Rabu, 05 Agustus 2009

Dodi Reza Alex Bapak Pengusaha Kecil



Sinar Harapan, rubrik tokoh dan profil edisi Rabu (5/8/2009)


Dodi Reza Alex
Menghidupkan Pengusaha Kecil
OLEH: MUHAMAD NASIR

PALEMBANG - Mengamati para pedagang kaki lima yang sering diusir oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), menjadi salah satu pertimbangan bagi Dodi Reza Alex untuk memberikan perhatian bagi masyarakat yang bergerak di sektor informal tersebut.


Tetapi dalam perkembangannya kini, bukan hanya pedagang kaki lima yang terbantu, mereka yang bergelut di sektor informal dan bermodal minim juga telah ”mencicipi” bantuan bergulirnya.
Bahkan, uluran tangan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumatera Selatan ini juga telah merambah dunia kampus dan pondok pesantren. Sejak bergabung di Hipmi Jakarta tahun 2002 lalu, sejak tahun 2007, Dodi terpilih memimpin Hipmi Sumatera Selatan (Sumsel) menggantikan Afandi Uji.
”Kami menargetkan sedikitnya 10.000 pengusaha lemah di Sumsel bisa terbantu akses dan permodalan serta ilmu manajemen. Rasanya ini tidak mustahil, karena sejak dua tahun terakhir saja sudah 1.000 pengusaha lemah bisa terbantu, dengan besar pinjaman bervariasi antara Rp 500.000 hingga Rp 2 juta. Bahkan, ada yang mencapai Rp 5 juta dan Rp 10 juta, terutama kalau usahanya terus berkembang. Dengan bunga kecil, 0,5% per bulan atau 6% per tahun,” kata suami mantan presenter salah satu televisi swasta ini, Thia Yufada.
Bagi alumnus University of Leuven dan University De Bruxelles, Belgium ini, urusan pengembangan jiwa kewirausahaan memang tidak main-main. Oleh karena itu, programnya juga telah masuk ke kampus-kampus di Sumsel. Sedikitnya, sudah 100 unit usaha kecil dibantu permodalan dan bekal pendidikan.
”Kami mempersiapkan mahasiswa agar setelah mendapat gelar sarjana mereka juga memiliki jiwa wirausaha. Bantuan bergulir sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta juga dikucurkan. Ditargetkan, setidaknya 1.000 usaha mahasiswa bisa dibantu. Usaha mereka tidak besar-besar amat, seperti pencucian mobil, percetakan, dan menjual voucher telepon seluler,” katanya kepada SH baru-baru ini. Perihal program kredit tanpa agunan (KTA) yang digagasnya, pihaknya menggandeng sebuah bank swasta.
Begitu pun di pondok pesantren, karena ternyata banyak usaha kecil dan koperasi di pondok pesantren yang telah tumbuh, tetapi membutuhkan bantuan dana. Hingga kini telah terjalin kerja sama dengan puluhan pondok pesantren, dan nantinya diharapkan bisa terjalin kerja sama dengan semua pondok pesantren di Sumsel. Nilai bantuan bergulir antara Rp 5 juta hingga Rp 20 juta, dan umumnya usaha berupa koperasi simpan pinjam, usaha perkebunan, maupun usaha lainnya.





Tak Perlu Agunan
”Kami memberikan akses, pendidikan manajemen, serta jaminan kepada bank. Dengan demikian para pengusaha lemah itu, baik di sektor informal, di dalam kampus, maupun di pondok pesantren tidak perlu menyiapkan agunan. Kami yang menjamin,” tambah pengurus DPP Hipmi sebagai Koordinator Wilayah Hipmi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) ini.
Ayah dari putri kembar bernama Aletta dan Atalie ini, memang punya komitmen tinggi dalam pengembangan jiwa kewirausahaan. Di sela berbagai jabatannya di partai politik, organisasi massa (ormas), serta jabatan di organisasi olahraga, Dodi tetap memberikan perhatian bagi pengusaha kecil yang butuh modal.
Saat ini jabatannya ditambah lagi dengan posisi di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pusat sebagai Ketua Komite Tetap Kerja Sama Ekonomi Regional. Kesibukannya pun masih bertambah sebagai pengurus beberapa cabang olahraga. Misalnya di bidang sepakbola, Dodi menjadi Dirut PT Sriwijaya Optimistis Mandiri (SOM) yang memiliki Sriwijaya Football Club (SFC).
Sebelumnya, ia juga membina Klub Muba Hang Tuah yang sempat merajai Kobatama dan kini mulai menjajal Indonesia Basketball League (IBL). Namun kesibukannya sebagai Ketua Umum Provinsi Perbasi Sumsel, tetap tak mengurangi perhatian putra H Alex Noerdin yang lahir di Palembang pada 1 November 1970 ini, terhadap pengusaha lemah.
”Ke depan, sedang digagas kerja sama dengan perusahaan asuransi sehingga para pengusaha kecil juga mendapat perlindungan dari berbagai permasalahan, dan bisa lebih konsen mengembangkan usaha,” ujar pengusaha muda yang menguasai bahasa Inggris dan Prancis ini.
Tahap awal, bantuan KTA dihimpun dengan dana pumpunan anggota Hipmi Sumsel, ditambah dana pribadi dan dukungan berbagai pihak. Jumlah pinjamannya memang tidak begitu besar, hanya Rp 500.000 per orang. Kemudian jumlahnya meningkat setelah mendapat kepercayaan dari bank swasta di Palembang.



sisi lain
Gagal Jadi Pilot

LAHIR dari keluarga mampu, Dodi Reza Alex punya cita-cita menjadi pilot. Hanya saja, cita-citanya itu harus disimpannya dalam angan. Meski demikian, dia cukup puas bisa menerbangkan pesawat jenis Cesna 172. Dia memang telah menyelesaikan pendidikan penerbang Privat Pilot Licence pada Deraya Flying School, Halim Perdanakusumah, Jakarta.
Oleh karenanya, meski tak bisa menggapai cita-cita sebagai pilot sungguhan, ia sudah menerbangkan pesawat dengan mengantongi jam terbang 2.000 jam. Pemilik hobi mendengarkan musik ini memang kerap kali di sela-sela waktu senggangnya menerbangkan berbagai jenis pesawat.
”Cukuplah, meski bukan pesawat berpenumpang ataupun pesawat tempur, yang saya kemudikan juga bisa terbang. Pilot juga kan,” kata anggota DPR periode 2009-2014 dari Partai Golkar ini berseloroh. (sir)


http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/menghidupkan-pengusaha-kecil/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=08&tx_ttnews[days]=5&cHash=652feb00cb

Tidak ada komentar: