Minggu, 29 Januari 2012

Alquran Akbar, Dibuat Era Megawati-Diresmikan SBY

Alquran akbar yang merupakan kitab suci umat Islam terbesar yang terbuat dari kayu tembesu. Kini Alquraan akbar ini diletakkan di bangunan limas berlantai lima di Kompleks Pesantren Modern IGM Al Ihsaniyah, Gandus, Palembang.

Palembang:
 
Sebuah Alquran terbesar di dunia terbuat dari kayu tembesu saat ini telah selesai dikerjakan dan kini 
diletakkan di halaman Pesantren Modern  Indo Global Mandiri (IGM) di Gandus Palembang.
 Alquran ini sebagian atau 15 juz diletakkan di bangunan berlantai lima. Sementara  sebagian lagi 
diletakkan di kediaman Syofwatillah Mozaib, penggagas pembuatan kitab suci ini, yang ada di sebelahnya.  
Ukurannya tidak main-main, tebal keseluruhanya termasuk cover mencapai 9 meter kalau disusun dalam 
bentuk buku. Ukuran halamannya, 177 cm x 140 cm x 2,5 cm.
 

Setidaknya 40 meter kubik kayu tembesu dihabiskan untuk membuat Alquran ini dan hampir Rp 1 milyar 
dihabiskan untuk menyelesaikan proyek ini. Direncanakan Alquran ini bisa masuk Museum Rekor Indonesia
 (MURI) dan dilaunching oleh Presiden SBY secara teleconference dari Hotel Novotel pada Senin (30/1). 
Sementara pembuatannya digagas sejak era Presiden Megawati masih berkuasa.
 
Dari 30 juz isi Alquran, saat ini sudah diselesaikan seluruhnya. Sebelumnya, Alquran ini diletakkan 
di lantai II Mesjid Agung Palembang untuk dikoreksi dan dilihat bersama oleh ulama dan masyarakat luas.
 Sebelumnya, Alquran akbar ini  bisa diselesaikan awal 2004.
 
 
Peserta Parliamentary Union of The OIC Member State (PUIC) Conference melihat Alquran raksasa terbuat dari ukiran kayu tembesu akhir pekan lalu. Alquran terbesar di dunia itu dipasang di bangunan berbentuk rumah khas Palembang , Rumah Limas lima lantai, di Kompleks Pondok Pesantren IGM Al Ihsaniyah, Gandus, Palembang
 
 “Rencananya,  sebelum Pekan Olah Raga  Nasional (PON) 2004, Alquran ini harusnya memang 
sudah selesai,” ujar Sofwatillah Sabtu (28/1).
 
Para delegasi Parliamentary Union of OIC Member States (PUIC) atau konferensi parlemen 
negara-negara Islam yang melihat keberadaan Alquran ini sempa terkagum-kagum. Mereka 
menyatakan baru pertama kali melihat Alquran terbuat dari kayu dan diukir dengan halus. 
 
Rujukan
Dengan diciptakannya Alquran ini, nantinya diharapkan  bisa menjadi rujukan dari setiap Alquran
 yang dicetak atau diterbitkan  maupun Alquran impor. “Dan menjadi symbol Islam di Palembang
 khususnya, Sumatera Selatan bahkan Indonesia umumnya. Alquran ini kini disimpan di bangunan
 khusus di sebelah rumah saya. Dan nantinya direncanakan akan dibuat bangun khusus berupa 
museum. Hanya saja, memang dananya diperkirakan cukup besar mencapai Rp 40 milyar. 
Namun sementara waktu, diletakkan di sini dulu,” uajrnya di sela-sela memberi penjelasan kepada 
para delegasi  konfrensi parlemen negara-negaraIslam yang berkunjung kemarin.
 
Dengan perkembangan teknologi, Alquran tulisan memang sudah dapat dicetak ribuan lembar 
lembar setiap hari. Pembuat Alquran pun bukan hanya umat muslim tapi juga mereka yang 
nonmuslim dengan tujuan bisnis.
 
 “Karenanya, bukan tidak mungkin terjadi pemalsuan Alquran. Apalagi dengan diberlakukannya
 pasar bebas, kita tidak mungkin mengecek  secara teliti dan detail isi Alquran yang masuk ke
 Indonesia. Apalagi beberapa tahun lalu diketahui adanya kesalahan-kesalahan pada produksi 
Alquran produksi impor. Karenanya tentunya diperlukan  rujukan guna menjaga keaslian 
Alquran,” tambah Sofwatillah.
 
Untuk itulah, dengan pembuatan Alquran Akbar ini diharapkan selain bisa masuk MURI
 juga menjadi rujukan bagian setiap pembuatan Alquran. 
 
Spesifikasi Alquran ini menurut Marzuki Alie, Ketua Harian Panitia Pembuatan Alquran 
Raksasa, yang juga Ketua DPR RI, termasuk cover depan dan belakang yang masing-masing 
tebalnya 4 cm, akan mencapai ketebalan 9 meter.
 
“Isinya,  terdiri dari cover dua halaman,  isi dari juz pertama sampai juz 30 sebanyak 306 lembar 
atau 612 halaman. Lalu, 17 lembar atau 34 halaman berupa hiasan Quran, daftar isi, daftar halaman,
 tadjij, sambutan-sambutan mukadimmah, pengesahan pentanshih, panitia dan daftar donatur.
 Sehingga nantinya total 325 lembar atau 630 halaman bolak-balik,” tambah Marzuki.
 
Namun kini, Alquran tersebut tidak disusun dalam bentuk buku. Melainkan dipajang terpisah 
di bangunan lima lantai. Sehingga bisa dilihat dan dibaca dari berbagai sisi.
 
Pengerjaan Alquran ini memang tergolong sulit dan rumit. Bagaimana tidak, untuk satu keping 
Alquran bolak-balik, diperlukan waktu satu bulan.  
 
Menyambut tahun baru hijrah, 1 Muharam 1423 H, Alquran raksasa tersebut mulai diperkenalkan
 kepada masyarakat. Pada peringatan tahun baru Islam yang dibuka, Jumat (8/3/2002), pihak
 pengurus Mesjid Agung Palembang menggelar kegiatan gebyar Islam dengan berbagai kegiatannya, 
diantaranya pameran bernuansa Islam. 
 
Salah satu yang dipamerkan ketika itu adalah mushaf Alquran raksasa yang terbuat dari kayu 
tembesu ukuran 177 cm x 140 cm dengan ketebalan 2,5 cm. Alquran akbar itu itu, kini pun 
telah usai dikerjakan.
 
 
Rp 1 Milyar
 
Biaya untuk membuat Alquran raksasa ini sedikitnya mencapai Rp 1 milyar. Saat Presiden
 Megawati Soekarnoputri meresmikan restorasi Mesjid Agung 16 Juni 2003 lalu, sebagian dipamerkan.
 
''Pengerjaan Alquran ini saya dibantu 30 karyawan yang membantu penyelesaiannya,'' kata
 Syowatillah Mohzaib, yang merupakan suami dari Evi Komari.
 
Menurut alumnus Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang tahun 2003 ini, pembuatan
 Alquran raksasa tersebut memang diperkirakan selesai 2004. Namun akhirnya baru tuntas 
dikerjakan dan akhirnya diresmikan oleh Presiden SBY pada tahun 2012. ”Alhamdulillah,” 
pujinya sembari bersyukur.
 
Untuk mengoreksi isi Al Qur'an tersebut, telah dibentuk tim pentashih yang beranggotakan 
ulama cukup berpengaruh di Sumatera Selatan. Mereka adalah KH A Sazily Mustofa, 
KH Kgs Nawawi Dencik, KH Abdul Qudus, dan KH Muslim Anshori, dibantu dosen IAIN
 Raden Fatah Drs Sanusi Goloman Nasution.
 
Tim Khusus 
 
Untuk menjamin suksesnya pembuatan Alquran raksasa yang selama ini dikerjakan di rumah
 Syofwatillah di Jalan Pangeran Sidoing Lautan Lr Budiman No 1009 Kelurahan 35 Ilir Palembang,
 juga telah dibentuk tim dengan pembina KH Zen Syukri dan KH Dr Kgs Oesman Said DSOG, 
penasihat Gubernur Sumatera Selatan H Rosihan Arsyad (kini telah habis masa jabatannya), 
dan pelindungnya Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati.

 
Kini, menurut Sofwatillah yang mengaku punya keterampilan kaligrafi dengan belajar secara otodidak
 sejak duduk di Madarsah Tsanawiyah Negeri (MTs N) Pakjo Palembang ini, penyelesaian Alquran 
raksasa yang mengangkat seni kaligrafi Alquran dan seni ukir khas ornamen Palembang, 
menunjukkan kebesaran Allah SWT.
 
“Seluruh umat Islam kini boleh berbangga dengan selesainya Alquran ini,” ujar Syofwatillah Mohzaib, 
pembuat kaligrafi kelahiran Serang 14 April 1975, yang didalam tubuhnya mengalir darah Palembang
 dan Banten. Dua daerah yang pada masa lalu memang menjadi pusat kejayaan dan syiar Islam di
 Nusantara. Kini gagasan besar itu telah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Palembang, 
Indonesia bahkan seluruh dunia. 
 
Untuk pengerjaan Alquran raksasa ini, Syofwatillah memang tidak bekerja sendirian. Ia dibantu
 beberapa orang yang ahli, termasuk juru ukir. Mengenai teknis pengerjaannya, Alquran raksasa ini 
sebelum diukir di atas papan, ayat-ayat Alquran terlebih dahulu ditulis di atas kertas karton. 
 
 
Peserta Parliamentary Union of The OIC Member State (PUIC) Conference mendapat penjelasan dari pembuat Alquran Akbar, Syofwatillah Mohzaib. Alquran terbesar di dunia itu dipasang di bangunan berbentuk rumah khas Palembang , Rumah Limas lima lantai, di Kompleks Pondok Pesantren IGM Al Ihsaniyah, Gandus, Palembang
“Lalu tulisan ini dijiplak ke kertas minyak. Sebelumnya tulisan ayat Alquran di atas karton ini 
dikoreksi oleh tim pentashih, jika ada yang salah langsung diperbaiki,” papar Sofwatillah yang 
menamatkan SD Negeri  Mangunrejo, Serang, Banten, sebelum melanjutkan sekolah di MTsN 
Pakjo Palembang, dan menamatkan pendidikan sekolah lanjutan tingkat atasnya di Pondok 
Pesantren Arrisalah, Ponorogo.
 
Lalu kertas minyak tersebut ditempel ke atas papan yang sudah disiapkan. Huruf-huruf di atas 
kertas minyak ini menjadi petunjuk bentuk huruf kaligrafi ayat Alquran yang harus diukir.
 
Dalam menulis kaligrafi ayat Alquran dengan bentuk ukiran ini, Syofwatillah menggunakan
 jenis huruf atau khot standar dalam Alquran terbitan Saudi Arabia. Untuk tajwid-nya, ia 
menggunakan tajwid standar Departemen Agama RI. 
 
“Untuk membingkai ayat-ayat Alquran itu, di tepi lembar Alquran raksasa itu dihiasi dengan
 ukiran ornamen khas Palembang,” sambung ayah dari M Zikrillah, Nurmawadah Islamiah, 
dan Muhamad Amri Al Aqba. (sh/muhamad nasir)
 

Tidak ada komentar: