Selasa, 10 Maret 2009

Pelestari songket

Dimuat di Sinar Harapan edisi Rabu 27 Mei 2009 http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/melestarikan-songket-memberdayakan-penenun/





Tria Gunawan











Alwantriati Tundarizma

Lestarikan Songket, Berdayakan Penenun

Songket sudah mahfum identik dengan bangsa Melayu. Di Palembang, pengrajin songket jumlahnya tidak sedikit. Hanya saja, dengan motif yang terbatas tentu bukan tidak mungkin budaya daerah ini akan ditinggalkan.

Beruntung, di Palembang ada Alwantriati Tundarizma. Istri Gunawan ini mempunyai niat dan kemampuan untuk menyiasati kendala yang berhubungan dengan songket.

Dia terus berkreasi mengupayakan bagaimana supaya songket tetap lestari dan bisa diminati.

Dan lahirlah dari tangannya, songket bordiran dan songket benang tembaga. Lalu songket benang tembaga bordiran. Songket jumputan dan songket bordir jumputan. Terakhir, songket batik. Kini beberapa karyanya ini telah didaftarkan di Departemen Perindustrian untuk proses mendapatkan patent, seperti songket bordiran, songket benang tembaga, dan songket jumputan.


Suasana tenun di butik Tria Gunawan







Kreasinya yang kemudian dijadikan blus, baju, dan pakaian lainnya ini ternyata mendapat respon pelanggannya. Pelanggan Rumah Busana Tria, kebetulan memang umumnya istri pejabat ataupunpun orang-orang berada di Palembang.

”Saya memang mencoba mencari ikon-ikon di masyarakatar. Sehingga ketika ikon ini mengenakan karya saya, masyarakat akan betanya. Wah bagus ya, di mana saya mendapatkannya,” ujar ayah dua anak, Winona Razanah Algu dan M Qaedi Bajili Algu yang punya panggilan Tria Gunawan.

Hasilnya, tahun 2006 lalu Tria mendapaat upakarti dari Presiden RI. Lalu Kreasi Kriya Nusantara Terbaik di tahun yang sama dari Ketua Dekranas Indonesia. Beberapa penghargaan lainnya juga dia dapatkan di antaranya Kriya Potensi Ekspor dari Menteri Perdagangan, Wanita Pengusaha Berpretasi dan Inacraft Award tahun 2008.

Merangkul
Keahlian menenun songket khas daerah sekarang ini lebih didominasi oleh para orang tua. Remaja saat ini lebih menyukai kerja di toko daripada duduk berjam-jam di depan alat tenun. Bila hal ini terus dibiarkan begitu saja, kebiasaan menenun songket yang diwariskan secara turun temurun dikhawatirkan pudar. Menyadari hal ini, Tria Gunawan (41), pengusaha Butik Tria di Palembang mencoba merangkul banyak remaja putus sekolah untuk bekerja di butiknya.

Untuk menjadi seorang penenun yang baik, bukan hanya dibutuhkan keterampilan menenun, tapi juga pintar memodifikasi bahan baku yang ada menjadi bahan jadi yang nyaman dipakai dan indah dipandang. Apalagi, kualitas hasil tenunan seperti songket memiliki harga jual cukup tinggi. Cacat sedikit saja, bisa menjatuhkan harga di pasaran. Ha ini pula yang disadari oleh Tria untuk lebih jeli memeriksa hasil kerajianan tangan anak buahnya.



Suasana di butik Tria Gunawan. Pegawainya sedang menyelesaikan pakaian yang akan dijual.


Mantan pegawai bank swasta ini memulai karier di dunia tekstil kain songket sebenarnya sekedar coba-coba. Darah sumatera yang mengalir di jiwanya itu merasa jenuh dengan pekerjaan kantoran yang hasilnya begitu-begitu saja, tanpa ada peningkatan cukup berarti. Bersama suami yang pegawai Departemen Pertanian ketika mendapat tugas ke Yogyakarta selama beberapa minggu, Tria mencoba memanfaatkan waktu luang saat mendampingi suami di Yogyakarta dengan kursus mewarnai kain jumputan.
“Dari sini saya mulai berpikir, mengapa tidak saya kembangkan keterampilan ini dengan kain jumputan khas Palembang,” cetus alumnus Fakultas Pertanian Unsri ini. Oleh karena itu, ketika kembali ke Palembang, Tria pun memborong semua peralatan mewarnai bahan sampai pada canting-cantingnya.

Kain jumputan Tria ternyata memiliki banyak peminat. Namun semakin merambah pasaran luas, wanita cantik yang mulai berhenti bekerja sebagai pegawai bank pada 1997 dan mulai beralih profesi membuka butik di rumahnya ini tidak mau kreasinya hanya sampai di situ. Dia ingin produknya lebih berkelas dan mempunyai nilai jual lebih tinggi. Jumputan yang biasanya tampil polos itu pun kemudian dibordir. Meski harga jualnya pasti lebih mahal, bahan jumputan dengan hiasan bordir ternyata banyak disuka pembeli, terutama ibu-ibu arisan.

