Senin, 17 Januari 2011

Menikmati Metamorfosis Kota Tambang Ombilin, Sawahlunto






Sawahlunto: Menjadi kawasan penambangan batubara pertama di Indonesia, Sawahlunto memamg kini tak potensial lagi. Dengan berbagai fasilitas eks tambang dan kondisinya, kini Sawahlunto justru disulap menjadi potensi wisata.

Wartawan Sinar Harapan berkesempatan diajak meninjau objek wisata tersebut bersama wartawan lainnya dalam kunjungan jurnalistik pecan lalu oleh PT Bukit Asam (PT BA). Berikut laporannya.

Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, sepertinya menjadi magnet bagi daerah ini selain Bukit tinggi. Lokasi bekas galian tambang batu bara ini memang menjadi trade mark kota berpagar bukit itu. Pemerintah Kota Sawahlunto dan PT Bukit Asam (PTBA) sejak 2003 lalu mengemas bekas lokasi pertambangan menjadi daerah tujuan wisata.

Selain turis-turis domestik, turis-turis mancanegara dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam banyak yang tertarik datang ke sana. Di tempat wisata tambang itu memang banyak objek yang menarik untuk dikunjungi.

Kini, memang objek wisata ini terus menggeliat. Menurut Wakil Walikota Sawahlunto Erizal Ridwan, kalau saat dibuka wisatan hanya berkisar 1.500/tahun, kini mencapai 680.000 wisatawan/tahun



Kota Sawahlunto merupakan salah satu kota di Sumatera Barat yang pembangunannya bersentuhan langsung dengan pemerintah kolonial Bulanda. Hal itu ditandai dengan aktifitas penambangan yang sudah berlangsung sejak pemerintahan kolonial itu.

Bukti kuat keterlibatan kolonial dalam perkembangan pembangunan Kota Sawahlunto adalah peninggalan bangunan-bangunan bersejarah yang mencapai ratusan unit. Bahkan, beberapa bangunan itu sudah dijadikan Pemko Sawahlunto sebagai tempat museum, kantor pemerintah dan beberapa situs kebudayaan. Kota ini juga merupakan salah satu kota yang terletak di kawasan Bukit Barisan serta memiliki riwayat pertumbuhan kota yang berbeda dengan kota-kota lainnya di Sumatera.

Melihat kandungan batubara yang dimiliki bumi Sawahlunto mendorong para ahli untuk melakukan penelitian lanjutan. Diawali pada tahun 1858, Ir.G.De Groet menemukan deposit batubara di daerah Timur Danau Singkarak, di sekitar sungai Ombilin. Kemudian penyelidikan dilakukan oleh Ir.WH. De Greve dan Opzechter kals-hoven di tahun 1867 hingga mencapai Kota Sawahlunto. Penyelidikan yang lebih seksama dilanjutkannya oleh Ir. R.D.M. Varbeck.

Potensi ekonomi yang begitu besar inilah yang membuat bangsa Belanda tidak ragu-ragu untuk menanamkan modal sebanyak 5,5 juta golden untuk investasi pemukiman pekerja tambang dan fasilitas perusahaan tambang Ombilin tahun 1887. penambangan dimulai 1892.

Kota bekas industri tambang batubara ini pulalah yang pertama ada di Indonesia. Bahkan hingga sekarang masih memiliki jati diri sebagai gemeentelijk resort (penetapan sebagai Gemeente 1918) yang masih bisa dirasakan dan dilihat pada waktu pertama kali memasuki kota berbentuk kuali ini.
Berjarak 94 km dari Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat, Sawahlunto bisa dicapai dalam waktu sekitar 3 jam.

Kota Sawahlunto, sendiri bisa dicapai dengan jalan darat sepanjang 6 km dari Muaro Kalaban (jalan pintas Sumatera Barat). Disamping itu juga bisa dicapai dengan lori wisata (di stasiun kereta api Muaro Kalaban) yang akan menghantar para wisatawan melalui "lubang kalam/terowongan" sepanjang 800 meter yang pengerjaannya selesai pada tanggal 1 ]anuari 1894 lalu.

Menurut GM Sawahlunto, Harun Alrasyid Tahun 1990, luas daerah penambangan mencapai 15.000 ha. Sejak 2003 tambang terbuka (Tamka) ditutup dan luas KP diciutkn hanya 3.950 ha di Sawahlunto dan Sawahlunto Sijunjung. Tenaga kerja yang tadinya berkisar 900 hanya tersisa 245 orang.

Produksi saat ini 5.000 ton/tahun hanya untuk pasokan PT Semen Padang. Bisnisnya, kini hanya tambang dalam (Tamda), dan sewa jasa pelabuhan Teluk Bayur.

Objek

Salah satu objek wisata di Sawahlunto ialah gedung pusat informasi sejarah dan kebesaran pertambangan Ombilin atau Info Box. Konon, gedung itu dulunya merupakan tempat bersantai para pekerja tambang untuk melepas penat setelah seharian bekerja. Selain sebagai tempat rekreasi, ketika kegiatan pertambangan masih berlangsung, gedung tersebut juga kerap digunakan sebagai tempat pertemuan karyawan. Gedung itu kemudian dialihfungsikan menjadi perumahan karyawan pada 1970-an.

Tak jauh dari Info Box terdapat lubang mirip gua. Lubang yang dikenal dengan sebutan Lobang Mbah Soero itu merupakan eks tambang batu bara bawah tanah. Nama Mbah Soero diambil dari nama mandor yang “berkuasa” ketika aktivitas pertambangan masih berlangsung. Bagi wisatawan, objek tersebut terbilang menarik dan mampu memberi pengalaman tersendiri. Betapa tidak, wisatawan mesti menyusuri lubang sepanjang 200 meter yang berada pada kedalaman 258 meter di bawah permukaan laut.

Setiap wisatawan yang masuk ke Lobang Mbah Soero seakan-akan merasakan atmosfer sebagai pekerja tambang pada masa lalu. Apalagi para pengunjung juga mesti mengenakan seragam pekerja tambang yang telah disiapkan oleh pengelola objek wisata tambang.

Keadaan lubang yang gelap ditambah dengan bunyi deru roda pengangkut bahan tambang yang berjalan di atas lubang menjadikan pengunjung larut dalam suasana yang mengasyikan. Dari sekitar 800 meter lorong tersebut, kini yang bisa dinikmati sekitar 200 meter. Beberapa lorong masih ditutup. Di sepanjang lorong yang berliku terdapat beberapa bagian yang digunakan untuk menghindar ketika ada lori batubara lewat. Juga ada lobang yang diperkirakan tempat menempatkan tumbal. Ketika pertama dibuka beberapa tahun lalu, menurut penjaga lobang Mbah Soero, Soerono, ditemukan banyak kerangka manusia.



Di dalam lubang tersebut juga kerap terdengar suara tetesan air yang bersumber dari mata air. Karenanya, suasana di lubang pertambangan itu tak ubahnya suasana gua yang banyak dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia. Sebenarnya ada cerita menarik di balik Lobang Mbah Soero tersebut. Konon, Mbah Soero adalah seorang mandor yang memPunyai ilmu kanuragan sangat tinggi, tegas, dan taat beragama. Tidak heran jika dia sangat disegani oleh para pekerja tambang. Dulu, para penambang yang bekerja di lubang Mbah Soero itu dikenal sebagai orang-orang rantai atau hukuman.

Nah, cerita itulah yang kemudian menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Ketika memasuki lokasi tambang bawah tanah itu, para wisatawan tidak perlu khawatir merasa kepanasan. Pasalnya, di dalamnya telah dilengkapi lampu penerangan dan alat pendingin ruangan, sehingga suasana pertambangan tempo dulu itu pun terasa nyaman dan sejuk. Soerono, pendamping wisatawan mengatakan untuk dapat menikmati wisata Lobang Mbah Soero, pengunjung dikenai tiket masuk sebesar 8.000 rupiah per orang.

Biasanya, tambah Soerono, pengunjung ramai pada musim liburan atau hari-hari besar nasional. “Pada hari-hari biasa wisatawan yang datang berkisar 20 hingga 30 orang, namun jumlah itu akan meningkat pada musim liburan,” papar dia

Goedang Ransoem

Objek lainnya yang bisa dinikmati adalah Museum Goedang Ransoem yang terletak di Kota Lama Sawahlunto (Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar). Lokasi ini merupakan bekas dapur umum yang dipergunakan pemerintah kolonial untuk memenuhi kebutuhan makan para pekerjanya, baik pekerja tambang, rumah sakit maupun 'Orang Rantai' (pekerja tambang yang diambil dari orang-orang tahanan Belanda dari berbagai daerah di Indonesia).

Begitu juga dengan koleksinya, tidak terlepas dari peralatan memasak yang serba "raksasa" untuk menienuhi kebutuhan makan buruh yang mencapai ribuan orang itu. Dulunya, dapur umum ini menghasilkan 65 pikul nasi setiap harinya yang diberikan kepada ribuan pekerja tambang.

Peralatan memasak yang dipergunakan berukuran besar yang terbuat dari campuran besi dan nikel dengan bahan bakar batubara. Untuk menghasilkan uap panas, di komplek dapur umum ini juga tersedia tungku pembakaran batubara (power stroom). Ukuran satu periuk masak (vans disebut ketel) memiliki tinggi 80 cm dengan diameter mencapai 148 cm.

. Selain Info Box dan Lobang Mbah Soero, objek wisata lain yang menarik untuk dikunjungi ialah Goedang Ransom. Dahulunya tempat itu merupakan dapur umum untuk menyuplai makanan bagi para pekerja tambang dan rumah sakit.

Menut sejarahnya, para juru masak di dapur umum itu setiap harinya memasak nasi dengan menghabiskan beras sebanyak 4 ton. Karenanya, tidak heran jika di tempat itu terdapat pula dua wajan berukuran besar, berdiameter sekitar 1,5 meter. Menurut Soedarsono, Kepala Museum Goedang Ransom, seluruh barang yang tersimpan di tempat itu masih asli dan tidak mengalami perubahan. Setidaknya barang-barang itu bisa pula menjadi bukti kebesaran dan kejayaan pertambangan Ombilin pada masa lalu.

“Di Goedang Ransom terdapat pula beberapa ruangan yang fungsinya berbedabeda. Ada dapur umum, power stoom, steam generator yang masih terawat, pabrik es, dan rumah potong hewan, semuanya masih tersimpan rapi,” ujar dia.

Untuk mencapai Goedang Ransum, pengunjung tidak perlu menggunakan kendaraan dari Lobang Mbah Soero karena jaraknya memang cukup dekat. Dengan berjalan kaki, tempat itu bisa ditempuh hanya dalam waktu sekitar lima menit. Di sepanjang jalan menuju Goedang Ransom, wisatawan dapat menikmati berbagai benda kerajinan dari batu bara dan kerajinan khas Sawahlunto.Apabila berminat, wisatawan pun dapat membelinya.

Setelah berpuas diri menikmati suasana Goedang Ransum, pengunjung bisa meneruskan perjalanan ke Museum Kereta Api. Pada masa lalu, kereta api merupakan mode transportasi andalan untuk mengangkut batu bara. Di museum itu tersimpan beberapa peralatan kereta api kuno yang digunakan pada masa lalu. Oleh karena itu tidak heran jika museum tersebut kerap dikunjungi para peneliti dan pelajar yang ingin mengetahui seluk beluk perkeretaapian di Indonesia.

Perjalanan ke Museum Kereta Api dari Goedang Ransum memakan waktu 10 menit dengan mengendarai mobil atau mobil wisata yang berpintu dan berdinding terbuka.

Tempat lain yang tidak boleh dilewatkan adalah Taman Satwa Kandi. Lahan seluas 380 hektare itu merupakan bekas galian tambang terbuka yang kemudian direklamasi menjadi tempat wisata. Di Taman Satwa Kandi, pengunjung bisa melihat tingkah polah aneka jenis satwa sekaligus juga menjajal keberanian dengan ber-road race atau mengikuti pacuan kuda. (sh/muhamad nasir)








Tugu Tambang menggambarkan suasana penambangan zaman kolonial
2. Pintu masuk Lubang Mbah Suro yang memberikan atmosfer tambang.
3. Suasana di dalam Lubang Mbah Suro
4. Museum Gudang Ransum, menyimpan koleksi berbagai fasiltas masak ala
tambang
5. Alat masak raksasa yang dulu digunakan memasak ransum untuk pekerja
tambang

Tidak ada komentar: