Minggu, 26 September 2010
Senin, 13 September 2010
Rabu, 25 Agustus 2010
Rabu, 18 Agustus 2010
H Romi Herton, Wawako Palembang

Turnamen Futsal Antarpelajar SLTA
Trofi H.Romi Herton
(Wawako Palembang)
At Raja Sport Centre, Komp PTC Palembang, 2-3- Oktober 2010
Km.NolOrganiser
Selasa, 17 Agustus 2010
Turnamen Futsal Pelajar SLTA Perebutkan Trofi Wawako
Palembang: Menjaring bibit atlet futsal berbakat, akan digelar turnamen futsal pelajar SLTA yang memperebutkan trofi Wakil Walikota Palembang, H. Romi Herton, SH, MH.
Selain itu, untuk memberikan daya tarik, menurut Ketua pelaksana, Taufik Usman, juga disediakan hadiah dengan total jutaan rupiah dan doorprize dari sponsor.
“Kegiatan ini dilaksanakan di Raja Sport Centre, di Kompleks PTC Palembang
Pada Sabtu dan Minggu (2-3 Oktober 2010),” tambah Taufik.
Disebutkan Taufik, olahraga merupakan suatu kegiatan jasmani yang dilakukan dengan maksud untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot – otot tubuh. Kegiatan ini dalam perkembangannya dapat dilakukan sebagai kegiatan yang menghibur, menyenangkan atau juga dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi.
Selama ini pemerintah sendiri menjadikan olahraga sebagai pendukung terwujudnya manusia Indonesia yang sehat dengan menempatkan olahraga sebagai salah satu arah kebijakan pembangunan yaitu menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup.
“Seiring dengan hal itu, kami menilai dunia olahraga di Kota Palembang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat khususnya pada olahraga Futsal. Potensi-potensi muda telah bermunculan seiring dengan banyaknya dukungan, peran serta dan binaan dari beberapa pihak-pihak terkait,” tambahnya.
Pemerintah kota palembang sebagai fasilitator yang consern terhadap perkembangan olahraga di kota palembang telah memberikan dukungan dan ruang kepada para pelajar SLTA untuk mengaktualisasikan kreatifitas dan sportifitas mereka dalam banyak hal. Dan akan lebih baik kiranya jika potensi-potensi pelajar yang telah ada dan akan muncul dibekali juga dengan pengalaman bertanding untuk menambah kemampuan mereka dalam olahraga Futsal itu sendiri.
“Karenanya, kami yakin, melalui kebijakan pemerintah kota Palembang, Bapak H. Romi Herton selaku wakil Walikota kota Palembang akan mampu membuat olahraga Futsal di kota Palembang mampu “berbicara” ditingkat Nasional bahkan Internasional kedepannya,” jelas Taufik yang juga pimpinan KM.Nol, sebuah organisasi yang konsern menyelenggarakan berbagai even di kota Palembang.
Dengan semangat menyongsong Hari Sumpah Pemuda ke-82 pada tanggal 28 Oktober 2010 dan menyemarakkan penyelenggaraan SEA-Games 2011 di kota Palembang, STUDENTS FUTSAL TOURNAMENT ini dilaksanakan. Tujuannya, memberikan pengalaman bertanding yang perlu dimiliki oleh para Pelajar SLTA sekaligus pemuda di kota Palembang. Dan melalui Tournament diharapkan semakin terasahnya kemampuan teknik, fisik dan mental para pelajar SLTA di kota Palembang.
Ditargetkan sedikitnya 96 tim akan berlaga dalam even ini. Pendaftaran dapat dilakukan di Raja Sport Centre. Masing-masing sekolah boleh mengirimkan lebih dari satu tim. Biaya pendaftaran Rp 150.000/tim dengan 8 atlet per tim. (*)
Contact Person
Taufik Usman 081632174777
Muhamad Nasir 081368184211
Atau email: Km.Nol2010@yahoo.com
Rabu, 04 Agustus 2010
SFC Fenomenal, Mulanya Sekedar Manfaatkan Fasilitas PON
Piala Indonesia yang diraih SFC diarak setibanya di Palembang Selasa (3/10).
Palembang:
Sriwijaya Football Club (SFC) benar-benar fenomenal dalam sejarah persepakbolaan di Indonesia. Berbagai rekor diciptakannya, mulai dari double winner (menyatukan piala copa dan liga Indonesia), dua kali juara copa berturut-turut. Dan terakhir menjadi tiga kali berturut-turut setelah menundukkan juara Super Liga Indonesia (SLI) 2010, Arema 2-1 di Manahan, Solo Minggu (1/8).
Itu yang positif. Yang negatifnya ternyata masih ada, rekor pemain yang menghajar suporternya sendiri. Dan kini kasusnya masih diproses di Pengadilan Negeri (PN) Palembang. Empat pemain SFC menjadi pesakitan, Christian Worabay, Isnan Ali, Charis Yulianto dan Amrizal.
Kalau dilirik sejarahnya, Gubernur Syahrial Oesman ketika itu tahun 2004 meng-take over Persijatim FC Solo yang kini menjadi Sriwijaya Footbal Club (SFC) hanyalah dengan tujuan memanfaatkan fasilitas pasca PON XVI di Sumsel. Nilai take over yang dilakukan dengan Muhmmad Zein saat itu adalah Rp 6 milyar.
Ketika itu, dalam musim kompetisi 2004, Persijatim masih menyisakan tiga pertandingan home di Solo, yakni melawan Persita Tangerang, Persikota dan Persib Bandung dan dua pertandingan di luar kandang, lawan Persija dan Pelita KS.
Beralih ke Palembang, pertandingan tersebut kemudian dilanjutkan Sriwijaya FC. Beberapa pelatih tercatat pernah menukangi kesebelasan ini, seperti Henk Wulems, Hery kiswanto, Suimin Diharja sampai kepada Rahmad Darmawan.
Kepindahan Persijatim ke Sumatera Selatan sebenarnya bukan yang pertama kali. Pada musim kompetisi 2003 Persijatim sempat pindah ground base ke Solo sehingga berganti nama menjadi Persijatim Solo FC. Pada musim 2000/2001 Persijatim juga pernah berganti nama menjadi Jakarta FC, mungkin sebagai brand untuk menyaingi Persija yang berada pada grup yang sama (barat). Kebiasan menggunakan tambahan FC berawal dari sini. Pada musim kompetisi berikutnya Jakarta FC dipindah ke grup timur dan kembali menggunakan nama Persijatim.
Ketika bernama Persijatim Solo FC pada musim kompetisi 2003, prestasi Persijatim bahkan lebih baik dari Persib Bandung yang harus menjalani relegation play off. Persebaya dan PSMS malahan masih berjuang di di divisi satu. Ketika itu divisi utama Ligina hanya terdiri dari satu grup berjumlah 20 klub (pemberlakuan Liga Super sebenarnya bukan barang baru). Namun prestasi tersebut tidak bisa dipertahankan pada musim berikutnya dan drop hingga posisi 14. Musim berikutnya, Persijatim dibeli oleh Gubernur Sumatera Selatan dan akhirnya mencetak sejarah sebagai kesebelasan pertama yang mengawinkan gelar Copa Indonesia dengan Ligina pada tahun 2008. Lalu kesebelasan yang ‘menguasai’ piala Copa dua tahun berturut-turut. Semuanya ketika kesebelasan ini ditangani Rahmad Darmawan. Manajernya, Amalsyah Tarmizi. Duo militer ini berhasil mengangkat pamor SFC.
Lalu, 2010 gelar bagi SFC bertambah lagi. Tiga kali juara Piala Indonesia (dulu Copa). Prestasi ini justru ketika Rahmad Darmawan akan meninggalkan kesebelasan ini karena SFC sudah mengantongi pelatih baru, Kolev.
Sempat Dikecam
Di awal kepindahannya ke Sumsel, SFC sempat dikecam. Bahkan polemik pun mencuat soal pro dan kontra keberadaannya di daerah yang sebenarnya punya sejarah memiliki klub-klub kuat seperti Krama Yudha Tiga Berlian dan PS Pusri.
Masyarakat pun belum begitu antusias menyaksikan pertandingan timnya. Upaya keras dan berbagai cara dilakukan agar sepakbola minded tercipta di daerah ini. Sampai akhirnya berbagai kumpulan suporter pun lahir . Maniak bola pun bergaung.
Dengan prestasi yang diukir, saat Pemilihan Gubernur dua tahun lalu, SFC pun dijadikan ’jualan’ oleh salah satu kandidat. Dan di satu pihak, keberadaan SFC justru dikecam. Bahkan disebut-sebut tidak membanggakan daerah karena pemainnya bukanlah putra daerah.
Kini, saat Alex Noerdin memenangkan Pilgub, keberhasilan SFC di era Syahrial pun disempurnakan dengan prestasi yang sama. Semuanya kini telah merasakan keberadaan SFC. Mulai dari kepala daerahnya sampai kepada rakyatnya.
Cek Mad
Rahmad Darmawan --yang dikenal dengan nama panggilan Cek Mad sejak melatih SFC-- memulai kariernya sebagai pesepak bola di Persija "Macan Kemayoran" Jakarta 1985. Juga masuk Timnas U-23. Dan sempat memperkuat beberapa kesebalasan, seperti Army Force Malaysia, dan Persikota.
Saat training centre lawan Bayern Urdingan (klub divisi Utama Jerman), lututnya cedera. Mimpinya tampil di Pra Piala Dunia pun buyar. Dia kembali ke Jakarta. Mulanya menjadi asisten pelatih kesebelasan Bank Indonesia. Pelatih kepala saat itu Hari Tjong. Setahun kemudian dia menjadi pelatih kepala karena Hari Tjong menjadi pelatih PS Banda Aceh.
Tahun 1990 dia mengantongi sarjana IKIP. Lalu ditawari masuk Wamil karena ketika itu TNI punya PS ABRI yang bermain di Galatama. Hingga 1997 dia memperkuat berbagai tim sampai akhirnya kembali cidera lutut kiri saat memperkuat Persikota dan akhirnya memutuskan full sebagai pelatih.
Pensiun sebagai pemain di klub Ibu Kota itu, Rahmad mencoba peruntungannya sebagai pelatih di tim ”Bayi Ajaib” Persikota Tangerang. Rahmad melatih klub berjuluk Bayi Ajaib itu selama empat tahun, mulai dari tahun 2000.
Sembari melatih Persikota, pengagum Maradona dan Piere Lisbersky ini mengasah keterampilannya sebagai pelatih dengan belajar ke manca negara. Di penghujung karirnya sebagai Pelatih Persikota, Rahmad mengantungi International Licence di bawah bimbingan Horst Kriete dan Bernd Fisher. Usai mendapatkan lisensi tertinggi itu, Rahmad langsung hijrah ke Persipura Jayapura.
Di bawah tangan dinginnya, Persipura, yang mulai pudar namanya, kembali bangkit dan meraih gelar juara LI 2005. Prestasi ini langsung melambungkan nama Rahmad. Beberapa klub dalam dan luar negeri, seperti Perak FC Malaysia dan Persebaya Surabaya, tertarik untuk menggunakan jasanya. Tetapi, Rahmad melabuhkan hatinya ke Persija.
Pilihannya kembali ke Ibu Kota itu, pada akhirnya disesali Rahmad. Suami dari Eti Yuliawati itu mengakui kesalahannya menerima pinangan Persija. Pasalnya, di Persija dia tidak bisa berbuat banyak. Rahmad tidak bisa memilih pemain- pemain yang akan memperkuat timnya, padahal memilih pemain merupakan tugas dan kewajiban seorang pelatih kepala.
Dia mengakui kesalahan itu. Kenapa dia mau ke Persija. Saat itu, menurutnya, kesediaanya ke Persija karena dijanjikan akan ada Agu Casmir (bek Timnas Singapura), Emmanuel De Porras (mantan striker Persija dan PSIS Semarang), dan Ronald Fagundes (gelandang Persik Kediri). Ternyata semua nama-nama besar itu kabur.
Musim kompetisi tahun 2006 itu menjadi masa-masa paling sulit dalam karier Rahmad. Tetapi, dengan materi pemain seadanya dan bukan pilihannya --belum lagi intervensi dari berbagai pihak-- kapten Marinir itu masih bisa membawa Persija ke babak delapan besar Liga Indonesia dan peringkat ketiga Copa Indonesia. Jauh dari target yang ditetapkan, yaitu meraih salah satu gelar juara.
Terperosok di Ibu Kota, Rahmad terikat kontrak dengan Sriwijaya FC Palembang (d/h Persijatim Jakarta). Di klub ini, Rahmad dibebaskan mengatur segi teknis tim, tanpa ada intervensi siapa pun. Hasilnya, Rahmad meraih double winner di tahun pertamanya di Palembang. Padahal, pria yang hobi bernyanyi ini tadinya hanya ditargetkan membawa Sriwijaya FC ke zona Liga Super.
Kini, prestasi bersama SFC bakal jadi kenangan. Rahmad kiini mungkin akan berlabuh kembali ke Persija. Yang jelas, tarifnya akan melambung. Kalau dulu ada Tanri Abeng yang dijuluki Manajer 1 Miliar, kini Cek Mad mungkin bisa dijuluki Manajer 2 Miliar. Karena saat ini saja, tarifnya tak kurang dari Rp 1,2 M/musim. Bravo SFC, Cek Mad, Manajemen, Suporter dan masyarakat Sumsel. Semoga prestasi terus terukir. (muhamad nasir)
Rabu, 24 Februari 2010
Senin, 08 Februari 2010
Pusri Jurnalistik Award

Pusri Jurnalistik Award, Apresiasi Pusri untuk Jurnalis
Jakarta—PT Pupuk Sriwijaya dalam usia yang kelima puluh tahun (24 Desember 2009) mengadakan lomba penulisan artikel dan feature terkait dengan peran dan pengabdiannya di dunia industri pupuk dan swasembada pangan di Indonesia.
Manajer Humas PT Pusri, Zain Ismed mengatakan secara langsung ataupun tidak langsung keberadaan produk-produk pupuk Pusri dapat meningkatkan produktifitas hasil pertanian yang pada akhirnya mendukung swasembada dan ketahanan Pangan Nasional. Industri pupuk sangat strategis bagi negara kita yang merupakan negara agraris.
”Bagi petani, jelas sekali produk Pusri memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan,” katanya Senin (8/2).
Dalam rangkain peringatan ulang tahun emas ini, dikatakan Ismed, Pusri mencoba memberikan apresiasi kepada para jurnalis. Berupa diseminasi informasi dan problematika terkait dengan eksistensi perusahaan selama mengabdi bagi kepentingan Tanah Air melalui hajatan penghargaan Pusri Jurnalistik Award (PJA).
”Kegiatan itu juga merupakan bentuk kepedulian konkret dari bagian corporate social responsibility (CSR) PT Pusri kepada wartawan,”ujar Ismed.
Diakui oleh Ismed, media massa memberikan sumbangsih yang tak sedikit bagi perkembangan perusahaan penghasil pupuk ini dan lomba ini merupakan lomba pertama kali dilakukan oleh PT Pusri sejak 50 tahun pabrik pupuk ini berdiri.
”Nah, dalam peringatan ulang tahun emas ini, Pusri mencoba memberikan apresiasi terhadap media massa, khususnya melalui hajatan penghargaan Pusri Jurnalistik Award (PJA),”katanya.
Dalam melakukan kegiatan ini, kata Ismed PT Pusri memberikan hadiah berupa uang tunai dan plakat kepada masing-masing pemenang dalam lomba penulisan artikel dan feature dengan total hadiah mencapai Rp 36 juta rupiah untuk 6 orang pemenang.
Sementara itu, Ida Syahrul dari Media Lintas Informasi yang menjadi pelaksana teknis acara lomba ini mengatakan pihaknya melakukan penjurian terhadap artikel atau feature yang ditulis oleh Jurnalis di media massa masing-masing terkait dengan PT Pusri dalam Industri pupuk selama kurun waktu Juni 2009 sampai Maret 2010.
Selain itu, kata Ida, dalam penjuriannya pihak MLI dan Pusri melibatkan jurnalis, organisasi pers, dan Kementrian BUMN serta internal Pusri.
”Untuk juri dari praktisi media, organisasi pers, dan Kementrian BUMN ,”katanya. Ida berharap, lomba ini bisa diikuti oleh seluruh jurnalis yang ada di Indonesia. Terutama media yang ada di Sumsel, tempat berdirinya pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara ini.
Contact Person:
Ida Syahrul 081271194300
Muhamad Nasir 081368184211
Jumat, 01 Januari 2010
Mir Senen Tutup usia

Budayawan Sumsel, Mir Senen Tutup Usia
Palembang:
Budayawan Sumsel H Muhammad Ali Gathmyr Senen alias Mir Senen meninggal dunia di usia ke-55 setelah didera penyempitan saraf otak, Jumat (1/1) Pukul 00.30 WIB di Rumah Sakit Dr AK Gani Palembang.
Usai disemayamkan di rumah duka yang juga kediaman kakak kandungnya H Jalili Senen, di Jalan Sekip, Lorong Belimbing II,No 5 Palembang, jenazah almarhum langsung diberangkatkan menuju peristirahatan terakhirnya pukul 10.00 WIB.
Pria kelahiran Palembang 5 Mei 1955 itu dikebumikan di Dusun Betung Kabupaten Banyuasin, berdekatan dengan makam kedua orangtuanya yang sudah lebih dulu meninggal dunia. Menurut adik kandung almarhum, Maryam Senen atau Nung Yah, sebelum meninggal dunia kesehatan kakaknya memang sempat terganggu, selain menderita prostat alhmarhum juga mengalami gagal ginjal dan stroke.
Puncaknya tiga hari lalu, almarhum terkena stroke dan dilarikan ke Rumah Sakit AK Gani. “Sebenarnya agak lama ya,tapi dia takut disuntik.Dia juga sempat berobat ke Malaysia dan agak baikan, tapi terakhir ada penyempitan syaraf di otaknya.Kita semua iklas dan sudah dimakamkan di makam keluarga di Betung,” jelasnya.
Terlahir dari keluarga “kayo lamo”, H Muhammad Ali Gathmyr Senen atau biasa dipanggil dengan Mir Senen, hingga kini menjadi pelestari budaya dan seni Sumatera Selatan (Sumsel).
Ribuan koleksinya tersimpan dengan baik dan desain-desain modifikasi songket karyanya seolah membawa pemakainya ke nuansa kejayaan Palembang tempo dulu.
Di Sumsel, siapa yang tidak mengenal Mir Senen. Pria kelahiran Palembang, 5 Mei 1955 ini, terkenal dengan kain songketnya yang eksklusif, mahal, dan bercita rasa tinggi.
Pelanggannya pun mulai dari presiden hingga pengusaha.
Mir Senen terlahir dari keluarga kaya-raya dari Palembang. Pada masa paceklik sekitar tahun 1960-an, mendekati masa pecahnya Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu), ayahnya memperoleh banyak barang antik milik masyarakat yang ditukar dengan beras dan gula. Barang antik itu tidak hanya berupa barang pecah-belah melainkan juga kain-kain kuno yang sekarang sudah tak ternilai harganya.
Kini, barang-barang itu ditata rapi di galeri berlantai empat berukuran 20x5 meter di Jalan AKBP HM Amin, Palembang. Dia memang berencana membuat museum koleksi barang seni dan budaya Sumsel, yang nantinya akan diserahkan kepada pemerintah.
Koleksi benda-benda antik inilah yang kemudian menjadi titik awal usaha Mir. Pada mulanya, putra pasangan HM Senen dan Hj Cik Imah ini, tidak mendapat restu orang tua saat menekuni bidang seni. Ayahnya lebih senang kalau Mir kuliah di bidang hukum agar bisa membantu ayahnya yang tuan tanah dan sering punya masalah.
Mir kemudian kuliah di Fakultas Hukum Unsri. Namun ia lalu kabur dari rumah dan meneruskan ke Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan Trisakti, Jakarta, dan mengantongi sertifikat tahun 1976. Usai itu ia pergi ke Yogyakarta, kemudian mendaftar diam-diam di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).
Mir lulus, namun untuk masuk kuliah ia tidak punya uang lagi. Karena dihantui rasa takut tak bisa jadi seniman, Mir kemudian mengirim surat dan minta restu orang tuanya untuk menekuni bidang seni. (sir)
Langganan:
Postingan (Atom)