Jumat, 12 Oktober 2012

Wartawan Butuh Perhatian

Wartawan Butuh Perhatian
Wartawan adalah profesi yang paling rentan dan beresiko. Selalu dikejar deadline, stres, dibawah tekanan, dan umumnya perokok berat. Karenanya, sering makan tidak teratur, dan berakibat mudah diserang berbagai penyakit.
Untuk itu, mestinya diimbangi dengan rajin berolahraga. Sehingga bisa menikmati hidup yang sehat.
Alex Noerdin, sebagai Gubernur Sumsel menunjukkan perhatiannya kepada para jurnalis bukan saat ini saja. Sejak masih menjabat bupati Musi Banyuasin pun, dia telah menunjukkan kepeduliannya.
Dengan adanya Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI) yang kini memasuki angakatan keenam, menurut Alex Masih belum cukup kalau wartawan itu tidak sehat.
“Makanya, kini saya tawarkan lagi kepada para wartawan untuk memilih salah satu fitnnes centre yang memadai, sehingga dalam sehari minimal 30 menit dan tiga kali dalam seminggu bisa memperhatikan kesehatan. Silakan pilih salah satu diantara jurnalis untuk menentukan siapa yang paling aktif. Hadiahnya, umroh,” ujarnya, dalam sambutan ketika secara resmi membuka SJI Provinsi Sumatera Selatan yang ke-6.
“Ini sudah saya lakukan  beberapa tahun lalu. Sayang, wartawannya memang sibuk sehingga kurang peduli untuk kesehatan dirinya sekalipun. Dan sekarang saya tawarkan kembali, “ujar Alex yang disambut tepuk tangan hadirin.
 SJI ini dilaksanakan oleh SJI Pusat yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan (Diknas) Propinsi Sumsel berlangsung di Aula Diknas Propinsi Sumsel, Senin (1/10).
 Kalau para wartawan sudah sehat, tentu dengan bekal ilmu jurnalistik akan membuat    mereka bisa semakin eksis dan berkompeten di lapangan. Apalagi, kalau kemudian juga di tambah lulus uji kompetensi, maka diharapkan fungsi jurnalis itu akan semakin memilliki nilai plus.
Sementara, keberadaan wartawan sebagai salah satu pilar demokrasi memang dituntut untuk dapat menempatkan dirinya sebagai sosok yang profesional dan bisa menjadi ‘pengawal’ pembangunan melalui peran kontrol sosialnya.
Prof Dr Hj Isna Wijayani, Msi mengemukakan, wartawan itu adalah profesi yang dituntut untuk memiliki standar dan kompetensi tertentu. Utnuk itu, dibutuhkan pendidikan yang bisa membuat mereka melaksanakan tugas sesuai dengan standarnya.  
Peran inilah yang dimainkan oleh SJI. Sehingga para wartawan nanti akan menjadi jurnalis yang benar-benar bisa melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan keprofesionalannya.
SJI, juga bisa menjadi kawah candradimuka. Karena mereka tidak sekedar dijejali teori, tetapi juga saling sharing dan praktik melaksanakan profesi sesuai kode etik dan Undang-undang tentang Pers.
“Apalagi, setelah lulus SJI, mereka langsung mengikuti Uji Kompetensi Wartawan. Sehingga begitu lulus, diharapkan  menjadi wartawan yang siap pakai.
Selain itu,   wartawan juga sekaligus sebagai pendidik bagi masyarakat. Melalui tulisan yang dipublikasikannya, dapat mencerahkan atau justru membuat kelam. Karenanya, harus diarahkan supaya bisa mencerahkan.
Pembukaan diklat ini dihadiri juga oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PWI Pusat Hendry CH Bangun, Ketua Yayasan Sekolah Jurnalistik Indoensia (SJI) Pusat Marah Sakti Siregar, Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Propinsi Sumsel Ade Karyana, Ketua Cabang Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Propinsi Sumsel H Oktab Riady, mantan Ketua PWI Provinsi Sumsel H Asdit Abdullah, serta jajajaran SKPD Propinsi Sumsel. (***)

Tidak ada komentar: