Sabtu, 04 Februari 2012

*Pulau Kemaro bertabur asap dan uang

Seorang remaja putri etnis Tionghoa sedang melakukan sembahyang Capgomeh, di Pulau Kemaro Sabtu pagi (4/2)

Capgomeh, Miliaran Uang Berputar

Pulau Kemaro tidaklah luas. Di hari ke-15 setelah tahun baru  imlek, puluhan ribu pengunjung memadati pulau tersebut. Selama dua hari pulau itu pun bertabur asap hio dan gemerincing uang pun seakan menyemburat bersama kembang api yang menerangi suasana bulan purnama di pulau tersebut. Di Tahun naga air, rezeki kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan diharapkan membias.
Puncak perayaan Tahun Baru Imlek 2563 ditandai dengan perayaan Capgomeh yang diartikan sebagai awal permulaan membuka lembaran baru kehidupan dengan meminta keselamatan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang berlimpah.

Di Palembang, puncak ritual Capgomeh dilaksanakan di Pulau Kemaro yang  merupakan sebuah delta di Sungai Musi, sekitar 5 km sebelah hilir Jembatan Ampera. Di pulau ini terdapat sebuah Klenteng Hok Ceng Bio. Tahun ini dilaksanakan Sabtu (4/2) mulai pukul 24.00 WIB. Miliaran rupiah uang diperkirakan beredar di Palembang selama pelaksanaan Capgomeh

Dalam perayaan Capgomeh, ribuan masyarakat etnis Cina maupun pribumi termasuk yang datang dari berbagai kota bahkan dari luar negeri seperti Singapura dan Malaysia berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melakukan sembahyang atau berziarah. Perayaan ini berlangsung selama dua hari. Mereka yang datang dari luar Sumsel bahkan luar negeri, umumnya berada di Palembang selama lima hari.

Satu orang untuk biaya penginapan, transport udara, laut maupun darat, dan konsumsi selama di Palembang paling tidak menghabiskan Rp 1 juta saja, maka sedikitnya 15.000 pendatang dari sekitar 30.000 pengunjung tersebut telah mengeluarkan uang tak kurang dari Rp 15 milyar.  Ini hitungan minimal. 

Ritual capgomeh yang puncaknya tengah malam nanti telah dimulai Sabtu pagi (4/2). Pengunjung mendatangi dan melaksanakan persembahyangan di Pulau Kemaro. Para pedagang, termasuk pedagang burung dan kembang, mencari rezeki bersama ribuan pengunjung


Selama perayaan Capgomeh, sedikitnya 30.000 pengunjung silih berganti mendatangi Pulau kemaro. Di pulau ini mereka selain menyumbang juga melakukan berbagai transaksi. Seperti makan dan jajan serta membeli berbagai perlengkapan ritual.

Untuk sumbangan saja, ujar Ketua Panitia  Chandra Husin, tahun lalu yang malam Capgomehnya hujan, terkumpul sedikitnya Rp 1 milyar. Ditambah uang yang beredar di pulau itu selama dua hari peryaan Capgomeh, setidak miliaran rupiah berputar.

Sementara tahun ini, jumlahnya tentu jauh lebih meriah. “Perayaannya juga tahun ini lebih meriah ditandai dengan pesta kembang api dan jumlah pengunjung juga sangat banyak,” tambah Chandra Husin yang juga Ketua Majelis Rohaniwan Tri Dharma se Indonesia Komda Sumsel. 
Multiplier effect-nya bagi Sumsel, menurut pengusaha yang juga Ketua Walubi Sumsel Hermanto Wijaya, sangat positif menunjang perkembangan ekonomi. Miliaran uang beredar di Sumsel. Dari berbagai transaksi pendatang dari berbagai daerah dan juga luar negeri selama berada di Palembang. Baik untuk penginapan, transportasi, konsumsi, dan cenderamata.
Kawin budaya
Di Pulau Kemaro perayaan Capgomeh menggambarkan kegiatan peribadatan yang sekaligus juga merupakan ‘perkawinan’ budaya yang sebenarnya. Selain barongsai dan liong yang meramaikan malam puncak Capgomeh --tahun ini jatuh pada pergantian hari dari tanggal 4 Februari ke 5 Fabruari--  di Pulau Kemaro hadir pula kelompok tanjidor dan penyembelihan kambing persembahan.
Nuansa peribadatan agama Buddha Tridharma dengan nuansa ke-Islam-an terasa begitu kentara di Pulau Kemaro.  Bercampur aroma dan padatnya asap hio yang dibakar.Ini tidak lain karena dalam  sejarahnya Pulau Kemaro memang ada hubungannya dengan kedua agama tersebut. Terbersit  dalam legenda kisah cinta Fatimah dengan suaminya Tan Po Han berabad-abad lalu. Oleh karena itulah, selain bersembahyang kepada Thien (Tuhan Yang Maha Esa), umat yang datang pun bersembahyang untuk Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), Buyut Fatimah, Dewi Kwan Im, Dewa Langit, Dewi Laut, dan juga penunggu Pulau Kemaro.
Pukul  24.00, umat dengan dipimpin Pengurus Kelenteng, Chandra Husin akan menyembelih seekor kurban berupa kambing hitam di depan altar Buyut Fatimah. Setelah itu, puluhan ekor kambing lainnya yang dibawa juga disembelih. Lalu seluruh kambing yang disumbangkan yang seluruhnya berjumlah 200 juga dipotong pada hari malam berikutnya.
“Dagingnya kemudian  dimasak dan dimakan bersama," papar Chandra Husin, Ketua Majelis Tridharma Sumatera Selatan (Sumsel), yang sekaligus juga pemimpin perayaan Capgomeh di Pulau Kemaro.
Selain garu/hio, serta perlengkapan peribadatan Tridharma lainnya yang banyak dibawa ke pulau itu, ada juga rangkaian bunga serta kambing yang dibawa masuk ke Pulau Kemaro. Syarat-syarat upacara memang beragam, seperti nasi kuning plus ayam panggang, nasi gemuk dan telur rebus, pisang dan beragam buah-buahan, serta opak dan jeruk perut.
Di beberapa sudut kelenteng, syarat upacara memang tampak memenuhi areal berdampingan dengan hio dan lilin serta garu yang dibakar.
Tampilan barongsai dan liong pun berpadu dengan tanjidor. Tampak juga band dan organ tunggal menyemarakkan suasana sebelum puncak upacara digelar. Juga di sudut halaman ada panggung yang menampilkan pertunjukan wayang orang yang menceritakan legenda tionghoa. Karena suasana yang memang semarak inilah,  saat puncak perayaan Capgomeh, Pulau Kemaro dikunjungi sekitar 20.000 hingga 30.000 umat dan pengunjung dari Sumsel dan luar Sumsel. Pengunjung dari Singapura, Jakarta, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Jambi, dan Bangka Belitung, terdaftar memadati perayaan Capgomeh di Pulau Kemaro. 
Jodoh
Muda-mudi memang tampak mendominasi. Hingga wajar saja, kalau ajang Capgomeh bisa menjadi kesempatan berkenalan pemuda dan pemudi. Kalau cocok mungkin hubungan bisa dilanjutkan pasca Capgomeh.  Kalau Jodoh, bisa berlanjut ke perkawinan.
Pelaksanan ritual upacara, dimulai dengan upacara kepada Yang Mahakuasa (Thien). Dilanjutkan sembahyang di depan altar Buyut Fatimah. Di sini, pengunjung bisa mencoba peruntungan dengan melempar sepasang kayu yang harus dilemparkan hingga keduanya membuka (menghadap ke atas)  dan menutup (menghadap ke bawah). Saat itu, permintaan pun diucapkan dalam hati.
Selanjutnya, sembahyang dilakukan di depan altar Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin). Selesai, diteruskan di altar  Dewi Kwan Im, Dewa Langit, dan Dewi Laut. Terakhir, sembahyang dilakukan  di depan altar penunggu Pulau Kemaro.

Upacara Capgomeh, nantinya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara penutup yang digelar Senin (6/2). Upacara ini disebut Kho Kun. Sebagai penutup semua pelaksanaan ibadah Cap Go Meh.
Angpao
Dijadikannya  Pulau Kemaro sebagai pusat kegiatan perayaan Capgomeh ketimbang sejumlah klenteng dan vihara lainnya di Palembang, menurut informasi,  karena selama ini mereka yang berdoa di Klenteng Hok Ceng Bio banyak yang terkabul doanya. Selain berdoa kepada para leluhur, masyarakat Tionghoa yang datang ke sini pun ada yang meminta jodoh serta meminta sukses dalam bisnis dan karier. 
Di tengah rangkaian persembahyangan di Pulau Kemaro, yang mulai ramai dikunjungi sejak Sabtu (4/2) sore, bisa dijumpai tradisi pengunjung/umat meminjam uang kepada Hok Tek Cin Sin melalui para penuntun tradisi ini. 

Pulau Kemaro membawa legenda percintaan. Dipercaya bisa membuat enteng jodoh.
"Terserah mau berapa mau pinjamnya. Bisa lima juta, 30 juta, atau berapa. Itu semuanya  diwakili 10 buah angpao (uang logam yang dibungkus dengan kertas merah). Angpao tersebut kemudian dibawa pulang dan ditaruh di laci di rumah atau di kantor. Bila berhasil, tahun depan boleh membayarnya berapa saja, Rp 100.000, Rp 50.000, atau berapa saja. Kalau belum berhasil, tidak bayar juga tidak apa-apa," jelas Chandra.
Tampak memang beberapa umat memberikan sumbangan berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 100.000 kepada petugas penuntun. Itu mungkin, mereka yang telah sukses usaha maupun kariernya atau telah menemukan jodoh.
Malam puncak Capgomeh adalah pada tengah malam pergantian hari. Meski demikian, umat yang merayakan Capgomeh datang ke klenteng yang luasnya 3,5 hektar di Pulau Kemaro itu sejak pagi hari ini. "Bagi umat, memang tidak diharuskan sembahyang pada tengah malam itu. Jadi, daripada berdesak-desakan pada malam hari, banyak yang memilih datang pagi, siang, atau sore hari. Akan tetapi, kalau mau melihat ritual lengkapnya, memang sebaiknya tengah malam itu," tambahnya.
Serba Gratis
Chandra maupun pengurus klenteng di Pulau Kemaro lainnya mengaku tak tahu lagi sejak kapan Pulau Kemaro jadi pusat perayaan Capgomeh Yang jelas, dulunya Pulau Kemaro yang terletak di hilir Sungai Musi adalah benteng pertahanan Belanda, dan kemudian sempat juga dijadikan basis pertahanan pada saat Kesultanan Palembang berdiri.  Dan dari sejarahnya, memang perayaan Capgomeh dilaksanakan sejak zaman Belanda, zaman Kapitan. Bedanya, kalau dulu orang naik perahu dengan didayung untuk mencapai Pulau Kemaro.
Namun sekarang, pihak panitia menyediakan belasan kapal tongkang yang akan hilir mudik mengangkut penumpang di dua titik pemberangkatan secara gratis. Titik pemberangkatan pertama, di Gudang Garam, tak jauh dari Pasar 16 Ilir. Titik kedua, di eks Perusahaan Ban Intirub,di samping Pabrik Pusri. Pengunjung hanya menyeberang melalui jembatan ponton yang disiapkan. Biaya parkir, dijamin gratis.
Satu kapal tongkang bisa mengangkut sedikitnya 200 orang. Tongkang pengangkut sendiri, dihiasi dengan pernik-pernik yang didominiasi warna merah. Tampak lampion yang temaram, juga tulisan-tulisan cina. Selain hiburan organ tunggal, di kapal tongkang juga ada yang menyediakan hiburan tanjidor. 
Suasana Pulau Kemaro yang sehari-harinya relatif sepi pun kini ramai dengan puluhan pedagang, baik pedagang keperluan sembahyang maupun pedagang makanan, bahkan mainan untuk anak-anak. Pintu klenteng pun dibuka lebar-lebar untuk siapa saja sehingga perayaan Capgomeh pun bukan hanya dirasakan mereka yang bersembahyang di Pulau Kemaro, tetapi juga mereka yang mencari penghidupan dengan berjualan di tempat itu. 

Ritual sembahyang di Pulau Kemaro saat Capgome telah dimulai Sabtu (4/2) apagi. Puncak ritual Capgome dilaksanakan Sabtu tengah malam.


Rejeki mengalir di Pulau ini. Ny purwati (50) penjual kacang goreng misalnya bisa mengantongi sedikitnya Rp 500.000 selama dua hari pelaksanaan  Capgomeh.
Atau Abung (45), pedagang bakso mengaku sangat kewalahan melayani pembeli. “Pokoknya lumayan lah Mas. Kalau untung bersih sih, lumayan,” ujarnya tak mau menyebut nilai riiil. Yang jelas,  baksonya dijual di atas harga pasaran dan pembelinya seakan tak pernah berhenti.
Ratusan pedagang tampak memadati Pulau Kemaro berdesak-desakan diantara pengunjung. Mulai dari pedagang rokok, hingga pedagang perlengkapan upacara seperti kembang, hio, lilin, dan kertas hua.
Di hari-hari biasa, Pulau Kemaro akan kembali sepi. Tinggal nanti para panitia membersihkan sisa-sisa upacara. Akankah permohonan pengunjung dikabulkan Dewa, mungkin ukurannya adalah banyak tidaknya pengunjung Capgomeh tahun berikutnya. Karena meeka yang berhasil akan datang kembali mengembalikan uang yang dipinjamnya ataupun membawa anak-anak hasil perjodohannya yang dipercaya didapat setelah ke Pulau Kemaro, melaksanakan Capgomeh. (sh/muhamad nasir)


Tidak ada komentar: