Rabu, 18 Juli 2012

Warga bakar 1000 ha lahan PTPN vii

Warga OI vs PTPN VII Rusuh, 1000 Ha Lahan Tebu Terbakar Palembang Pascamediasi di Kementrian BUMN antara Direksi dan Serikat Pekerja PTPN VII dengan perwakilan warga Ogan Ilir di Jakarta kemarin, situasi di lokasi sengketa antara warga dan pihak PTPN VII tak terkendali. Bentrok dan pembakaran yang dilakukan ribuan warga itu terjadi di Desa Ketiau,Kecamatan Lubuk Keliat, Rayon 6 Desa Rengas. Hingga tadi malam, kondisi di lapangan masih mencekam. Informasi di lapangan, lahan yang terbakar hingga tengah malam tadi mencapai 1.000 hektare.Tidak hanya itu, beberapa peralatan seperti eskavator milik BUMN tersebut juga dibakar massa. Sebelumnya massa dari 17 desa di 5 kecamatan, Kabupaten Ogan Ilir (OI) berunjuk rasa di lokasi PTPN VII unit usaha Cinta Manis. Mereka mencoba menguasai lahan milik PTPN yang dinilai telah habis HGU-nya. Sedikitnya 500 personel dari Brimob dan Dalmas Polda Sumsel berusaha mengamankan. Akibatnya lima polisi luka-luka dan enam warga yang diduga sebagai provokator diamankan. Menurut Direktur SDM dan Umum PTPN VII, Budi Santoso, aksi anarkis massa juga diikuti aksi penjarahan pupuk di gudang rayon III. Dalam aksinya, warga melempari petugas dengan bambu dan batu sehingga mengakibatkan 5 polisi yakni 3 anmgota Brimob Polda Sumsel dan 2 anggota Polres Ogan Ilir (OI). Korban Briptu Doni Karlos mengalami luka pada bagian pipi kanan akibat terkena serpihan peluru yang diduga dari kecepek dan langsung dilarikan ke Puskemas Tanjung Raja. Direktur SDM dan Umum PTPN VII Budi Santoso mengatakan, informasi dari staf di lapangan menyebutkan luas lahan yang terbakar hingga tengah malam tadi mencapai 1.000 hektare.Tidak hanya itu, beberapa peralatan seperti eskavator milik BUMN tersebut juga dibakar massa. Menurut Budi, aksi anarkis massa juga diikuti aksi penjarahan pupuk di gudang rayon III. “Kondisi di lapangan masih sangat mencekam,” ujar Budi saat menggelar jumpa pers di Hotel Arista Palembang. Budi menerangkan, selama ini pihaknya selalu mengedepankan pendekatan dialogis kepada warga di sekitar lokasi perkebunan. Pihaknya juga memberikan berbagai tawaran solusi kepada warga baik berupa CSR maupun program kemitraan desa. “Namun pada kenyataannya, warga selalu menolak dan ngotot agar PTPN mengembalikan lahan yang diklaim milik mereka. Padahal secara hukum, lahan PTPN VII statusnya milik Negara. Meski demikian, kami (PTPN VII) tetap membuka pintu dialog untuk menyelesaikan persoalan ini,”katanya. Kuasa hukum PTPN VII Bambang Hariyanto menyatakan, dirinya berharap kepolisian tegas terhadap aksi anarkistis. “Selama ini kita telah melakukan koordinasi baik dengan kepolisian menyikapi antisipasi terjadinya aksi anarkistis dan konflik horizontal di lapangan. Kita sangat menghargai upaya kepolisian mengirimkan petugasnya untuk mengamankan aset PTPN VII. Dengan adanya tindakan tegas itu bisa menjadi shock terapi bagi pelaku lain,”tegasnya. Sementara untuk penyelesaian sengketa lahan sebaliknya diselesaikan melalui jalur hukum. Silakan warga gugat di pengadilan. Sekretaris Perusahaan PTPN VII Sonny Soediastanto menyatakan bahwa sikap PTPN VII tidak akan menyerahkan lahan kepada masyarakat. “Untuk soal lahan sudah harga mati, tidak bisa diberikan kepada masyarakat, karena merupakan asset perusahaan yang juga aset nagara. Kita diberi amanah untuk mengelola dan menjaganya,” kata dia. Langkah yang ditempuh PTPN VII, kata Sonny, sudah pada jalur yang benar. Bahwa semua proses dilalui untuk memperoleh lahan sudah sesuai prosedur dan peraturan. Karena itu, warga yang menuntut hendaknya juga mempunyai bukti-bukti yang sah dan melalui prosedur sesuai dengan aturan dan perundang-undangan. Meskipun demikian, perusahaan akan terus membuka ruang untuk melakukan dialog dan kerja sama untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan wilayah. “Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk menjalin kerja sama, apakah melalui CSR atau program-program yang lain untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya Pjs Kabid Humas Polda Sumsel AKBP R Djarod Padakova mengatakan, sebanyak 400 personel yang terdiri dari Brimob dan Shabara membantu pengamanan di lokasi kejadian. Menurutnya, Wakapolda Sumsel Brigjen M Zulkarnain langsung meninjau lokasi.Saat ini Mapolres OI tengah memfasilitasi pertemuan kedua belah pihak.(sir) nanti akan saya tambah keterangan dari pihak warga atau walhi. Trims

Tidak ada komentar: