Tinggi, Minat Mahasiswa Dalami Jurnalistik
Palembang:
Minat mahasiswa Universitas PGRI Palembang mendalami jurnalistik cukup tinggi. Sedikitnya 200 mahasiswa antusias mengikuti pelatihan yang digelar di Gedung Guru, Plaju, kemarin.
”Ternyata begitu ya, membuat berita. Sulit dan butuh perjuangan,” komentar Alvian mahasiswa FKIP yang menjadi peserta.
Pelatihan yang dilaksanakan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bahasa Indonesia, FKIP ini, diikuti bukan saja mahasiswa caln guru tersebut. Tetapi juga dari fakultas lain dan beberapa orang dari Unsri.
Tiga orang narasumber, Chandra dari TVRI, Arif Ardiansyah dari Tempo dan Muhamad Nasir dari Sinar Harapan, yang juga dosen perguruan tinggi yang beralamat di Lorong Gotong royong ini menyampaikan materi terkait dunia jurnalistik.
Menurut Dekan FKIP Drs Syarwani Ahmad yang membuka pelatihan, kegiatan ini dimaksudkan untukmemberi bekal mahasiswa sehingga mereka memiliki keterampilan plus.
Ketua Panitia, Fajar Supriadi mengungkapkan, diharapkan pelatihan ini bisa menjadi cikal bakal terbitnya media kampus. Sehingga mahasiswa bisa mengasah keterampilan dan kemampuan jurnalistik secara langsung.
Beberapa pertanyaan muncul seperti, apa saja syarat untuk menjadi wartawan yang ditanyakan Novi atau mengapa wartawan itu harus menunjukkan identitas kepada narasumber.
Termasuk, bagaimana membagi waktu untuk profesi. ”Karena katanya wartawan itu bekerja 24 jam dalam sehari,” tanya peserta lainnya. ()
Selasa, 28 April 2009
wayang palembang
Wayang Palembang, Tenggelam di Tepi Musi
Merangseknya budaya-budaya luar membuat generasi penerus tak mengenali dan tak menyukai budaya leluhur. Termasuk diantaranya, wayang Palembang yang kini telah semakin terpinggir dan mulai punah.
Wayang kulit Palembang memang tidak begitu dikenal dibanding wayang purwo asli Jawa. Walau sesungguhnya pernah tersohor di zamannya. Sayangnya, hingga kini peninggalan leluhur Palembang ini mulai punah ditelan zaman.
Di era 70 an dunia perwayangan Kota Palembang masih kerap menggelar kegiatan pentas di tengah masyarakat Palembang, seperti resepsi perkawinan serta khitanan. Namun kebiasaan masyarakat asli Palembang tidak menular ke generasi saat ini yang lebih mengenal kebudayaan luar.
Saat ini Wayang Purwa dari Jawa masih terus digandrungi dan digemari masyarakat Jawa. Bahkan bukan saja pada even tertentu saja, tetapi pementasan wayang purwa kerap diadakan oleh masyarakat Jawa khususnya yang tinggal di perkampungan. Seperti hiburan masyarakat, antara lain untuk acara khitanan dan resepsi perkawinan, bahkan perayaan syukuran kepala desa, maupun setelah selesai panen padi, masyarakat kerap menanggap wayang purwa ini.
Berbeda dengan wayang Palembang, agaknya era wayang Palembang sudah tenggelam. Tergeser oleh dominasi seni pop modern yang dinilai lebih menghibur. Berbagai hajatan rakyat, yang puluhan tahun lalu menjadi ruang pagelaran wayang Palembang, kini telah disergap pertunjukan organ tunggal yang marak di mana-mana.
Ironisnya, sebagian besar anak-anak di Palembang tidak begitu mengenal peninggalan leluhurnya ini. Tak sengaja, Jumat kemarin Sinar Harapan pernah bertanya kepada sejumlah siswa SLTP di Palembang. Sebagian besar mereka tidak mengetahui sama sekali bahwa Palembang memiliki wayang.
“Kita punya wayang asli kebudayaan Palembang ya, kak, dalangnya juga ada disini?saya kira Wayang berasal dari Jawa,” kata Heru, salah satu siswa SLTP Negeri di Palembang.
Karakter Khas
Johan Hanafiah budayawan Palembang menambahkan wayang Palembang sebenarnya kebudayaan yang memiliki karakter khas dibanding dengan wayang kulit purwa asal Jawa.
Namun sayang, lanjut dia wayang Palembang sudah kehilangan generasi penerus karena dalang terakhir wayang Palembang dengan menggunakan dialog bahasa Melayu Palembang itu, Ki Agus Rusdi Rasyid, telah meninggal pada Februari 2004. Saat ini, praktis tidak ada generasi penerus yang menguasai wayang tersebut.
Setelah era Alm Ki Agus Rusdi Rasyid usai, tambahnya seni tradisional, terutama wayang Palembang semakin ditinggalkan masyarakat, karena dinilai monoton dan tidak memiliki daya jual yang menarik.
Dia memaparkan Wayang Palembang, yang diperkirakan tumbuh sejak pertengahan abad ke-19 Masehi, saat Arya Damar yang terpengaruh budaya Jawa berkuasa di daerah Palembang. Wayang itu kemudian terus tumbuh dengan karakter lokal sehingga menjadi khas Palembang.
Wayang Palembang memiliki bentuk fisik dan sumber cerita yang sama dengan wayang purwa dari Jawa.
Bedanya, wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, dan perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas. Sementara wayang purwa menggunakan bahasa Jawa dan perwatakan tokohnya ketat dengan pakem-pakem klasik.
Dia menilai merupakan kehilangan besar bagi masyarakat Sumsel, sehingga semua masyarakat Sumsel seharusnya bertanggung jawab untuk kembali menggali dan melestarikannya. (sh/muhamad nasir)
Tersimpan Rapi
Di rumah panggung kayu yang tersembunyi di Lorong Pasar, Pasar Tangga Buntung yang sesak tepatnya di Kelurahan 36 Ilir Palembang, dapat dijumpai peninggalan aset wayang Palembang.
Meski wayang tersebut sudah kusam, kotor dan rusak, sebagai warisan luluhur dan bukti sejarah wayang tersebut tetap tersimpan rapih di dalam peti khusus di kediaman Alm Ki Agus Rusdi Rasyid.
Dalang Muda Wirawan Rusdi, putra pertama Alm Rusdi, penerus dunia perwayangan Palembang bercerita banyak saat dijumpai di kediamannya.
Pedalang muda dari Sanggar Sri Wayang Palembang, Wirawan Rusdi anak dari pedalang senior asli Palembang, Ki Agus Rusdi Rasyid (alm) mengakui, kesenian tradisional wayang kulit Palembang, Sumatra Selatan, saat ini sudah mulai punah akibat tidak ada lagi generasi baru yang meneruskannya.
Selain itu, menurutnya, pedalang tua yang menguasai wayang dengan dialog berbahasa khas Melayu Palembang itu sudah tiada lagi.Sementara pemerintah dan lembaga kebudayaan tidak memiliki agenda konkret untuk melestarikan kekayaan tradisi itu.
Wirawan menjelaskan agar kebudayaan tersebut tidak punah, kepedulian Tim Peneliti dari UNESCO- sebuah badan dunia untuk urusan pendidikan dan kebudayaan ikut terlibat saat itu.
“Mereka mengutus Karen Smith wanita asal Australia menetap di Amerika dan Yushi Simishu pria asal Jepang yang menetap di Paris, markasnya UNESCO untuk berkunjung ke Sanggar kami yang terletak di Jalan PSI Lautan Rt.10,16 Ceklatah, 36 Ilir Palembang,” paparnya.
Hingga kini, sambungnya Sanggar Sri Wayang menjadi binaan UNESCO satu-satunya di Palembang, sebab wayang merupakan kekayaan seni tradisi lokal yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2004.
Dia mengungkapkan, saat itu Tim UNESCO mengunjung Sanggar Sri Wayang tidak sendirian. Melainkan dibarengi pimpinan Yayasan Senawangi Jakarta, Sumari, Ketua Persatuan Pendalangan Indonesia (Pepadi) Pusat, Eko Cipto, Ketua Pepadi Sumsel, H.R Amin Prabowo,
Menurutnya, rasa tertarik untuk mendalami dunia wayang hanya karena tanggung jawab terhadap aset budaya yang saat ini dinilai hampir punah, sebab tidak ada lagi generasi penerus untuk dalang di Palembang ini. Apalagi bukan dari keluarga besar Ki Rusdi Rasyid (kakeknya).
“Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi dalang meski pada saat kecil dulu kerap dikenalkan wayang oleh ayah,”ungkapnya.
Namun, karena sadar untuk meneruskan asli budaya wayang Palembang dari keluarga setidaknya dia sebagai anak tertua ikut menerusnya tradisi dalang ini.
Dia menerangkan terobsesi menjadi dalang setelah ayahnya meninggal, ketika itu sekitar 2005 dikunjungi oleh utusan UNESCO. Saat itu Sanggar Sri Wayang warisan orang tuanya tersebut sempat vakum.
Karena diberi bantuan wayang dan seperangkat gamelan tersebut, akhirnya sempat berpikir untuk menjadi dalang.
“Saya tidak ingin bantuan itu hanya untuk pajangan. Dengan rasa tanggung jawab itu akhirnya saya mulai belajar mendalami dunia dalang,”paparnya.
“Hampir semua peralatan wayang peninggalan ayah sudah rusak, hilang, atau entah ke mana. Kebanyakan peninggalan ikut ludes saat kebakaran rumah sekitar 2004dan sebagian lagi terendam banjir tahunan atau keropos dimakan usia, sehingga saat itu sempat hampir terlupakan, tetapi dari bantuan itu membuat motivasi bangkit lagi,”ujarnya.
Dia menerangkan meski wayang Palembang tidak begitu terkenal dan tersohor dibanding wayang Jawa, sebagai penerus dalang dari keluarga, dia sangat bangga. Sebab ayahnya pernah di undang dipertunjukan wayang tradisional di Taman Ismail Marzuki Jakarta, awal tahun 1990-an.
Dia mengakui di eranya jarang dipanggil untuk pentas. Kalaupun tampil hanya pada even tertentu. Untuk secara komersil, seperti hajatan perkawinan dan sunatan tidak pernah sama sekali, karena kesenian ini jauh ngetopnya dibanding kesenian modern.
Namun berkat niat, lanjutnya, dia pernah ikut diundang untuk mentas di Jogyakarta dalam acara The Indonesia Puppets Exhibitions.
Dinilainya, saat ini wayang Palembang tenggelam, apalagi banyak masyarakat tidak mengetahui dan senang dengan kebudayaan asli. Apalagi sebagian masyarakat Palembang yang mengerti kesenian mengganggap menyewa wayang untuk pertunjukan lebih mahal dari organ tunggal.
Padahal, sambung Wirawan, dia tidak pernah mematok tarif khusus. Paling tidak kalau memang dikomersilkan hanya Rp5 juta- Rp6 juta.
Dia menjelaskan wayang Palembang berbeda, karena mentas hanya 1-3 jam, sementara wayang Jawa bisa semalam suntuk. Sehingga tarifnya pun lebih murah dibanding wayang Jawa yang bisa mencapai belasan juta sekali mentas.
Wirawan berharap kepada pemerintah daerah dapat mengenalkan wayang Palembang di setiap sekolah, meski hanya dalam kegiatan ekstra kulikuler dan hanya dilakukan hanya satu tahun sekali.
Selain itu dia bercita-cita Wayang Palembang asli kesenian Palembang ini dapat dikenal di Tanah Air bahkan keseluruh negara.
Kini hanya dia yang menjadi dalang asli Palembang. Almarhum Ki Agus Rusdi Rasyid, merupakan salah satu dalang terakhir yang menguasai permainan wayang Palembang. Sementara ayahnya baru meninggal setahun lalu. Adapun dalang-dalang lain, seperti Syekh Hanan dan Ki Agus Umar, sudah meninggal beberapa tahun silam. Sebenarnya masih ada dalang yang tersisa, Sukri Ahkab, yang pernah menjadi Kepala Stasiun RRI Palembang. Sukri pun sudah pindah dari Palembang beberapa tahun lalu. (sh/muhamad nasir)
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0905/02/hib02.html
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0905/01/hib03.html
wanita hami harus rajin kontrol
Wanita Hamil, Kontrol Mutlak Diperlukan
Palembang:
Kehamilan memberikan tanda bahwa sebuah keluarga akan mendapat anugrah keturunan. Kalau tak dirawat dan dikontrol, sang janin bisa saja tak sempat lahir. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi sebelum calon bayi bisa menghirup udara di luar rahim ibunya.
Karenanya, dr Hafiz Usman SpOG dari Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel, mengingatkan perlunya kontrol kehamilan sampai jabang bayi lahir. Termasuk nantinya, pascakelahiran tentunya.
Masa kehamilan memang merupakan rentang waktu yang harus diwaspadai. Dengan kontrol yang rutin dapat diketahui secara dini kondisi kehamilan dan kondisi janin.
Mungkin saja, dari luar terlihat normal ternyata kehamilan terjadi justru di luar rahim. Kalaupun di dalam rahim, tentu juga tetap perlu kontrol rutin untuk mengetahui posisi bayi. Melintang, sungsang, atau berubah.
Dengan panduan dokter, posisi yang bakal sulit saat melahirkan bisa diatur kembali. Begitupun, jenis kelamin dapat dideteksi. Atau, dengan peralatan kedokteran yang smakin maju, kondisi bayi apabila memiliki kelainan dapat diketahui.
”Saya pernah mendapatkan kondisi bayi yang memiliki kelainan. Karenanya saya rujuk ke Palembang supaya bisa dipastikan. Ternyata, kemudian dirujuk lagi ke Jakarta, dan memang akhirnya diketahui kelainannya cukup riskan,” ujar dr Hafiz.
Karenanya, dengan kontrol rutin, meski Cuma ke bidan sekalipun bisa memberikan informasi kepada calon orang tua tentang janin dan kondisi ibunya.
Contoh terkini, adalah temuan janin yang membatu setelah sekitar 24 tahun tersembunyi di rahim ibunya.
Tim dokter Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja, mengungkap misteri hilangnya kandungan Painah (48) yang telah berusia 7 bulan pada 1984 lalu. Ternyata, janin itu telah membatu di rahim sang ibu. Penemuan ini dalam istilah kedokteran disebut lithopedion
Terkuaknya misteri calon anak pertama yang telah diidam-idamkan warga Belitang BK XVI, Kabupaten OKU Timur, itu saat menjalani operasi tumor rahim yang dilakukan tim medis Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja.
Seperti diberitakan sebelumnya, operasi itu dipimpin dr Hafiz Usman SpOG. Saat operasi berlangsung tim medis menemukan sebongkah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa berada di luar dinding rahim Rainah. Saat diperiksa, ternyata sebongkah batu tersebut adalah janin bayi yang telah mengalami pengapuran.
Organ tubuh janin tersebut masih tampak jelas.Terdiri dari kepala, rangka kedua tangan, kaki, tulang iga dan tulang belakang. Diperkirakan janin “batu” itu memiliki panjang sekitar 14 cm dengan dengan berat sekitar 300-4000 gr.
Kepala janin menyatu dengan pangkal paha. Selain menemukan janin “batu”, tim medis juga menemukan sebongkah batu berukuran lebih kecil yang awalnya diduga plasenta. Janin yang mengalami pengapuran ini diduga merupakan janin bayi yang dikandung Painah pada 1984 silam. Saat itu usia kandungan Painah sudah berjalan tujuh bulan dan mendadak hilang.
Ketua Tim Dokter Operasi dr Hafiz Usman SpOG mengaku terkejut dengan ini. Awalnya, pihaknya hanya melakukan operasi pengangkatan rahim saja. Pasien mengalami kehamilan ekstra uterine atau intra abidol minal. Di mana pasien sempat hamil tujuh bulan terus hilang.Ini disebabkan janin bayi meninggal namun tidak membusuk dan tidak bisa keluar.
Kondisi ini, menurut dr Hafiz, bisa terjadi karena diperkirakan saat hamilnya istri Sugiyanto ini tidak melakukan kontrol rutin. Kehamilan yang dialaminya adalah intra abdominal. Kehamilan di luar saluran telur.
Karena kurangnya nutrisi dan oksigen, menyebabkan janin meninggal. Kekurangan oksigen sehingga menyebabkan janin akhirnya tak tertolong lagi. Ini memang dampak dari kehamilan di luar rahim. Atau mungkin saja, tanpa diketahui adanya perlakuan-perlakuan dari luar yang tak semestinya. Bagi kehamilan normal, mungkin saja tak menjadi masalah. Tapi bagi kehamilan di luar rahim, pengurutan yang dilakukan secara tradisional bisa berbahaya.
Kalau kontrol dilakukan, tentu banyak upaya yang dapat dilakukan sehingga kekurangan oksigen bagi janin bisa diantisipasi.
Begitupun dengan kondisi pascajanin meninggal, tentunya sejalan dengan tradisi di masyarakat. Biasanya lumrah kalau janin tiba-tiba menghilang. Masyarakat menganggap itu disebabkan berbagai faktor alam. Misalnya, lahir gaib.
Padahal, dengan perkembangan ilmu kedokteran, bisa diketahui kondisi janin. Bila ada masalah, tentunya dapat dilakukan upaya pengeluaran dari janin dari rahim.
Kasus hamil di luar rahim, sesungguhnya sering terjadi. Bila cepat diketahui bisa diselamatkan dengan cara operasi saat usia kehamilan sudah cukup bulan.
Keberadaan janin yang tak bernyawa tentu saja berdampak. Bagi vertilisasi (kesuburan), misalnya, ternyata Painah tak punya keturuna lagi pasca kehamilannya menghilang dan kemudian ditemukan membatu.
Keluarga itu kemudian memang mengambil anak dan sekarang sudah dewasa. Keberadaan benda lain selain organ tubuh dalam rahim tentu saja akan berdampak.
Dampak lainnya, tentu saja sakit perut berkepanjangan. Dan, saat masa pramenopause, ketika hormon kewanitaan mulai berubah, kelainan mulai dirasakan.
Seperti pada Ny Painah, mengalami pendarahan. Dan dideteksi ada tumor jinak di rahimnya.
Janin yang sudah membatu ini, sesungguhnya bisa memberikan masukan bagi ilmu pengetahuan. Jika saja, keluarga Painah merelakan ’bayinya’ itu dijadikan bahan penelitian di laboratorium tentu saja merupakan sumbangan yang tak ternilai. Informasi awal, janin membatu itu dikebumikan sebagaimana mestinya. (sh/muhamad nasir)
Palembang:
Kehamilan memberikan tanda bahwa sebuah keluarga akan mendapat anugrah keturunan. Kalau tak dirawat dan dikontrol, sang janin bisa saja tak sempat lahir. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi sebelum calon bayi bisa menghirup udara di luar rahim ibunya.
Karenanya, dr Hafiz Usman SpOG dari Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel, mengingatkan perlunya kontrol kehamilan sampai jabang bayi lahir. Termasuk nantinya, pascakelahiran tentunya.
Masa kehamilan memang merupakan rentang waktu yang harus diwaspadai. Dengan kontrol yang rutin dapat diketahui secara dini kondisi kehamilan dan kondisi janin.
Mungkin saja, dari luar terlihat normal ternyata kehamilan terjadi justru di luar rahim. Kalaupun di dalam rahim, tentu juga tetap perlu kontrol rutin untuk mengetahui posisi bayi. Melintang, sungsang, atau berubah.
Dengan panduan dokter, posisi yang bakal sulit saat melahirkan bisa diatur kembali. Begitupun, jenis kelamin dapat dideteksi. Atau, dengan peralatan kedokteran yang smakin maju, kondisi bayi apabila memiliki kelainan dapat diketahui.
”Saya pernah mendapatkan kondisi bayi yang memiliki kelainan. Karenanya saya rujuk ke Palembang supaya bisa dipastikan. Ternyata, kemudian dirujuk lagi ke Jakarta, dan memang akhirnya diketahui kelainannya cukup riskan,” ujar dr Hafiz.
Karenanya, dengan kontrol rutin, meski Cuma ke bidan sekalipun bisa memberikan informasi kepada calon orang tua tentang janin dan kondisi ibunya.
Contoh terkini, adalah temuan janin yang membatu setelah sekitar 24 tahun tersembunyi di rahim ibunya.
Tim dokter Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja, mengungkap misteri hilangnya kandungan Painah (48) yang telah berusia 7 bulan pada 1984 lalu. Ternyata, janin itu telah membatu di rahim sang ibu. Penemuan ini dalam istilah kedokteran disebut lithopedion
Terkuaknya misteri calon anak pertama yang telah diidam-idamkan warga Belitang BK XVI, Kabupaten OKU Timur, itu saat menjalani operasi tumor rahim yang dilakukan tim medis Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja.
Seperti diberitakan sebelumnya, operasi itu dipimpin dr Hafiz Usman SpOG. Saat operasi berlangsung tim medis menemukan sebongkah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa berada di luar dinding rahim Rainah. Saat diperiksa, ternyata sebongkah batu tersebut adalah janin bayi yang telah mengalami pengapuran.
Organ tubuh janin tersebut masih tampak jelas.Terdiri dari kepala, rangka kedua tangan, kaki, tulang iga dan tulang belakang. Diperkirakan janin “batu” itu memiliki panjang sekitar 14 cm dengan dengan berat sekitar 300-4000 gr.
Kepala janin menyatu dengan pangkal paha. Selain menemukan janin “batu”, tim medis juga menemukan sebongkah batu berukuran lebih kecil yang awalnya diduga plasenta. Janin yang mengalami pengapuran ini diduga merupakan janin bayi yang dikandung Painah pada 1984 silam. Saat itu usia kandungan Painah sudah berjalan tujuh bulan dan mendadak hilang.
Ketua Tim Dokter Operasi dr Hafiz Usman SpOG mengaku terkejut dengan ini. Awalnya, pihaknya hanya melakukan operasi pengangkatan rahim saja. Pasien mengalami kehamilan ekstra uterine atau intra abidol minal. Di mana pasien sempat hamil tujuh bulan terus hilang.Ini disebabkan janin bayi meninggal namun tidak membusuk dan tidak bisa keluar.
Kondisi ini, menurut dr Hafiz, bisa terjadi karena diperkirakan saat hamilnya istri Sugiyanto ini tidak melakukan kontrol rutin. Kehamilan yang dialaminya adalah intra abdominal. Kehamilan di luar saluran telur.
Karena kurangnya nutrisi dan oksigen, menyebabkan janin meninggal. Kekurangan oksigen sehingga menyebabkan janin akhirnya tak tertolong lagi. Ini memang dampak dari kehamilan di luar rahim. Atau mungkin saja, tanpa diketahui adanya perlakuan-perlakuan dari luar yang tak semestinya. Bagi kehamilan normal, mungkin saja tak menjadi masalah. Tapi bagi kehamilan di luar rahim, pengurutan yang dilakukan secara tradisional bisa berbahaya.
Kalau kontrol dilakukan, tentu banyak upaya yang dapat dilakukan sehingga kekurangan oksigen bagi janin bisa diantisipasi.
Begitupun dengan kondisi pascajanin meninggal, tentunya sejalan dengan tradisi di masyarakat. Biasanya lumrah kalau janin tiba-tiba menghilang. Masyarakat menganggap itu disebabkan berbagai faktor alam. Misalnya, lahir gaib.
Padahal, dengan perkembangan ilmu kedokteran, bisa diketahui kondisi janin. Bila ada masalah, tentunya dapat dilakukan upaya pengeluaran dari janin dari rahim.
Kasus hamil di luar rahim, sesungguhnya sering terjadi. Bila cepat diketahui bisa diselamatkan dengan cara operasi saat usia kehamilan sudah cukup bulan.
Keberadaan janin yang tak bernyawa tentu saja berdampak. Bagi vertilisasi (kesuburan), misalnya, ternyata Painah tak punya keturuna lagi pasca kehamilannya menghilang dan kemudian ditemukan membatu.
Keluarga itu kemudian memang mengambil anak dan sekarang sudah dewasa. Keberadaan benda lain selain organ tubuh dalam rahim tentu saja akan berdampak.
Dampak lainnya, tentu saja sakit perut berkepanjangan. Dan, saat masa pramenopause, ketika hormon kewanitaan mulai berubah, kelainan mulai dirasakan.
Seperti pada Ny Painah, mengalami pendarahan. Dan dideteksi ada tumor jinak di rahimnya.
Janin yang sudah membatu ini, sesungguhnya bisa memberikan masukan bagi ilmu pengetahuan. Jika saja, keluarga Painah merelakan ’bayinya’ itu dijadikan bahan penelitian di laboratorium tentu saja merupakan sumbangan yang tak ternilai. Informasi awal, janin membatu itu dikebumikan sebagaimana mestinya. (sh/muhamad nasir)
profil syamsu indra usman
Syamsu Indra Usman Hs
Penyair Gunung yang Jadi Ikon Daerah
Palembang:
Gaya bicaranya blak-blakan. Meski dia orang seni, ternyata bahasanya justru meledak-ledak. Tak ada gambaran kalau dia seniman. Berbeda jika dia sudah bergulat dengan puisi, baru kelihatan bahwa dia seorang seniman.
Nama Syamsu Indra Usman, sesungguhnya memang sudah dikenal di wilayah Sumsel. Tak sekadar di daerahnya, Kabupaten Empat Lawang. Bahkan, dalam benak beberapa sastrawan dan budayawan di Jakarta pun namanya sudah terpatri.
Kalau rajin membuka Direktori Penulis Indonesia, atau Buku Pintar Sastra Indonesia karya Pamusuk Eneste, pun Direktori Seni dan Budaya Indonesia 2000 memang namanya sudah tercatat.
Dalam dunia tulis menulis, sastrawan unik ini memiliki sedikitnya lima nama alias. Kelimanya, Indra Usman Karang Cayo, Indra Usman Ulu Musi, Indra Usman Rajo Teleguh, Indra Usman Patiugau, dan IIN Sarosa.
Meski usianya sudah kepala lima, lelaki kelahiran Lahat 12 Oktober 1956 ini memang masih penuh semangat. Suami Wesi ini masih aktif dalam organisasi kesenian. Dia bahkan kini dipercaya sebagai Ketua Dewan Kesenian Empat Lawang.
Meski karyanya sudah tak terhitung lagi, memang ayah dari Dwi Maresta Putri, Alva Agusti Sriosa, dan Pebi Ayu Lestari ini lebih suka tinggal di desanya di Lubuk Puding Kecamatan Ulu Musi, Empat Lawang. Karenanya, oleh teman-temannya dia dijuluki sebagai Penyair Gunung.
Alumni Akademi Bank danManajemen, Jurusan Perbankan Jember ini, memang lebih memilih berkarya dari kampung halamannya. Meski demikian, karya-karya telah merambah ke berbagai media dan dinikmati oleh banyak orang.
Selain sebagai seniman, di daerahnya dia juga mengabdi sebagai guru dan juga aktif di berbagai organisasi. Puluhan karyanya pun telah diterbitkan diantaranya, Orang-Orang Tertindas (Kumpulan Puisi), Balada Gadis Urban (Kumpulan Puisi), Hati Seorang Perempuan (Novel), Resep Makanan Daerah Empat Lawang, Petatah Petitih daerah Empat Lawang, Kumpulan Rejung Empat Lawang ( kumpulan pantun), juga Kamus Bahasa Daerah Empat Lawang.
Selain karya-karya yang telah diterbitkan, uniknya Syamsu Indra Usman ternyata masih telaten menyimpan tulisan tangan asli karya-karya itu. ”Selama ini saya memang menulis sendiri dengan tangan karya-karya saya. Mengetik pun saya tak bisa. Apalagi, menggunakan komputer,” ujarnya ketika ditemui di kediamannya di Tebingtinggi yang baru dihuninya sekitar setahun terakhir.
Salah satu karya yang tengah diselesaikannya adalah membuat kamus bahasa Empat Lawang. ”Ini bukan proyek dan saya bekerja sendiri mengumpulkan data-datanya,” ujarnya bersemangat. Memang tak ada nada-nada rendah dalam gaya bicaranya.
Keprihatinannya terhadap seni dan budaya daerah yang nyaris punah pun diungkapkannya dengan bersemangat. Disebutkannya misalnya di daerahnya Empat Lawang yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Lahat terdapat delapan tarian tradisional.
Sayang, lima diantaranya kini sudah punah. Yakni tarian gegerit, senggam sirih, kekok, ngelsambai, dantari selendang. Kini yang masih lestari hanya tiga tarian, yakni tari ngarakpenganten, melami menda, dan tari pereng.
Padahal, menurutnya tarian yang sudah takpernah lagi dibawakan itu punya ciri-ciri khas. Seperti tari kekok, merupakan tari komedi yangf dibawakan penari dengan memakai dua tempurung kelapa yang diletakkan di tangan dan kiri. Tari gegerit, dimainkan tujuh gadis di depan gerbang saat menyambut tamu dengan upacara adat yang diiringi dengan tabuhan gong kulintang dan rebab.
Lalu tarian ngelsambai, dibawakan muda-mudi sembari melantunkan pantun bersahut.
Punahnya tarian ini memang disebabkan banyak faktor. Diantaranya, tak ada lagi mereka yang menguasai tarian itu. Sementara, generasi muda tak ada yang mewarisinya.
Tahun 1960-an lalu, sebenarnya masih ada sekitar 10 empu tari tradisional. Namun hingga 1980-an, tinggal seorang lagi. Sampai akhirnya, empu terakhir, Cik Inah meninggal dan kini tak ada lagi yang meneruskannya.
Karenanya, tugas berat Syamsu Indra Usman, berusaha menggali kembali budaya yang punah ini dengan berbagai cara dan media. Dia yaklin usahanya akan membawa hasil. Apalagi, semangatnya memang patut diacungi jempol. Sama seperti semangatnya soal pemekaran daerahnya.
Dia dikenal telah menggunakan sebutan Empat Lawang sejak 1992 dalam karya-karyanya. Padahal, saat itu dia sering disebut gila dan edan. Apalagi, isu pemekran sama sekali masih tabu di era orde baru ketika itu. (sh/muhamad nasir)
Sisi Lain
Membidani Pemekaran
Diluar profesinya sebagai seniman, Syamsu Indra Usman termasuk salah seorang yang membidani lahirnya Kabupaten Empat Lawang. Bagaimana, ide gilanya itu telah dimulai sejak 1992. Dalam karya-karyanya dia telah memasukkan nama Empat Lawang. Suatu pemikiran yang ketika itu memang belum bisa diterima. Di rumahnya pula beberapa tua adat dan tokoh masyarakat pernah bermusyawarah membentuk wacana melepaskan diri dari Lahat dan berdiri sebagai wilayah otonom.
Perjuangan untuk itu memang tidak mudah. Berbagai cara dan jalur dilakukan. Banyak tokoh daerah dan mereka yang sukses di luar terlibat dalam kegiatan besar itu. Termasuk beberapa organisasi dan persatuan warga empat lawang.
Paling tidak, perjuangannya yang dilakukan bersama-sama itu kini memang terbukti. Dia masih ingat ketika menyebut-nyebut soal pemekaran tudingan gila langsung mengarah. Tetapi berkat musyawarah dengan semua, dibicarakan keuntungan dan kelebihannya, akhirnya makin banyak jemo (orang) ang ngerti. Kalau awalnya jemo gilo (orang gila) nya masih sedikit, lama-lama terus bertambah. Dan perjuangan pun semakin kuat. Hingga di akhir reformasi, semakin gencar dan dia tak terlibat lagi. Perjuangannya sudah di tingkat yang berbeda. (sh/muhamad nasir)
Penyair Gunung yang Jadi Ikon Daerah
Palembang:
Gaya bicaranya blak-blakan. Meski dia orang seni, ternyata bahasanya justru meledak-ledak. Tak ada gambaran kalau dia seniman. Berbeda jika dia sudah bergulat dengan puisi, baru kelihatan bahwa dia seorang seniman.
Nama Syamsu Indra Usman, sesungguhnya memang sudah dikenal di wilayah Sumsel. Tak sekadar di daerahnya, Kabupaten Empat Lawang. Bahkan, dalam benak beberapa sastrawan dan budayawan di Jakarta pun namanya sudah terpatri.
Kalau rajin membuka Direktori Penulis Indonesia, atau Buku Pintar Sastra Indonesia karya Pamusuk Eneste, pun Direktori Seni dan Budaya Indonesia 2000 memang namanya sudah tercatat.
Dalam dunia tulis menulis, sastrawan unik ini memiliki sedikitnya lima nama alias. Kelimanya, Indra Usman Karang Cayo, Indra Usman Ulu Musi, Indra Usman Rajo Teleguh, Indra Usman Patiugau, dan IIN Sarosa.
Meski usianya sudah kepala lima, lelaki kelahiran Lahat 12 Oktober 1956 ini memang masih penuh semangat. Suami Wesi ini masih aktif dalam organisasi kesenian. Dia bahkan kini dipercaya sebagai Ketua Dewan Kesenian Empat Lawang.
Meski karyanya sudah tak terhitung lagi, memang ayah dari Dwi Maresta Putri, Alva Agusti Sriosa, dan Pebi Ayu Lestari ini lebih suka tinggal di desanya di Lubuk Puding Kecamatan Ulu Musi, Empat Lawang. Karenanya, oleh teman-temannya dia dijuluki sebagai Penyair Gunung.
Alumni Akademi Bank danManajemen, Jurusan Perbankan Jember ini, memang lebih memilih berkarya dari kampung halamannya. Meski demikian, karya-karya telah merambah ke berbagai media dan dinikmati oleh banyak orang.
Selain sebagai seniman, di daerahnya dia juga mengabdi sebagai guru dan juga aktif di berbagai organisasi. Puluhan karyanya pun telah diterbitkan diantaranya, Orang-Orang Tertindas (Kumpulan Puisi), Balada Gadis Urban (Kumpulan Puisi), Hati Seorang Perempuan (Novel), Resep Makanan Daerah Empat Lawang, Petatah Petitih daerah Empat Lawang, Kumpulan Rejung Empat Lawang ( kumpulan pantun), juga Kamus Bahasa Daerah Empat Lawang.
Selain karya-karya yang telah diterbitkan, uniknya Syamsu Indra Usman ternyata masih telaten menyimpan tulisan tangan asli karya-karya itu. ”Selama ini saya memang menulis sendiri dengan tangan karya-karya saya. Mengetik pun saya tak bisa. Apalagi, menggunakan komputer,” ujarnya ketika ditemui di kediamannya di Tebingtinggi yang baru dihuninya sekitar setahun terakhir.
Salah satu karya yang tengah diselesaikannya adalah membuat kamus bahasa Empat Lawang. ”Ini bukan proyek dan saya bekerja sendiri mengumpulkan data-datanya,” ujarnya bersemangat. Memang tak ada nada-nada rendah dalam gaya bicaranya.
Keprihatinannya terhadap seni dan budaya daerah yang nyaris punah pun diungkapkannya dengan bersemangat. Disebutkannya misalnya di daerahnya Empat Lawang yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Lahat terdapat delapan tarian tradisional.
Sayang, lima diantaranya kini sudah punah. Yakni tarian gegerit, senggam sirih, kekok, ngelsambai, dantari selendang. Kini yang masih lestari hanya tiga tarian, yakni tari ngarakpenganten, melami menda, dan tari pereng.
Padahal, menurutnya tarian yang sudah takpernah lagi dibawakan itu punya ciri-ciri khas. Seperti tari kekok, merupakan tari komedi yangf dibawakan penari dengan memakai dua tempurung kelapa yang diletakkan di tangan dan kiri. Tari gegerit, dimainkan tujuh gadis di depan gerbang saat menyambut tamu dengan upacara adat yang diiringi dengan tabuhan gong kulintang dan rebab.
Lalu tarian ngelsambai, dibawakan muda-mudi sembari melantunkan pantun bersahut.
Punahnya tarian ini memang disebabkan banyak faktor. Diantaranya, tak ada lagi mereka yang menguasai tarian itu. Sementara, generasi muda tak ada yang mewarisinya.
Tahun 1960-an lalu, sebenarnya masih ada sekitar 10 empu tari tradisional. Namun hingga 1980-an, tinggal seorang lagi. Sampai akhirnya, empu terakhir, Cik Inah meninggal dan kini tak ada lagi yang meneruskannya.
Karenanya, tugas berat Syamsu Indra Usman, berusaha menggali kembali budaya yang punah ini dengan berbagai cara dan media. Dia yaklin usahanya akan membawa hasil. Apalagi, semangatnya memang patut diacungi jempol. Sama seperti semangatnya soal pemekaran daerahnya.
Dia dikenal telah menggunakan sebutan Empat Lawang sejak 1992 dalam karya-karyanya. Padahal, saat itu dia sering disebut gila dan edan. Apalagi, isu pemekran sama sekali masih tabu di era orde baru ketika itu. (sh/muhamad nasir)
Sisi Lain
Membidani Pemekaran
Diluar profesinya sebagai seniman, Syamsu Indra Usman termasuk salah seorang yang membidani lahirnya Kabupaten Empat Lawang. Bagaimana, ide gilanya itu telah dimulai sejak 1992. Dalam karya-karyanya dia telah memasukkan nama Empat Lawang. Suatu pemikiran yang ketika itu memang belum bisa diterima. Di rumahnya pula beberapa tua adat dan tokoh masyarakat pernah bermusyawarah membentuk wacana melepaskan diri dari Lahat dan berdiri sebagai wilayah otonom.
Perjuangan untuk itu memang tidak mudah. Berbagai cara dan jalur dilakukan. Banyak tokoh daerah dan mereka yang sukses di luar terlibat dalam kegiatan besar itu. Termasuk beberapa organisasi dan persatuan warga empat lawang.
Paling tidak, perjuangannya yang dilakukan bersama-sama itu kini memang terbukti. Dia masih ingat ketika menyebut-nyebut soal pemekaran tudingan gila langsung mengarah. Tetapi berkat musyawarah dengan semua, dibicarakan keuntungan dan kelebihannya, akhirnya makin banyak jemo (orang) ang ngerti. Kalau awalnya jemo gilo (orang gila) nya masih sedikit, lama-lama terus bertambah. Dan perjuangan pun semakin kuat. Hingga di akhir reformasi, semakin gencar dan dia tak terlibat lagi. Perjuangannya sudah di tingkat yang berbeda. (sh/muhamad nasir)
Rabu, 22 April 2009
janin membatu setelah 24 tahun
Ditemukan, Janin Membatu dalam Rahim
Palembang
Tim dokter Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja, mengungkap misteri hilangnya kandungan Rainah (48) yang telah berusia 7 bulan pada 1984 lalu. Ternyata, janin itu telah membatu di rahim sang ibu. Penemuan ini dalam istilah kedokteran disebut lithopedion
Terkuaknya misteri calon anak pertama yang telah diidam-idamkan warga Belitang BK XVI, Kabupaten OKU Timur, itu saat menjalani operasi tumor rahim yang dilakukan tim medis Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja.
Operasi itu dipimpin dr Hafiz Usman SpOG. Saat operasi berlangsung tim medis menemukan sebongkah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa berada di luar dinding rahim Rainah. Saat diperiksa, ternyata sebongkah batu tersebut adalah janin bayi yang telah mengalami pengapuran.
Organ tubuh janin tersebut masih tampak jelas.Terdiri dari kepala, rangka kedua tangan, kaki, tulang iga dan tulang belakang. Diperkirakan janin “batu” itu memiliki panjang sekitar 14 cm dengan dengan berat sekitar 300-4000 gr.
Kepala janin menyatu dengan pangkal paha. Selain menemukan janin “batu”, tim medis juga menemukan sebongkah batu berukuran lebih kecil yang awalnya diduga plasenta. Janin yang mengalami pengapuran ini diduga merupakan janin bayi yang dikandung Rainah pada 1984 silam. Saat itu usia kandungan Rainah sudah berjalan tujuh bulan dan mendadak hilang.
Ketua Tim Dokter Operasi dr Hafiz Usman SpOG mengaku terkejut dengan ini. Awalnya, pihaknya hanya melakukan operasi pengangkatan rahim saja. Pasien mengalami kehamilan ekstra uterine atau intra abidol minal. Di mana pasien sempat hamil tujuh bulan terus hilang.Ini disebabkan janin bayi meninggal namun tidak membusuk dan tidak bisa keluar.
”Terjadilah proses kalsifikasi atau pengapuran,” tandasnya. Hafidz menambahkan, sebelumnya Rainah hanya mengeluhkan pendarahan atau haid selama dua bulan tanpa henti.
Setelah diteliti dan dilakukan USG,pasien positif memiliki tumor jinak atau mioma uteri.”Dalam USG tersebut awalnya saya juga lihat ada gambar klasifikasi yang kurang jelas di luar rahim. Kendati demikian kita awalnya masih fokus pada mioma uteri itu,”tandas dia. Menurut Hafidz, penemuan janin menjadi batu ini diketahui saat operasi berlangsung.
Menurut Hafiz, kalau operasi pengangkatan rahim saja biasanya hanya 45 menit. Karena sekalian membersihkan ini mereka menghabiskan waktu 1 jam 25 menit dengan penambahan darah sebanyak dua kantong. (sir)
Palembang
Tim dokter Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja, mengungkap misteri hilangnya kandungan Rainah (48) yang telah berusia 7 bulan pada 1984 lalu. Ternyata, janin itu telah membatu di rahim sang ibu. Penemuan ini dalam istilah kedokteran disebut lithopedion
Terkuaknya misteri calon anak pertama yang telah diidam-idamkan warga Belitang BK XVI, Kabupaten OKU Timur, itu saat menjalani operasi tumor rahim yang dilakukan tim medis Rumah Sakit Dr Noesmir DKT Baturaja.
Operasi itu dipimpin dr Hafiz Usman SpOG. Saat operasi berlangsung tim medis menemukan sebongkah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa berada di luar dinding rahim Rainah. Saat diperiksa, ternyata sebongkah batu tersebut adalah janin bayi yang telah mengalami pengapuran.
Organ tubuh janin tersebut masih tampak jelas.Terdiri dari kepala, rangka kedua tangan, kaki, tulang iga dan tulang belakang. Diperkirakan janin “batu” itu memiliki panjang sekitar 14 cm dengan dengan berat sekitar 300-4000 gr.
Kepala janin menyatu dengan pangkal paha. Selain menemukan janin “batu”, tim medis juga menemukan sebongkah batu berukuran lebih kecil yang awalnya diduga plasenta. Janin yang mengalami pengapuran ini diduga merupakan janin bayi yang dikandung Rainah pada 1984 silam. Saat itu usia kandungan Rainah sudah berjalan tujuh bulan dan mendadak hilang.
Ketua Tim Dokter Operasi dr Hafiz Usman SpOG mengaku terkejut dengan ini. Awalnya, pihaknya hanya melakukan operasi pengangkatan rahim saja. Pasien mengalami kehamilan ekstra uterine atau intra abidol minal. Di mana pasien sempat hamil tujuh bulan terus hilang.Ini disebabkan janin bayi meninggal namun tidak membusuk dan tidak bisa keluar.
”Terjadilah proses kalsifikasi atau pengapuran,” tandasnya. Hafidz menambahkan, sebelumnya Rainah hanya mengeluhkan pendarahan atau haid selama dua bulan tanpa henti.
Setelah diteliti dan dilakukan USG,pasien positif memiliki tumor jinak atau mioma uteri.”Dalam USG tersebut awalnya saya juga lihat ada gambar klasifikasi yang kurang jelas di luar rahim. Kendati demikian kita awalnya masih fokus pada mioma uteri itu,”tandas dia. Menurut Hafidz, penemuan janin menjadi batu ini diketahui saat operasi berlangsung.
Menurut Hafiz, kalau operasi pengangkatan rahim saja biasanya hanya 45 menit. Karena sekalian membersihkan ini mereka menghabiskan waktu 1 jam 25 menit dengan penambahan darah sebanyak dua kantong. (sir)
Kemampuan Menulis Akademisi Rendah
PALEMBANG - Rendahnya kemampuan menulis kalangan akademisi dikemukakan tujuh pembicara dalam Seminar Nasional Bahasa yang digelar Program Pascasarjana Universitas PGRI Sabtu (19/7).
Ketujuh pembicara yang tampil dalam seminar bertema "Aktualisasi Literasi Kaum Intelektual yang Berwawasan Iptek dan Imtaq Terpadu," Prof Chaedar Alwasilah MA, PhD, dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung;Prof Chuzaimah D Dien, MA,EdD, dari Unsri; Drs Trisman M Hum, Kepala Balai Bahasa Palembang; Prof Drs Nangsari Ahmad, MA, PhD, Direktur Pascasarjana Universitas PGRI Palembang; dan tiga mahasiswa Pascasarjana Universitas PGRI, Muhamad Nasir, Warino, dan Komariah Darma Budi.
Profesor Chaedar Alwasilah MA PhD mengemukakan politik bahasa dan pendidikan telah menyebabkan kalangan akademisi minim kemampuan dan kemauan menulis. Faktor warisan kebijakan yang sentralistik menyebabkan kalangan akademisi takut untuk mengemukakan pendapat. (sir)
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0807/21/kesra04.html
PALEMBANG - Rendahnya kemampuan menulis kalangan akademisi dikemukakan tujuh pembicara dalam Seminar Nasional Bahasa yang digelar Program Pascasarjana Universitas PGRI Sabtu (19/7).
Ketujuh pembicara yang tampil dalam seminar bertema "Aktualisasi Literasi Kaum Intelektual yang Berwawasan Iptek dan Imtaq Terpadu," Prof Chaedar Alwasilah MA, PhD, dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung;Prof Chuzaimah D Dien, MA,EdD, dari Unsri; Drs Trisman M Hum, Kepala Balai Bahasa Palembang; Prof Drs Nangsari Ahmad, MA, PhD, Direktur Pascasarjana Universitas PGRI Palembang; dan tiga mahasiswa Pascasarjana Universitas PGRI, Muhamad Nasir, Warino, dan Komariah Darma Budi.
Profesor Chaedar Alwasilah MA PhD mengemukakan politik bahasa dan pendidikan telah menyebabkan kalangan akademisi minim kemampuan dan kemauan menulis. Faktor warisan kebijakan yang sentralistik menyebabkan kalangan akademisi takut untuk mengemukakan pendapat. (sir)
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0807/21/kesra04.html
sfc juru kunci
SFC Dipaksa Juru Kunci
Palembang,
Tekad Sriwijaya FC lepas dari juru kunci dengan mengalahkan Gamba Osaka dalam pertandingan home Selasa malam (21/4) tak terealiasi. Kebobolan tiga bol, membawa tim pemegang double winner ini menempati kuru kunci tanpa satu poin pun.
Bermain di hadapan penonton sendiri dan didukung cuaca ternyata tak membuat pemain Kayamba dkk bisa menjebol pertahanan Gamba Osaka.
Tiga gol yang dilesakkan pemain Gamba Osaka,mulai dari Leandro Da Silva di menit 30, Sasaki Hayato di menit 45 dan Cho Jae Jin di menit 74,menambah dalam defisit gol menjadi 17 kali kebobolan dalam empat pertandingan Liga Champions Asia (LCA) 2009 ini.
Pelatih kepala SFC, Rahmad Darmawan, usai pertandingan mengungkapkan, sebenarnya mereka memiliki kans untuk membuat gol.
Tercatat sekitar lima peluang yang tidak dapat dimaksimalkan Kayamba dkk. Namun dari awal pertandingan anak asuhnya salah dalam menerapkan offside system, maka gol pertama Gamba Osaka bisa terjadi.
Rahmad mengatakan timnya sudah bermain cukup efektif, tapi tetap saja kematangan lawan yang juga juara bertahan LCA edisi 2008, sangat membuat mereka tidak bisa berbuat banyak.
Pelatih Gamba Osaka Akira Nishino menuturkan, mereka cukup puas dengan hasil tadi malam. Semua berjalan sesuai dengan harapan dan instruksi yang sudah dilakukannya pada pemain.
Diungkapkannya, masih ada 16 pertandingan yang akan dimainkan baik dalam Liga maupun Champions. Untuk itulah, Akira menambahkan masih banyak yang harus dilakukan anak asuhnya, agar dapat membuat yang lebih baik lagi di pertandingan selanjutnya. “Apa yang kami capai tahun lalu (Juara Champions) akan kami lakukan lagi tahun ini. Makanya kami akan berusaha memperbaiki tim,” ucapnya.
Pertandingan sendiri cukup seru. Saat wasit asal Singapura Abdul Malik meniupkan peluit tanda babak pertama dimulai, SFC yang menerapkan skema 3-5- 2 di babak pertama ini mencoba untuk langsung menekan tamunya.
Setelah lebih dari 25 menit mengepung pertahanan SFC, pola serangan Gamba yang cukup sabar bisa menyarangkan gol pertamanya di menit 30.Berawal dari serangan terencana Leandro yang lolos dari jebakan offside dan tanpa pengawalan langsung menghujamkan tendangan kerasnya ke gawang SFC. Kali ini Dede Sulaiman tak mampu menahan kerasnya laju bola tersebut.
Serangan SFC ,masih sangat mudah dibaca barisan pertahanan Gamba. Aliran serangan SFC terlalu monoton tanpa banyak membuat variasi, hingga pekerjaan Yamaghuci di belakang tidak terlalu sulit. Sebaliknya, Gamba malah menambah satu gol lagi tepat di menit 45,melalui kaki Sasaki Hayato setelah menerima bola rebound Takada yang sebelumnya membentur tiang gawang.
Di paruh kedua, Gamba tetap bermain dengan sabar tapi sangat efektif. Sementara SFC tidak menambah intensitas serangan, melainkan lebih merapatkan pertahanan. Rahmad Darmawan pun memasukkan tenaga baru, Ambrizal di menit 58 untuk mengganti Isnan Ali yang kurang maksimal. SFC hampir membuat gol, sayang umpan tarik Worabay dari sektor kiri Gamba masih bisa diblok kiper Matsuyo, setelah Nakazawa tanpa sengaja menahan laju bola yang mengarah kegawang mereka sendiri.
Striker Gamba asal Korea Selatan (Korsel), Cho Jae Jin, juga turut menyumbangkan satu gol untuk Biru Hitam di menit 74. Gol ini cukup matang karena berawal dari serangan yang terencana. Gelandang serang Gamba Yamakazi Masato, yang mendapatkan bola dari sisi kiri pertahanan SFC dengan manisnya mengirim umpan trobos kepada Cho Jae Jin yang telah mendapatkan posisi yang pas.
Tanpa banyak memegang bola, pemain jangkung ini langsung mengarahkan tendangan keras dari jarak pendeknya ke gawang SFC. Hingga wasit meniupkan peluit panjang pertanda pertandingan selesai, skor tetap 3-0 untuk keunggulan Gamba Osaka. (sir)
Palembang,
Tekad Sriwijaya FC lepas dari juru kunci dengan mengalahkan Gamba Osaka dalam pertandingan home Selasa malam (21/4) tak terealiasi. Kebobolan tiga bol, membawa tim pemegang double winner ini menempati kuru kunci tanpa satu poin pun.
Bermain di hadapan penonton sendiri dan didukung cuaca ternyata tak membuat pemain Kayamba dkk bisa menjebol pertahanan Gamba Osaka.
Tiga gol yang dilesakkan pemain Gamba Osaka,mulai dari Leandro Da Silva di menit 30, Sasaki Hayato di menit 45 dan Cho Jae Jin di menit 74,menambah dalam defisit gol menjadi 17 kali kebobolan dalam empat pertandingan Liga Champions Asia (LCA) 2009 ini.
Pelatih kepala SFC, Rahmad Darmawan, usai pertandingan mengungkapkan, sebenarnya mereka memiliki kans untuk membuat gol.
Tercatat sekitar lima peluang yang tidak dapat dimaksimalkan Kayamba dkk. Namun dari awal pertandingan anak asuhnya salah dalam menerapkan offside system, maka gol pertama Gamba Osaka bisa terjadi.
Rahmad mengatakan timnya sudah bermain cukup efektif, tapi tetap saja kematangan lawan yang juga juara bertahan LCA edisi 2008, sangat membuat mereka tidak bisa berbuat banyak.
Pelatih Gamba Osaka Akira Nishino menuturkan, mereka cukup puas dengan hasil tadi malam. Semua berjalan sesuai dengan harapan dan instruksi yang sudah dilakukannya pada pemain.
Diungkapkannya, masih ada 16 pertandingan yang akan dimainkan baik dalam Liga maupun Champions. Untuk itulah, Akira menambahkan masih banyak yang harus dilakukan anak asuhnya, agar dapat membuat yang lebih baik lagi di pertandingan selanjutnya. “Apa yang kami capai tahun lalu (Juara Champions) akan kami lakukan lagi tahun ini. Makanya kami akan berusaha memperbaiki tim,” ucapnya.
Pertandingan sendiri cukup seru. Saat wasit asal Singapura Abdul Malik meniupkan peluit tanda babak pertama dimulai, SFC yang menerapkan skema 3-5- 2 di babak pertama ini mencoba untuk langsung menekan tamunya.
Setelah lebih dari 25 menit mengepung pertahanan SFC, pola serangan Gamba yang cukup sabar bisa menyarangkan gol pertamanya di menit 30.Berawal dari serangan terencana Leandro yang lolos dari jebakan offside dan tanpa pengawalan langsung menghujamkan tendangan kerasnya ke gawang SFC. Kali ini Dede Sulaiman tak mampu menahan kerasnya laju bola tersebut.
Serangan SFC ,masih sangat mudah dibaca barisan pertahanan Gamba. Aliran serangan SFC terlalu monoton tanpa banyak membuat variasi, hingga pekerjaan Yamaghuci di belakang tidak terlalu sulit. Sebaliknya, Gamba malah menambah satu gol lagi tepat di menit 45,melalui kaki Sasaki Hayato setelah menerima bola rebound Takada yang sebelumnya membentur tiang gawang.
Di paruh kedua, Gamba tetap bermain dengan sabar tapi sangat efektif. Sementara SFC tidak menambah intensitas serangan, melainkan lebih merapatkan pertahanan. Rahmad Darmawan pun memasukkan tenaga baru, Ambrizal di menit 58 untuk mengganti Isnan Ali yang kurang maksimal. SFC hampir membuat gol, sayang umpan tarik Worabay dari sektor kiri Gamba masih bisa diblok kiper Matsuyo, setelah Nakazawa tanpa sengaja menahan laju bola yang mengarah kegawang mereka sendiri.
Striker Gamba asal Korea Selatan (Korsel), Cho Jae Jin, juga turut menyumbangkan satu gol untuk Biru Hitam di menit 74. Gol ini cukup matang karena berawal dari serangan yang terencana. Gelandang serang Gamba Yamakazi Masato, yang mendapatkan bola dari sisi kiri pertahanan SFC dengan manisnya mengirim umpan trobos kepada Cho Jae Jin yang telah mendapatkan posisi yang pas.
Tanpa banyak memegang bola, pemain jangkung ini langsung mengarahkan tendangan keras dari jarak pendeknya ke gawang SFC. Hingga wasit meniupkan peluit panjang pertanda pertandingan selesai, skor tetap 3-0 untuk keunggulan Gamba Osaka. (sir)
Kamis, 16 April 2009
Ita Diana, Menyungkit Songket Melestarikan Budaya
448: Beginilah menyungkit songket
Ita Diana
Melestarikan Songket, Melanggar Tradisi
Pembuatan songket ternyata tak semudah dibayangkan. Bukan sekedar menenun seperti sering kita lihat, seorang wanita menenun kain songket dengan lincahnya. Meskipun, itupun membutuhkan waktu paling tidak seminggu.
Sebelum menenun, ternyata ada langkah awal yang harus dilakukan untuk bisa menghasilkan songket. Proses inilah yang menentukan seperti apa motif songket itu nanti jadinya. Tahap inidisebut dengan proses menyungkit atau membuat motif.
Di Sumsel, tak banyak yang bisa menyungkit ini. Karena memang pengetahuan dan keterampilan ini diturunkan turun-temurun. Itupun tidak semua keturunan bisa mendapatkan nasib baik diajari menyungkit.
Karenanya, penyungkit ini jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mereka berada di perkampungan orang-orang asli Palembang seperti di Tanggabuntung dan 3-4 Ulu Palembang.
Seorang penenun sedang mengerjakan tenunan songket motif buatan Ita Diana
Diantaranya, Ita Diana. Wanita kelahiran Palembang ini mendapat keahlian menyungkit dari neneknya. Tepatnya, adik dari kakeknya, almarhumah Nenek Imah. Dari cucu-cucu lainnya, dia beruntung karena mendapat kepercayaan dan kesempatan untuk belajar mencukit. Meski harus mengorbankan sekolah.
Istri Ismail ini, mendapatkan kemampuan mencukit jugatidak mudah. Bertahun-tahun dia belajar.
Ibu dari M Ajid Sidik, Enha Anggi Pratama, dan M Balya ini pun tidak menurunkan kemampuannya kepada keturunannya. Karena memang dia tak punya anak wanita.
Ditemui dikediamannya di kawasan 3-4 Ulu, Palembang, Ita menceritakan bahwa, desain songket biasanya terdiri dari teretes, hiasan pinggiran (tepi), tawur, rebung, apit, rumpak, ombak, kembang/tumpal.
Untuk kembang atau tumpal, bisa berupa motif naga besaung nampan perak, bungo cino, ulir, ataupun kembang pacar. Khusus untuk kembang/tumpal tidak boleh diganti. Sudah menjadi pakem, kalaupun mau memodifikasi, biasnya di bagian yang lain.
Proses pembuatan songket, menurutnya dimulai dari nyucuk suri, ngelak, pencukitan (membuat motif). Setelah itu baru menenun.
Bagi Ita sendiri, dia bukan sekadar membuat motif songket Palembang tetapi juga mengerjakan motif songket Jambi yang punya ciri khas tersendiri. Yang biasnya bermotif emong kuncai, kembang duren dan angso suo
Ukuran songket biasanya 90 cm x 2 meter. Untuk songket biasnya dibutuhkan 7 tukel benang. Nantinya, bisa menjadi 3 kain songket. Mengerjakannya bisa sepuluh hari.
Ita Diana menunjukkan songket hasil kreasinya pesanan seorang pejabat di Jakarta.
Mengerjakan songket, mulai dari proses pembuatan motif tidak sedikit. Diantaranya, kuda-kuda (kudo dayan), apit, penyuncing, beluro, por, suri, dan teropong. Juga dibutuhkan banyak lidi, terutama dalam pembuatan motif.
Penggunaan lidi, sedikitnya 170 batang untuk satu songket. Rinciannya,, teretes 21,
tawur 12, rebung 60, rumpal/bunga api 8-10, ombak 9, kembang/tumpal 25-60.
Diungkapkan Ita, lidi-lidi ini biasanya dibeli dari pengrajin rokok gudung. Seikat seharga Rp 2.000 berisi sekitar 500 batang.
Motif songket ini sendiri, setelah selesai dibuat nantinya bisa digunakan untuk menenun sedikitnya 500 songket. Namun kalau tidak terawat dan tidak telaten, bisa-bisa hanya bisa untuk tiga songket. ”Bergantung kepada penenunnya,” ujarnya.
Upah membuat motif ini sendiri, saat ini berkisar Rp 225.000 hingga Rp 250.000. Bergantung kerumitannya. Hanya saja, pembuatan motif ini masih menemui kendala karena berbagai faktor. Diantaranya, masih minimnya keinginan orang untuk belajar. Juga minimnya modal untuk membuat motif, sehingga pembuatan motif baru dilaksanakan jika ada yang memesan.
Beberapa tahun terakhir, jumlah pembuat motif ini sebenarnya bisa dihitung dengan jari. Itu karena fakor-faktor tersebut ditambah adanya aturan bahwa pembuatan motif ini hanya bleh diturunkan kepada keturunan.
Bagi Ita sendiri, dia merasa tak masalah mengajarkan teknik pembuatan motif itu. Karenanya, ketika ada tawaran dari Disperindag untuk mengajar di kursus pembuatan motif, dia tak berkeberatan. Juga beberapa even lainnya yang dilaksanakan oleh berbagai organisasi dan disponsori berbagai perusahaan.
Melalui Disperindag saja, dia sudah tiga kali dilibatkan. Termasuk ke berbagai daerah, seperti Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir (OI). Hasilnya, kini sudah puluhan penyungkit baru kini telah lahir. Termasuk di kampungnya, yang pelatihannya melalui kelurahan.
Mengajar program Disperindag 3 kali sudah tiga kali, sedikitnya mengajari 60 orang. Ditambah di kelurahan, sebanyak 25 orang. Kini mereka sudah produktif. Beberapa rumah tenun di Palembang, bahkan pesanan-pesanan dari luar daerah memang telah memanfaatkan jasa penyungkitan tersebut. (muhamad nasir)
Sisi Lain
Biaya Seharga Satu Suku Emas
Ita Diana mengawasi seorang anak didiknya sedang mengerjakan pencukitan songket....
Belajar mencukit bisa dengan dua cara. Secara privat atau ikut program yang dilaksanakan dinas/instansi atau organisasi tertentu.
Hasilnya memang tak sama. Karena biaya dan waktu belajar pun memang berbeda. Untuk yang privat, Ita mematok harga tertentu. Inipun sesungguhnya sudah berlaku secara umum di Palembang. Yakni, biayanya seharga satu suku emas atau 6,7 gram.
Saat harga emas naik seperti sekarang ini, bisa mencapai Rp 2 juta. Belajarnya, selama tiga bulan dengan belajar sekali seminggu. Mulai dari nyucuk suri, ngelak, pencukitan (membuat motif) sekaligus menenun.
Sementara kalau ikut program, hanya dua kali pertemuan. Biasanya, cocok untuk mereka yang pernah memiliki kemampuan menenun. Sehingga punya kemampuan dana pengetahun dasar tentang songket menyongket.
Bagi Ita, untuk kursus-kursus ini dia biasanbya dibayar Rp 500 ribu dengan murid paling banyak 20 orang. Kalau dibanding belajar privat tentu tak seimbang. ”Tetapi, manfaatnya tentu songket bisa lebih lestari,” ujarnya. (muhamad nasir)
Telkomsel-Dekopin kerjasama

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno (kiri) dan Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Adi Sasono saat menandatangani kerjasama penyediaan solusi telekomunikasi bagi koperasi di seluruh Indonesia (15/4). Telkomsel bekerjasama dengan Dekopin menyediakan layanan komunikasi murah Closed User Group, mobile wallet T-Cash & Remittance, Push E-mail, dan layanan bagi pengembangan 30 juta anggota komunitas koperasi di daerah USO (Universal Service Obligation).
Telkomsel Berikan Solusi Bagi Komunitas Koperasi
Jakarta:
Telkomsel melakukan penandatanganan kerjasama dengan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) untuk penyediaan solusi telekomunikasi bagi koperasi di seluruh Indonesia, Kamis (16/4).
Kerjasama ini merupakan bentuk dukungan Telkomsel terhadap perkembangan koperasi yang merupakan sendi perekonomian Indonesia.
Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno dan Ketua Umum Dekopin Adi Sasono, di mana nota kesepahaman ini mencakup layanan HALO Koperasi Closed User Group, T-Cash & Remittance, Push E-mail, dan layanan untuk pengembangan komunitas koperasi di daerah USO (Universal Service Obligation).
Layanan HALO Koperasi Close User Group memberikan tarif komunikasi murah sesama komunitas anggota Dekopin, yang dilengkapi dengan fasilitas canggih seperti mobile wallet T-Cash dan T-Remittance yang memungkinkan transaksi dan transfer uang via ponsel, serta layanan Push Email guna meningkatkan kinerja yang lebih efektif dan produktif.
Di samping itu, upaya Dekopin untuk mengembangkan komunitas koperasi di daerah terpencil, tentunya akan semakin mudah karena didukung jaringan telekomunikasi terluas yang dilayani 27.500 BTS (Base Transceiver Station) dan penggelaran program USO yang akan menjangkau 24.051 desa terpencil.
Sarwoto mengatakan, ”Kerjasama ini merupakan bentuk dukungan kami terhadap perkembangan koperasi di Indonesia, di mana dengan jaringan terluas hingga pelosok memberikan solusi komunikasi bagi seluruh anggota Dekopin yang berjumlah lebih dari 30 juta dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.”
“Dukungan kami ini didasarkan atas kesamaan visi pelayanan, di mana seperti kita ketahui bersama pemerintah sangat mendorong perekonomian rakyat berbasis koperasi sebagai sendi perekonomian nasional untuk kesejateraan masyarakat luas. Demikian juga halnya Telkomsel juga terus berupaya menghadirkan manfaat bagi seluruh masyarakat dengan membuka keterisolasian komunikasi seluruh wilayah populasi Indonesia,” ungkap Sarwoto.
Adi Sasono menambahkan, “Kehadiran layanan telekomunikasi tentunya akan sangat membantu perkembangan komunitas koperasi, dari perekonomian kerakyatan menuju perekonomian modern. Peningkatan 1% layanan telekomunikasi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 3%, tapi kami yakin di Indonesia bahwa peningkatan 1% layanan telekomunikasi selular akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 6%-9%.”
Kerjasama Telkomsel dengan Dekopin merupakan bentuk kelanjutan komitmen Telkomsel dalam mendukung sendi-sendi perekonomian bangsa khususnya koperasi maupun usaha kecil menengah (UKM). Sebelumnya di tahun ini, Telkomsel juga telah mendukung Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) untuk para anggotanya yang umumnya adalah UKM dan wiraswastawan dalam mendapatkan solusi komunikasi untuk meningkatkan produktivitas mereka. (sir/rel)
Caleg Demokrat, Sofwatillah
Sofwatillah, dari DPRD Kota ke DPR RI
Palembang:
Penghitungan memang belum usai, tetapi hasilnya sudah diprediksi. Selain mendudukkan nama-nama yang tak asing, juga ada nama yang sebelumnya tak terdengar.
Salah satunya, nama Sofwatillah Mohzaib dari Partai Demokrat. Sebelumnya, Ofat duduk di DPRD Kota Palembang.
Dalam pemilu 2009, dia justru mencalon ke DPR RI. Spontan, berbagai komentar muncul. Apalagi, Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel saja, Ahmad Jauhari hanya mencalon di DPRD Sumsel.
Hasil- hitungan sementara calon legislatif (Caleg) DPR RI, daerah pemilihan I Sumatera Selatan, meliputi, Palembang, Banyuasin, Musi Banyuasin, (Muba), Musi Rawas (Mura) dan Lubuklinggau, dari Partai Demokrat Sumsel, Sofwatillah Mohzaib menyaingi posisi Dodi Reza Alex Noerdin dari Partai Golkar. Sofwatillah berada di urutan ke dua perolehan suara dari Dapil I untuk DPR RI asal Sumsel.
Sofwatillah yang akrab disapa Opat ini dalam pantauan unggul di beberapa kecamatan di Palembang menyaingi Dodi putra dari Gubernur Sumsel Alex Noerdin. Sebagai contoh, di Kecamatan Gandus, yang meliputi lima kelurahan, Opat memimpin
Opat selama ini memang bukanlah caleg yang diunggulkan di Palembang. Terlebih sebagai orang yang masih muda dan saingannya merupakan para senior dan orang-orang ternama di daerah ini.
Namun si pembuat Al Qur’an raksasa yang kini dipamerkan di Masjid Agung Palembang itu melenggang ke Senayan. Saingan terberatnya Dodi Reza Alex Noerdin di posisi pertama. Hasil realcount yang dihimpun di Kelurahan 36 ilir, Kecamatan Gandus Palembang dari 27 TPS yang ada Opat mengantongi 941 dari total 1377 termasuk suara Partai Demokrat. Sementara Dodi Reza Alex mengumpulkan 887 dan Partai Golkar 1.138 suara.
Di Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, Sofwatillah Mohzaib unggul sementara di Kecamatan Banyuasin III/Pangkalan Balai , Opat mengantongi 1.960 suara jauh di atas perolehan Hakim Sorimuda Pohan (sebelumnya anggota DPR RI) yang mengantongi 515 suara, partai 2.027 sehingga total 5.467. Di Muara Telang Opat mengantongi 1.542 suara, suara partai 1579. Total dari 10 caleg DPRI yang ada dan suara partai mencapai 4 .111.
Sofwatillah yang dihubungi terpisah mengatakan dirinya bersyukur atas perolehan suara yang dikantonginya. Namun dia tetap akan menunggu hitungan sebenarnya dan menghormati kerja panitia yang ada. “Kendati dalam partai kami punya tim yang membidangi itu, saya tetap menunggu hitungan dari KPUD. Saya percaya mereka bekerja dengan jujur dan benar. Namun demikian saya pribadi akan tetap wasdapa dan mengikuti tahap demi tahap hitungan yang ada,” ujarnya.
10 nama berpeluang mewakili Sumsel di DPR RI dari partai-partai yang masuk 10 besar peghitungan sementara. Diantaranya, terdapat mantan Wagub Sumsel Mahyudin NS dan putra Gubernur Sumsel, Dedi Reza Alex.
Hasil perhitungan resmi KPUD Sumsel memang belum diumumkan,namun sedikitnya 10 caleg unggulan untuk DPR dari dapil Sumsel I dan Sumsel II berpeluang terpilih ke Senayan. Untuk Pemilu 2009, para caleg akan memperebutkan 17 kursi dari dua dapil, Sumsel 1 (7 kursi) dan Sumsel II (10 kursi)
Ke-10 caleg unggulan tersebut antara lain Dodi Reza Alex dan Tantowi Yahya (Partai Golkar), Mahyudin NS dan Sofwatillah Mohzaib (Partai Demokrat), Dudhie Makmun Murod dan Nazaruddin Kiemas (PDIP), Mustafa Kamal dan Bukhori (PKS), serta Achmad Hafisz Tohir dan Putrajaya Husein (PAN). (sir)
Palembang:
Penghitungan memang belum usai, tetapi hasilnya sudah diprediksi. Selain mendudukkan nama-nama yang tak asing, juga ada nama yang sebelumnya tak terdengar.
Salah satunya, nama Sofwatillah Mohzaib dari Partai Demokrat. Sebelumnya, Ofat duduk di DPRD Kota Palembang.
Dalam pemilu 2009, dia justru mencalon ke DPR RI. Spontan, berbagai komentar muncul. Apalagi, Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel saja, Ahmad Jauhari hanya mencalon di DPRD Sumsel.
Hasil- hitungan sementara calon legislatif (Caleg) DPR RI, daerah pemilihan I Sumatera Selatan, meliputi, Palembang, Banyuasin, Musi Banyuasin, (Muba), Musi Rawas (Mura) dan Lubuklinggau, dari Partai Demokrat Sumsel, Sofwatillah Mohzaib menyaingi posisi Dodi Reza Alex Noerdin dari Partai Golkar. Sofwatillah berada di urutan ke dua perolehan suara dari Dapil I untuk DPR RI asal Sumsel.
Sofwatillah yang akrab disapa Opat ini dalam pantauan unggul di beberapa kecamatan di Palembang menyaingi Dodi putra dari Gubernur Sumsel Alex Noerdin. Sebagai contoh, di Kecamatan Gandus, yang meliputi lima kelurahan, Opat memimpin
Opat selama ini memang bukanlah caleg yang diunggulkan di Palembang. Terlebih sebagai orang yang masih muda dan saingannya merupakan para senior dan orang-orang ternama di daerah ini.
Namun si pembuat Al Qur’an raksasa yang kini dipamerkan di Masjid Agung Palembang itu melenggang ke Senayan. Saingan terberatnya Dodi Reza Alex Noerdin di posisi pertama. Hasil realcount yang dihimpun di Kelurahan 36 ilir, Kecamatan Gandus Palembang dari 27 TPS yang ada Opat mengantongi 941 dari total 1377 termasuk suara Partai Demokrat. Sementara Dodi Reza Alex mengumpulkan 887 dan Partai Golkar 1.138 suara.
Di Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, Sofwatillah Mohzaib unggul sementara di Kecamatan Banyuasin III/Pangkalan Balai , Opat mengantongi 1.960 suara jauh di atas perolehan Hakim Sorimuda Pohan (sebelumnya anggota DPR RI) yang mengantongi 515 suara, partai 2.027 sehingga total 5.467. Di Muara Telang Opat mengantongi 1.542 suara, suara partai 1579. Total dari 10 caleg DPRI yang ada dan suara partai mencapai 4 .111.
Sofwatillah yang dihubungi terpisah mengatakan dirinya bersyukur atas perolehan suara yang dikantonginya. Namun dia tetap akan menunggu hitungan sebenarnya dan menghormati kerja panitia yang ada. “Kendati dalam partai kami punya tim yang membidangi itu, saya tetap menunggu hitungan dari KPUD. Saya percaya mereka bekerja dengan jujur dan benar. Namun demikian saya pribadi akan tetap wasdapa dan mengikuti tahap demi tahap hitungan yang ada,” ujarnya.
10 nama berpeluang mewakili Sumsel di DPR RI dari partai-partai yang masuk 10 besar peghitungan sementara. Diantaranya, terdapat mantan Wagub Sumsel Mahyudin NS dan putra Gubernur Sumsel, Dedi Reza Alex.
Hasil perhitungan resmi KPUD Sumsel memang belum diumumkan,namun sedikitnya 10 caleg unggulan untuk DPR dari dapil Sumsel I dan Sumsel II berpeluang terpilih ke Senayan. Untuk Pemilu 2009, para caleg akan memperebutkan 17 kursi dari dua dapil, Sumsel 1 (7 kursi) dan Sumsel II (10 kursi)
Ke-10 caleg unggulan tersebut antara lain Dodi Reza Alex dan Tantowi Yahya (Partai Golkar), Mahyudin NS dan Sofwatillah Mohzaib (Partai Demokrat), Dudhie Makmun Murod dan Nazaruddin Kiemas (PDIP), Mustafa Kamal dan Bukhori (PKS), serta Achmad Hafisz Tohir dan Putrajaya Husein (PAN). (sir)
Langganan:
Postingan (Atom)