Minggu, 17 Juni 2012

Pengusaha Hermanto Wijaya - Perbaiki Citra Warga Tionghoa


PDF Print
Seputar Indonesia, Sunday, 17 June 2012
Karena itu,tidak sedikit warga keturunan Tionghoa yang merasa tidak diterima masyarakat lokal.Namun, tidak bagi dirinya yang lama menetap dan merintis usaha di Palembang dan Sumsel. Selama ini hubungannya dengan masyarakat sekitar tempat tinggal maupun lokasi usahanya berjalan harmonis.

Bahkan,Hermanto berupaya memberdayakan masyarakat sekitar untuk bersama-sama meningkatkan taraf hidup lebih baik. Tidak jarang berbagai kegiatan sosial yang dilakukannya selama ini kerap dituding memiliki tujuan politis.Padahal,dia hanya ingin melihat masyarakat Palembang hidup layak dan berkecukupan.

Bagaimana Hermanto yang lebih dikenal dengan panggilan Koko Manto ini memulai bisnisnya? Apa motivasi dibalik kegiatan sosial yang sering dilakukannya? Apa sajakah langkahnya memperbaiki citra warga keturunan Tionghoa yang dinilai sebagai warga eksklusif? Berikut wawancara Hermanto Wijaya dengan wartawan Seputar Indonesia (SINDO) Berli Zulkanedi.

Apa aktivitas keseharian Bapak?

Saya setiap harinya berdagang dengan membuka beberapa toko.

Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, Anda juga sering menggelar kegiatan sosial. Dari mana sumber dananya?

Dari hasil yang saya dapatkan dari berdagang,sebagiannya saya sisihkan untuk menggelar kegiatan sosial di berbagai tempat di Kota Palembang.Sebab,saya merasa miris selama ini,di mana sebagian besar pengusaha kita,terutama yang keturunan Tionghoa, terkadang lupa membaginya dengan masyarakat yang membutuhkannya.

Bagaimana Anda menyisihkan keuntungan usaha?

Ya,saya yang selalu berupaya memberdayakan uang hasil keuntungan tersebut dengan membaginya dalam berbagai kegiatan sosial.Misalnya, dapat keuntungan Rp10,yang Rp4 saya sisihkan untuk memberikan bantuan pada masyarakat. Ya,kalau dibilang itu bentuk coorporate social responsibility(CSR) usaha saya.

Mengapa Anda begitu menikmati aksi sosial. Padahal,sebagai pengusaha yang bertujuan mengumpulkan keuntungan sebesar-besarnya, aksi sosial justru mengeluarkan uang?

Apa yang saya kerjakan ikhlas semata dan tidak ada tujuan lain.Tidak seperti pejabat yang akan mencalonkan diri menjadi kepala daerah,anggota DPRD,atau pejabat publik lainnya.Berbagai kegiatan sosial yang saya lakukan itu juga salah satu langkah untuk memperbaiki citra masyarakat keturunan Tionghoa.

Sebab,selama ini masyarakat menilai warga keturunan banyak yang sukses dan lebih mapan dari sisi ekonomi.Namun,tidak banyak yang bersedia berbagi dan membaur dengan masyarakat.Nah,itu yang saya usahakan agar warga keturunan Tionghoa bisa lebih diterima masyarakat.

Apa urgensinya pencitraan itu?

Berdasarkan pengalaman saya yang sudah 20 tahun lebih,saya berusaha mengubah pemikiran bahwa masyarakat Tionghoa yang selalu berpikir tentang uang semata.Nah,itu yang selama ini dilihat dan dirasakan masyarakat.Padahal,banyak juga warga Tionghoa yang peduli untuk berbuat baik kepada sesama.

Apa tidak pernah mendapat protes dari keluarga?

Apa yang saya lakukan ini mungkin sering disebut kegiatan yang ekstrem bagi masyarakat Tionghoa.Namun,inilah yang sebenarnya harus dilakukan masyarakat keturunan Tionghoa dan apa yang saya lakukan ini sebagai contoh bagi masyarakat Tionghoa.

Kalau boleh tahu,apa rahasia Anda hingga sukses seperti saat ini?

Sebenarnya tidak ada rahasia dalam menjalankan usaha. Selama ini saya bekerja keras, tegas,dan disiplin.Bahkan, kedisiplinan yang saya terapkan terkadang melebihi ala militer. Jika ada pegawai saya yang melanggar aturan atau tidak melayani konsumen dengan baik, bukan tidak mungkin akan langsung saya pecat.Apa pun konsekuensinya dan apa yang saya lakukan harus dipertanggungjawabkan. Demikian juga saya akan tegas kepada diri saya sendiri,bahwa ada hak orang lain dalam setiap keuntungan yang saya dapatkan.

Menurut Anda,pengusaha yang baik itu seperti apa?

Untuk menjadi pengusaha yang baik tidaklah sulit.Sebab,yang dicari itu adalah keuntungan yang wajar.Tidak melakukan korupsi,kerja apa adanya,dan menyisihkan keuntungan untuk bisa membawa usaha supaya berjalan sempurna dan lebih baik.Ada filosofi orang China yang mengatakan bahwa kita ini datang kosong,pergi kosong,dan pulang kosong.Artinya,kita lahir tidak membawa apaapa dan besok mati tidak membawa apa-apa. Karena rahasia Tuhan tidak ada yang tahu.Saya berkeinginan mengubah pandangan tersebut hingga Indonesia bisa lebih baik.

Di balik ragam aksi sosial yang Anda lakukan selama ini,terkadang diartikan Anda ingin maju sebagai calon kepala daerah. Bagaimana Anda menanggapi penilaian tersebut?

Saya belum terpikirkan untuk menjadi calon wali kota atau wakil wali kota Palembang. Tetapi,saya berterima kasih kepada warga Tionghoa yang telah memberikan dukungan untuk itu.Namun,harapan saya ke depan,untuk wali kota dan wakil wali kota harus menjalankan pemerintahan yang bersih (good government).Contohnya,melakukan tender terbuka dalam proyek pemerintahan.Untuk itu,para pejabat yang diangkat juga harus menyiapkan perjanjian tertulis dan menyatakan diri siap mundur jika terlibat tindakan yang merugikan masyarakat dan negara.

Sebagai pengusaha,apa harapan Anda kepada pemimpin Palembang mendatang?

Pertama,mereka harus tetap berpihak pada UKM.Jika ada pembangunan mal,minimal 10% lapak harus diberikan kepada UKM.Lalu, wali kota dan gubernur yang duduk sebagai komisaris Bank Sumsel Babel harus menutup keran kredit besar dan memberi kredit Rp5 miliar–Rp10 miliar saja.Karena kasus BLBI terjadi lantaran banyak konglomerat besar yang ngemplang.Hal utama dilakukan yakni membantu UKM dengan bantuan permodalan dan ruang usaha atau tempat berjualan, sehingga pedagang masyarakat kecil dapat terbantu.

Dukungan yang diberikan kepada Anda ternyata bukan hanya dari warga Tionghoa, melainkan juga masyarakat umum.Bagaimana tanggapan Anda?

Kita belum dapat melihatnya secara keseluruhan,saat ini baru bisa dilihat dari permukaan saja.Pekerjaan yang satu ini harus dipikirkan secara matang,karena saya tidak pernah berpikir untuk menjadi anggota DPR ataupun wali kota.Saya pernah dilantik sebagai komisaris SP2J,itu pun saya pulangkan,karena repot untuk mempertanggungjawabkan.Padahal,kita bekerja untuk membantu daerah.Tapi,saya bersyukur dengan penghargaan yang diberikan tersebut.

Jika ada calon yang ingin menggandeng Bapak untuk maju dalam Pilkada Kota Palembang bagaimana?

Saat ini belum kelihatan,jika ada yang ingin menggandeng saya,mereka pasti akan berpikir berkali-kali,karena tidak ada gunanya, hehehe…

Apa kriteria yang harus dimiliki seorang pejabat agar pemerintahan dapat berjalan baik?

Pejabat itu harus kaya terlebih dahulu. Jika itu sudah dilakukan, baru tidak akan korupsi,karena dia tidak akan terfokus dengan harta, tapi terfokus pada kegiatan untuk menyejahterakan masyarakat.

Tidak ada komentar: