Tampilkan postingan dengan label Pabrik Pusri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pabrik Pusri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Januari 2012

Pusri Jamin Ketersediaan Pupuk




Palembang,
PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang jamin ketersediaan pupuk urea, natrium fosfat kalium (NPK), dan organik pada musim tanam tahun ini. Terutama pupuk bersubsidi bagi para petani.

Demikian diungkapkan Direktur Utama (Dirut) PT Pusri Palembang Eko Sunarko Rabu (11/1).

Agar penyerapan pupuk bersubsidi ini dapat lebih optimal, Pusri membentuk posko pemantauan ketersediaan stok pupuk, meningkatkan koordinasi internal, serta melakukan koordinasi dengan KP3.

Dirut yang didampingi para direksi menjelaskan, saat ini ketersediaan pupuk di Sumsel,khususnya pupuk urea, mencapai 228.700 ton/tahun.Sedangkan, pupuk NPK sekitar 122.900 ton/tahun dan pupuk organik 22.800 ton/tahun.

Diakui Eko, iklim cuaca yang tidak menentu saat ini cenderung menggeser musim tanam. Biasanya, musim tanam yang dilakukan petani dimulai Oktober hingga Maret, tapi kini bergeser ke Desember. Hal seperti inilah yang menjadikan pupuk itu tidak terserap maksimal.

Untuk pengamanan pupuk di kabupaten/kota di Sumsel, pihaknya membuka posko layanan masyarakat dan berkoordinasi dengan distributor untuk membuat daftar petugas lapangan.

Saat ini telah dibentuk 60 posko di provinsi Indonesia. Dari petugas lapangan inilah nanti akan ketahuan, mana kecamatan di kabupaten/kota yang lebih membutuhkan pupuk, sehingga akan cepat diambil tindakan.


“Di samping itu, kami akan mengambil langkah pengamanan lain dengan bertindak tegas terhadap distributor yang kerap melakukan penyimpangan di lapangan, seperti dengan menjual harga pupuk di atas harga eceran tertinggi (HET), melakukan penjualan secara eceran dalam satuan kiloan,ataupun mengurangi jatah kelompok tani secara sengaja sehingga menimbulkan kericuhan di lapangan,” jelasnya.


Distributor

Hingga kini, lanjut dia, terdapat sekitar 456 distributor resmi yang mendistribusikan pupuk urea ini ke petani.“Bagi distributor yang ‘nakal’ di lapangan, tidak segan-segan merekomendasikan ke Disperindag untuk dibekukan statusnya. “Bahkan, selama 2011 saja, di Sumsel terdapat dua distributor yang terkena sanksi pencabutan izin distribusinya,” ungkap Eko.

Sementara itu, Direktur Komersial PT Pusri Palembang Hilman Taufik menambahkan, pada Januari ini, pengadaan alokasi pupuk untuk Palembang mencapai 160.000 ton. Hanya, permasalahan kelangkaan kerap kali terjadi di luar Palembang sehingga menimbulkan kepanikan di kalangan petani.

“Melalui sistem distribusi tertutup, diupayakan dapat meminimalisasi penyalahgunaan pupuk ini. Jadi, tidak semua orang bisa membeli pupuk ini, kecuali kelompok petani sesuai dengan rencana definitif kelompok kerja (RDKK),” ungkapnya. (sir)

Minggu, 02 Januari 2011

Pusri Untung Rp 1 Trilyun



Palembang:

Meski produksi urea tahun ini tak capai target, PT Pusri mengantongi keuntungan tak kurang dari Rp 1 trilyun.

Demikian diungkapkan Dirut PT Pusri Arifin Tasrif saat pengantongan akhir tahun dan produksi perdana 2011, Jumat (31/12).

“Alhamdulillah, tahun ini Pusri berhasil membukukan profit bersih sebesar Rp1 triliun. Dengan meningkatnya target produksi pupuk 2011,otomatis target gross profit pada 2011 juga akan meningkat, yakni mencapai Rp1,4 triliun,”tutur Arnya. Ifin Tasrif.

Di tempat yang sama, Gubernur Sumsel Alex Noerdin menambahkan, jika melihat profit yang dibukukan Pusri mencapai Rp1 triliun, selama lima tahun Pusri bisa membangun satu pabrik pupuk. “Memang diakui gas banyak disuplai ke Banten dan Singapura. Sementara industri tidak begitu diprioritaskan. Mungkin dengan adanya pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Tanjung Enim hingga Tanjung Api-Api yang mengangkut batu bara akan menjawab masalah yang dihadapi Pusri,” katanya. Dia menilai, saat ini Sumsel mencari lirikan para dunia investor untuk berinvestasi. Syarat sebuah investasi tersebut meliputi keamanan yang stabil, komitmen penuh dari rakyat dan pemerintah untuk membangun Sumsel, serta infrastruktur yang cukup, mulai jalan, air, telekomunikasi, hingga listrik.

Lampaui Target
Rata-rata produksi pupuk 2010 PT Pusri (Persero) melampaui target yang ditetapkan. Produksi amoniak terealisasi 1.356.700 ton dari rencana sebesar 1.330.000 ton (102%).

Sementara urea hanya terealisasi 2.031.700 ton dari target 2.035.000 ton (99,84%).“Tidak tercapainya realisasi produksi urea itu lantaran adanya kerusakan teknikal pada pabrik yang ada. Namun, kerusakan tidak berlangsung lama dan secepatnya diperbaiki.

Sementara, produksi pupuk yang lain melampaui dari target yang ditetapkan,” kata GM Operasi PT Pusri (Persero) Bob Indiarto di sela-sela pengantongan pupuk terakhir 2010 dan pertama pada 2011 di Pabrik PT Pusri Palembang,

Menurut dia, produksi amoniak sebesar 1.356.700 ton tersebut diproduksi di beberapa pabrik,dengan rincian pabrik Pusri IB merealisasikan produksi 429.120 ton dari target 423.700 ton, pabrik Pusri II merealisasikan produksi sekitar 214.050 ton dari target 214.000 ton, pabrik Pusri III merealisasikan produksi amoniak sekitar 363.346 ton dari target 358.350 ton,dan dari pabrik Pusri IV juga mampu merealisasikan 350.154 ton dari target 333.950 ton.

“Secara keseluruhan, total kapasitas pabrik untuk produksi amoniak sekitar 1.324.000 ton.Produksi pabrik pupuk organik mampu merealisasikan sekitar 1.200.000 ton dari target sekitar 1.303.000 ton atau mencapai 108.56%,”ujarnya. Dia menyebutkan, tiap tahun realisasi produksi amoniak maupun urea senantiasa meningkat. Pada 2011, target produksi amoniak maupun urea berdasarkan RKAP ditingkatkan.

Target produksi amoniak menjadi 1.340.000 ton per tahun dan target produksi urea menjadi 2.050.000 ton.

Spin Off

Direktur Utama PT Pusri (Persero) Arifin Tasrif menambahkan, tugas yang diemban PT Pusri (Persero) ke depan semakin berat.Apalagi, telah dilakukannya restrukturisasi Pusri menjadi PT Pusri Palembang.

“Restrukturisasi Pusri (Persero) menjadi PT Pusri Palembang ini adalah upaya untuk peningkatan kinerja dan value perusahaan. Dengan spin off ini, PT Pusri holding akan lebih fokus dalam pengelolaan sinergi operasional korporasi di antara sesama anak perusahaan. Ya, PT Pusri Palembang kini dikelola oleh direksi terpisah dari PT Pusri Holding,” paparnya. Pihaknya dalam program jangka pendek ini akan melakukan revitalisasi Pusri II dengan terus berupaya menyiapkan suplai bahan bakar gas (BBG) yang akan diperoleh 2015 dengan kontrak kerja sama selama 10 tahun hingga 2025.

Begitu juga untuk pabrik III, pihaknya juga akan menekankan kepada program revitalisasi pabrik III dengan energi berbahan baku berbasis batubara. “Pabrik produksi Pusri ini sudah beroperasi sejak lama. Jaminan untuk suplai industri ini sangat diperlukan.Apalagi mengingat cadangan batu bara Sumsel sangat melimpah hingga memiliki cadangan mencapai Rp6 miliar,”tandasnya.

Ke depan, pihaknya berupaya menjadikan industri ini sebagai salah satu pilar pangan.Implementasinya, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan penandatanganan bersama atau memorandum of understanding (MoU) dengan perusahaan di Jawa Tengah untuk membangun pabrik industri.

Dengan demikian, kapasitas produksi pabrik pupuk yang ada dari 2 ton akan meningkat menjadi 4 ton, seiring akan dilakukannya pembangunan pabrik pupuk di daerah Jawa Tengah. (sir)

Selasa, 26 Oktober 2010

Urea Terserap 100%

Palembang:


General Manager Pemasaran PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang HM Romli mengaku optimistis pupuk urea bersubsidi di Sumsel akan terserap 100% tahun ini.


Menurutnya, hingga bulan ini, sudah 135.000 ton pupuk atau sekitar 64% pupuk telah terserap.

“Kalau dari sisi kebutuhan pupuk bersubsidi Sumsel per tahunnya mencapai 208.000 ton. Jadi sisa yang belum terserap sekitar 36% atau 73.000 ton pupuk. Kami yakin sisanya akan terserap di puncak musim tanam November dan Desember,”ujar Romli seusai melakukan rapat pembahasan pupuk bersubsidi dengan Pemprov Sumsel di ruang rapat Bina Praja Sumsel Selasa (26/10). Menurut Romli, penyerapan pupuk bersubsidi yang baru sebesar 64% sudah tergolong bagus dan tidak lamban.

Selain itu, bukan karena faktor cuaca yang terjadi di Sumsel. Penyalurannya pun tetap terawasi secara terus menerus, salah satunya oleh Komisi Pengawasan Pupuk dan Pes-tsida (KP3). “Kami sebagai operator di lapangan berterima kasih kepada Pemprov Sumsel dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, dan Holtikultura (TPH) Provinsi Sumsel, karena di Sumsel ini KP3-nya aktif sekali. Sehingga semuanya berjalan lancar dan distribusi pupuk bersubsidi dapat sampai dengan petani di lapangan, kita berharap penyerapannya di 2010 ini nanti akan sampai 100 %,”ka-tanya.

Terkait masalah kenaikan harga yang terjadi April lalu, Romli menjelaskan, kenaikan tersebut sudah dihitung secara cermat dan melibatkan instansi terkait. Namun pihaknya menilai kenaikan masih dalam tahap wajar dan tidak menjadi masalah. “Karena pada dasarnya petani itu yang penting pupuknya tersedia, masalah harga ini sudah dihitung semua, termasuk dengan keekonomian pertanian,harga itu masih bagus tidak masalah, dan penyerapan pupuk juga tidak ada gangguan,”paparnya. Kepala Dinas Pertanian TPH Sumsel, Hj Nelly Rasdiana mengatakan, pihaknya telah melakukan rapat dengan PT Pusri dan KP3 membahasantisipasipermasalahan yang akan terjadi pada persediaan dan distribusi pupuk di Sumsel.

“Salah satu yang kita bahas bagaimana mengantisipasi kalau terjadi kelangkaan pupuk dan permasalahan lainnya,”ujarnya.

Langka
Sebelumknya, ratusan petani di Kecamatan Muara Sugihan,Kabupaten Banyuasin mengeluhkan terhentinya pasokan pupuk urea bersubsidi dari PT Pusri.


Hal tersebut mendorong para petani menyampaikan keluhannya kepada para wakilnya di parlemen. Akhir pekan lalu, perwakilan lima desa di Kecamatan Muara Sugihan yaitu Desa Titra Harja,Daya Kusuma, Hargo Mulyo,Cendana dan Mekarjaya mengadukan persoalan yang membelit mereka kepada Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuasin.

Ketua Kelompok Tani Kecamatan Muara Sugihan, Supandi menerangkan, telah terjadi kelangkaan pupuk urea bersubsidi di Kecamatan Muara Sugihan.Hal itu menyebabkan banyak petani merugi karena akan terlambat tanam. “Selain keterlambatan tanam,karena pupuk terlambat, hasil produksi terancam tidak maksimal diperoleh.

Sementara itu, kami mengharapkan Dewan dan Pemerintah dapat mencarikan solusi kelangkaan pupuk yang terjadi,”ujarnya.

Menurut Supandi,proses distribusi 4.500 karung pupuk urea di Kecamatan Muara Sugihan terlambat datang.Sementara,kelompok tani telah membayar pesanan pupuk urea bersubsidi pada pihak distributor pupuk Rp74.000/karung. Ketua Komisi II DPRD Banyuasin, Ledi Risdianto mengatakan, kegelisahan petani juga ditambah karena distributor pupuk di tingkat Kecamatan Muara Sugihan,yakni CV Abadi Jaya telah mematok harga pupuk lebih tinggi, sebesar Rp78.000/karung.

“Kami telah memanggil Dinas Pertanian dan Perternakan sebagai tim Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (Komppes) di kabupaten.Bersama mereka kami akan memeriksa kelangkaan pupuk di Muara Sugihan dan pihak distributor mengenai keterlambatan dan tingginya harga pupuk itu,”terang Ledi. Ledi mengungkapkan, permasalahan distributor pupuk bersubsidi memang harus mendapat perhatian serius dari dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kabupaten Banyuasin,sebagai tim pengawas distribusi. Mengingat, para petani sawah tadah hujan di Banyuasin sudah memasuki tahap tanam. “Ini penting diselidiki, karena kebutuhan pupuk untuk para petani sangat mendesak.

Jika terlambat dari jangka waktu yang ditentukan, tentunya mereka akan terlambat tanam dan merugi akan hasil produksi yang tidak maksimal,” terang Ledi. Menanggapi hal tersebut, Bupati Banyuasin,Amiruddin Inoed menjanjikan, secepatnya akan memanggil Distannak dan para distributor pupuk per Kecamatan di Banyuasin. Karena menurut Amiruddin, jika sudah sesuai dengan Rancangan Dasar Kebutuhan Pupuk (RDKP) kelompok tani per kecamatan, PT Pusri wajib mendistribusikan pupuk ke petani. (sir)

Rabu, 18 Maret 2009

Pupuk Urea Bersubsidi








Pupuk Bersubsidi Dijamin Aman

Palembang


PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang menjamin pasokan pupuk hingga musim tanam September nanti aman.

Stok yang ada di sejumlah gudang mencapai 25.000 ton atau melebihi ketentuan SK Mentan yang hanya 18.000 ton.

“Petani di Sumsel tidak perlu khawatir karena selain dekat dengan pabrik, stok di sejumlah gudang sudah melebihi,” ungkap Sulva Ganie, Manager Pemasaran Pupuk Daerah (PPD) PT Pusri Palembang, Rabu (18/3).

Dia menjelaskan, realisasi penjualan urea bersubsidi hingga per 17 Maret mencapai 20.769,16 ton atau sekitar 52% dari aturan SK Mentan No.05/Permentan/OT.140/2009 yang ditargetkan mencapai 40.259,60 ton dari Januari hingga Maret 2009.

Sehingga dengan stok berlebih tersebut, kata Sulva, bisa menutupi daerah yang kekurangan pupuk urea bersubsidi.





Menurutnya kelebihan stok saat ini disebabkan belum adanya permintaan dari sejumlah petani menyusul tingginya curah hujan di Sumsel.

“Saat ini di Sumsel masih kondisi cuaca masih pancaroba, akibatknya banyak lahan yang tergenang air sehingga petani belum bisa menanam, sementara pupuk terus di produksi dan permintaan belum banyak,” jelasnya.

Dia menyebutkan hingga kini penyaluran pupuk masih disalurkan melalui distributor pengecer, kelompok tani yang terdaftar di Pusri dengan pola Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Sulva menjelaskan stok pupuk urea bersubsidi hingga Maret yan ada di enam gudang di Wilayah Sumsel, yakni Gudang Bagor mencapai 3.434,50 ton, Gudang Naskah 5.910,49 ton, Gudang Kurungan Nyawa 3.369,50 ton, Gudang Martapura, Kab. OKU 1.729,53 ton, Gudang Mura, Kab Mura/Lubuk Linggau mencapai 1.124,73 ton, serta Gudang Lahat mencapai 2.408,45 ton.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Prov Sumsel, Darmansyah mengungkapkan untuk masalah pupuk urea bersubsidi untuk mendukung panen tahun ini cukup aman.

Dia menyebutkan dari 2,9 juta hektare lahan produktif di Sumsel menghasilkan gabah kering giling (GKG) di Sumsel. Sementara menghasilkan beras mencapai 1,8 juta ton. Setidaknya ada penambahan peningkatan panen tahun ini melebihi 5%.

“Kita tahun ini bisa diperkirakan surplus kembali karena panen sudah mencapai 7,85%,” paparnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Sumsel Eppy Mirza menambahkan, saat ini untuk aturan main pendistribusian pupuk di Sumsel sudah sesuai RDKK.

Dari 15 kab/kota di Sumsel sudah 100% menyerahkan SK bupati dan sudah ditandaklanjuti dengan SK Gubernur.

Sehingga dengan adanya sudah diserahkannya SK tersebut pupuk bersubsidi di Sumsel sudah dapat disalurkan sesuai dengan RDKK masing-masing daerah.







Dia menyebutkan, saat ini distributor yang telah terdaftar mencapai 82 distributor, dengan 875 pengecer yang akan menyalurkan pupuk bersubsidi ke kelompok tani mencapai 10494 kelompok tani. (sir)

Senin, 19 Januari 2009

Pusri 1B Normal

Pusri 1 B Ditargetkan Normal 2010

SRAGEN: PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang menargetkan dapat mengoperasikan pabrik 1 B secara normal 100% pada 2010 menyusul pada tahun pabrik tersebut akan melakukan pergantian peralatan yang sudah tidak maksimal lagi digunakan.

“Pabrik 1 B termasuk pabrik baru dibangun pada 1990, dibanding 3 pabrik Pusri lainnya yang telah berumur tua diatas rata-rata 30 tahun, namun produksi 1 B sering tidak maksimal pada tahun lalu, produksi 1 B hanya mencapai 297 hari atau mengalami down time yang begitu besar,” aku Dirut PT Pusri, Dadang Heru Kodri di sela-sela Peresmian Pabrik Organik di Sragen, Jawa-Tengah pekan ini.

Dadang menyebutkan pada tahun ini pihaknya akan melakukan pergantian beberapa peralatan pada pabrik 1B, seperti reformer ( mesin pemanas), mesin turbine serta kompresor yang berfungsi untuk menaikan tekanan.

Sehingga dengan alat yang baru tersebut, lanjutnya dapat mengoptimalka operasi pabrik tersebut.

“Dulu kerap terjadi mess communication, tetapi saya ingatkan kepada seluruh karyawan jangan ragu menggunakan ahli dari luar, karena ahli dari luar dapat melihatnya kendala dan rusaknya pabrik secara luas,”paparnya.

Hasilnya, sambung Dadang kendala yang terjadi pada pabrik 1 B yang tidak beroperasi secara maksimal tersebut dapat teratasi. Dengan demikian Pusri targetkan pada 2010 pabrik 1 B dapat beroperasi secara maksimal sesuai dengan kapasitas rata-rata 570.000 ton per tahun.

Dadang mengungkapkan tahun ini untuk melakukan perbaikan pada seluruh pabrik Pusri (1B,II,III,IV) pihaknya menyiapkan anggaran 6%-8% atau sekitar Rp240 miliar.

Laba turun
Dia berharap dengan adanya perbaikan mesin pada pabrik tersebut setidaknya dapat meningkat kinerja Pusri. Terkait tidak maksimalnya produksi pada 2008, Dadang menerangkan tidak berpengaruh keuntungan.

Meski pada 2008 diperkirakan, imbuhnya laba Pusri mengalami penurunan sekitar 40% atau memperoleh pendapatan sekitar Rp300-Rp400 miliar dibanding 2007 yang mencapai Rp700 miliar.

“Tidak optimalnya produksi pada 2008 tidak berpengaruh pada pencapaian laba 2008, tetapi turunnya laba disebabkan pemerintah mengingikan penurunan alokasi subsidi secara nasional, tetapi kita tunggu saja konkritnya pendapatan Pusri 2008 setelah diudit oleh BPK,”ulasnya.

Selain itu, akunya penurunan pendapatan tersebut dipengaruh juga dengan perubahan sistem distribusi pupuk Pusri (rayon) di sebagian wilayah pemasaran Jawa yang dimbil Pupuk Kaltim.

“Nah, dengan berkurangnya rayon tersebut, setidaknya Pusri kehilangan ratusan miliar pendapatan, apalagi 2008 Pusri tidak menjalankan ekspor pupuk ke luar negeri,”terangnya.(sir)