Selasa, 02 September 2014

Pusat Pengembangan Perikanan Kawasan Asean Diresmikan di Palembang



Palembang:Pusat pengembangan perikanan perairan umum untuk kawasan ASEAN diresmikan di Palembang pada Selasa (2/9).

Pusat pengembangan yang diberi nama Inland Fishery Resource Development and Management Department (IFRDMD) berperan sebagai pusat pengembangan sumber daya perairan umum dari negara-negara ASEAN.

"Pusat pengembangan ini sangat penting untuk meningkatkan dan menjaga perairan umum Indonesia yang belum optimal dimanfaatkan," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja di Palembang.

Menurut Syarif, pusat pengembangan ini dibangun di atas tanah seluas satu hektar dan ditargetkan selesai pada Desember. Pada Januari, diharapkan sudah mulai beroperasi.

Bentuk kerjasama yang akan dilakukan yaitu penelitian untuk mengidentifikasi sumber hayati yang ada di perairan umum.

"Kita juga akan mengadopsi teknologi dari berbagai negara yang ikut dalam program ini dan mempelajari model manajemen pengelolaan air dan danau yang berkelanjutan," kata Syarief.

Ada 11 negara ASEAN yang berperan dalam pembangunan IFRDMD dimana negara-negara ini tergabung dalam Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC) ditambah dengan Jepang.

Menurutnya, Indonesia punya kepentingan untuk menjaga keberlangsungan air yang berada di perairan umum sekaligus menjaga kualitas sumber daya hayati yang ada di dalamnya, sehingga pembangunan pusat pengembangan ini begitu penting.

"Ikan air tawar ini berperan sebagai ketahanan pangan masyarakat di sekitarnya. Jika kita tidak bisa menjaganya maka ke depan sumber pangan masyarakat juga akan habis," kata Syarief.

Ancaman terhadap keberlangsungan hayati di perairan dalam memang tidak bisa terpisahkan dari aktivitas masyarakat dan industri di sekitarnya.

"Potensi penurunan pasti ada karena dari aktivitas masyarakat dan industri tersebut. Makanya mulai sekarang perlu diidentifikasi ikan mana saja yang mulai langka," kata Kepala Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan Achmad Poernomo pada kesempatan yang sama.

Ancaman nyata yang sudah terlihat saat ini adalah mulai sulit ditemukannya ikan belida di perairan Sungai Musi karena penangkapan yang masif. Ikan belida banyak ditangkap karena dijadikan bahan baku pembuatan kerupuk dan pempek, makanan khas Palembang.

Dia mengungkapkan setelah nanti teridentifikasi, pusat pengembangan akan mengeluarkan rekomendasi-rekomendasi kepada pemerintah agar membuat aturan untuk melindungi perairan dalam. Juga akan memberikan rekomendasi teknologi yang terbaik untuk meningkatkan potensi perairan dalam.

Usaha untuk meningkatkan potensi perairan salah satunya dengan domestifikasi yaitu pembiakan ikan liar di suatu tempat tertentu. Misalnya pembiakan ikan belida dan ikan gabus di kolam-kolam

Sekjen SEAFDEC Chumnarn Pongsri mengaku pembangunan pusat pengembangan ini sangat bermanfaat untuk menjaga keberlangsungan hayati perairan dalam.

"Selama ini perairan dalam seperti terpinggirkan dan kurang diperhatikan. Padahal ini sangat penting dalam menunjang kebutuhan pangan penduduk di sekitarnya," ujar dia.

Tetapi dia mengaku saat ini terkendala pada tidak adanya penelitian yang mengidentifikasi kondisi perairan dalam dan ikan-ikan mana saja yang masih ada atau juga terancam punah.

"Pemerintah Indonesia sudah sangat baik membangun fasilitas ini untuk kemajuan perikanan air dalam," kata dia.

Para peneliti setelah ini mulai ditugaskan untuk meneliti perairan dalam Indonesia.

Syarief Widjaja menegaskan peneliti Indonesia juga diberi kesempatan untuk meneliti di perairan dalam di negara ASEAN lainnya. Tidak hanya membuka akses kepada peneliti luar.

Indonesia memiliki potensi 54juta hektar perairan sungai, danau, dan rawa yang terluas di ASEAN. Luasan tersebut terdiri dari 12 juta hektar perairan sungai dan paparan banjirnya dan 39 juta hektar perairan rawa. Sedangkan 2 juta hektar merupakan perairan danau dan badan air lainnya.

Dari total potensi perikanan perairan umum Indonesia yang mencapai 1juta ton per tahun, hanya 50 persennya termanfaatkan.

Sebagai "mega biodiversity country", perairan umum Indonesia kaya akan biota dan hingga saat ini tercatat kurang lebih terdapat 1.200 jenis ikan, dimana 210 diantaranya tersimpan sebagai awetan basah di Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum (BP3U) Palembang, 200 jenis udang dan kepiting, 315 jenis moluska, 200 jenis spesies amfibia, 100 jenis reptilia dan sebagainya. (sir)

Tidak ada komentar: