Jumat, 15 Juni 2012

Pembangunan RS Gilut Tak Profesional

Seputar Indonesia, Saturday, 16 June 2012

PALEMBANG – Pembangunan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RS Gilut) di kawasan RS Ernaldi Bahar tidak profesional. Komisi V DPRD Sumsel menemukan sejumlah kejanggalan dalam pelaksanaan pembangunannya.

”Kalau saya lihat,pembangunan RS ini tidak profesional. Masak pemasangan pintu masuknya miring dan di sini tidak ada papan pengerjaannya.Karena kita ingin hasilnya maksimal, kami minta gapura itu dibongkar dan diperbaiki,” ujar Ketua Komisi V DPRD Sumsel MF Ridho didampingi anggota Komisi V,Suharindi,Eran,Fikri Juhan, Hj Rogayati, Misliha, dan Ikman Goring, saat meninjau pembangunan RS Gilut d Palembang kemarin.

Pada kesempatan yang sama, Ridho menyayangkan kinerja pengawas yang jarang datang. ”Kalau saya lihat dari buku tamu, pengawas proyek ini jarang sekali datang.Padahal, dia dibayar untuk mengawasi proyek,bukan untuk pergi ke Jakarta seperti yang sekarang dia lakukan.Jadi kalau bangunan ini tidak sesuai perencanaan, yang harus dipersalahkan adalah pengawasnya,” tukas Ridho.

Selain itu,masih ada hal lain yang patut dipertanyakan,yakni adanya perbedaan antara laporan yang disampaikan Dinas Kesehatan Sumsel dengan yang kondisi riil di lapangan. ”Sebab dalam laporannya ke DPRD Sumsel dua bulan lalu, Kadinkes mengatakan bahwa proyek pembangunan RS Gilut ini telah rampung 75%. Sementara, saat kami meninjau di lapangan saat ini bangunan fisik baru mencapai 50%,”kata dia.

Begitu pula soal pendanaan, saat itu kadinkes mengatakan pembangunan RS Gilut ini mendapatkan dana Rp43 miliar, tetapi dalam kontrak ternyata hanya Rp33 miliar. Karena banyaknya kejanggalan tersebut, Ridho mengatakan, Komisi V DPRD akan memanggil semua pihak terkait. Pernyataan yang sama dikatakan anggota Komisi V DPRD Sumsel Efran dan Suharindi.

Menurut keduanya, proyek pembangunan RS Gilut ini cukup aneh. Sebab, proyek ini dibangun dengan dana puluhan miliar rupiah, tetapi pelaksanaan pembangunannya dilakukan secara penunjukan langsung. Padahal,proyek yang di atas Rp200 juta saja sudah harus melalui tender. ”Masalah ini harus diperjelas sehingga tidak ada pelanggaran hukum di dalamnya,”tandas Suharindi.

Sementara itu, Konsultan Ceriajasa CM Anugerah mengatakan, pengerjaan RS Gilut ini dilakukan sejak 5 Maret–26 Oktober.Sementara untuk realisasi pembangunan,sampai saat ini sudah mencapai 50% dengan serapan anggaran 26%.

”Untuk dana, tahun 2011 kita mendapatkan anggaran Rp20,55 miliar, sedangkan tahun 2012 Rp33,88 miliar. Mengenai adanya perbedaan antara laporan Diknas dan kondisi di lapangan, kami tidak mengetahuinya,” pungkasAnugerah. sidratul muntaha

Tidak ada komentar: