Jumat, 13 Juli 2012

Warga Bakar Kompleks Lokalisasi Sepancar


Warga Bakar Kompleks Lokalisasi Sepancar

Palembang, Sinar Harapan
Ratusan warga Lawang Kulon, Kelurahan Sepancar, Kecamatan Baturaja Timur, mengamuk dan menutup paksa Lokalisasi Sepancar. Tanpa dikoordinasi, massa membakar seluruh bangunan liar di lokasi itu.
Berdasarkan informasi, aksi yang dimulai sekitar pukul 14.30 WIB itu membuat areal perkampungan di jalan lintas Sumatera Km 12 tersebut sebagian besar habis terbakar. 

Petugas kepolisian tidak dapat berbuat apa-apa atas aksi pembakaran dan penghancuran rumah bordir. Belasan rumah luluh lantak dengan suara ledakan dari dalam rumah. Penghuni lokalisasi hanya bisa berteriak dan berupaya mengeluarkan barang-barang berharga mereka agar tidak dilalap si jago merah.
Warga yang menginginkan lokalisasi ditutup membawa alat berupa linggis, martil, dan kayu guna menghancurkan rumah yang diduga digunakan sebagai tempat prostitusi. 

Awalnya
, massa hanya membongkar bangunan ilegal di lokalisasi. Karena mendapat  perlawanan dari pemilik bangunan, warga akhirnya kalap. Tanpa diberi komando, massa langsung membakar kafe dan warung remang-remang di Lokalisasi Sepancar.
Camat Baturaja Timur Mirdailli yang  datang ke lokasi kejadian langsung menghubungi Dinas Penanggulangan Bahaya Kebakaran (PBK) OKU. 

Mirdailli juga meminta Kasat Pol PP OKU Agus Salim agar menyiagakan personelnya di lokasi kejadian. “Saya minta agar anggota Pol PP berjaga di rumah penduduk di Lokalisasi Sepancar supaya tidak ikut dibakar massa,” katanya.
Kapolres OKU AKBP Azis Saputra melalui Kasat Reskrim AKP Median Utama mengatakan, pihaknya melakukan pengamanan secara persuasif untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun, jumlah personel yang diterjunkan berkisar 30 anggota dari Resmob, Intel, dan Polsek Baturaja Timur, ditambah puluhan anggota Satpol PP, tidak mampu membendung amukan warga. 

Nariman (72), ,tokoh masyarakat Lawang Kulon,Kelurahan Sepancar, mengatakan, sebelum men-sweeping kawasan yang dikenal sebagai lokalisasi sejak 1970-an itu, mereka telah beberapa kali memberi peringatan. 

Pihaknya juga telah melakukan pertemuan dengan para mucikari/germo, yang dihadiri camat, lurah, Polsek, Koramil, dan tokoh agama, untuk membuat kesepakatan agar tidak ada lagi aktivitas pelacuran di sana.
Menurut dia, pihaknya akan selalu melakukan sweeping di areal tersebut agar benar-benar kawasan tersebut bersih dari bentuk perzinaan. “Warga sudah berkomitmen, bukan hanya kawasan ini, tapi jika kami menemukan pasangan mesum, juga harus hengkang dari kampung ini,” tukasnya.

“Kita mengawasi dengan cara persuasif agar tidak terjadi tindak kriminalitas. Aksi ini merupakan warga yang meminta agar lokalisasi untuk ditutup atau tidak beraktivitas,” ucapnya.
(sir)



Tidak ada komentar: