Tampilkan postingan dengan label transportasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label transportasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

Sopir Taksi Palembang Demo, Tuding Blue Bird Langgar Kesepakatan

Seputar Indonesia, Satuday, 16 June 2012

PALEMBANG –Puluhan sopir taksi Koperasi Taksi Sriwijaya (Kotas) mendatangi Kantor Wali Kota Palembang kemarin. Mereka mengadukan pemberlakuan tarif taksi Blue Bird yang dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan.


Salah satu sopir Kotas, Insan Zakaro, mengatakan, berdasarkan hasil pertemuan antara semua pengelola taksi bersama Dinas Perhubungan (Dishub) dan DPC Organda Palembang pada 4 Mei 2012,semua operator taksi harus menggunakan tarif yang sama. Rincian dari tarif yang disepakati tersebut yakni tarif buka pintu Rp7.000, tarif dasar per kilometer Rp4.000, tarif waktu tunggu Rp40.000/- jam,dan tarif pembayaran minimum Rp20.000.

Persamaan tarif taksi ini bahkan sudah disetujui Wali Kota Palembang yang disahkan dalam SK No 7 Juni 2012. Namun, dalam pelaksanaannya, untuk tarif awal buka pintu, pengelola taksi Blue Bird menetapkan tarif lebih murah, yakni Rp6.000.

“Sejak ada Blue Bird, kami semua menjadi resah, penumpang banyak yang komplain. Kami berharap izin operasional Blue Bird dapat dicabut karena Blue Bird sudah mengingkari hasil keputusan yang telah disepakati.Tak hanya itu, Blue Bird juga sudah melecehkan surat Organda No 009/K/- DPC.PLG/IV/2012 tentang Penegasan Penyesuaian Tarif,” cecarnya.

Sopir Kotas lainnya, Dodi, mengaku,sejak taksi Blue Bird beroperasi di Palembang, pendapatan yang diperoleh sopir taksi lainnya jauh berkurang. Biasanya dalam sehari sopir taksi Kotas bisa mendapatkan Rp350.000,sekarang para sopir hanya bisa mendapatkan Rp100.000. “Kami harus menyetor Rp200.000 per hari,sementara pendapatan hanya Rp100.000. Kalau begini terus, mending dicabut saja izin operasional Blue Bird,”keluhnya.

Dia juga mempermasalahkan jumlah izin yang dikeluarkan pemerintah bagi taksi Blue Bird.Taksi Kotas dan Primkopau hanya diberikan izin sebanyak 50 unit, taksi Balido 100 unit,sementara Blue Bird diberikan izin 250 unit. “Blue Bird itu pendatang, sementara kami ini putra daerah. Kalau terus-menerus seperti ini, kami akan tersingkirkan,” tukasnya.

Sementara itu,Ketua DPC Organda Palembang Fahrudin Jamal menyatakan, pihaknya sudah menegur dan memberitahukan kesepakatan yang dilanggar Blue Bird.Namun,peringatan belum sampai diberikan karena ini kesepakatan bersama antara jasa angkutan. “Blue Bird yang sudah berpengalaman di bidang angkutan taksi,kami minta untuk menggunakan batas atas, yaitu Rp7.000. Untuk masalah ini mereka sudah sepakat. Tapi, kenyataannya mereka masih menggunakan batas bawah Rp6.000,”ungkap dia.

Karena Blue Bird sudah melanggar kesepakatan ini, pihaknya akan melakukan pertemuan lagi dengan penyelenggara angkutan taksi di Palembang untuk membahas permasalahan ini. Dia pun sangat sepakat jika diberikan sanksi tegas kepada pihak Blue Bird. “Paling berat sanksi yang dikenakan yaitu pembekuan izin dari operator yang melanggar kesepakatan, ”ujarnya.

Dihubungi terpisah, Manajer Operasional PT Blue Bird Group Palembang Rudi Al-Wazan mengaku tidak pernah menyalahi aturan yang sudah disepakati. Dalam SK Wali Kota Palembang dan Organda, memang ada pemberlakuan tarif atas dan tarif bawah. “Namun, tidak disebutkan pemberlakuan tarif mana yang harus diterapkan. Jadi, kita tidak pernah keluar aturan yang ada,”kata dia.

Dia menjelaskan, pemberlakuan tarif awal buka pintu sebesar Rp6.000 tersebut tetap dilakukan. Sebab, dia mengaku orientasi Blue Bird tidak hanya pada keuntungan, tapi lebih pada pelayanan prima.

“Kita bercermin dulu, apakah pantas kita memberlakukan tarif atas sementara pelayanan masih seperti itu.Gunanya apa. Kalau hanya ingin mendapatkan keuntungan yang besar sementara customer kecewa, kita lebih prioritaskan pada pelayanan dulu,”pungkasnya. yulia savitri
 
coverpalembang

Selasa, 19 Juli 2011

Garuda Tambah Penerbangan Palembang-Jakarta

Antisipasi Sea Games, Garuda Tambah Penerbangan Jakarta-Palembang

Palembang:

Mengantisipasi melonjaknya penmpang, PT Garuda Indonesia cabang Palembang berencana menambah jadwal penerbangan (flight) seminggu sebelum dan sesudah event SEA Games (SEAG) pada November mendatang.


Biasanya Garuda melakukan sembilan kali penerbangan per hari dengan rute Palembang–Jakarta, kini ditambah menjadi 22–24 kali penerbangan. Penambahan kali ini untuk melayani tamu dari negara tetangga yang tergabung dalam ASEAN dan menjadi peserta SEA Games.

”Garuda Indonesiakan telah ditetapkan sebagai official carrier pemerintah untuk melayanitamuundangan SEAGames, terutama negara tetangga. Khusus penerbangan rute Jakarta–Palembang dan sebaliknya, kemungkinan penambahan saat H-7 sudah berjalan,” ujar General Manager PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Palembang Ryanto A Winarso.

Marketing dan Sales Manager PT Garuda Indonesia Palembang Adhe Rassat menambahkan, saat ini load factor masih berada di bawah rata-rata.


Sesuai karakteristik penumpang domestik, jika telah mengantongi uang lebih, biasanya berkeinginan untuk berangkat. ”Rata-rata traffic penumpang tujuan Palembang– Jakarta secara normal berada dipersentase 75%. Menjelang Lebaran biasanya tidak signifikan peningkatannya,” ungkapnya. (sir)

Selasa, 05 Mei 2009

Papua Pesan kapal di Palembang

Papua Beli Kapal ke-6 dari Palembang

Palembang:
Untuk keenam kalinya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua membeli kapal buatan Palembang, yang dibuat sejak 1 April 2008 lalu.

Gubernur Papua Barnabas Suebu secara resmi mengambil kapal yang bernama KM Papua Baru,di Kawasan Mariana Banyuasin, Senin (4/5). Pengambilan KM Papua Baru oleh Gubernur Papua, didampingi oleh Wakil Gubernur Sumsel H Eddy Yusuf, Kepala Dinas Perhubungan Sumsel Sarimuda, serta unsur Muspida lainnya.

”Kapal ini merupakan kapal yang keenam dari Sumsel. Nanti akan digunakan untuk mengangkut masyarakat di pesisir Papua,’’ kata Barnabas. Barnabas menuturkan, Papua memiliki luas wilayah tiga kali lebih luas dari Pulau Jawa,namun infrastrukturnya belum memadai.

Sedangkan garis pantai yang dimiliki Papua terpanjang di antara pulau- pulau lain yang ada di Indonesia, sehingga sangat diperlukan kendaraan laut yang memadai.Menurut dia, selama ini Papua menganut sistem transportasi integrasi darat,laut dan sungai,serta udara. “70% saat ini transportasi kita udaradengan450lapanganterbang.

Untuk menekan biaya transportasi, maka darat dan sungai harus juga berperan. Tapi, jika harus membangun jalan darat biayanya sangat mahal dan butuh waktu, sehingga sungai alternatifnya,” terangnya.

Menurut rencana Pemprov Papua, kapal itu nantinya akan dijadikan sebagai kapal printis untuk warga Papua.

Dengan klasifikasi Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), kapal dapat menampung 350 penumpang dengan awak yang mencapai 36 orang. Bahkan, KM Papua Baru dilengkapi kelas VVIP 1 kamar, kelas 1 berjumlah 6 kamar,kelas 2 berjumlah 6 kamar, dan 2 ruangan besar untuk kelas ekonomi.Selain itu,ada juga fasilitas ruang meeting,ruang rekreasi,ruang kafetaria,water maker,serta fullAC.

Adapun spesifikasi kapal yang diberi nama KM Papua Baru itu, memiliki panjang 63 meter, lebar 12 meter, tinggi 6 meter, sarat air 3 meter, mesin induk 2 x 1000 HP, dan mesin bantu 2 x 150 kva dan 1 x 80 kva.


Sementara itu,Wakil Gubernur Sumsel, Eddy Yusuf sangat mengapresiasi sikap Gubernur Papua yang mengambil langsung kapal pesanannya. (sir)