Semakin mengalirnya ide-ide dalam benak wanita muda ini, Tria pun membutuhkan banyak tukang jahit. “Kalau ingin berusaha menambah produk atau meningkatkan produk menjadi lebih tinggi kualitasnya, kita harus berani menambah banyak pekerja,” jelas ibu dua anak ini.

Diakuinya, keterampilan menenun songket sekarang ini didominasi oleh para orangtua. Hal inilah yang mendorong Tria untuk kemudian mengembangkan bahan jumputan menjadi bahan songket dengan merangkul banyak remaja putus sekolah. Pekerja-pekerja tersebut tidak hanya datang dari Palembang dan sekitarnya, tapi ada pula yang diambil dari pulau Jawa. Tak kurang dari 50 orang pegawai mudanya yang kini dididik sesuai keahliannya.

“Awalnya kita coba dia melakukan pekerjaan ringan. Lama kelamaan dia akan belajar dengan sendirinya mengikuti teman-temannya seperti memasang payet yang membutuhkan pemikiran lebih berat. Semua pasti bisa dilakukan, kalau kita latih mereka secara bertahap,” jelasnya.

Mengerjakan songket memang membutuhkan waktu berjam-jam dan konsentrasi penuh. Oleh karena itu, ketika ada seorang relasinya menawarkan koordinator untuk memudahkan cara kerjanya, Tria pun seperti menerima gayung bersambut.
Agar hasilnya terjamin, dia memiliki unit tenun tersendiri di rumahnya di Kompleks Kampus Jalan Anggar Blok E, Kompleks Kampus Palembang ini. Satu orang yang memilik keahlian membuat motif (mencupit) dipercaya menjadi pengawas sekitar 50 pekerjanya.


Pagelaran busana kreasi Tria Gunawan saati di PIM Palembang.




Untuk mengerjakan satu stel songket (kain plus selendang) diperlukan waktu sekitar dua minggu. Itu pun baru berbentuk bahan polos, belum dimodifikasi macam-macam. Seperti menyiapkan benang, motif (mencupit) yang juga membutuhkan waktu dua minggu lamanya. Karenanya, kalau memang butuh bahan lebih banyak order akan diserahkan kepada koordinator. Mereka inilah yang nantinya akan menunjuk penenun songket berpengalaman untuk disetor kepada Tria. Saat ini, dia memiliki beberapa koordinator.

Semangat berkreasi Tria memang patut mendapat acungan jempol. Sejumlah desainer kondang seperti Ghea Sukasah, Chosi Latu, Sarita, Poppy Darsono, Harry Darsono dan lain-lain telah menjadi pelanggan tetapnya. Bahkan Gubernur Sumatera Selatan belum lama ini memesan 33 songketnya yang seharga Rp 2.250.000 untuk dipakai para ibu gubernur dalam acara Penas di Palembang yang diresmikan oleh Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono.

“Sebelum itu saya bingung, stok songket ada ratusan tidak ada yang membeli. Lalu saya beri hiasan bordir pada pinggiran kain dan selendangnya sehingga memiliki cita rasa tinggi. Ternyata pesanan datang dan cocok dengan selera Ibu Gubernur,” cetus Tria yang menargetkan satu songket terjual dalam sehari.
“Karena satu songket yang seharga Rp 1 juta sampai Rp 4 juta sehari bisa menutupi perputaran uang,” jelasnya seraya menambahkan, “kalau 30 – 50 songket selesai dalam satu bulan, berarti ada tiga per empat barang yang sudah harus dikeluarkan. Kalau tidak, bisa pusing sendiri. (sh/muhamad nasir)

Sisi Lain

Berawal dari Pegawai Bank








Suksesnya Tria Gunawan sebagai pengrajin songket sesungguhnya tiodak didukung oleh pendidikan di bidang tekstil. Pendidikan formalnya, justru Fakultas Pertanian. Back ground kerjanya, perbankan. Dia terkahir adalah pegawai sebuah bank swasta yang terkena likuidasi...

Karena terlikuidasi, dia pun mengambil pensiun dini. Modalnya, ya pesangon waktu itu. Ditambah kursus jahit-menjahit. Tetapi, dia justru tidakpernah pegang mesin jahit. ”Saya ambil kursus memmbuat motif. Sehingga punya gambaran mngenai motif-motif pakaian,” ujarnya.

Merendah, Tria menyatakan dia sebenarnya hanya mengelola mereka-mereka yang ahli di bidangnya. Penenun dan penjahit, ahli bordir.
Kalaupun pendidikan informal, dia pernah kursus batik prifat di Yogya, ketika mendampingi suaminya melanjutkan pendidikan. ”Waktu itu, saya main ke Balai Batik. Untuk ikut kursus reguler, waktunya tidak tepat. Lalu saya ditawari ikut les prifat, dari mencampur warna, membuat pola, dan membuat batik,” hasilnya ya kreasi jumputan dan batik di atas songket.
Untuk memperdalam ilmu, Triapun terus bergaul dengan mereka-mereka yang telah dahuluan menggeluti dunia fashion. (sh/muhamad nasir)

Tidak ada komentar: