanto, Edy Fahyuni dengan ”Bahayo Nang#1”. Fajar Agustono memberi judul lukisannya ”Satu Kita kalah, Bersatu kita Menang”, M Azizi Al Majid ”Di Bawah Jembatan Ampera” dan Baharizki Talibrata dengan ”Ikan-Ikan I” nya.
Amrul Hiban cukup berbeda melalui lukisan berjudul ”Kebiasaan di Dusun”. Ada ’sehekap’ alat penangkap ikan terbuat dari rotan, ada kotak-kotak hitam bak papan catur, ada manusia menaiki tangga, lalu ada buah dadu.

Bagi mereka yang berkesempatan hadir di pameran ini, memang akan cukup puas. “Kami bawa 25 lukisasaann karya pelukis Indonesia yang menjadi karya pilihan Galeri Nasional,”ungkap Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus Andre Sukmana.
A Erwan Suryanegara, selaku pendamping kurator mengatakan, dalam pameran ada 25 perupa Sumsel yang ikut ambil bagian. Setiap perupa menampilkan minimal satu dan maksimal tiga karya senirupa yang lulus seleksi. Hingga 27 November mendatang, ada beberapa rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan memeriahkan pameran ini. Tiara Putri Utami, pelajar SMAN Sumsel melengkapi pameran dengan karyanya tiga uit perahu kajang yang dibuat dari batang pohon kelapa
Musi terus mengalir, auranya bisa diabadikan di atas kanvas. Pelukis akan terus berkarya seiring arus Musi yang akan berlabuh ke laut yang luas. (sh/muhamad nasir)

Kamis, 24 September 2009

Midang di Kayuagung

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/ketika-facebook-memengaruhi-midang/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=09&tx_ttnews[days]=25&cHash=8604eec43a

Sinar Harapan edisi Jumat (25/9) di halaman Nusantara









Meski Lestari, Midang Tak Lagi Ajang Mencari Jodoh

Kayuagung: Tradisi midang masih terus berlanjut. Hanya saja, kini tradisi ini tak lagi jadi ajang mencari jodoh.

Kemajuan teknologi komunikasi tampaknya telah mempengaruhi para remaja di Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI) dalam mencari jodoh. Mereka kini telah sangat akrab dengan jejaring sosial layaknya remaja perkotaan seperti, Friendster ataupun Facebook.

Pasangan muda-mudi yang berasal berbagai kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel, memang mengikuti arak-arakan keliling Kota Kayuagung, pekan lalu. Tradisi midang ini dilaksanakan pascalebaran setiap tahunnya.

Kayuagung berjarak sekitar 100 km dari ibukota Provinsi Sumsel, Palembang. Atau ditempuh selama 1,5 jam perjalanan melewati Jalintim dari Palembang ke arah Lampung. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini midang mendapat sambutan antusias oleh gadis dan bujang Kayuagung. Kegiatan midang diikuti sekitar lima kelurahan di Kota Kayuagung, yaitu Kelurahan Sidakersa, Kedaton, Kutaraya, Perigi, dan Kayuagung Asli. Para peserta midang ini berjalan menyusuri sepanjang jalan di pinggir Sungai Ogan. Mereka melewati Kelurahan Sukadana, Paku, Mangunjaya, Cintaraja, Sidakersa, dan Kelurahan Jua-Jua.

Hanya saja, mereka mengaku tak lagi menjadikan ajang ini untuk mencari calon pasangan hidup. ”Wah, kayaknya idak (tidak). Kalau mau cari teman lebih enak melalui internet,” ujar Chairul, remaja di Kayu agung yang tampak sibuk mengutak-atik handphone 3G-nya.

Tampak memang, sembari menyaksikan iring-iringan midang, para remaja sibuk dengan handphone masing-masing. Rupanya, mereka berinternet ria.

Sementara, para peserta midang yang mengenakan pakaian adat menyeberang ke Kelurahan Kedaton, Kotaraya, Perigi. Dalam arak-arakan ini sepasang muda-mudi dinaikkan ke atas juli (tandu yang dihiasi). Bemacam-macam bentuk juli ini, ada yang berbentuk burung, ada yang berbentuk mobil, bahkan ada juga yang berbentuk singgasana raja. Musik tanjidor mengiringi arak-arakan ini menyusuri kota Kayuagung setidaknya sepanjang 1,5 km.

Pada zaman kolonial Belanda, para peserta Midang ini harus melewati pendopoan sebagai bentuk tanda pengontrolan para petinggi Kolonial Belanda. Makanya midang saat ini pun peserta midang harus melintas di depan pendopoan, di hadapan pada pejabat dan tetua serta tokoh masyarakat.

Di pendopoan telah menunggu Bupati OKI Ir H Ishak Mekki,Ketua sementara DPRD OKI HM Yusuf Mekki, Ketua TP PKK OKI Hj Tartila Ishak, Kapolres OKI AKBP Cok Bagus Ary Yudayasa, serta unsur muspida lainnya

Arak-arakan peserta finish di Kayuagung Asli. Walaupun hanya dilaksanakan setahun sekali, antusias masyarakat untuk mengikuti dan menyaksikan midang ini cukup tinggi. Terbukti, banyak masyarakat yang berbondong-bondong berdatangan ingin menonton kegiatan tersebut. Akibatnya, jalanan yang dilalui pawai midang menjadi macet.

Morge Siwe

Bupati OKI H Ishak Mekki mengatakan, kegiatan midang ini merupakan tradisi masyarakat Kayuagung, baik dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri maupun HUT Kabupaten OKI. Midang ini sudah menjadi agenda nasional dalam kunjungan wisata budaya di Kabupaten OKI.
Tetua adat Kayuagung A Rahman Ahmad menyebutkan, midang merupakan suatu tradisi yang digelar masyarakat Kota Kayuagung, khususnya sembilan marga atau morge siwe yang dikenal masyarakat luar sebagai midang.

Midang Morge Siwe ini diartikan juga sebagai “Karnaval Sembilan Marga”. Menurut dia, sembilan marga asli Kayuagung tersebut yakni Dusun Kayuagung Asli, Dusun Perigi, Dusun Kotaraya, Dusun Kedaton, Dusun Jua-Jua, Dusun Sidakersa, Dusun Mangunjaya, Dusun Paku, dan Dusun Sukadana.

“Midang ini merupakan suatu rangkaian adat perkawinan Mabang Handak (burung putih) yang merupakan adat perkawinan tertinggi di kalangan masyarakat Kayuagung yang dilaksanakan oleh mereka-mereka yang tergolong dalam keluarga pesirah atau keluarga Keratin,”kata Ramhan.
Dia menjelaskan, pada zaman dahulu, midang ini merupakan suatu bagian dari adat perkawinan Kayuagung, di mana para peserta midang adalah para bujang dan gadis marga Kayuagung.

Tujuan midang ini adalah memperlihatkan kepada masyarakat umum agar mengetahui budaya dan adat Kayuagung. “Jika ada yang seorang bujang luar menyukai gadis Kayuagung dan terpikat ingin meminangnya, dia (bujang) itu dapat melamarnya dengan mengikuti semua adat istiadat perkawinan Kayuagung, seperti melaksanakan midang ini,” ungkapnya.

Hanya saja, untuk melaksanakan pesta perkawinan sesuai adat istiadat tidaklah mudah. Selain biayanya besar, juga cukup sulit. Karenanya, tradisi midang ini dimaksudkan untuk melestarikan adat istiadat tersebut.

Rahman juga menyadari pergeseran tradisi midang di mata remaja-remajanya. Baginya, itu tak masalah. Yang penting, para remaja itu tetap suka menyaksikan dan sebagian ikut midang. Dan pemerintah tetap memberikan perhatian sehingga kegiatan ini bisa dilaksanakan setiap tahun. ”Orang muda, kan wajar kalau juga mengikuti perkembangan dan tren. Dari midang ini, mereka juga masih bisa menyaksikan musik tradisional tanjidor,” ujarnya. (sh/muhamad nasir)

Rabu, 15 Juli 2009

Ita Diana, Melestarikan Songket



Ita Diana, menunjukkan songket motif buatannya di kediamannya






Ita Diana
Melanggar Tradisi demi Kelestarian Songket
OLEH: MUHAMAD NASIR

PALEMBANG – Cara pembuatan songket memang tak semudah yang dibayangkan. Karena untuk menenun kain songket membutuhkan waktu paling tidak seminggu.

Sebelum menenun pun, ada langkah awal yang tak kalah rumitnya, yaitu menentukan motif songket. Tahap ini disebut sebagai proses menyungkit atau membuat motif.
Di Sumatera Selatan tak banyak orang yang bisa menyungkit, karena memang pengetahuan dan keterampilan ini diperoleh secara turun-temurun. Pun tidak semua keturunan bernasib baik diajari keterampilan ini.
Maka wajarlah kalau jumlah penyungkit bisa dihitung dengan jari. Mereka tinggal di perkampungan orang asli Palembang, seperti di Tanggabuntung dan 3-4 Ulu Palembang.
Di antara orang itu ada Ita Diana. Perempuan kelahiran Palembang ini mendapatkan keahlian menyungkit dari neneknya. Tepatnya, adik dari kakeknya, almarhumah Imah. Ita beruntung diberi kepercayaan dan kesempatan untuk belajar menyungkit, meski terpaksa mengorbankan sekolah.
Ternyata istri dari Ismail ini mengaku tidak mudah untuk mendapatkan kemampuan menyungkit. Bertahun-tahun dia belajar. Tetapi ibu dari tiga anak, M Ajid Sidik, Enha Anggi Pratama, dan M Balya ini pun tidak menurunkan kemampuannya kepada anak-anaknya karena tidak punya anak perempuan.
Ketika ditemui SH di kediamannya di kawasan 3-4 Ulu, Palembang, Ita menceritakan bahwa desain songket biasanya terdiri dari teretes, hiasan pinggiran (tepi), tawur, rebung, apit, rumpak, ombak, dan kembang/tumpal. Untuk kembang atau tumpal, motif bisa berupa naga besaung nampan perak, bungo cino, ulir, ataupun kembang pacar. Khusus untuk kembang/tumpal tidak boleh diganti. Sudah menjadi pakem, kalaupun mau memodifikasi, biasanya di bagian yang lain.


Salah satu songket yang motifnya dibuat Ita Diana






Ita menjelaskan, proses pembuatan songket dimulai dari nyucuk suri, ngelak, pencungkitan (membuat motif). Setelah itu baru menenun. Namun, Ita tidak sekadar membuat motif songket Palembang, ia juga mengerjakan motif songket Jambi yang punya ciri khas tersendiri, yakni biasanya bermotif emong kuncai, kembang duren, dan angso suo.

Banyak Lidi
Ukuran songket biasanya 90 cm x 2 meter. Untuk songket dibutuhkan tujuh tukel benang, yang nantinya bisa menjadi tiga kain songket. Proses pengerjaannya bisa menghabiskan waktu selama sepuluh hari. Mengerjakan songket, mulai dari proses pembuatan motif memang tidak sedikit, di antaranya kuda-kuda (kudo dayan), apit, penyuncing, beluro, por, suri, dan teropong. Juga dibutuhkan banyak lidi, terutama dalam pembuatan motif.
Penggunaan lidi, sedikitnya 170 batang untuk satu songket. Rinciannya adalah teretes 21, tawur 12, rebung 60, rumpal/bunga api 8-10, ombak 9, dan kembang/tumpal 25-60.
Lidi-lidi itu biasanya dibeli dari pengrajin rokok gudung dengan harga seikat Rp 2.000, dan berisi sekitar 500 batang.
Motif songket setelah selesai dibuat bisa digunakan untuk menenun sedikitnya 500 songket. Namun, kalau tidak terawat dan tidak telaten, bisa-bisa hanya untuk tiga songket. ”Bergantung kepada penenunnya,” kata Ita.
Upah membuat motif itu, untuk saat ini sekitar Rp 225.000-250.000, tergantung pada tingkat kerumitannya. Hanya saja, pembuatan motif masih menemui kendala karena berbagai faktor, di antaranya masih minimnya keinginan orang untuk belajar. Selain itu juga minimnya modal untuk membuat motif sehingga pembuatan motif baru dilaksanakan jika ada yang memesan.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pembuat motif ini juga bisa dihitung dengan jari, lantaran ada peraturan bahwa pembuatan motif hanya boleh diturunkan kepada generasi penerus dalam keluarga. Tetapi bagi Ita, dia mengatakan tidak masalah kalau mengajarkan teknik pembuatan motif tersebut.


Ita Diana, mengawasi anak didiknya membuat motif songket (menyungkit).







Oleh karenanya, ketika ada tawaran dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk mengajar di kursus pembuatan motif, Ita tidak merasa keberatan. Begitu juga terkait beberapa kegiatan lainnya yang dilaksanakan oleh berbagai organisasi dan disponsori berbagai perusahaan, Ita mau mengikutinya.
Melalui Disperindag saja dia sudah tiga kali dilibatkan, termasuk ke berbagai daerah, seperti Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir (OI). Hasilnya, kini sudah puluhan penyungkit baru lahir, termasuk di kampungnya sendiri, yang pelatihannya dilakukan melalui kelurahan.
Mengajar lewat program Disperindag sudah dilakukan tiga kali, dengan sedikitnya membimbing 60 orang. Ditambah di kelurahan, sebanyak 25 orang, kini para peserta pelatihan itu sudah produktif. Beberapa rumah tenun di Palembang, bahkan pesanan-pesanan dari luar daerah, telah memanfaatkan jasa penyungkitan tersebut.

Kursus Senilai Satu Suku Emas

BELAJAR mencungkit bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu lewat latihan privat atau ikut program yang dilaksanakan oleh dinas/instansi atau organisasi tertentu. Hasilnya memang tak sama, karena biaya dan waktu belajar yang dibutuhkan juga berbeda. Untuk yang privat, Ita mematok harga tertentu. Biayanya seharga satu suku emas atau 6,7 gram. Saat nilai emas naik seperti sekarang ini, harga bisa mencapai Rp 2 juta.
Waktu belajarnya selama tiga bulan, sekali seminggu, mulai dari nyucuk suri, ngelak, mencungkit (membuat motif) sekaligus menenun.
Sementara kalau ikut program instansi, hanya memerlukan dua kali pertemuan. Biasanya program ini cocok untuk mereka yang pernah memiliki kemampuan menenun sehingga sudah mempunyai kemampuan dan pengetahuan dasar tentang menyongket. Untuk menjadi pelatih dalam kursus ini, Ita biasanya dibayar Rp 500.000 dengan murid paling banyak 20 orang.
Kalau dibandingkan dengan belajar privat, tentu bayaran itu tak seimbang. ”Tetapi manfaatnya, songket tentu bisa lebih lestari,” tuturnya. (sir)

Sinar Harapan, rubric profil dan tokoh, Rabu 15 Juli 2009
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/melanggar-tradisi-demi-kelestarian-songket/

Jumat, 15 Mei 2009

Alquran raksasa








Alquran Raksasa di Mesjid Agung Palembang


Sebuah Alquran terbesar di dunia terbuat dari kayu tembesu saat ini telah memasuki tahap penyelesaian. Ukurannya tidak main-main, tebal keseluruhanya termacuk cover mencapai 9 meter. Ukuran halamannya, 177 cm x 140 cm x 2,5 cm.

Setidaknya 40 meter kubik kayu tembesu dihabiskan untuk membuat Alquran ini dan hamper Rp 1 milyar dihabiskan untuk menyelesaikan proyek ini. Akankah, Alquran ini bisa masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) atau bahkan Guinnes of Record, keterlibatan umat muslim sangat diharapkan.

Dari 30 juz isi Alquran, saat ini sudah diselesaikan seluruhnya. Terkendala dana dan bahan baku kayu tembesu, penyelesaian Alquran raksasa ini molor dari target yang mestinya awal 2004 sudah selesai.

“Minimal sebelum Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2004, Alquran ini harusnya memang sudah selesai,” ujar Sofwatillah saat lauching di Mesjid Agung Palembang, Kamis (14/5).


Rujukan

Dengan diiciptakanya Alquran ini, nantinya diharapkan bisa menjadi rujukan dari setiap Alquran yang dicetak atau diterbitkan maupun Alquran impor. “Dan menjadi symbol Islam di Palembang khususnya, Sumatera Selatan bahkan Indonesia umumnya. Alquran ini kini disimpan di salah satu ruangan di lantai tiga Mesjid Agung Palembang,” ujar Sofwatillah.

Soalnya dengan perkembangan teknologi, Alquran tulisan memang sudah dapat dicetak ribuan lembar lembar setiap hari. Pembuat Alquran pun bukan hanya umat muslim tapi juga mereka yang nonmuslim dengan tujuan bisnis. “Karenanya, bukan tidak mungkin terjadi pemalsuan Alquran. Apalagi dengan diberlakukannya pasar bebas, kita tidak mungkin mengecek secara teliti dan detail isi Alquran yang masuk ke Indonesia. Apalagi beberapa tahun lalu diketahui adanya kesalahan-kesalahan pada produksi Alquran produksi impor. Karenanya tentunya diperlukan rujukan guna menjaga keaslian Alquran,” tambah Sofwatillah.

Untuk itulah, dengan pembuatan Alquran Akbar ini diharapkan selain bisa masuk MURI ataupun Guinnes of Record, juga menjadi rujukan bagian setiap pembuata Alquran.




Spesifikasi Alquran ini menurut KH Marzuki Alie, Ketua Harian Panitia Pembuatan Alquran Raksasa, termasuk cover depan dan belakang yang masing-masing tebalnya 4 cm, akan mencapai ketebalan 9 meter.

“Isinya, terdiri dari cover dua halaman, isi dari juz pertama sampai juz 30 sebanyak 306 lembar atau 612 halaman. Lalu, 17 lembar atau 34 halaman berupa hiasan Quran, daftar isi, daftar halaman, tadjij, sambutan-sambutan mukadimmah, pengesahan pentanshih, panitia dan daftar donatur. Sehingga nantinya total 325 lembar atau 630 halaman,” tambah Marzuki Alie didampingi Bendahara, Hj Asmawati

Pengerjaan Alquran ini memang tergolong sulit dan rumit. Bagaimana tidak, untuk satu keping Alquran bolak-balik, diperlukan waktu satu bulan.

Menyambut tahun baru hijrah, 1 Muharam 1423 H, Alquran raksasa tersebut mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Pada peringatan tahun baru Islam yang dibuka, Jumat (8/3/2002), pihak pengurus Mesjid Agung Palembang menggelar kegiatan gebyar Islam dengan berbagai kegiatannya, diantaranya pameran bernuansa Islam.

Salah satu yang dipamerkan saat itu adalah mushaf Alquran raksasa yang terbuat dari kayu tembesu ukuran 177 cm x 140 cm dengan ketebalan 2,5 cm. Alquran raksasa yang kelak akan menjadi Alquran terbesar di Indonesia, jika telah selesai akan memiliki ketebalan sekitar 9 meter.


Rp 1 Milyar

Biaya untuk membuat Alquran raksasa ini sedikitnya mencapai Rp 1 miliar. Saat Presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan restorasi 16 Juni 2003 lalu sebagian dipamerkan.

''Pengerjaan Alquran ini saya dibantu 30 karyawan yang membantu penyelesaiannya,'' kata Syowatillah Mohzaib, yang merupakan suami dari Evi Komari.
.

Menurut alumnus Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang tahun 2003 ini, pembuatan Alquran raksasa tersebut memang diperkirakan selesai 2004.

Untuk mengoreksi isi Al Qur'an tersebut, telah dibentuk tim pentashih yang beranggotakan ulama cukup berpengaruh di Sumatera Selatan. Mereka adalah KH A Sazily Mustofa, KH Kgs Nawawi Dencik, KH Abdul Qudus, dan KH Muslim Anshori, dibantu dosen IAIN Raden Fatah Drs Sanusi Goloman Nasution.


Tim Khusus

Untuk menjamin suksesnya pembuatan Alquran raksasa yang selama ini dikerjakan di rumah Syofwatillah di Jalan Pangeran Sidoing Lautan Lr Budiman No 1009 Kelurahan 35 Ilir Palembang, juga telah dibentuk tim dengan pembina KH Zen Syukri dan KH Dr Kgs Oesman Said DSOG, penasihat Gubernur Sumatera Selatan H Rosihan Arsyad (kini telah habis masa jabatannya), dan pelindungnya Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati.

Taufik Kiemas yang menyaksikan Alquran raksasa dengan ornamen khas Palembang di sekelilingnya, tertarik dan ikut mendukung rencana besar tersebut. Sebagai wujud dukungannya, Taufik Kiemas, pun memberikan bantuan dana sebesar Rp 40 juta untuk pembuatan Alquran raksasa tersebut.



Kini, menurut Sofwatillah yang mengaku punya keterampilan kaligrafi dengan belajar secara otodidak sejak duduk di Madarsah Tsanawiyah Negeri (MTs N) Pakjo Palembang ini, penyelesaian Alquran raksasa yang mengangkat seni kaligrafi Alquran dan seni ukir khas ornamen Palembang, bukan hanya menjadi tanggung jawab dirinya.

“Tetapi tanggung jawab semua umat muslim di Sumsel,” ujar Syofwatillah Mohzaib, pembuat kaligrafi kelahiran Serang 14 April 1975, yang didalam tubuhnya mengalir darah Palembang dan Banten. Dua daerah yang pada masa lalu memang menjadi pusat kejayaan dan syiar Islam di Nusantara. Kini gagasan besar itu telah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Palembang.

Bentuk tanggungjawab terlihat dari dibentuknya panitia khusus oleh Gubernur Sumsel, H Rosihan Arsyad (yang kini telah habis masa jabatannya) yang ditetapkan 13 Muharam 1423 H atau 15 Maret 2002 M.

Panitia ini, terdiri dari penanggungjawab dan penasihat yang terdiri dari, HM Taufik Kiemas, H Rosihan Arsyad, H Husni, Dr H jalaluddin, H Usman Said.

Pembinanya, dipercayakan kepada KH M Zen Syukri, J Suyuti Pulungan, Aflatun Mukhtar Yayasan Mesjid Agung Palembang, dan Yayasan Ahlul Quran.

Sementara pengurus lainnya, Ketua Umum H Ir Bakti Setiawan, Ketua Harian H Marzuki Alie, Sekretaris RHM Adi Rasyidi, dan Bendahara Hj Asmawati.

Yang dibantu juga oleh beberapa seksi, seperti seksi pentanshih yang diketuai Ki H Sjazily Moesthafa, seksi dana diketuai H Roni Hanan, seksi umum dan logistik diketuai HM Noerdin, seksi humas dan promosi diketuai M Skri Ibn Soha, dan seksi pengawasan dan pelaksanaan teknis diketuai Syofwatillah Maohzaib.

Dibantu Ahli

Untuk pengerjaan Alquran raksasa ini, Syofwatillah memang tidak bekerja sendirian. Ia dibantu beberapa orang yang ahli, termasuk juru ukir. Mengenai teknis pengerjaannya, Alquran raksasa ini sebelum diukir di atas papan, ayat-ayat Alquran terlebih dahulu ditulis di atas kertas karton.

“Lalu tulisan ini dijiplak ke kertas minyak. Sebelumnya tulisan ayat Alquran di atas karton ini dikoreksi oleh tim pentashih, jika ada yang salah langsung diperbaiki,” papar Sofwatillah yang menamatkan SD Negeri Mangunrejo, Serang, Banten, sebelum melanjutkan sekolah di MTsN Pakjo Palembang, dan menamatkan pendidikan sekolah lanjutan tingkat atasnya di Pondok Pesantren Arrisalah, Ponorogo.

Lalu kertas minyak tersebut ditempel ke atas papan yang sudah disiapkan. Huruf-huruf di atas kertas minyak ini menjadi petunjuk bentuk huruf kaligrafi ayat Alquran yang harus diukir.

Dalam menulis kaligrafi ayat Alquran dengan bentuk ukiran ini, Syofwatillah menggunakan jenis huruf atau khot standar dalam Alquran terbitan Saudi Arabia. Untuk tajwid-nya, ia menggunakan tajwid standar Departemen Agama RI.


Dihiasi Ornamen Khas Palembang

“Untuk membingkai ayat-ayat Alquran itu, di tepi lembar Alquran raksasa itu dihiasi dengan ukiran ornamen khas Palembang,” sambung ayah dari M Zikrillah, Nurmawadah Islamiah, dan Muhamad Amri Al Aqba.

Mesjid Agung adalah bagian dari bukti kejayaan Islam di Palembang berabad-abad lalu. Kini, Mesjid Agung telah menjadi mesjid nasional. Sementara Alquran raksasa yang digarap Sofwatillah yang juga menjadi penanggung jawab dalam pembuatan kaligrafi yang menghiasi Mesjid Agung, akan menjadi bukti bahwa dari Palembang, Sumatera Selatan, akan lahir Alquran terbesar di dunia. Sehingga, bukan tidak mungkin kalau
selesainya nanti, Alquran ini akan masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI). Bahkan Guinnes or Record.

“Karena ini Alquran pertama yang ukurannya paling besar dan terbuat dari kayu di dunia ini,” ujarnya bangga.

Dana yang dibutuhkan pembuatan Alquran ini memang tergolong besar, lebih dari Rp 1 milyar. Yang rinciannya, menurut Bendahara Hj Asmawati, untuk bahan Rp 149.555.000; Untuk upah dan gaji para pekerja Rp 597.950.000; dan biaya lainlain seperti listrik
transportasi dan honor penulis Rp 452.495.000.





Dari data yang ada, sedikitnya 30 penyumbang yang telah membantu diantaranya, HM Taufik Kiemas sebanyak 1 juz, Nazarudien Kiemas 1 juz, Gusti Bazan Kurnia 1 juz, M Yamin 1 juz Dodi Makmun Murod 1 juz, Dirut PT Danareksa 1 juz, PT Pusri 1 juz, Muda’I Madang ½ juz, H Husni (Walikota Palembang) 1 juz, Bupato Ogan Komering Ulu (OKU) Syahrial Oesman (mantan Bupati OKU dan mantan Gubernur Sumsel) 1 juz, PT Bukit Asam 1 juz, Menteri Agama Syaid Agil Almunawar 1 juz, Yani Arsyad (PT Jakarta Lyoid) 1 juz, Syarifudin Alambai 1 juz, H Heriyanto (PITI Palembang) 1 juz, Dandim 0418 Palembang Letkol ZL Amalsyah Tarmizi 1 lembar, dan Gubernur Sumsel H Rosihan Arsyad (kini telah habis masa jabatannya) 1 juz. (sh/muhamad nasir)

Selasa, 28 April 2009

wayang palembang










Wayang Palembang, Tenggelam di Tepi Musi

Merangseknya budaya-budaya luar membuat generasi penerus tak mengenali dan tak menyukai budaya leluhur. Termasuk diantaranya, wayang Palembang yang kini telah semakin terpinggir dan mulai punah.
Wayang kulit Palembang memang tidak begitu dikenal dibanding wayang purwo asli Jawa. Walau sesungguhnya pernah tersohor di zamannya. Sayangnya, hingga kini peninggalan leluhur Palembang ini mulai punah ditelan zaman.
Di era 70 an dunia perwayangan Kota Palembang masih kerap menggelar kegiatan pentas di tengah masyarakat Palembang, seperti resepsi perkawinan serta khitanan. Namun kebiasaan masyarakat asli Palembang tidak menular ke generasi saat ini yang lebih mengenal kebudayaan luar.
Saat ini Wayang Purwa dari Jawa masih terus digandrungi dan digemari masyarakat Jawa. Bahkan bukan saja pada even tertentu saja, tetapi pementasan wayang purwa kerap diadakan oleh masyarakat Jawa khususnya yang tinggal di perkampungan. Seperti hiburan masyarakat, antara lain untuk acara khitanan dan resepsi perkawinan, bahkan perayaan syukuran kepala desa, maupun setelah selesai panen padi, masyarakat kerap menanggap wayang purwa ini.
Berbeda dengan wayang Palembang, agaknya era wayang Palembang sudah tenggelam. Tergeser oleh dominasi seni pop modern yang dinilai lebih menghibur. Berbagai hajatan rakyat, yang puluhan tahun lalu menjadi ruang pagelaran wayang Palembang, kini telah disergap pertunjukan organ tunggal yang marak di mana-mana.
Ironisnya, sebagian besar anak-anak di Palembang tidak begitu mengenal peninggalan leluhurnya ini. Tak sengaja, Jumat kemarin Sinar Harapan pernah bertanya kepada sejumlah siswa SLTP di Palembang. Sebagian besar mereka tidak mengetahui sama sekali bahwa Palembang memiliki wayang.
“Kita punya wayang asli kebudayaan Palembang ya, kak, dalangnya juga ada disini?saya kira Wayang berasal dari Jawa,” kata Heru, salah satu siswa SLTP Negeri di Palembang.
Karakter Khas
Johan Hanafiah budayawan Palembang menambahkan wayang Palembang sebenarnya kebudayaan yang memiliki karakter khas dibanding dengan wayang kulit purwa asal Jawa.
Namun sayang, lanjut dia wayang Palembang sudah kehilangan generasi penerus karena dalang terakhir wayang Palembang dengan menggunakan dialog bahasa Melayu Palembang itu, Ki Agus Rusdi Rasyid, telah meninggal pada Februari 2004. Saat ini, praktis tidak ada generasi penerus yang menguasai wayang tersebut.
Setelah era Alm Ki Agus Rusdi Rasyid usai, tambahnya seni tradisional, terutama wayang Palembang semakin ditinggalkan masyarakat, karena dinilai monoton dan tidak memiliki daya jual yang menarik.
Dia memaparkan Wayang Palembang, yang diperkirakan tumbuh sejak pertengahan abad ke-19 Masehi, saat Arya Damar yang terpengaruh budaya Jawa berkuasa di daerah Palembang. Wayang itu kemudian terus tumbuh dengan karakter lokal sehingga menjadi khas Palembang.
Wayang Palembang memiliki bentuk fisik dan sumber cerita yang sama dengan wayang purwa dari Jawa.
Bedanya, wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, dan perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas. Sementara wayang purwa menggunakan bahasa Jawa dan perwatakan tokohnya ketat dengan pakem-pakem klasik.
Dia menilai merupakan kehilangan besar bagi masyarakat Sumsel, sehingga semua masyarakat Sumsel seharusnya bertanggung jawab untuk kembali menggali dan melestarikannya. (sh/muhamad nasir)

Tersimpan Rapi






Di rumah panggung kayu yang tersembunyi di Lorong Pasar, Pasar Tangga Buntung yang sesak tepatnya di Kelurahan 36 Ilir Palembang, dapat dijumpai peninggalan aset wayang Palembang.
Meski wayang tersebut sudah kusam, kotor dan rusak, sebagai warisan luluhur dan bukti sejarah wayang tersebut tetap tersimpan rapih di dalam peti khusus di kediaman Alm Ki Agus Rusdi Rasyid.
Dalang Muda Wirawan Rusdi, putra pertama Alm Rusdi, penerus dunia perwayangan Palembang bercerita banyak saat dijumpai di kediamannya.
Pedalang muda dari Sanggar Sri Wayang Palembang, Wirawan Rusdi anak dari pedalang senior asli Palembang, Ki Agus Rusdi Rasyid (alm) mengakui, kesenian tradisional wayang kulit Palembang, Sumatra Selatan, saat ini sudah mulai punah akibat tidak ada lagi generasi baru yang meneruskannya.
Selain itu, menurutnya, pedalang tua yang menguasai wayang dengan dialog berbahasa khas Melayu Palembang itu sudah tiada lagi.Sementara pemerintah dan lembaga kebudayaan tidak memiliki agenda konkret untuk melestarikan kekayaan tradisi itu.
Wirawan menjelaskan agar kebudayaan tersebut tidak punah, kepedulian Tim Peneliti dari UNESCO- sebuah badan dunia untuk urusan pendidikan dan kebudayaan ikut terlibat saat itu.
“Mereka mengutus Karen Smith wanita asal Australia menetap di Amerika dan Yushi Simishu pria asal Jepang yang menetap di Paris, markasnya UNESCO untuk berkunjung ke Sanggar kami yang terletak di Jalan PSI Lautan Rt.10,16 Ceklatah, 36 Ilir Palembang,” paparnya.
Hingga kini, sambungnya Sanggar Sri Wayang menjadi binaan UNESCO satu-satunya di Palembang, sebab wayang merupakan kekayaan seni tradisi lokal yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2004.
Dia mengungkapkan, saat itu Tim UNESCO mengunjung Sanggar Sri Wayang tidak sendirian. Melainkan dibarengi pimpinan Yayasan Senawangi Jakarta, Sumari, Ketua Persatuan Pendalangan Indonesia (Pepadi) Pusat, Eko Cipto, Ketua Pepadi Sumsel, H.R Amin Prabowo,
Menurutnya, rasa tertarik untuk mendalami dunia wayang hanya karena tanggung jawab terhadap aset budaya yang saat ini dinilai hampir punah, sebab tidak ada lagi generasi penerus untuk dalang di Palembang ini. Apalagi bukan dari keluarga besar Ki Rusdi Rasyid (kakeknya).
“Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi dalang meski pada saat kecil dulu kerap dikenalkan wayang oleh ayah,”ungkapnya.
Namun, karena sadar untuk meneruskan asli budaya wayang Palembang dari keluarga setidaknya dia sebagai anak tertua ikut menerusnya tradisi dalang ini.
Dia menerangkan terobsesi menjadi dalang setelah ayahnya meninggal, ketika itu sekitar 2005 dikunjungi oleh utusan UNESCO. Saat itu Sanggar Sri Wayang warisan orang tuanya tersebut sempat vakum.
Karena diberi bantuan wayang dan seperangkat gamelan tersebut, akhirnya sempat berpikir untuk menjadi dalang.
“Saya tidak ingin bantuan itu hanya untuk pajangan. Dengan rasa tanggung jawab itu akhirnya saya mulai belajar mendalami dunia dalang,”paparnya.
“Hampir semua peralatan wayang peninggalan ayah sudah rusak, hilang, atau entah ke mana. Kebanyakan peninggalan ikut ludes saat kebakaran rumah sekitar 2004dan sebagian lagi terendam banjir tahunan atau keropos dimakan usia, sehingga saat itu sempat hampir terlupakan, tetapi dari bantuan itu membuat motivasi bangkit lagi,”ujarnya.
Dia menerangkan meski wayang Palembang tidak begitu terkenal dan tersohor dibanding wayang Jawa, sebagai penerus dalang dari keluarga, dia sangat bangga. Sebab ayahnya pernah di undang dipertunjukan wayang tradisional di Taman Ismail Marzuki Jakarta, awal tahun 1990-an.
Dia mengakui di eranya jarang dipanggil untuk pentas. Kalaupun tampil hanya pada even tertentu. Untuk secara komersil, seperti hajatan perkawinan dan sunatan tidak pernah sama sekali, karena kesenian ini jauh ngetopnya dibanding kesenian modern.
Namun berkat niat, lanjutnya, dia pernah ikut diundang untuk mentas di Jogyakarta dalam acara The Indonesia Puppets Exhibitions.
Dinilainya, saat ini wayang Palembang tenggelam, apalagi banyak masyarakat tidak mengetahui dan senang dengan kebudayaan asli. Apalagi sebagian masyarakat Palembang yang mengerti kesenian mengganggap menyewa wayang untuk pertunjukan lebih mahal dari organ tunggal.
Padahal, sambung Wirawan, dia tidak pernah mematok tarif khusus. Paling tidak kalau memang dikomersilkan hanya Rp5 juta- Rp6 juta.
Dia menjelaskan wayang Palembang berbeda, karena mentas hanya 1-3 jam, sementara wayang Jawa bisa semalam suntuk. Sehingga tarifnya pun lebih murah dibanding wayang Jawa yang bisa mencapai belasan juta sekali mentas.
Wirawan berharap kepada pemerintah daerah dapat mengenalkan wayang Palembang di setiap sekolah, meski hanya dalam kegiatan ekstra kulikuler dan hanya dilakukan hanya satu tahun sekali.
Selain itu dia bercita-cita Wayang Palembang asli kesenian Palembang ini dapat dikenal di Tanah Air bahkan keseluruh negara.
Kini hanya dia yang menjadi dalang asli Palembang. Almarhum Ki Agus Rusdi Rasyid, merupakan salah satu dalang terakhir yang menguasai permainan wayang Palembang. Sementara ayahnya baru meninggal setahun lalu. Adapun dalang-dalang lain, seperti Syekh Hanan dan Ki Agus Umar, sudah meninggal beberapa tahun silam. Sebenarnya masih ada dalang yang tersisa, Sukri Ahkab, yang pernah menjadi Kepala Stasiun RRI Palembang. Sukri pun sudah pindah dari Palembang beberapa tahun lalu. (sh/muhamad nasir)



http://www.sinarharapan.co.id/berita/0905/02/hib02.html

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0905/01/hib03.html