Senin, 06 Oktober 2014

Mendesak, Perda Penanganan Kabut Asap


Palembang, Musi Pos
Hampir setiap tahun, persoalan  kabut asap akibat pembakaran lahan terulang secara rutin. Tahun ini, hampir tiga bulan kabut asap masih menyelimuti warga Sumatera Selatan. Jarak pandang hanya sekitar 120 meter. Kondisi semacam ini kalau tidak ditangani serius diyakini akan mengganggu kesehatan.
Terkait permasalahan kabut asap yang terjadi secara musiman tersebut, Nopran Marjani, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumsel  dari Partai Gerindera kedepannya akan mengajukan pembuatan perda tentang penangan masalah kabut asap tersebut.
“Kabut asap di Sumsel ini terjadi secara musiman, setahun sekali. Sekarang ini belum ada perda mengenai kabut asap. Jadi kedepan harus ada aturan untuk menangani masalah ini,”jelasnya, Senin (06/10).
Kualistas udara di Sumsel sekarang ini kurang baik, berdasarkan  Data Dinas Kesehatan  Kota Palembang,  penderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) meningkat.
Anton Suwindro, Kepala Dinas Kesehatan Kota  Palembang, mengatakan selama  sebulan terakhir penderita penyakit Ispa terus mengalami peningkatan. Bulan september ada sekitar 4.839 penderita ISPA yang tersebar di berbagai kecamatan yang ada dikota Palembang. 
“Penyakit ispa tersebut akan cenderung naik, selama titik-titik api di Sumsel belum bisa ditangani,”ujarnya.
"Asap di Sumsel Ini sudah terlalu menyengat, sudah menggangu pernapasan," ujar Aan, Warga, kalidono, Palembang.
Menurut keterangan, Aan, mulai pukul  06.00 – 10.00 WIB.  Masih menurut Aan,  sore sekitar jam 16.00 WIB – 20.00 WIB juga mulai banyak asap lagi  ketebalan asap masih pekat.
Pengamatan di bandara, sungai Musi, dan jalanan serta perkampungan, kabut asap cukup pekat. Penerbangan di Bandara beberapa kali terpaksa di-delay. Pihak Dinas Pendidikan pun mengubah jadwal belajar sekolah karena pekatnya kabut asap. Jadwal masuk sekolah ditunda hingga 1 jam. Pengemudi speedboat mengalam kesulitan karena pekatnya kabut asap di perairan. (sir)

Tidak ada komentar: