Rabu, 24 Februari 2010
Senin, 08 Februari 2010
Pusri Jurnalistik Award

Pusri Jurnalistik Award, Apresiasi Pusri untuk Jurnalis
Jakarta—PT Pupuk Sriwijaya dalam usia yang kelima puluh tahun (24 Desember 2009) mengadakan lomba penulisan artikel dan feature terkait dengan peran dan pengabdiannya di dunia industri pupuk dan swasembada pangan di Indonesia.
Manajer Humas PT Pusri, Zain Ismed mengatakan secara langsung ataupun tidak langsung keberadaan produk-produk pupuk Pusri dapat meningkatkan produktifitas hasil pertanian yang pada akhirnya mendukung swasembada dan ketahanan Pangan Nasional. Industri pupuk sangat strategis bagi negara kita yang merupakan negara agraris.
”Bagi petani, jelas sekali produk Pusri memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan,” katanya Senin (8/2).
Dalam rangkain peringatan ulang tahun emas ini, dikatakan Ismed, Pusri mencoba memberikan apresiasi kepada para jurnalis. Berupa diseminasi informasi dan problematika terkait dengan eksistensi perusahaan selama mengabdi bagi kepentingan Tanah Air melalui hajatan penghargaan Pusri Jurnalistik Award (PJA).
”Kegiatan itu juga merupakan bentuk kepedulian konkret dari bagian corporate social responsibility (CSR) PT Pusri kepada wartawan,”ujar Ismed.
Diakui oleh Ismed, media massa memberikan sumbangsih yang tak sedikit bagi perkembangan perusahaan penghasil pupuk ini dan lomba ini merupakan lomba pertama kali dilakukan oleh PT Pusri sejak 50 tahun pabrik pupuk ini berdiri.
”Nah, dalam peringatan ulang tahun emas ini, Pusri mencoba memberikan apresiasi terhadap media massa, khususnya melalui hajatan penghargaan Pusri Jurnalistik Award (PJA),”katanya.
Dalam melakukan kegiatan ini, kata Ismed PT Pusri memberikan hadiah berupa uang tunai dan plakat kepada masing-masing pemenang dalam lomba penulisan artikel dan feature dengan total hadiah mencapai Rp 36 juta rupiah untuk 6 orang pemenang.
Sementara itu, Ida Syahrul dari Media Lintas Informasi yang menjadi pelaksana teknis acara lomba ini mengatakan pihaknya melakukan penjurian terhadap artikel atau feature yang ditulis oleh Jurnalis di media massa masing-masing terkait dengan PT Pusri dalam Industri pupuk selama kurun waktu Juni 2009 sampai Maret 2010.
Selain itu, kata Ida, dalam penjuriannya pihak MLI dan Pusri melibatkan jurnalis, organisasi pers, dan Kementrian BUMN serta internal Pusri.
”Untuk juri dari praktisi media, organisasi pers, dan Kementrian BUMN ,”katanya. Ida berharap, lomba ini bisa diikuti oleh seluruh jurnalis yang ada di Indonesia. Terutama media yang ada di Sumsel, tempat berdirinya pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara ini.
Contact Person:
Ida Syahrul 081271194300
Muhamad Nasir 081368184211
Jumat, 01 Januari 2010
Mir Senen Tutup usia

Budayawan Sumsel, Mir Senen Tutup Usia
Palembang:
Budayawan Sumsel H Muhammad Ali Gathmyr Senen alias Mir Senen meninggal dunia di usia ke-55 setelah didera penyempitan saraf otak, Jumat (1/1) Pukul 00.30 WIB di Rumah Sakit Dr AK Gani Palembang.
Usai disemayamkan di rumah duka yang juga kediaman kakak kandungnya H Jalili Senen, di Jalan Sekip, Lorong Belimbing II,No 5 Palembang, jenazah almarhum langsung diberangkatkan menuju peristirahatan terakhirnya pukul 10.00 WIB.
Pria kelahiran Palembang 5 Mei 1955 itu dikebumikan di Dusun Betung Kabupaten Banyuasin, berdekatan dengan makam kedua orangtuanya yang sudah lebih dulu meninggal dunia. Menurut adik kandung almarhum, Maryam Senen atau Nung Yah, sebelum meninggal dunia kesehatan kakaknya memang sempat terganggu, selain menderita prostat alhmarhum juga mengalami gagal ginjal dan stroke.
Puncaknya tiga hari lalu, almarhum terkena stroke dan dilarikan ke Rumah Sakit AK Gani. “Sebenarnya agak lama ya,tapi dia takut disuntik.Dia juga sempat berobat ke Malaysia dan agak baikan, tapi terakhir ada penyempitan syaraf di otaknya.Kita semua iklas dan sudah dimakamkan di makam keluarga di Betung,” jelasnya.
Terlahir dari keluarga “kayo lamo”, H Muhammad Ali Gathmyr Senen atau biasa dipanggil dengan Mir Senen, hingga kini menjadi pelestari budaya dan seni Sumatera Selatan (Sumsel).
Ribuan koleksinya tersimpan dengan baik dan desain-desain modifikasi songket karyanya seolah membawa pemakainya ke nuansa kejayaan Palembang tempo dulu.
Di Sumsel, siapa yang tidak mengenal Mir Senen. Pria kelahiran Palembang, 5 Mei 1955 ini, terkenal dengan kain songketnya yang eksklusif, mahal, dan bercita rasa tinggi.
Pelanggannya pun mulai dari presiden hingga pengusaha.
Mir Senen terlahir dari keluarga kaya-raya dari Palembang. Pada masa paceklik sekitar tahun 1960-an, mendekati masa pecahnya Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu), ayahnya memperoleh banyak barang antik milik masyarakat yang ditukar dengan beras dan gula. Barang antik itu tidak hanya berupa barang pecah-belah melainkan juga kain-kain kuno yang sekarang sudah tak ternilai harganya.
Kini, barang-barang itu ditata rapi di galeri berlantai empat berukuran 20x5 meter di Jalan AKBP HM Amin, Palembang. Dia memang berencana membuat museum koleksi barang seni dan budaya Sumsel, yang nantinya akan diserahkan kepada pemerintah.
Koleksi benda-benda antik inilah yang kemudian menjadi titik awal usaha Mir. Pada mulanya, putra pasangan HM Senen dan Hj Cik Imah ini, tidak mendapat restu orang tua saat menekuni bidang seni. Ayahnya lebih senang kalau Mir kuliah di bidang hukum agar bisa membantu ayahnya yang tuan tanah dan sering punya masalah.
Mir kemudian kuliah di Fakultas Hukum Unsri. Namun ia lalu kabur dari rumah dan meneruskan ke Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan Trisakti, Jakarta, dan mengantongi sertifikat tahun 1976. Usai itu ia pergi ke Yogyakarta, kemudian mendaftar diam-diam di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).
Mir lulus, namun untuk masuk kuliah ia tidak punya uang lagi. Karena dihantui rasa takut tak bisa jadi seniman, Mir kemudian mengirim surat dan minta restu orang tuanya untuk menekuni bidang seni. (sir)
Musi dan Ampera Awal 2010
Sisa 2009. Seorang pekerja sedang membersihkan sisa-sisa perayaan sambut tahun baru 2010 di Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Jumat (1/1/2010). Malam tahun baru, di tempat ini memang menjadi pusat perayaan di Palembang.
Pertama: Mentari pagi pertama di 2010 muncul dengan garangnya di antara Jembatan Ampera. Meski sempat ditutupi awan, kemunculannya disambut warga Palembang yang mencoba peruntungannya di tahun baru ini.
Musi dan Ampera Akhir 2009
href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKSTxzS7Mqf4tvrlaPLMa96i78D5DQOW-hJylUDw6S1VoOYMws-mYQ5SqJCj8xnZlnN33wKjuJTYyNpzOIlOunrAbiZ9R9eLlfPh0Jf6VD1Xnwnyhg-7l1TiB_RzXHupHZwQ1sKfDbD1k/s1600-h/100_1658i.JPG">
Senja 2009: Senja terakhir 2009 telah berlalu. Mentari kembali ke peraduannya diwarnai mendung di Jembatan Ampera yang bertengger atas Sungai Musi Palembang, Kamis (31/12
2009, Pusri Over Target
Seorang karyawan Pusri sedang memperbaiki benang mesin yang putus saat pengantongan terakhir pupuk Pusri 2009.
Pusri Over Target
Palembang:
Produksi PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) untuk tahun 2009 mampu melampaui target yang ditetapkan dalam RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan). Realisasi produksi Urea mencapai 2.026.710 ton atau 101,3 persen dari target, Ammonia 1.323.800 ton (101,8 persen) dan pupuk Organik sebesar 976 ton atau 162,7 persen dari target.
Demikian dikemukakan Direktur Utama PT Pusri Ir Dadang Heru Kodri dalam acara pengantongan produksi akhir tahun 2009 dan pengantongan perdana tahun 2010 di gudang area 2D Pengantongan Pupuk Urea PT Pusri, Kamis (31/12).
Pengantongan Terakhir: Direksi dan beberapa GM PT Pusri melakukan pengantongan terakhir 2009 Kamis (31/12). Didahului Dirut PT Pupuk Sriwidjaja Dadang Heru Kodri dan diikuti direksi dan beberapa GM melakukan pengantongan terakhir 2009 di pabrik PT Pusri Palembang. Tahun ini, produksi urea Pusri mencapai target yang ditetapkan yakni 2.026.710 ton (101,3%), amoniak 1.323.800 ton (102,8%), dan produksi organic 976 ton (162,7%).
Dalam acara itu selain pengantongan akhir tahun 2009 dan pengantongan awal 2010, dilakukan pula penandatanganan kantong produksi akhir 2009 dan produksi awal 2010. Selanjutnya pembukaan selubung dan penandatanganan papan rekapitulasi hasil kerja PT Pusri Tahun 2009,
Berturut-turut Dirut Ir Dadang Heru Kodri, Direktur Produksi Ir Indra Jaya, Direktur Keuangan Drs Wiyas Y Hasbu AK MBA,Direktur Pemasaran Ir Bowo Kuntohadi, dan Direktur SDM dan Umum Djafarudin Lexy S SE MM.
Penandatanganan Kantong Pupuk: Direksi dan beberapa GM Dirut menandatangani kantong terakhir dan kantong perdana 2009. Didahului PT Pusri Dadang Heru Kodri dan diikuti direksi dan beberapa GM. Pemerintah menetapkan pupuk yang diproduksi tahun 2010 mencapai 6 juta ton. Meningkat 500 ribu ton dibanding tahun sebelumnya. Untuk itu, pabrik ini akan melakukan eifisensi dan optimalisasi guna memenuhi target tersebut.
Dadang mengingatkan bahwa untuk tahun 2010, PT Pusri harus mempersiapkan program kerja perusahaan untuk mendukung program 100 hari pemerintah. Yakni revitalisasi industri pupuk dan gula yang masuk sebagai 15 program kerja unggulan, yang terkait dengan program peningkatan ketahanan pangan nasional.
Dikatakan, kebutuhan pupuk tahun depan semankin meningkat.Khusus untuk memenuhi sektor pangan pemerintah menetapkan bahwa PSO yang harus dipenuhi sebesar 6 juta ton. “Jumlah ini meningkat 500 ribu ton dari tahun 2009,” katanya.
Kepada wartawan Dadang mengatakan untuk tahun 2010 ketersediaan gas untuk produksi PT Pusri masih aman. “Kita berterima kasih kepada Pertamina dan Medco yang memberikan gas yang cukup,” katanya. Sedangkan mengenai HET pupuk urea bersubsidi, dikatakan PT Pusri hanyalah operator yang hanya mengikuti kebijakan pemerintah
Dadang juga menambahkan, untuk tahun 2010 target yang ditetapkan pemerintah sebesar 6 juta ton, meningkat sebesar 500 ribu ton dari tahun 2009.Hal ini sebagai pemenuhan kebutuhan pupuk di dalam negeri sebagai penopang sektor pangan dalam negeri. Terkait kemungkinan adanya kenaikan harga pupuk untuk tahun 2009, itu merupakan kebijakan pemerintah.
“PT Pusri hanya operator dan berkewajiaban memenuhi pencapaain target, masalah kenaikan harga itu hak pemerintah,” tegas Dirut. Selain memproduksi pupuk Urea,Amonia,dan pupuk Organik, PT Pusri juga akan memproduksi pupuk NPK untuk memenuhi kebutuhan pupuk di dalam negeri. (sir)
Selasa, 29 Desember 2009
Membangun Palcomtech dari Rental VCD
Sinar Harapan, edisi Rabu 9 Desember 2009
*Berawal dari Rental VCD
Hendri Sukses Bangun Lembaga Pendidikan
OLEH: MUHAMAD NASIR
PALEMBANG - Memiliki perguruan tinggi dengan 3.000 mahasiswa yang dinobatkan sebagai lembaga pendidikan komputer terbaik tingkat nasional 2007, pemenang IT Growth Special Award dari Telkom Smart Campus Award (Tesca) 2009, serta Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Bidang Pendidikan 2009, Hendri tampil low profile bahkan lugu.
Pada usia yang masih muda, peraih Pemuda Pelopor 2009 ini, ternyata memulai geliatnya justru dari usaha rental VCD di tahun 1998 lalu. Di bilangan Jalan Sudirman, berseberangan dengan Rumah Sakit Muhamad Hoesin (RSMH) pada 1998 Hendri membuka rental VCD DJDisc dengan modal awal Rp 10 juta. Setahun kemudian, dengan bekal ilmu komputernya yang didapat secara otodidak, Hendri dan Maria Veronica (kini menjadi istrinya), memulai usaha warung internet (warnet) DJNet dengan delapan unit komputer.
Di luar perkiraan sebelumnya, usaha warnet yang dirintis dan merupakan warnet keempat di Palembang tersebut ternyata nyaris tutup. ”Soalnya, seminggu pertama hampir tak ada satu pun pengunjung yang datang. Bisa dibayangkan stresnya, ya!” ujar ayah dari dua anak, Velicia Gwen Thalia dan Vernandito Gwen Mario ini.
Lelaki kelahiran Palembang, 14 Juli 1978, ini sempat merenung, memikirkan apa yang menjadi penyebab sepinya pengunjung. Lalu Hendri tak tinggal diam, ia berusaha mencari tahu dengan berbagai cara. Dan ternyata didapat bahwa akar persoalannya adalah masyarakat yang belum familiar dengan dunia maya. Bahkan, penggunaan komputer pun waktu itu belum booming seperti saat ini.

“Data itulah yang didapatnya, yang tentu harus direspons agar warnet bisa tetap bertahan,” tutur putra sulung dari Effendi Yani dan Erlina Tjong yang berbisnis ekspedisi angkutan darat ini.
Dari permasalahan ini, Hendri pun menggagas paket “Pelatihan Internet Singkat Empat Jam Dijamin Langsung Bisa!” dengan konsep 100% praktik 100% internet yang digelar pertama kali gratis dan selanjutnya berbiaya hanya Rp 15.000. Dengan resep itu, otomatis untuk mengelola warnet dan mengajar sendiri sekaligus dilakoninya.
PalComTech
Tak disangka, ternyata inilah awal konsep dan program pendidikan yang kini juga sukses diterapkan di LPK, STMIK, dan Politeknik PalComTech.
Seiring pelatihan internet yang sering digelar di Warnet DJNet, pada tahun 2003 Hendri pun memberanikan diri membuka Lembaga Pendidikan Komputer (LPK), dengan nama PalComTech dan melakukan sinergi antara warnet dan LPK. Melalui warnet DJNet, informasi pelatihan dan penawaran program PalComTech disampaikan.
“Gimana ya, saya memang sangat hobi dengan dunia teknologi informatika (TI). Rata-rata, sehari saya menghabiskan waktu lima jam mengakses internet,” ujarnya.
“E-learning” Tak Laku
Awal membuka LPK itu sendiri tidak disengajanya karena ide awalnya adalah menjual aplikasi e-learning yang berhasil dirancang sembari mengelola warnet. Tapi kenyataan berbicara lain. Pada saat itu aplikasi e-learning masih asing di dunia pendidikan. Dan karena tak ada yang mau menggunakan, Hendri akhirnya memutuskan melakukan uji coba aplikasi ini melalui lembaga yang dibuka, yakni LPK PalComTech.
Jadi, sebenarnya LPK PalComTech sendiri merupakan kelinci percobaan dari aplikasi e-learning. Melalui uji coba tersebut, didapatkan fakta bahwa ternyata belajar komputer yang mudah itu adalah melalui praktik dan internet. Maka, sejak itu PalComTech menggunakan 100% praktik 100% internet sebagai konsep belajar dan tagline.
Warnetnya yang memiliki empat cabang di Palembang kini sudah dilepas. Setelah makin serius menekuni bidang pendidikan di PalComTech, pengelolaan DJNet pun diserahkan kepada karyawannya yang merupakan alumnus PalComTech. Keseriusan ini pun menampakkan hasil, di mana pada tahun 2004 PalComTech membuka cabang di Jambi, lalu pada tahun 2006 berhasil melakukan alih kelola Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Ilmu Komputer (STMIK) dan Politeknik Mahameru menjadi STMIK dan Politeknik PalComTech.
Selanjutnya, pada tahun 2008-2009 pihaknya berhasil membuka cabang di Kota Lahat, Prabumulih, dan Baturaja yang merupakan kota kabupaten di seputar Sumatera Selatan.
Kebanggaan memenangkan berbagai penghargaan tingkat nasional, patut diperhitungkan, sebab PalComTech menjadi satu-satunya lembaga pendidikan di luar Pulau Jawa yang sukses mendulang berbagai prestasi nasional yang bergengsi dan diakui keberhasilan sistem pendidikan dan penerapan TI-nya. n
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/hendri-sukses-bangun-lembaga-pendidikan/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=12&tx_ttnews[days]=9&cHash=0e8923ced6
Sisi Lain
Sulit Diterima Masyarakat

KONSEP pendidikan yang diterapkan di PalComTech awalnya sulit diterima masyarakat, juga oleh lembaga-lembaga sejenis.
Program 100% praktik dan 100% internet memang belum begitu dikenal. Namun, melalui keberanian dan keuletan, Hendri bisa meyakinkan sehingga kini lembaga pendidikan yang didirikannya makin diminati masyarakat.
Tahun ini lembaga ini direncanakan menelurkan ratusan sarjana baru di bidang teknologi informasi. Memang, tak sedikit kendala dan halangan yang dialami, mulai dari keraguan masyarakat atas kualitas layanan pendidikan hingga status lembaga tersebut. Tetapi institusi yang awalnya hanya berupa lembaga pelatihan komputer dalam binaan pendidikan nonformal itu, kini dapat berkembang menjadi perguruan tinggi di bawah binaan Dirjen Pendidikan Tinggi melalui alih kelola perguruan tinggi lainnya.
”Kami belajar dari pengalaman dan selalu merespons perkembangan yang ada agar pendidikan yang kami gagas dapat diterima masyarakat,” kata Hendri yang juga aktif di beberapa lembaga sosial keagamaan ini.
Oleh karena keberhasilannya, Hendri kini dipercaya menjadi narasumber nasional di Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Ditjen PNFI) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) subdit kelembagaan, terutama berkaitan dengan peningkatan mutu dan penguatan manajemen kelembagaan di Indonesia. (sir)
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/sulit-diterima-masyarakat/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=12&tx_ttnews[days]=9&cHash=8582b8480d
*Berawal dari Rental VCD
Hendri Sukses Bangun Lembaga Pendidikan
OLEH: MUHAMAD NASIR
PALEMBANG - Memiliki perguruan tinggi dengan 3.000 mahasiswa yang dinobatkan sebagai lembaga pendidikan komputer terbaik tingkat nasional 2007, pemenang IT Growth Special Award dari Telkom Smart Campus Award (Tesca) 2009, serta Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Bidang Pendidikan 2009, Hendri tampil low profile bahkan lugu.
Pada usia yang masih muda, peraih Pemuda Pelopor 2009 ini, ternyata memulai geliatnya justru dari usaha rental VCD di tahun 1998 lalu. Di bilangan Jalan Sudirman, berseberangan dengan Rumah Sakit Muhamad Hoesin (RSMH) pada 1998 Hendri membuka rental VCD DJDisc dengan modal awal Rp 10 juta. Setahun kemudian, dengan bekal ilmu komputernya yang didapat secara otodidak, Hendri dan Maria Veronica (kini menjadi istrinya), memulai usaha warung internet (warnet) DJNet dengan delapan unit komputer.
Di luar perkiraan sebelumnya, usaha warnet yang dirintis dan merupakan warnet keempat di Palembang tersebut ternyata nyaris tutup. ”Soalnya, seminggu pertama hampir tak ada satu pun pengunjung yang datang. Bisa dibayangkan stresnya, ya!” ujar ayah dari dua anak, Velicia Gwen Thalia dan Vernandito Gwen Mario ini.
Lelaki kelahiran Palembang, 14 Juli 1978, ini sempat merenung, memikirkan apa yang menjadi penyebab sepinya pengunjung. Lalu Hendri tak tinggal diam, ia berusaha mencari tahu dengan berbagai cara. Dan ternyata didapat bahwa akar persoalannya adalah masyarakat yang belum familiar dengan dunia maya. Bahkan, penggunaan komputer pun waktu itu belum booming seperti saat ini.
“Data itulah yang didapatnya, yang tentu harus direspons agar warnet bisa tetap bertahan,” tutur putra sulung dari Effendi Yani dan Erlina Tjong yang berbisnis ekspedisi angkutan darat ini.
Dari permasalahan ini, Hendri pun menggagas paket “Pelatihan Internet Singkat Empat Jam Dijamin Langsung Bisa!” dengan konsep 100% praktik 100% internet yang digelar pertama kali gratis dan selanjutnya berbiaya hanya Rp 15.000. Dengan resep itu, otomatis untuk mengelola warnet dan mengajar sendiri sekaligus dilakoninya.
PalComTech
Tak disangka, ternyata inilah awal konsep dan program pendidikan yang kini juga sukses diterapkan di LPK, STMIK, dan Politeknik PalComTech.
Seiring pelatihan internet yang sering digelar di Warnet DJNet, pada tahun 2003 Hendri pun memberanikan diri membuka Lembaga Pendidikan Komputer (LPK), dengan nama PalComTech dan melakukan sinergi antara warnet dan LPK. Melalui warnet DJNet, informasi pelatihan dan penawaran program PalComTech disampaikan.
“Gimana ya, saya memang sangat hobi dengan dunia teknologi informatika (TI). Rata-rata, sehari saya menghabiskan waktu lima jam mengakses internet,” ujarnya.
“E-learning” Tak Laku
Awal membuka LPK itu sendiri tidak disengajanya karena ide awalnya adalah menjual aplikasi e-learning yang berhasil dirancang sembari mengelola warnet. Tapi kenyataan berbicara lain. Pada saat itu aplikasi e-learning masih asing di dunia pendidikan. Dan karena tak ada yang mau menggunakan, Hendri akhirnya memutuskan melakukan uji coba aplikasi ini melalui lembaga yang dibuka, yakni LPK PalComTech.
Jadi, sebenarnya LPK PalComTech sendiri merupakan kelinci percobaan dari aplikasi e-learning. Melalui uji coba tersebut, didapatkan fakta bahwa ternyata belajar komputer yang mudah itu adalah melalui praktik dan internet. Maka, sejak itu PalComTech menggunakan 100% praktik 100% internet sebagai konsep belajar dan tagline.
Warnetnya yang memiliki empat cabang di Palembang kini sudah dilepas. Setelah makin serius menekuni bidang pendidikan di PalComTech, pengelolaan DJNet pun diserahkan kepada karyawannya yang merupakan alumnus PalComTech. Keseriusan ini pun menampakkan hasil, di mana pada tahun 2004 PalComTech membuka cabang di Jambi, lalu pada tahun 2006 berhasil melakukan alih kelola Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Ilmu Komputer (STMIK) dan Politeknik Mahameru menjadi STMIK dan Politeknik PalComTech.
Selanjutnya, pada tahun 2008-2009 pihaknya berhasil membuka cabang di Kota Lahat, Prabumulih, dan Baturaja yang merupakan kota kabupaten di seputar Sumatera Selatan.
Kebanggaan memenangkan berbagai penghargaan tingkat nasional, patut diperhitungkan, sebab PalComTech menjadi satu-satunya lembaga pendidikan di luar Pulau Jawa yang sukses mendulang berbagai prestasi nasional yang bergengsi dan diakui keberhasilan sistem pendidikan dan penerapan TI-nya. n
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/hendri-sukses-bangun-lembaga-pendidikan/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=12&tx_ttnews[days]=9&cHash=0e8923ced6
Sisi Lain
Sulit Diterima Masyarakat
KONSEP pendidikan yang diterapkan di PalComTech awalnya sulit diterima masyarakat, juga oleh lembaga-lembaga sejenis.
Program 100% praktik dan 100% internet memang belum begitu dikenal. Namun, melalui keberanian dan keuletan, Hendri bisa meyakinkan sehingga kini lembaga pendidikan yang didirikannya makin diminati masyarakat.
Tahun ini lembaga ini direncanakan menelurkan ratusan sarjana baru di bidang teknologi informasi. Memang, tak sedikit kendala dan halangan yang dialami, mulai dari keraguan masyarakat atas kualitas layanan pendidikan hingga status lembaga tersebut. Tetapi institusi yang awalnya hanya berupa lembaga pelatihan komputer dalam binaan pendidikan nonformal itu, kini dapat berkembang menjadi perguruan tinggi di bawah binaan Dirjen Pendidikan Tinggi melalui alih kelola perguruan tinggi lainnya.
”Kami belajar dari pengalaman dan selalu merespons perkembangan yang ada agar pendidikan yang kami gagas dapat diterima masyarakat,” kata Hendri yang juga aktif di beberapa lembaga sosial keagamaan ini.
Oleh karena keberhasilannya, Hendri kini dipercaya menjadi narasumber nasional di Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Ditjen PNFI) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) subdit kelembagaan, terutama berkaitan dengan peningkatan mutu dan penguatan manajemen kelembagaan di Indonesia. (sir)
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/sulit-diterima-masyarakat/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=12&tx_ttnews[days]=9&cHash=8582b8480d
Minggu, 29 November 2009
Mir Senen Pelestari Seni Palembang
Sinar Harapan, Selasa 27 Mei 2007
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/29/hib09.html
PROFIL
Muhammad Ali Gathmyr Senen,
Pelestari Seni Sumsel
Oleh
Muhamad Nasir
PALEMBANG - Terlahir dari keluarga “kayo lamo”, H Muhammad Ali Gathmyr Senen atau biasa dipanggil dengan Mir Senen, hingga kini menjadi pelestari budaya dan seni Sumatera Selatan (Sumsel).

Mir Senen
sumber foto:http://foto.detik.com/readfoto/2008/09/18/083842/1008174/157/5/
Ribuan koleksinya tersimpan dengan baik dan desain-desain modifikasi songket karyanya seolah membawa pemakainya ke nuansa kejayaan Palembang tempo dulu.
Di Sumsel, siapa yang tidak mengenal Mir Senen. Pria kelahiran Palembang, 5 Mei 1955 ini, terkenal dengan kain songketnya yang eksklusif, mahal, dan bercita rasa tinggi. Pelanggannya pun mulai dari presiden hingga pengusaha.
Mir Senen terlahir dari keluarga kaya-raya dari Palembang. Pada masa paceklik sekitar tahun 1960-an, mendekati masa pecahnya Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu), ayahnya memperoleh banyak barang antik milik masyarakat yang ditukar dengan beras dan gula. Barang antik itu tidak hanya berupa barang pecah-belah melainkan juga kain-kain kuno yang sekarang sudah tak ternilai harganya.
Kini, barang-barang itu ditata rapi di galeri berlantai empat berukuran 20x5 meter di Jalan AKBP HM Amin, Palembang. Dia memang berencana membuat museum koleksi barang seni dan budaya Sumsel, yang nantinya akan diserahkan kepada pemerintah.
Koleksi benda-benda antik inilah yang kemudian menjadi titik awal usaha Mir. Pada mulanya, putra pasangan HM Senen dan Hj Cik Imah ini, tidak mendapat restu orang tua saat menekuni bidang seni. Ayahnya lebih senang kalau Mir kuliah di bidang hukum agar bisa membantu ayahnya yang tuan tanah dan sering punya masalah.
Mir kemudian kuliah di Fakultas Hukum Unsri. Namun ia lalu kabur dari rumah dan meneruskan ke Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan Trisakti, Jakarta, dan mengantongi sertifikat tahun 1976. Usai itu ia pergi ke Yogyakarta, kemudian mendaftar diam-diam di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).
Mir lulus, namun untuk masuk kuliah ia tidak punya uang lagi. Karena dihantui rasa takut tak bisa jadi seniman, Mir kemudian mengirim surat dan minta restu orang tuanya untuk menekuni bidang seni.

sumber foto: http://foto.detik.com/images/content/2008/09/18/157/museum2.jpg
Suasana di lantai II Galeri Mir Senen
Tak dinyana, sang ayah luluh juga. Sampai akhirnya Mir lulus dari jurusan Interior Dekorasi ASRI tahun 1978. Di Yogya ia banyak mendapat bimbingan dari Amri Yahya. Ia juga banyak berkecimpung di keraton serta bergaul dengan para seniman. Bimbingan dan pergaulannya itu merupakan “bekal hidup” yang kemudian dibawanya pulang ke Palembang.
Ayahnya menghendaki dia melanjutkan sekolah di Australia. Selama dua tahun anak ketiga dari delapan bersaudara ini lantas mengenyam pendidikan di Mr Wood Collage Australia. Di sini dia belajar berbagai hal di bidang seni, termasuk bagaimana perilaku dunia intenasional terhadap hasil karya seni Indonesia.
Pencipta Pelaminan
Mir kemudian menjadi pionir pencipta pelaminan khas Palembang, sekitar tahun 1980. Mulai kursi, lemari, hingga pelaminannya khas Palembang. Banyaknya peminat pada waktu itu, membuat Mir mengajak temannya dari Yogya untuk membuat kursi dan lemari hias pengantin.
Kecintaan peraih penghargaan upakarti tahun 1995 ini semakin melambung namanya sebagai seniman sekaligus perancang kain tradisional Sumatera Selatan. Mulai dari batik Palembang, kain pelangi, hingga songket Palembang, dia ciptakan dengan melakukan modifikasi sehingga digemari dunia internasional. Omzetnya kini mencapai Rp 600-700 juta per bulan.
Mir juga aktif membina perajin muda. Dari sekitar 5.000 muridnya, sudah sekitar 70 orang yang membuka usaha sendiri. ”Sebetulnya jumlah ini sangat sedikit ya, tapi saya tidak harus ngotot. Yang penting saya sudah melahirkan Mir Senen-Mir Senen baru yang bisa menggantikan posisi saya kelak,” ungkapnya.
Dengan motto a differently from the handmade master art yang diusungnya, kreasi Mir kini tersebar di dunia. Dia sangat paham selera orang Prancis atau Timur Tengah, dan ia punya pelanggan tetap para petinggi Malaysia dan Brunei Darussalam.
Dari modal satu ruko, kini usaha Mir sudah berkembang di atas lahan sekitar 1 hektare. Kawasan Serelo, 24 Ilir, nyaris merupakan area seni yang menjadi tempat usaha Mir Senen. Namun Mir berharap pemerintah membantu industri kerajinan Palembang untuk memperoleh bahan baku kain, seperti benang emas, benang dan kain sutera. Sebab selama ini ia membelinya di luar negeri atau Jakarta, sementara para perajin terpaksa membelinya dari tengkulak. n
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/29/hib09.html
PROFIL
Muhammad Ali Gathmyr Senen,
Pelestari Seni Sumsel
Oleh
Muhamad Nasir
PALEMBANG - Terlahir dari keluarga “kayo lamo”, H Muhammad Ali Gathmyr Senen atau biasa dipanggil dengan Mir Senen, hingga kini menjadi pelestari budaya dan seni Sumatera Selatan (Sumsel).

Mir Senen
sumber foto:http://foto.detik.com/readfoto/2008/09/18/083842/1008174/157/5/
Ribuan koleksinya tersimpan dengan baik dan desain-desain modifikasi songket karyanya seolah membawa pemakainya ke nuansa kejayaan Palembang tempo dulu.
Di Sumsel, siapa yang tidak mengenal Mir Senen. Pria kelahiran Palembang, 5 Mei 1955 ini, terkenal dengan kain songketnya yang eksklusif, mahal, dan bercita rasa tinggi. Pelanggannya pun mulai dari presiden hingga pengusaha.
Mir Senen terlahir dari keluarga kaya-raya dari Palembang. Pada masa paceklik sekitar tahun 1960-an, mendekati masa pecahnya Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu), ayahnya memperoleh banyak barang antik milik masyarakat yang ditukar dengan beras dan gula. Barang antik itu tidak hanya berupa barang pecah-belah melainkan juga kain-kain kuno yang sekarang sudah tak ternilai harganya.
Kini, barang-barang itu ditata rapi di galeri berlantai empat berukuran 20x5 meter di Jalan AKBP HM Amin, Palembang. Dia memang berencana membuat museum koleksi barang seni dan budaya Sumsel, yang nantinya akan diserahkan kepada pemerintah.
Koleksi benda-benda antik inilah yang kemudian menjadi titik awal usaha Mir. Pada mulanya, putra pasangan HM Senen dan Hj Cik Imah ini, tidak mendapat restu orang tua saat menekuni bidang seni. Ayahnya lebih senang kalau Mir kuliah di bidang hukum agar bisa membantu ayahnya yang tuan tanah dan sering punya masalah.
Mir kemudian kuliah di Fakultas Hukum Unsri. Namun ia lalu kabur dari rumah dan meneruskan ke Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan Trisakti, Jakarta, dan mengantongi sertifikat tahun 1976. Usai itu ia pergi ke Yogyakarta, kemudian mendaftar diam-diam di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).
Mir lulus, namun untuk masuk kuliah ia tidak punya uang lagi. Karena dihantui rasa takut tak bisa jadi seniman, Mir kemudian mengirim surat dan minta restu orang tuanya untuk menekuni bidang seni.

sumber foto: http://foto.detik.com/images/content/2008/09/18/157/museum2.jpg
Suasana di lantai II Galeri Mir Senen
Tak dinyana, sang ayah luluh juga. Sampai akhirnya Mir lulus dari jurusan Interior Dekorasi ASRI tahun 1978. Di Yogya ia banyak mendapat bimbingan dari Amri Yahya. Ia juga banyak berkecimpung di keraton serta bergaul dengan para seniman. Bimbingan dan pergaulannya itu merupakan “bekal hidup” yang kemudian dibawanya pulang ke Palembang.
Ayahnya menghendaki dia melanjutkan sekolah di Australia. Selama dua tahun anak ketiga dari delapan bersaudara ini lantas mengenyam pendidikan di Mr Wood Collage Australia. Di sini dia belajar berbagai hal di bidang seni, termasuk bagaimana perilaku dunia intenasional terhadap hasil karya seni Indonesia.
Pencipta Pelaminan
Mir kemudian menjadi pionir pencipta pelaminan khas Palembang, sekitar tahun 1980. Mulai kursi, lemari, hingga pelaminannya khas Palembang. Banyaknya peminat pada waktu itu, membuat Mir mengajak temannya dari Yogya untuk membuat kursi dan lemari hias pengantin.
Kecintaan peraih penghargaan upakarti tahun 1995 ini semakin melambung namanya sebagai seniman sekaligus perancang kain tradisional Sumatera Selatan. Mulai dari batik Palembang, kain pelangi, hingga songket Palembang, dia ciptakan dengan melakukan modifikasi sehingga digemari dunia internasional. Omzetnya kini mencapai Rp 600-700 juta per bulan.
Mir juga aktif membina perajin muda. Dari sekitar 5.000 muridnya, sudah sekitar 70 orang yang membuka usaha sendiri. ”Sebetulnya jumlah ini sangat sedikit ya, tapi saya tidak harus ngotot. Yang penting saya sudah melahirkan Mir Senen-Mir Senen baru yang bisa menggantikan posisi saya kelak,” ungkapnya.
Dengan motto a differently from the handmade master art yang diusungnya, kreasi Mir kini tersebar di dunia. Dia sangat paham selera orang Prancis atau Timur Tengah, dan ia punya pelanggan tetap para petinggi Malaysia dan Brunei Darussalam.
Dari modal satu ruko, kini usaha Mir sudah berkembang di atas lahan sekitar 1 hektare. Kawasan Serelo, 24 Ilir, nyaris merupakan area seni yang menjadi tempat usaha Mir Senen. Namun Mir berharap pemerintah membantu industri kerajinan Palembang untuk memperoleh bahan baku kain, seperti benang emas, benang dan kain sutera. Sebab selama ini ia membelinya di luar negeri atau Jakarta, sementara para perajin terpaksa membelinya dari tengkulak. n
Selasa, 24 November 2009
Telkomsel Luncurkan Simpati M@x
VP Telkomsel Sumatera Area, Mirza budiwan (tengah) bersama GM Sales & Customer Service Telkomsel Regional Sumbagsel, I Ketut Susila Dharma (kanan), dan GM Network Operation Telkomsel Regional Sumbagsel, Cecep Riswanda (kiri), saat peluncuran paket perdana simPATI edisi terbaru bernama simPATI M@X yang dilengkapi berbagai bonus maksimal berupa gratis konten senilai lebih dari Rp 100 ribu yang dapat diakses melalui *999#.
SimPATI M@X Berikan Bonus Maksimal
Palembang, 24 November 2009
Telkomsel meluncurkan paket perdana simPATI edisi terbaru bernama simPATI M@X yang dilengkapi berbagai bonus maksimal berupa gratis konten senilai lebih dari Rp 100 ribu yang dapat diakses melalui *999#.
VP Sumatera Area, Mirza Budiwan mengatakan, “Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1997, simPATI telah menjadi produk yang paling digemari para pengguna ponsel. Terbukti kini jumlah pelanggan simPATI telah mencapai lebih dari 57 juta pelanggan atau lebih dari dua kali lipat jumlah pelanggan operator selular terbesar kedua di Indonesia.”
simPATI merupakan kartu prabayar GSM isi ulang pertama di Indonesia bahkan di Asia. Kepeloporan serta layanan lengkap simPATI dalam memberikan solusi bagi para pengguna jasa selular mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat dengan diraihnya penghargaan Top Brand Award dan Indonesian Customer Satisfaction Award sebagai kartu prabayar terbaik selama 10 tahun berturut-turut.
“Kami menyadari bahwa kepercayaan yang sangat tinggi dari pelanggan ini merupakan amanah bagi kami untuk terus memberikan pelayanan yang lebih maksimal bagi pelanggan. Kehadiran simPATI M@X yang dilengkapi berbagai bonus fitur dan layanan kami harapkan dapat dimaksimalkan pelanggan untuk menunjang aktivitas mobile lifestyle-nya, sejalan dengan visi kami sebagai operator selular penyedia solusi layanan mobile lifestyle terbaik dan terunggul di Asia Pasifik,” jelas Mirza.
Paket perdana simPATI M@X seharga Rp 10.000 termasuk di dalamnya pulsa senilai total Rp 10.000 yang terdiri dari pulsa utama Rp 5.000 yang dapat digunakan untuk komunikasi suara, SMS, dan data ke semua operator serta bonus pulsa Rp 5.000 untuk komunikasi ke lebih dari 80 juta pelanggan Telkomsel.
Di samping itu, pelanggan juga mendapat gratis akses internet sebesar 5 MB yang bisa digunakan di ponsel maupun modem untuk akses email, chatting, browsing, social networking, dan sebagainya. Sebagai gambaran, gratis layanan data 5 MB ini dapat digunakan untuk 100 email atau 500 halaman WAP.
Para Model memamerkan paket perdana simPATI edisi terbaru saat peluncuran simPATI M@X yang dilengkapi berbagai bonus maksimal berupa gratis konten senilai lebih dari Rp 100 ribu yang dapat diakses melalui *999#.
Setiap melakukan isi ulang pulsa minimal Rp 20.000, pelanggan simPATI akan memperoleh bonus pulsa Rp 2.500 untuk isi ulang pertama dan kedua, bonus Rp 5.000 untuk isi ulang ketiga dan keempat, serta bonus akses internet 5 MB untuk isi ulang kelima. Bahkan selama periode promo hingga 5 Januari 2010 pelanggan akan memperoleh tambahan pulsa masing-masing Rp 5.000 untuk isi ulang pertama dan kedua.
Keistimewaan simPATI M@X ini adalah bonus maksimal senilai lebih dari Rp 100 ribu yang dapat dinikmati pelanggan secara gratis. Cukup tekan *999# lalu OK/yes, selanjutnya pelanggan dapat menikmati bonus konten-konten menarik, seperti:
• Games (EA Games, Disney Games)
• Ringtone (Andra & The BackBone, Ungu, Madonna, Michael Jackson, dsb.)
• Wallpaper (Bunga Citra Lestari, Chelsea Olivia, Motor Racing, Formula Racing, dsb.)
• Dan yang akan datang dalam waktu dekat ini berupa Paket mingguan untuk Chatting dan Social Networking (Facebook, Mig33, eBuddy, dan Nimbuzz).
Pengguna kartu perdana simPATI M@X juga dapat menikmati layanan simPATI TALKMANIA, yakni bebas nelpon berkali-kali seharian selama 1 jam dan gratis 30 SMS ke seluruh nomor Telkomsel. Cukup kirim SMS, ketik TM
Selain tarif yang makin hemat, kemanfaatan simPATI semakin lengkap dengan berbagai fitur dan layanan, seperti: Layanan 3G (WCDMA/HSDPA), Roaming Internasional ke lebih dari 200 negara, Transfer Pulsa, Paket BlackBerry (Unlimited, Business, dan Lifestyle), Mobile Banking, Mobile Wallet T-Cash, T-Remitt (transfer uang di luar negeri), Mobile Broadband Telkomsel Flash, PopScreen (pop-up info dan konten yang langsung hadir di layar ponsel), dan sebagainya.
Semua keistimewaan ini dapat dinikmati oleh seluruh pelanggan simPATI baik Perdana lama maupun Perdana simPATI M@X yang mengaktifkan kartunya mulai tanggal 24 November 2009.
Untuk menjamin kelancaran komunikasi pelanggan dalam menikmati tarif murah serta berbagai fitur dan layanan simPATI, Telkomsel telah menyiapkan jaringan terluas hingga pelosok yang menjangkau hampir 100 persen wilayah populasi Indonesia dengan menggelar lebih dari 30.000 BTS, termasuk sekitar 4.500 Node B atau BTS 3G untuk kenyamanan komunikasi data.
==========
Tentang Telkomsel (www.telkomsel.com)
Saat ini Telkomsel dimiliki oleh pemegang saham PT Telkom 65% dan SingTel 35%. Sebagai service leader layanan selular di Indonesia, Telkomsel saat ini dipercaya melayani lebih dari 80 juta pelanggan atau sekitar 50% pengguna selular di Indonesia.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Ricardo Indra – GM Corporate Communications Telkomsel
kartuHALO/email : 08118708090 / ricardo_indra@telkomsel.co.id
Untuk Informasi lebih lanjut, hubungi:
Hadi Sucipto – Corporate Communications Regional Sumbagsel
PT.TELKOMSEL , Gedung TTC,Jl.Demang Lebar Daun No. 72 A Palembang
e-mail : hadi_sucipto@telkomsel.co.id ,
Release Blog : www.haditelkomsel.co.cc
kartuHALO : 0811 65 64 63
Wartawan Sumsel Anti Kriminalisasi Pers
http://images.sripoku.com/index.php?mode=detail&id=1015
Sriwijaya Post, 24 November 2009
Tiga wartawan foto yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Palembang ambil bagian dalam aksi solidaritas menolak aksi kriminalisasi pers, di Mapolda Sumsel, Senin (23/11). Sebelumnya, para wartawan ini berjalan kaki sambil membawa spanduk penolakan kriminalisasi pers. Wartawan diterima Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Kombes Abdul Gofur. SRIWIJAYA POST/SYAHRUL HIDAYAT
PHOTOGRAPHER : Syahrul Hidayat CREDIT : Sriwijaya Post
BYLINE TITLE : STF SOURCE : Sriwijaya Post
CAPTION WRITER : Sriwijaya Post/Syahrul Hidayat CITY : Palembang
CATEGORY : DIS PROVINCE : Sumsel
SUPP CATEGORY : Demonstrasi COUNTRY : Indonesia
DATE CREATED : 20091123 COPYRIGHT : Sriwijaya Post
SPECIAL INSTRUCTIONS :
Langganan:
Postingan (Atom)